NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Berlarilah, Maël!

Duar!

Peluru kedua menghantam tiang besi.

Bunyi logam yang beradu membuat telingaku berdenging. Serpihan beton berhamburan mengenai pipiku.

"Cours!"

Henri kembali berteriak.

"Lari!"

Aku tidak perlu diperintah dua kali.

Aku langsung menarik Léo dan berlari sekuat tenaga menyusuri bawah jembatan.

"Astaga!"

teriakku sambil terus berlari.

"Sejak kapan hidup kita pakai peluru?!"

Léo yang berlari di sampingku bahkan masih sempat menjawab.

"Biasanya cuma dikejar polisi!"

"Nah, itu dia!"

"Aku lebih kangen polisi!"

Motor hitam itu kembali memutar arah. Suara mesinnya menggema di antara tiang-tiang beton.

Brrrrmmm...

Aku menoleh sebentar.

"Dia masih ngejar!"

"Jangan dilihat!"

teriak Marcel dari belakang.

"Lihat depan!"

Aku kembali menatap ke depan.

Salah.

Sangat salah.

Karena tepat di depanku ada tumpukan peti kayu.

"Astaga!"

Brak!

Aku menabraknya mentah-mentah.

Peti-peti itu ambruk seperti domino.

Jeruk-jeruk yang ada di dalamnya menggelinding ke mana-mana.

"Maël!"

teriak pemilik kios.

"Itu jerukku!"

Aku bangkit sambil meringis.

"Maaf, Pak!"

Aku mengambil satu jeruk yang menggelinding di dekat kakiku lalu melemparkannya ke arah motor.

"Tangkap!"

Tentu saja bukan untuk dimakan.

Jeruk itu menghantam ban depan motor.

Pengendara sempat oleng.

Meski hanya sesaat...

Itu cukup memberi kami waktu.

Léo tertawa terbahak-bahak.

"Kau baru saja menyerang orang pakai jeruk!"

"Yang penting kreatif!"

"Kalau nanti masuk penjara..."

"...tolong jangan bilang ide itu dariku."

Kami kembali berlari.

── Maël kepada kalian ──

Kalian tahu bedanya film aksi dengan kehidupan nyata?

Di film...

Tokoh utama selalu berlari dengan keren.

Rambut tertiup angin.

Napas tetap santai.

Kalau aku?

Baru tiga ratus meter...

Lidahku sudah hampir keluar.

── Kembali ke cerita ──

Kami memasuki gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil kecil.

Henri ternyata masih mampu mengikuti langkah kami meski usianya sudah lanjut.

Aku melirik tongkatnya.

"Pak tua..."

"Ya?"

"Kok Bapak larinya cepat?"

Henri menjawab tanpa kehilangan napas.

"Aku dulu tentara."

Aku hampir tersandung lagi.

"TENTARA?!"

Léo ikut membelalak.

"Pantesan!"

Marcel mendengus.

"Nanti saja kagetnya!"

Di ujung gang...

Dua pria berbadan besar sudah menunggu.

Mereka memakai jaket hitam.

Tatapan mereka langsung mengarah kepadaku.

"Sial..."

gumam Marcel.

"Mereka sudah memotong jalan."

Aku berhenti.

Léo juga berhenti.

"Kita putar balik?"

Belum sempat menjawab...

Suara motor terdengar lagi dari belakang.

Kini kami terjebak.

Depan ada dua pria.

Belakang ada motor.

Aku menghela napas panjang.

"Kalau begini..."

kataku pelan.

"...aku punya ide."

Marcel langsung memijat pelipis.

"Setiap kali kau bilang punya ide..."

"...umurku berkurang."

Aku tersenyum.

"Itu berarti idenya bagus."

"Bukan."

"Itu berarti berbahaya."

Aku melihat ke kanan.

Ada sebuah truk sampah yang sedang berhenti.

Pintunya terbuka.

Sopirnya sedang berbincang dengan petugas kebersihan.

Aku menyenggol Léo.

"Lihat itu."

Léo mengikuti arah pandangku.

Lalu wajahnya berubah.

"Tidak."

"Ayo."

"TIDAK."

