Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Grup WhatsApp
Malam itu, giliran para istri yang akan membuka mata.
Bu Yati tidak langsung menekan tombol kirim. Ia menunggu sampai rumah tenang, sampai Pak Tono mengira ancaman itu hanya gertakan, sampai para lelaki di daftar itu mungkin sedang duduk santai minum kopi di rumah masing-masing.
Lalu ia mengirim tiga hal ke grup baru.
Foto halaman buku catatan berisi nama-nama.
Screenshot transfer dari ponsel Pak Tono.
Satu kalimat pendek: Ibu-ibu, kalau uang belanja sering kurang, mungkin ini salah satu jawabannya.
Setelah itu, WhatsApp meledak.
Tanda centang biru bermunculan. Bu Sari menjadi yang pertama menelepon, tetapi Bu Yati tidak mengangkat. Grup harus bekerja sendiri. Jika ia terlalu banyak bicara, orang bisa bilang ini dendam pribadi. Kalau para istri membaca nama suami masing-masing dengan mata sendiri, api itu akan menyala dari dapur mereka sendiri.
Dalam sepuluh menit, pesan masuk bertubi-tubi.
Ini benar, Bu?
Nama suamiku ada di sini?
Transfer tanggal segini sama dengan hari aku pinjam uang beras.
Ada yang mengirim voice note sambil menangis. Ada yang langsung memaki suaminya di grup. Ada yang hanya mengetik astaghfirullah berkali-kali sampai layar penuh.
Pak Tono akhirnya bangun ketika ponselnya sendiri mulai berdering tanpa henti. Ia keluar kamar dengan wajah pucat.
"Apa yang kamu lakukan?"
Bu Yati duduk di ruang tengah, ponsel di tangan. "Membantu para istri menghitung uang belanja."
"Maryati, kamu bikin kacau satu RT!"
"Bukan aku yang transfer uang ke Sri."
Pak Tono membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di luar rumah, suara sandal dan motor mulai terdengar. Orang-orang bergerak menuju jalan utama.
Bu Yati berdiri.
"Mau lihat hasil amalmu?"
Ia keluar tanpa menunggu jawaban.
Jalan utama Kampung Sumber sudah ramai seperti pasar malam tanpa lampu hias. Para ibu datang dari gang berbeda, sebagian masih memakai daster, sebagian membawa ponsel dengan layar menyala. Wajah mereka bukan hanya marah. Ada malu, sakit hati, dan perhitungan bulan-bulan saat mereka menahan diri membeli lauk, sementara uang suami mengalir ke rumah Sri.
Di depan rumah Sri, pintu tertutup rapat.
Bu Lilis mengetuk paling keras. "Sri! Keluar!"
Tidak ada jawaban.
Istri mandor bengkel mengangkat ponselnya. "Kalau tidak keluar, saya bacakan transfer ini di depan rumahmu sampai subuh!"
Pintu akhirnya terbuka.
Sri muncul dengan jilbab asal pakai. Wajahnya tampak lelah, tetapi mulutnya masih siap berperang.
"Ada apa ramai-ramai malam begini? Tidak punya malu ganggu rumah orang?"
Salah satu ibu langsung mendorong ponsel ke wajahnya. "Ini uang suamiku ke mana?"
Sri melirik layar, lalu tertawa tajam. "Tanya suamimu. Salah suami kalian yang genit, bukan salah aku."
Kalimat itu seperti minyak disiram ke api.
Para istri menyerbu dengan suara tumpang tindih. Ada yang menarik ujung jilbab Sri, ada yang menunjuk wajahnya, ada yang menangis sambil menyebut anaknya makan telur dibagi empat. Bu Yati berdiri di sisi jalan, tidak ikut memukul. Ia tidak perlu. Kebenaran sudah punya kaki sendiri malam ini.
Beberapa lelaki datang terburu-buru, dipaksa keluar oleh istri masing-masing.
