NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Di samping pendidikan yang diberikan yayasan, kini Dira mendapatkan bekal baru kesempatan untuk mengenal dunia kerja dan belajar tentang bisnis. Ia tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan Dokter Monik akan membuka jalan menuju babak baru dalam hidupnya dan mempertemukannya dengan Beri, sosok yang kelak akan menjadi mentor penting dalam perjalanan meraih mimpinya.

***

Dira menerima tawaran itu tanpa ragu. Baginya, kesempatan untuk bekerja sambil belajar adalah sesuatu yang sangat berharga.

Sejak saat itu, setiap pulang sekolah, ia tidak langsung kembali ke yayasan. Ia menuju salon milik Dokter Monik dan mengenakan seragam kerja. Awalnya, Dira hanya mengerjakan tugas-tugas sederhana. Menyapu lantai. Menyiapkan handuk bersih..Menyeduhkan minuman untuk pelanggan. Merapikan peralatan. Mengantar perlengkapan kepada para terapis.

Semua pekerjaan itu ia lakukan dengan penuh ketelitian, seolah tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Setelah salon tutup, barulah ia kembali ke yayasan untuk belajar hingga malam. Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Anehnya, Dira tidak pernah mengeluh. Ia selalu datang paling awal dan sering kali menjadi orang terakhir yang pulang. Semangatnya seakan tidak pernah habis.

Dokter Monik diam-diam memperhatikan semua itu. Suatu sore, ia melihat Dira masih sibuk melipat handuk, padahal jam kerja telah usai. "Dira."

Gadis itu segera menoleh. "Iya, Dok?"

"Kamu tidak lelah?"

Dira tersenyum kecil. "Lelah, Dok."

"Lalu kenapa masih terus bekerja seperti ini?"

Dira terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur. "Karena dulu saya pernah hidup tanpa kesempatan. Sekarang saat kesempatan itu datang, saya takut menyia-nyiakannya."

Jawaban sederhana itu membuat Dokter Monik terdiam. Ia menatap Dira dengan penuh kekaguman. Gadis itu tidak memiliki bakat yang muncul begitu saja. Yang membuatnya berbeda adalah kemauannya untuk terus belajar dan bekerja lebih keras daripada siapa pun. Dalam hati, Dokter Monik tersenyum. "Pantas ia mendapat kesempatan. Dira benar-benar tahu bagaimana menghargai kesempatan." Sejak hari itu, keyakinan Dokter Monik semakin kuat. Ia tidak hanya ingin memberi Dira pekerjaan paruh waktu. Ia ingin membimbing gadis itu agar suatu hari nanti mampu memiliki usaha sendiri dan berdiri di atas kakinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Melihat kesungguhan Dira, Dokter Monik tidak lagi menugaskannya hanya untuk pekerjaan-pekerjaan ringan. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengajarkan berbagai hal tentang dunia kecantikan. "Dira, cantik itu bukan sekadar memakai riasan," ujar Dokter Monik suatu sore. "Yang paling penting adalah kesehatan kulit. Kalau kulit sehat, seseorang akan lebih percaya diri."

Dira mengangguk sambil mencatat setiap penjelasan di buku kecil yang selalu ia bawa.

Dokter Monik mengajarinya mengenali jenis-jenis kulit, cara merawat wajah dengan benar, pentingnya menjaga kebersihan alat kecantikan, hingga bahan-bahan aktif yang umum digunakan dalam produk perawatan kulit. Ia juga menjelaskan etika melayani pelanggan. "Orang datang ke salon bukan hanya ingin terlihat cantik," kata Dokter Monik. "Mereka juga ingin merasa dihargai. Karena itu, keramahan dan kejujuran sama pentingnya dengan keterampilan."

Semua ilmu itu diserap Dira seperti spons yang menyerap air. Setiap selesai bekerja, ia membaca kembali catatan yang dibuatnya. Jika ada istilah yang belum dipahami, ia mencari jawabannya melalui buku perpustakaan atau bertanya langsung kepada Dokter Monik keesokan harinya.

Melihat semangat itu, Dokter Monik semakin yakin bahwa Dira memiliki masa depan yang cerah.."Kamu cepat sekali belajar," puji Dokter Monik.

"Saya hanya tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang Dokter berikan."