"Kau sudah tahu idenya?"

"Sudah."

"Aku tidak mau."

"Percaya padaku."

"Itu justru masalahnya!"

Aku tidak mendengarkan.

Aku langsung berlari menuju truk itu.

Sopirnya menoleh bingung.

"Hé!"

teriaknya.

"Kalian mau apa?"

Aku tersenyum selebar mungkin.

"Pinjam sebentar ya!"

Tanpa menunggu izin...

Aku meloncat ke bak belakang truk.

Léo menjerit.

"YA TUHAN!"

"Aku tidak mau mandi sampah!"

"Naik dulu!"

Henri ikut melompat.

Marcel menggerutu sambil menutup hidung.

"Aku terlalu tua untuk ini."

Detik berikutnya...

Motor hitam memasuki gang.

Pengendaranya melihat kami.

Ia langsung mengangkat pistol.

"Tiaraaap!"

teriakku.

Kami semua menjatuhkan badan.

Duar!

Peluru menghantam sisi truk.

Sopir yang panik langsung menginjak pedal gas.

Brrrmmm!

Truk melaju.

Aku hampir terpental.

"Bisa pelan sedikit?!"

teriakku.

Sopir justru makin ngebut.

"Keluar dari trukku!"

"Tidak sekarang!"

Kami berguncang hebat.

Kantong-kantong sampah beterbangan.

Salah satunya mendarat tepat di wajah Léo.

"AAAA!"

"Ini bau apa?!"

Aku tertawa sampai perutku sakit.

"Itu parfum Paris."

"PARFUM DARI MANA?!"

"Versi bawah jembatan."

Marcel sampai ikut tertawa.

Henri hanya menggeleng pelan.

"Aku baru sadar."

katanya.

"Kenapa?"

"Anak yang sedang dikejar pembunuh..."

"...masih sempat bercanda."

Aku mengangkat bahu.

"Kalau aku berhenti bercanda..."

"...aku akan mulai takut."

Henri terdiam.

Kalimat itu membuat wajahnya berubah.

Seolah ia baru memahami bagaimana caraku bertahan hidup selama ini.

Beberapa menit kemudian truk berhenti di dekat pasar tua.

Kami meloncat turun satu per satu.

Sopir truk membuka jendela.

"Kalau kalian naik lagi..."

"...aku yang lapor polisi!"

Aku melambaikan tangan.

"Merci!"

"Kami kasih bintang lima!"

Sopir itu menggeleng sambil pergi.

Begitu suasana mulai tenang...

Henri menatapku serius.

"Maël."

"Ada yang harus kau ketahui."

Aku menghela napas.

"Akhirnya."

"Kita tidak sedang dikejar karena pencopetanmu."

"Syukurlah."

"Bukan karena koranmu."

"Syukurlah lagi."

"Bukan juga karena Marcel."

Marcel mendengus.

"Terima kasih."

Henri menarik napas panjang.

"Mereka mengejarmu..."

"...karena nama keluargamu."

Aku membeku.

"Nama keluarga?"

Henri mengangguk.

"Nama belakangmu bukan orang biasa."

Aku menelan ludah.

"Kalau begitu..."

"...siapa nama belakangku?"

Henri membuka mulutnya.

Namun sebelum satu kata pun keluar...

Dor!

Sebuah peluru menghantam dinding bata hanya beberapa sentimeter dari kepalanya.

Semua refleks berlindung.

Henri mengepalkan rahangnya.

"Mereka menemukan kita lagi..."

Aku memandang ke arah atap bangunan.

Seorang pria berpakaian hitam berdiri di sana sambil mengarahkan senapan.

Dan kali ini...

Ia tidak sedang mencoba menakut-nakuti.

Ia datang...

Untuk memastikan tidak ada satu pun dari kami yang keluar hidup-hidup.

── Maël kepada kalian ──

Aku tadinya cuma ingin menjual koran.

Sesekali mencopet turis yang terlalu sibuk selfie.

Pulang.

Tidur.

Bangun lagi.

Hidup sederhana.

Tapi ternyata...

Semesta punya selera humor yang jauh lebih buruk dariku.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!