"Aku cuma kasihan," kata seorang pria.
Istrinya menampar lengannya. "Kasihan ke anak sendiri dulu!"
"Sri bilang butuh bayar sekolah."
"Anak kita juga sekolah!"
Bu Lilis membuka screenshot transfer di ponselnya dan membacakan tanggal keras-keras. "Tanggal lima, dua ratus ribu. Tanggal dua belas, seratus lima puluh ribu. Tanggal dua puluh lima, katanya beli obat. Di tanggal yang sama, aku minta uang susu anak kamu bilang belum gajian."
Suaminya menunduk.
Istri mandor bengkel tidak menangis. Ia justru mengambil buku kecil dari tas belanjanya. "Saya catat semua utang warung bulan itu. Rupanya bukan gaji kurang, tapi tanganmu bocor."
Satu per satu perempuan mulai mencocokkan tanggal dengan ingatan mereka: hari anak sakit, hari gas habis, hari uang SPP tertunda. Setiap tanggal yang cocok seperti paku dipukul ke papan. Para lelaki tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata kasihan.
Seorang laki-laki mencoba menyalahkan Pak Tono. "Ini pasti Tono yang buka aib!"
Pak Tono yang berdiri di belakang Bu Yati langsung mundur. "Aku tidak..."
Bu Yati menoleh. "Buku catatan itu tulisanmu. Jangan pura-pura tidak bisa membaca tangan sendiri."
Orang-orang menatap Pak Tono. Wajahnya makin kecil.
Sri masih bertahan. Ia menangis keras, tetapi setiap air mata seperti dihitung. "Kalian semua kejam. Aku janda. Kalau aku punya suami, aku tidak perlu minta bantuan."
Bu Sari maju. Suaranya tidak setajam Bu Yati, tetapi malam itu cukup keras. "Minta bantuan boleh. Menjebak laki-laki orang, beda urusan. Jangan bawa-bawa semua janda untuk menutupi kelakuanmu."
Beberapa ibu mengangguk.
Sri menggertakkan gigi. "Kalau suami kalian setia, mereka tidak akan kirim uang!"
"Benar," kata Bu Yati tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Bu Yati maju satu langkah. "Suami kalian salah. Mereka harus dihajar di rumah masing-masing. Tapi Sri juga salah karena tahu uang itu uang keluarga orang dan tetap menerima. Malam ini jangan ada yang pulang merasa suaminya suci."
Kalimat itu membuat para lelaki yang tadinya ingin berlindung di balik kesalahan Sri langsung pucat.
Keributan pecah menjadi tiga arah. Para istri memarahi suami. Para suami saling menyalahkan. Sri berteriak bahwa ia korban. Seorang ibu hampir menjambak suaminya sendiri. Anak-anak remaja menonton dari jauh sambil merekam, sampai Bu Yati membentak mereka untuk memasukkan ponsel.
"Ini bukan tontonan anak kecil!"
Di tengah kekacauan, Karmadi muncul dengan motor tuanya. Adik Pak Tono itu datang seperti orang mencium peluang. Ia turun, merapikan kemeja, lalu mencoba tersenyum kepada Sri.
"Mbak Sri, jangan menangis. Kalau memang butuh pendamping, saya bisa carikan duda. Ada yang punya warung. Nanti saya bantu urus, asal ada sedikit uang rokok."
Sri menatapnya, tidak percaya.
Karmadi masih bicara. "Daripada ribut sama istri orang, lebih baik nikah resmi. Saya kenal banyak orang."
Tamparan Sri mendarat di pipinya.
Suara itu membuat jalan utama hening sesaat.
"Kamu pikir aku barang dagangan?" jerit Sri.
Karmadi memegang pipi, tersinggung sekaligus malu. "Saya cuma mau bantu!"
Bu Yati tertawa dingin. "Karmadi, bahkan saat orang sedang ribut, kamu masih cari komisi."
Orang-orang kembali ribut, kali ini Karmadi ikut jadi bahan tertawaan. Pak Tono menunduk semakin dalam. Malam itu semua saudara laki-lakinya tampak sama: merasa pintar, tetapi selalu tergoda uang dan muka.
Sri hendak masuk rumah, tetapi pintu dari dalam terbuka lebih lebar.
Seorang gadis remaja berdiri di ambang. Wajahnya pucat. Ia masih memakai seragam rumah, rambutnya diikat sembarangan. Mata gadis itu menatap ibunya, lalu menatap para ibu yang memegang ponsel.
"Mak," katanya pelan, "itu benar?"
Sri membeku.
Tidak ada pukulan yang lebih keras dari suara anak sendiri.
Bu Yati tidak bergerak mendekat. Ia hanya bertanya dari tempatnya berdiri, cukup jelas untuk didengar semua orang.
"Sri, anakmu tahu uang seragamnya berasal dari uang belanja istri orang?"
Wajah Sri runtuh.
Untuk pertama kalinya malam itu, tangisnya tidak terdengar dibuat-buat. Ia menutup wajah. Gadis itu mundur selangkah, seperti lantai rumahnya tiba-tiba asing.
"Aku cuma ingin kalian makan," bisik Sri.
Gadis itu menangis. "Tapi kenapa begini, Mak?"
Para ibu yang tadi siap menyerbu mendadak diam. Bukan karena memaafkan Sri, melainkan karena mereka juga ibu. Tidak ada yang ingin anak perempuan melihat ibunya telanjang oleh aib di depan satu kampung.
Bu Yati memanfaatkan keheningan itu.
"Tulis surat utang," katanya. "Semua uang yang kamu terima dari suami orang, kembalikan bertahap. Para istri pegang fotonya. Kalau kamu benar-benar mau mulai hidup bersih, mulai dari tanda tangan."
Sri mengangkat wajah basah. "Aku tidak punya uang."
"Makanya dicicil. Tapi malam ini kamu mengakui."
Para istri langsung setuju. Ada yang mengambil kertas, ada yang meminjamkan pulpen. Sri menulis dengan tangan gemetar, menyebut nama-nama dan jumlah yang ia ingat. Para lelaki dipaksa mengonfirmasi. Setiap kali ada yang mengurangi angka, istrinya memelotot sampai ia membetulkan.
Kertas itu akhirnya penuh.
Sri menandatangani. Para istri memotretnya satu per satu. Foto itu masuk kembali ke grup WhatsApp, kali ini sebagai bukti.
Bu Yati meminta mereka memotret bukan hanya tanda tangan Sri, tetapi juga wajah para suami yang mengakui jumlahnya. "Besok kalau ada yang bilang lupa, fotonya masih ingat."
Beberapa ibu tertawa getir. Tawa itu bukan bahagia, melainkan lega karena untuk pertama kalinya mereka punya pegangan. Selama ini uang rumah tangga hilang seperti asap. Malam ini asap itu diberi nama, tanggal, dan jumlah.
Saat kerumunan mulai bubar, Bu Yati merasa malam sedikit lebih dingin. Sri duduk di tangga rumahnya, memeluk anak gadisnya yang tidak memeluk balik. Karmadi masih mengomel soal pipinya yang sakit. Para suami pulang seperti tahanan digiring istri masing-masing.
Bu Yati mencari Pak Tono di antara orang banyak.
Tidak ada.
Ia pulang cepat.
Di rumah, sandal Pak Tono tidak ada. Motornya juga hilang.
Bu Sari yang menyusul dari belakang berkata sambil terengah, "Yati, tadi aku lihat Pak Tono keluar pelan-pelan. Arahnya ke jalan besar. Kayaknya ke rumah Karmadi."
Bu Yati menatap halaman yang kosong.
Pak Tono kabur lagi.
Kali ini, tidak ada yang mengejarnya.
Bahkan Bagus pun memilih diam saja.