NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seolah Menghadapi Raja Singa

Elisa menahan napas ketika Pangeran Erlan melangkah perlahan ke arahnya. Setiap langkah pria itu terdengar mantap, seolah tidak ada sedikit pun keraguan. Jarak di antara mereka semakin menyusut hingga membuat tenggorokan Elisa terasa kering.

Sekarang ia benar-benar mengerti mengapa di dalam novel, Erlan selalu digambarkan memiliki tatapan setajam mata elang yang mampu membuat siapa pun kehilangan keberanian. Tatapan itu bukan sekadar dingin, melainkan penuh wibawa dan tekanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Itu bukan tatapan seorang pria biasa, melainkan tatapan seorang calon raja.

Meskipun wajahnya luar biasa tampan, di kehidupan sebelumnya, Elisa belum pernah melihat mahakarya seindah itu, tetapi tetap saja, Elisa lebih baik lari daripada harus ditatap oleh mata tajam Pangeran Erlan.

Tanpa sadar kedua kaki Elisa bergerak mundur selangkah demi selangkah. Nalurinya berteriak agar menjauh. Rasanya seperti seekor kelinci kecil yang tanpa sengaja terjebak di hadapan seekor singa yang sedang mengamati mangsanya.

Melihat reaksi itu, Erlan justru terus mendekat hingga punggung Elisa hampir menyentuh tembok yang ada di belakangnya.

"Katanya kau ingin membicarakan sesuatu denganku? Apa itu, Nandikara?" tanya sang pangeran. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya boleh didengar oleh mereka berdua.

Elisa menelan ludah."Anda terlalu dekat, Yang Mulia."

Di tengah situasi yang menegangkan itu, ia masih sempat memprotes. Wajah Erlan berada begitu dekat dengan wajahnya hingga ia bisa merasakan embusan napas pria itu. Bahkan demi menyamakan tinggi badan mereka, Erlan sedikit membungkukkan tubuhnya karena Elisa memang jauh lebih pendek.

"Benarkah?" Suara Erlan semakin lirih.

Aneh, semakin pelan suara pria itu, justru semakin kacau detak jantung Elisa. Gadis itu perlahan menundukkan kepala, berharap tatapan menekan itu menghilang dari pandangannya.

Namun baru saja dagunya bergerak turun, sebuah tangan besar menahan wajahnya dengan lembut. Erlan mengangkat dagunya kembali hingga mata mereka kembali bertemu.

Erlan seolah tidak suka jika Nandikara menghindari tatapannya.

Perlakuan mendadak itu membuat kesabaran Elisa mulai terkikis. Kedua alisnya berkerut, sementara pipinya sedikit memerah karena kesal."Yang Mulia... menyentuh wajah seorang gadis bangsawan tanpa izin adalah bentuk ketidaksopanan." Nada suaranya terdengar tajam, meski ia tetap berusaha menjaga sopan santun di hadapan putra mahkota.

Bukannya merasa bersalah, Erlan justru tersenyum tipis. Senyuman yang sangat samar. Namun cukup untuk membuat Elisa semakin cemberut.

Dimana letak lucunya?

Mentang-mentang seorang pangeran, apa dia merasa bisa melakukan apa saja?

Ucapan ketus Elisa seolah hanya dianggap angin lalu. Perlahan tangan Erlan bergeser dari dagunya menuju sudut matanya. Jemari pria itu menyentuh pelupuk mata Elisa dengan sangat hati-hati, seakan sedang mengamati sesuatu yang menarik.

"Mata ini..." gumam Erlan pelan."Kenapa sangat besar? Rasanya sangat tidak cocok dengan wajah kecilmu, Nandikara."

Elisa benar-benar kehilangan kesabarannya, percuma saja berbicara baik-baik dengan pria itu, tidak akan didengar, kemudian Elisa mendorong dada Erlan dengan kedua tangannya, berusaha menciptakan jarak di antara mereka.

Namun sia-sia. Tubuh pria itu sama sekali tidak bergeming. Rasanya seperti sedang mendorong dinding batu.

Elisa mencoba lagi. Tetap tidak bergerak.

Setelah beberapa kali berontak hingga napasnya mulai memburu, akhirnya ia menyerah dengan wajah penuh kekesalan."Lepaskan aku, Yang Mulia."

Suasana mendadak berubah.

Dalam hitungan detik, kelembutan samar yang sempat muncul di mata Erlan menghilang tanpa bekas. Tatapannya kembali setajam biasanya, dingin dan sulit ditebak."Jika kedatanganmu ke sini berniat untuk menolak ku," Suara Erlan terdengar datar, tetapi penuh tekanan."Buang pikiran itu jauh-jauh, Nandikara."

Mata bulat Elisa langsung membesar.

Bagaimana dia bisa tahu?

Jantungnya kembali berdegup kencang. Bukankah sejak tadi ia belum sempat mengutarakan tujuan kedatangannya?

