Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suara deru mesin mobil SUV mewah berwarna hitam legam memecah ketenangan kompleks perumahan Pondok Indah, tempat tinggal orang tua Larasati. Mobil itu berhenti tepat di depan pagar jati tinggi. Dari dalamnya keluar sosok pria bertubuh tegap dengan kaus polo rajut hitam yang pas, membentuk tubuh atletisnya. Dewa Dirgantara melangkah keluar sambil menjinjing sebuah kantong kertas mewah berisi martabak manis premium dan buah-buahan segar pilihan. Meskipun penampilannya santai khas hari libur, aura kepemimpinan dan ketampanannya yang luar biasa bersih sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Baskoro yang kebetulan sedang menyiram tanaman di halaman depan langsung menghentikan aktivitasnya. Matanya membelalak sempurna saat mengenali siapa pria yang berdiri di depan pagarnya. Sebagai sesama pelaku dunia bisnis, Baskoro tentu tahu betul wajah sang penguasa tertinggi Dirgantara Media Group yang sering menghiasi sampul majalah finansial terkemuka.
"Selamat siang, Pak Baskoro. Mohon maaf jika kedatangan saya yang mendadak di hari Minggu ini mengganggu waktu istirahat keluarga Anda. Saya Dewa Dirgantara, kebetulan sedang berada di sekitar kawasan ini dan sengaja mampir untuk mengantarkan sedikit buah tangan sekaligus memastikan kondisi putri Anda, Larasati, yang merupakan salah satu aset terbaik di perusahaan saya." ucap Dewa dengan nada suara bariton yang sangat berwibawa dan sopan, sebagai seorang pria matang. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
Baskoro dengan cepat mengusap tangannya yang agak basah pada celana kainnya, lalu menjabat tangan Dewa dengan perasaan terhormat yang membuncah.
"Astaga, suatu kehormatan luar biasa bagi keluarga kami kedatangan Anda, Pak Dewa! Mari, silakan masuk ke dalam rumah. Istri saya kebetulan sedang membuat camilan di dalam."
Ratna yang sedang berada di dapur langsung bergegas menuju ruang tamu begitu mendengar suaminya membawa tamu agung. Wanita paruh baya itu ikut melongo tak percaya, melihat sosok CEO raksasa media yang terkenal sedingin es dan anti wanita itu kini duduk tenang di sofa rumahnya sambil tersenyum tipis menghormati mereka.
Tepat saat teh hangat disajikan, Larasati berjalan keluar dari arah teras belakang karena penasaran dengan suara asing di ruang tamu. Langkah kaki Larasati mendadak terkunci di ambang pintu, matanya berkedip beberapa kali demi memastikan bahwa pria tampan berusia 38 tahun yang sedang mengobrol akrab dengan ayahnya itu benar-benar adalah atasan tertingginya di kantor.
Dewa yang menyadari kehadiran Larasati, langsung menoleh. Ia menatap lekat wanita berbaju santai itu dengan binar matanya yang mendadak melembut.
"Halo, Larasati. Maaf saya bertamu tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Saya hanya ingin memastikan, bahwa Direktur Kreatif andalan saya besok pagi tidak bolos karena alasan patah hati."
Larasati menahan napas sejenak, wajah cantiknya mendadak merona tipis karena disindir secara terang-terangan di depan kedua orang tuanya oleh bosnya sendiri.
Sementara di sudut ruangan, Baskoro dan Ratna diam-diam saling melempar pandangan penuh arti dengan senyum penuh kode. Mereka menyadari bahwa perhatian yang luar biasa dari sang konglomerat lajang ini, jelas bukan sekadar urusan profesionalisme antara atasan dan bawahan.
Suasana di ruang tamu keluarga Larasati mencair dengan begitu hangat. Baskoro selaku tuan rumah merasa sangat antusias mengobrol dengan Dewa mengenai perkembangan industri bisnis di Indonesia. Sementara itu, Ratna sibuk menyajikan martabak manis premium bawaan Dewa yang ternyata rasanya sangat lezat. Larasati akhirnya memilih duduk di sofa tunggal, menyimak obrolan kedua pria berbeda generasi itu sambil terus menekan rasa herannya mengapa bos besarnya yang terkenal sedingin es bisa seakrab ini dengan ayahnya.
"Saya benar-benar kagum dengan perkembangan Dirgantara Media Group di bawah kepemimpinan Anda, Pak Dewa. Di luar sana, banyak orang mengira Anda sukses hanya karena menerima warisan dari ayah Anda. Namun saya tahu betul bagaimana disiplin keras yang Anda jalani selama ini." ucap Baskoro sambil menyesap teh hangatnya, menatap Dewa dengan pandangan penuh rasa hormat sesama pengusaha.
"Terima kasih, Pak Baskoro. Ayah dan Ibu saya memang mendidik saya dengan disiplin yang tinggi sejak kecil, karena saya anak tunggal. Setelah saya menyelesaikan pendidikan S2 di Harvard, Ayah tidak langsung memberikan jabatan tinggi, melainkan menyembunyikan identitas saya dan menaruh saya di posisi staf biasa selama dua tahun, supaya saya paham bagaimana kerasnya perjuangan dari bawah sebelum akhirnya dipercaya memimpin perusahaan di usia tiga puluh tiga tahun." jawab Dewa dengan suara bariton yang sangat rendah hati, menceritakan asal-usul perjuangannya tanpa ada nada sombong sedikit pun.
Mendengar penjelasan itu, Larasati seketika melongo di tempat duduknya. Ia baru mengetahui fakta bahwa pria tampan berusia 38 tahun di hadapannya ini adalah lulusan terbaik Harvard yang pernah mencicipi posisi staf rendahan demi mempelajari seluk-beluk bisnis dari nol. Sangat kontras dengan Arjuna yang jabatannya masih manajer saja sudah bertingkah.
"Ternyata Pak Dewa memiliki latar belakang yang sangat luar biasa di balik ketegasan Anda selama ini di kantor. Saya pikir Anda tipe atasan yang hanya tahu memerintah dari balik meja marmer hitam Anda saja!" sahut Larasati dengan nada menyindir namun diiringi seulas senyum manis, mencoba ikut masuk ke dalam obrolan mereka.
Dewa menoleh, menatap lekat mata indah Larasati dengan tatapan matanya yang mendadak melembut dan sarat akan perhatian yang mendalam.
"Saya hanya tegas pada karyawan yang tidak kompeten, Larasati. Kalau untuk wanita yang mandiri, cerdas, dan memiliki harga diri tinggi seperti dirimu, saya memiliki pengecualian serta cara tersendiri untuk memperlakukannya dengan hormat." balas Dewa dengan kalimat yang terdengar begitu tenang. Sukses membuat seisi ruangan hening seketika.
Wajah cantik Larasati mendadak merona, mendengar balasan yang sangat blak-blakan dari bos besarnya itu tepat di depan kedua orang tuanya.
Di seberang sofa, Baskoro dan Ratna hanya bisa menahan senyum lebar sambil saling menyenggol lengan, menyadari bahwa sang konglomerat muda ini memang benar-benar sedang bergerak aktif untuk menaklukkan hati putri tunggal mereka yang baru saja lepas dari pria seperti Arjuna.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok