NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN

“Nira, bangun.”

Aku menarik ujung selimutnya.

Biasanya ia akan menggulung tubuh, merebut selimut lagi, lalu bertanya apakah ayam sudah berkokok. Pagi itu ia tidak bergerak.

“Nira.”

Aku menggoyang bahunya. Matanya membuka sedikit. Tatapannya melewatiku, kemudian matanya menutup lagi.

Telapak tanganku menyentuh dahinya.

Panas.

“Ibu!”

Ibu bangun dari dipan dan segera duduk di sampingnya. Ia meraba dahi, leher, lalu kedua tangan Nira. Napas adikku cepat. Kakinya menggigil meskipun selimut menutup sampai pinggang.

“Kau tidak sekolah,” kata Ibu.

Nira membuka mata. “Hari pertama.”

“Badanmu panas.”

“Bisa jalan.”

Ia mencoba duduk. Baru kepalanya terangkat, lengannya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh kembali ke bantal.

Ibu menarik selimut sampai ke dada. “Lihat? Tidur.”

Nira meraba dinding. Seragamnya tergantung di sana.

“Buku baru dibagi hari ini.”

“Nanti Langga bawa.”

Nira menoleh kepadaku. “Semua?”

“Iya.”

“Jangan cuma tugas matematika.”

“Iya.”

“Buku membaca juga.”

“Iya, Nira.”

Ia masih menatapku, memastikan aku tidak asal menjawab. Setelah itu matanya tertutup lagi.

Ayah belum pulang dari giliran malam di tempat batu. Ibu meminta aku memanggil Bu Mirah sebelum berangkat. Bu Mirah datang membawa baskom dan kain. Ia menyentuh dahi Nira, lalu menggeleng.

“Panas sekali. Aku panggil Bu Kemuning.”

“Aku tunggu,” kataku.

Ibu melihat pintu. Langit masih gelap, tetapi perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu lama.

“Kau berangkat. Kalau ada apa-apa, kami kirim kabar lewat Pak Darma.”

“Aku bisa tidak masuk.”

Dari bawah selimut, Nira berkata, “Masuk.”

Suaranya serak.

Aku duduk di sampingnya. “Kau tidur saja.”

“Kakak harus catat yang rapi.”

“Biasanya juga rapi.”

“Kadang jelek.”

Aku hendak membalas, tetapi bibirnya sudah membentuk senyum kecil. Senyum itu hilang saat ia menggigil lagi.

Aku mengambil air hangat dan membantu Ibu mengompres dahinya. Sebelum pergi, kaleng susu kutaruh dekat bantal. Nira mengangkatnya dengan dua tangan dan menggoyang pelan.

“Kalau beli obat, pakai,” kataku.

Ia memeluk kaleng itu. “Kancingnya jangan.”

“Memangnya Bu Kemuning mau dibayar pakai kancing?”

“Bukan. Kancingnya punya Mbah.”

Aku memasukkan buku dan rapor ke tas. Saat keluar, Nira memanggil sekali lagi.

“Kak.”

Aku menoleh.

“Jangan lupa roti kalau Gala bawa.”

“Sedang sakit masih ingat roti.”

“Buat nanti.”

Aku menutup pintu.

Untuk pertama kalinya, jejak di jalur hanya satu baris. Tidak ada langkah kecil di belakangku. Tidak ada suara Nira mengeluh tali terlalu kencang atau bertanya mengapa pohon karet disadap miring.

Di tikungan pertama, aku berkata, “Hati-hati akar,” sebelum sadar tidak ada siapa pun.

Aku berhenti. Kabut menutup bagian jalan di depan. Dari rumah yang sudah tidak terlihat, tidak terdengar suara apa pun.

Aku hampir berbalik.

Aku menghitung sampai sepuluh, seperti saat Nira takut menyeberangi arus. Pada hitungan ketujuh, kakiku sudah menghadap rumah. Pada hitungan kesepuluh, aku memaksa berbalik lagi ke arah sekolah.

Lalu teringat Ibu mengatakan kabar akan dikirim. Aku melanjutkan jalan, lebih cepat dari biasanya.

Di sungai kecil, air masih keruh setelah hujan malam. Aku menyeberang tanpa perlu menunggu Nira memilih batu. Sampai di seberang, tanganku tetap terulur ke belakang. Aku segera menariknya dan mengusap telapak pada celana.

Sepanjang jalan aku memikirkan panas di dahinya. Mungkin Bu Kemuning sudah datang. Mungkin demamnya turun setelah dikompres. Mungkin ia sedang tidur sambil memegang kaleng. Setiap kemungkinan bertabrakan dengan kemungkinan lain yang lebih buruk.

Di batas dusun Gala, ia menungguku bersama Windu.

“Nira mana?” tanya Windu.

“Sakit.”

“Sakit apa?”

“Demam.”

Windu melihat ke jalan di belakangku, seolah Nira mungkin muncul terlambat.

Gala merapikan tali tasnya. “Kita balik?”

“Tidak. Ibu sudah panggil Bu Kemuning.”

“Yakin?”

Aku mengangguk terlalu cepat.

Kami berjalan menuju sekolah. Gala bercerita ayamnya masuk dapur dan menjatuhkan panci. Ia menirukan suara ibunya berteriak. Windu tertawa. Aku mencoba ikut, tetapi hanya mengeluarkan napas pendek.

Saat sampai di gerbang, aku menoleh lagi.

Gala memegang tali tasku. “Dia di rumah.”

“Aku tahu.”

“Ya jangan dicari di jalan.”

Aku melepaskan talinya, tetapi tidak marah. Gala berjalan di sampingku sampai depan kelas.

Bu Satya melihat kursi kosong di belakangku. “Nira?”

“Demam. Panas sekali. Bu Kemuning dipanggil.”

“Sejak kapan?”

“Tadi pagi.”

Bu Satya menyentuh lenganku. “Kalau ada kabar, bilang.”

Ia meminta seorang murid kelas bawah menyampaikan alasan ketidakhadiran ke guru Nira. Setelah itu pelajaran dimulai.

Aku berusaha mencatat semua yang ditulis di papan. Pada setiap halaman, kuberi tanda bintang untuk bagian yang harus kujelaskan kepada Nira. Tulisan tanganku makin kecil karena takut kertas tidak cukup.

Ketika guru kelas Nira mengirimkan buku barunya, aku membuka halaman pertama. Namanya belum ditulis. Aku mengambil pensil, lalu berhenti. Nira pasti akan protes kalau huruf N-ku terlalu besar. Buku itu kusimpan kosong agar ia menulis namanya sendiri saat demam turun.

Pada pelajaran membaca, Bu Satya menyuruh kami bergantian membaca cerita. Ketika giliranku, aku melewatkan satu baris.

“Ulang dari atas paragraf,” katanya.

Aku mengulang. Kali ini benar.

Saat istirahat, Windu datang membawa gambar bunga berwarna merah dan kuning.

“Buat Nira,” katanya. “Bilang ini bukan tugas.”

“Kalau tugas dia tetap kerjakan.”

“Makanya bilang bukan.”

Gala menyerahkan roti kecil yang dibungkus kertas. “Yang tadi dia pesan.”

Aku memasukkan gambar dan roti ke tas. Jalu lewat sambil menggigit singkong.

“Demam doang, besok juga masuk,” katanya.

Aku tidak membalas. Gala hendak mengejarnya, tetapi kutahan.

“Sudah.”

Bu Satya memanggilku ke ruang guru. Di atas meja ada tiga baterai besar.

“Lampunya mulai redup?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Ini ada sisa. Bawa.”

“Buat sekolah?”

“Sekarang buat lampu pinjamanmu.”

Aku memasukkannya ke tas. “Nanti kuganti.”

“Tidak usah dipikirkan sekarang.”

Ia tidak menambahkan nasihat. Ia hanya bertanya apakah aku masih punya plastik untuk membungkus tas jika hujan. Ketika kujawab ada, ia menyuruhku kembali ke kelas.

Menjelang pelajaran terakhir, hujan mulai turun. Aku melihat pintu dan jendela lebih sering daripada papan. Jalan pulang akan gelap jika hujan semakin rapat.

Aku mengangkat tangan. “Bu, boleh pulang lebih awal?”

Bu Satya melihat langit. “Kau mau pulang sendiri?”

Aku belum menjawab ketika seorang murid kelas bawah muncul di pintu.

“Bu Satya, ada orang cari Langga.”

Kursiku bergeser saat aku berdiri. Bu Satya membawaku ke ruang guru.

Pak Darma berdiri di sana. Celananya penuh lumpur sampai paha. Napasnya terengah. Air menetes dari rambut dan ujung bajunya.

“Pak?”

Ia menarik napas sebelum bicara. “Demam Nira naik. Bu Kemuning suruh kau pulang.”

Bu Satya melihat wajah Pak Darma, lalu menoleh kepadaku.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!