Apa dia bisa membaca isi pikirannya?

Elisa meringis dalam hati. Karena rahasianya sudah lebih dulu ditebak, ia tidak lagi berniat berbasa-basi."Jika Yang Mulia sudah tahu, itu bagus. Jadi aku tidak perlu mengatakan hal yang panjang lebar."

Nada bicaranya terdengar ketus. Entah sejak kapan keberaniannya perlahan muncul. Mungkin karena ia sudah terlalu kesal dengan sikap Erlan yang terus-menerus bertindak semaunya.

Lagi-lagi, sudut bibir Erlan terangkat membentuk senyum tipis."Sayangnya aku sedang tidak ingin menerima penolakan, Nandikara." Suara rendah itu terdengar begitu tenang, seolah keputusan yang ia ucapkan tidak mungkin bisa diganggu gugat.

"Dengan atau tanpa persetujuan mu," Erlan mendekat sedikit lagi hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka."Kita akan menikah." Tatapannya tidak bergeser sedikit pun."Dan kau akan menjadi ratuku."

Elisa sedikit memberontak di dalam pelukan itu. Kedua telapak tangannya mendorong dada bidang sang pangeran, tetapi tenaga mereka benar-benar tidak sebanding. Semakin ia berusaha melepaskan diri, semakin jelas terasa betapa kokohnya lengan yang melingkari pinggangnya.

"Lepaskan aku!" serunya, kali ini sedikit lebih keras.

Napasnya mulai memburu. Tubuh kecilnya seolah remuk berada di dalam dekapan pria yang jauh lebih tinggi dan kuat darinya. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia sendiri bisa mendengarnya dengan jelas.

Namun, Pangeran Erlan tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya tetap tenang, bahkan terlalu tenang, seolah gadis yang sedang berusaha kabur itu tidak akan mampu pergi ke mana pun.

"Pikirkan tentang keluargamu, Nandikara." Suara berat itu hanya berupa bisikan di dekat telinganya, tetapi justru terdengar jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan.

Di dalam benak Erlan, kesabaran memang memiliki batas. Dia sudah mencoba bersikap lembut. Memberi waktu. Memberi kesempatan agar gadis itu menerima pinangannya dengan kemauan sendiri. Namun jika semua cara itu gagal, maka ia tidak keberatan menggunakan cara lain. Apa pun caranya. Selama pada akhirnya Nandikara menjadi miliknya. Hanya miliknya.

Elisa langsung membeku. Perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap mata kelabu pria itu dengan penuh keterkejutan."Apa Anda sedang mengancamku?" Nada suaranya pelan, tetapi jelas dipenuhi ketidakpercayaan.

"Tentu saja tidak." Jawaban Erlan terdengar datar. Salah satu tangannya yang bebas bergerak perlahan menuju rambut Elisa. Jemarinya menyentuh helaian rambut yang sedikit berantakan akibat perlawanan gadis itu. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia merapikannya hingga kembali jatuh rapi di belakang telinga.

Kontras yang aneh. Tangannya begitu lembut, sementara kata-katanya begitu menekan.

"Aku hanya mencoba mengingatkanmu," lanjut Erlan tanpa mengalihkan pandangan."Bagaimana nasib Tuan Winter jika putrinya menolak pinangan calon raja?"

Kalimat itu membuat seluruh tubuh Elisa menegang. Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Ayahnya pasti akan menjadi bahan pembicaraan seluruh kerajaan. Keluarga Winter akan dicap tidak tahu sopan santun. Para bangsawan mungkin akan mengucilkan ayahnya karena dianggap gagal mendidik putrinya. Bahkan bukan tidak mungkin, kedudukan keluarganya ikut terancam.

Elisa menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak.

Ternyata pria ini, benar-benar tahu titik terlemahnya.

"Anda sangat licik." Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa sempat ia tahan. Begitu menyadari apa yang baru saja diucapkannya, kedua mata Elisa langsung membulat.

Astaga! Apa yang baru saja kukatakan?

Refleks ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, wajahnya berubah pucat. Ia menunggu kemarahan sang pangeran. Menunggu tatapan dingin. Atau mungkin hukuman karena telah berbicara lancang kepada putra mahkota.

Namun, tidak ada apa-apa. Wajah Erlan tetap tenang. Tidak terlihat marah. Tidak pula merasa tersinggung. Tatapan pria itu bahkan tidak berubah sedikit pun.

"Dalam sebuah perjuangan," ucap Erlan pelan,"tidak ada kata licik, Nandikara." Ia berhenti sejenak, memastikan gadis di hadapannya mendengar setiap kata yang diucapkannya."Aku menginginkanmu." Nada suaranya tetap datar. Tidak tinggi. Tidak penuh emosi. Justru ketenangan itulah yang membuat kalimat berikutnya terdengar jauh lebih menakutkan.

"Jadi itulah yang akan terjadi."

Elisa hanya bisa menatapnya tanpa berkedip.

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!