Dokter Monik tersenyum bangga. "Teruslah seperti ini. Ilmu adalah harta yang tidak akan pernah bisa dicuri orang lain. Semakin banyak yang kamu pelajari, semakin besar peluangmu untuk mengubah hidup."

Nasihat itu kembali disimpan Dira di dalam hatinya. Kini, selain mengejar prestasi di sekolah, ia juga mulai membangun keterampilan yang suatu hari nanti dapat menjadi bekal untuk membuka usahanya sendiri. Setiap hari di salon bukan sekadar hari bekerja, melainkan hari untuk belajar, berkembang, dan selangkah lebih dekat menuju masa depan yang selama ini ia impikan.

***

Sebulan kemudian, Dokter Monik memanggil Dira ke ruang kerjanya. Di sana telah duduk seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Penampilannya rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Di atas meja terbuka sebuah laptop yang dipenuhi grafik dan laporan bisnis. "Dira, kemarilah."

"Iya, Dok."

Dokter Monik tersenyum memperkenalkan mereka. "Ini Beri, anak saya."

Pria itu berdiri sambil mengulurkan tangan. "Halo, Dira. Aku sering dengar cerita tentangmu dari Mama."

Dira menjabat tangannya dengan sopan.."Senang bertemu, Kak Beri."

Dokter Monik mengangguk puas. "Beri lulusan Singapura, sekarang ia bekerja sebagai konsultan bisnis. Selama ini dia membantu banyak usaha berkembang. Mulai hari ini, dia yang akan mengajarimu dasar-dasar bisnis."

Dira terkejut. "Saya?"

"Iya," jawab Beri sambil tersenyum. "Mama bilang kamu cepat belajar. Kita buktikan saja."

Sejak hari itu, setiap akhir pekan setelah pekerjaan di salon selesai, Beri meluangkan waktu untuk membimbing Dira. Pelajaran pertama yang diberikan bukan tentang keuntungan atau modal besar. Melainkan cara melihat peluang.

"Bisnis bukan soal siapa yang punya uang paling banyak," ujar Beri. "Bisnis adalah tentang menyelesaikan masalah orang lain. Kalau kamu bisa memberikan manfaat, orang akan datang dengan sendirinya."

Dira mencatat setiap kalimat.

Beberapa minggu kemudian, Beri membawa beberapa produk perawatan kulit yang diproduksi salon milik Dokter Monik. "Kamu kenal banyak teman di sekolah, kan?"

Dira mengangguk.

"Nah, coba mulai dari sana. Jangan asal menjual. Pelajari dulu kebutuhan mereka, jelaskan produknya dengan jujur, dan jangan pernah memaksa orang membeli."

"Tapi... aku belum pernah berjualan."

Beri tertawa kecil. "Semua pengusaha hebat juga pernah pertama kali berjualan.".Ia kemudian mengajarkan Dira cara menghitung modal dan keuntungan, membuat catatan penjualan, melayani pelanggan dengan sopan, serta membangun kepercayaan.

"Ingat satu hal," kata Beri serius. "Keuntungan bisa dicari. Tapi kepercayaan pelanggan, kalau hilang, akan sangat sulit kembali."

Dira mengangguk mantap. "Lalu untuk modal? Aku tak punya banyak, hanya gaji beberapa bulan ini yang masih ku tabung. Apa itu cukup?"

"Tentu saja. Pakai berapapun tabunganmu."

Keesokan harinya, ia mulai membawa beberapa produk skincare ke sekolah. Ia tidak menawarkan dengan cara memaksa. Ia hanya memperkenalkan produk kepada teman-temannya yang memang membutuhkan perawatan kulit, menjelaskan manfaatnya sesuai penjelasan Dokter Monik, lalu membiarkan mereka memutuskan sendiri.

Perlahan, pesanan mulai berdatangan. Meski jumlahnya belum banyak, senyum Dira tak pernah lepas setiap kali berhasil menjual satu produk. Itu bukan sekadar penjualan pertamanya. Melainkan langkah pertama menuju impian untuk memiliki usaha sendiri setelah lulus SMA.

Dira menyerap setiap ilmu yang diajarkan Beri dengan kecepatan yang membuat siapa pun terkejut. Setiap malam setelah belajar untuk sekolah, ia kembali membuka catatan bisnisnya. Ia menghitung ulang modal, mencatat keuntungan, mengevaluasi produk yang paling diminati, dan merencanakan strategi penjualan untuk esok hari.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!