NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Langkah Bara meninggalkan gang sempit itu terasa amat berat, seolah setiap pijakannya ditarik oleh ribuan ton beban penyesalan. Pandangannya mulai memburam, bukan hanya oleh sisa-sisa air hujan yang menetes dari rambutnya, tetapi oleh demam tinggi yang membakar tubuhnya dan rasa hampa yang meremukkan dadanya.

Pria itu masuk ke dalam mobil sport-nya dengan tubuh yang menggigil. Tangan kekarnya yang biasanya begitu kokoh kini gemetar hebat saat memegang kemudi. Tatapannya kosong, terpaku pada pintu kayu kontrakan di spion tengah. Pintu yang telah tertutup rapat. Meninggalkannya dalam rasa penyesalan yang abadi.

Bara mulai menyalakan mesin. Suara raungan mobil itu terdengar sumbang di telinganya yang mulai berdengung. Tanpa mempedulikan pusing hebat yang memutar di kepalanya, Bara menginjak pedal gas dalam-dalam. Seketika mobil mewah itu melesat kencang membelah jalanan pinggiran kota yang masih basah dan licin akibat hujan semalam.

Di dalam kabin yang kedap suara, bayangan masa lalu menghantam pikiran Bara bertubi-tubi bagaikan badai. Senyuman tulus Andrea saat pertama kali mereka bertemu, tatapan penuh cinta gadis itu di kamar temaram saat menyerahkan kesuciannya tanpa syarat, histerisnya Selina, wajah pucat sang ayah setelah menghembuskan napas terakhir, hingga tatapan mati tanpa rasa dari Andrea beberapa menit yang lalu.

“Kehadiranmu hanya membawa racun untuk kami.”

Kalimat itu bergaung begitu keras di dalam kepalanya, memecahkan konsentrasinya.

Di sebuah persimpangan jalan, lampu lalu lintas menyala merah. Namun, Bara yang kehilangan arah dan kesadaran tidak menginjak remnya sama sekali. Pandangannya benar-benar mengabur, hanya warna hitam yang mengepung kesadarannya.

Dari arah samping, sebuah truk kontainer berkecepatan tinggi melaju kencang, menyeberangi persimpangan.

Suara klakson panjang yang memekakkan telinga membelah udara pagi. Bara menoleh lambat, matanya menatap pergerakan badan truk yang kian mendekat. Untuk sepersekian detik, di tengah kepungan bahaya yang nyata, Bara tidak merasa takut. Pria itu justru mengukir senyum tipis yang teramat pahit.

“Jika ini caraku membayar semuanya ... maafkan aku, Andrea.”

BRAKKKKKKKKKKKKKK ....

Benturan dahsyat tak terelakkan terjadi. Mobil sport mahal milik Bara dihantam telak di bagian samping driver, terdorong belasan meter hingga terguling berkali-kali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan kondisi hancur tak berbentuk. Suara ledakan kecil, kaca yang hancur berkeping-keping, dan kepulan asap tebal memenuhi persimpangan jalan itu.

Darah segar mengalir deras dari pelipis Bara, membasahi wajahnya yang pucat. Di tengah kesadarannya yang perlahan lenyap dan deru sirine yang mulai bersahutan di kejauhan, jemari Bara yang tertutup darah bergerak perlahan di atas lantai mobil yang ringsek, seolah berusaha meraih bayangan jemari dingin Andrea yang tak akan pernah bisa ia sentuh lagi.

---

Sementara itu, di dalam rumah kontrakannya yang kecil, Andrea sedang berdiri di depan kompor, merebus air untuk membuat teh hangat.

Suasana di dalam ruangan itu sangat sunyi. Namun, tiba-tiba saja, tanpa alasan yang jelas, dada Andrea terasa dihantam oleh sesuatu yang menyesakkan. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar, dan perutnya mendadak tegang.

PRANG!

Cangkir keramik yang dipegangnya terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai semen dan hancur berkeping-keping.

"Agh ...." Andrea meringis pelan, memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri. Napasnya tersengal-sengal. Ada perasaan cemas yang liar dan tak bisa dijelaskan yang mendadak menyerang seluruh syaraf di tubuhnya.

Pagi itu Andrea masih merasa tak ada apapun yang terjadi. Hingga hari menjelang sore saat Andrea tak lagi sibuk di kios bunga tempatnya bekerja. Di tengah suasana santai itu Andrea berniat menghibur diri dengan melihat ponselnya.

Begitu layar ponselnya terbuka, terdapat sebuah notifikasi yang menampilkan berita darurat hari ini yang belum sempat ia buka. Rasa penasaran membuat Andrea membuka notifikasi tersebut. Sebuah portal media sosial lokal menampilkan berita terupdate yang terjadi.

[Sebuah kecelakaan maut baru saja terjadi di persimpangan Jalan Raya Diponegoro. Sebuah mobil mewah milik pengusaha muda ternama, Bara Adikara, ringsek parah setelah dihantam truk kontainer. Korban dikabarkan kritis dengan pendarahan hebat di kepala dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri]

Kamera wartawan menyorot bangkai mobil yang hancur dan di atas aspal yang basah, terlihat genangan darah dan sebuah jas Italia yang basah kuyup. Itu adalah jas yang sejak semalam melekat di tubuh Bara.

Ponsel di tangan Andrea terlepas, jatuh menghantam lantai.

Dunia Andrea seolah berhenti berputar detik itu juga. Seluruh udara di dalam ruangan mendadak tersedot habis, membuatnya tak bisa bernapas. Kakinya lemas bagaikan tanpa tulang.

"Nggak ... nggak mungkin ...." bisik Andrea, suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.

Meskipun benci setengah mati, meskipun ia telah menyumpahi pria itu untuk pergi dari hidupnya, berita itu menghantam jiwa Andrea bagaikan petir di siang bolong. Rasa syok yang luar biasa dahsyat menyerang mentalnya. Bayangan Bara yang berdiri basah kuyup dengan mata merah berair menatapnya beberapa jam lalu kembali berputar di ingatannya.

Pria yang baru saja ia usir dengan kata-kata paling kejam, kini sedang bertaruh nyawa di ambang kematian.

"Bara ..." lirih Andrea, tangannya refleks mencengkeram perutnya yang membuncit saat janin di dalam sana mendadak bereaksi, bergerak sangat keras seolah merasakan kehancuran sang ayah. Air mata yang sempat ia tahan akhirnya luruh melintasi pipinya yang seputih kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!