Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Mobil sport mewah itu membelah jalanan Los Angeles yang mulai lengang dengan kecepatan tinggi. Gelapnya malam dan pancaran lampu jalan yang berkelebat di atas kap mesin menciptakan suasana hening yang sarat akan ketegangan.
Di dalam kabin yang senyap, hanya terdengar deru halus mesin V8 dan deru napas Rossi yang belum sepenuhnya teratur.
Rossi duduk dengan sangat gelisah di kursi penumpang. Tubuhnya yang mungil terasa kaku, tidak berani menyandarkan punggung secara penuh pada lapisan kulit premium kursi mobil tersebut.
Sejak tadi, rasa tidak nyaman membakarnya dari dalam. Bahan gaun malam tipis dan pendek yang terpaksa ia kenakan terasa kasar dan melekat aneh di kulitnya, membuatnya kepanikan.
Ditambah lagi dengan hawa kabin yang lambat laun terasa hangat di badannya yang sempat terguncang hebat, Rossi berulang kali berusaha menarik bagian bawah gaunnya yang serba minim agar bisa menutupi pahanya yang terekspos.
Namun, semakin ia berusaha menariknya turun, gaun itu justru semakin terangkat dan tersingkat karena gerakannya yang canggung.
Rowan Vale-Knight, yang matanya fokus memandang lurus ke jalanan di depannya, tidak melupakan keberadaan penumpang ilegalnya. Melalui sudut matanya, ia memperhatikan setiap pergerakan gelisah dari gadis di sampingnya.
Pria berusia 29 tahun itu sangat paham betapa tidak nyamannya Rossi dengan pakaian yang menempel di tubuhnya saat ini.
Tanpa menghentikan laju mobil secara mendadak, Rowan mengarahkan kemudinya ke bahu jalan yang agak redup, lalu menarik rem tangan.
Dengan gerakan yang tenang dan anggun, Rowan melepas kancing jas mewahnya. Ia meloloskan kedua tangannya dari lengan jas berpotongan sempurna itu, memutar tubuhnya, lalu menyodorkan jas hitam beraroma maskulin yang hangat itu ke arah Rossi.
"Pakailah," perintah Rowan datar, tanpa intonasi yang bisa dibantah.
Rossi tertegun sejenak. Ia menatap jas mahal yang kini berada di pangkuannya, lalu beralih menatap wajah tampan Rowan yang berprofil tegas. "Te-terima kasih, Tuan..." bisiknya pelan.
Mengabaikan rasa panas yang menjalar aneh di seluruh permukaan kulit tubuhnya—bercampur antara rasa canggung dan sisa adrenalin melarikan diri—Rossi berusaha meraih jas tersebut. Namun, otaknya yang tak pernah berhenti mencari cara untuk menyelamatkan diri, melihat berhentinya mobil ini sebagai sebuah kesempatan emas.
Sambil berpura-pura hendak memakai jas tersebut, jemari Rossi yang gemetar meraba-raba bagian dalam pintu mobil.
Tangannya mencari gagang pintu dengan liar. Tapi, karena ini adalah mobil sport buatan Eropa pertama yang pernah ia naiki sepanjang 24 tahun hidupnya, mekanisme pembukaan pintunya sangat asing.
Jemarinya justru menekan tombol-tombol yang salah, menciptakan rabaan acak yang amat kentara.
Pergerakan mencurigakan dan kecanggungan itu tentu saja tidak luput dari indra Rowan yang tajam.
Rowan terkekeh pelan—sebuah tawa pendek yang terdengar dingin dan meremehkan. Pria itu menyandarkan satu tangannya di lingkar kemudi, menatap Rossi yang mendadak membeku di tempatnya.
"Kau ingin kabur?" tanya Rowan dengan nada geli yang beracun.
Rossi Widmer, yang merasa kepalanya baru saja dijatuhi batu karena tertangkap basah, langsung membuang mukanya ke depan.
Untuk menyembunyikan tingkah konyol dan ketakutannya, ia cepat-cepat menarik jas Rowan dan mengenakannya ke tubuhnya.
"O-oh, tidak Tuan... Saya... gaun saya tidak sengaja tersangkut tadi," ucapnya beralasan, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
Ia merapatkan jas pria itu ke tubuhnya yang mungil. Jas tersebut memang sangat besar untuk ukuran tubuh Rossi, mampu menutupi bahu dan dadanya secara sempurna. Namun, karena potongan jas yang terbatas, pakaian itu tetap tidak dapat menutupi bagian pahanya hingga ke bawah.
Pria di sampingnya ini memiliki tubuh yang begitu tinggi, tetapi jas itu tetap saja tidak berfungsi seperti gaun panjang.
Rowan menatap paha mulus gadis itu sejenak sebelum kembali menatap mata Rossi dengan tatapan tajam yang mengunci.
"Jangan berani-berani untuk kabur," desis Rowan pelan namun menekankan dominasi. "Kau sudah mengiyakan untuk memberikanku anak sebagai balasannya."
Sialan!
Kata makian kasar itu langsung meluncur mulus di dalam benak Rossi. Dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel yang membakar.
Keluar dari kandang singa, aku malah masuk ke dalam kandang serigala! Kota ini memang sekejam ini! batinnya lirih, merasa nasibnya selalu dipermainkan oleh keadaan.
Rossi bukan wanita polos yang dibesarkan di balik tembok kaca. Meski ia tumbuh di desa terpencil di Central Valley, hidup dalam pengasingan dan kekasaran lingkungan telah membentuknya menjadi sosok yang awas.
Dia bukan wanita yang tidak mengerti arti dari perkataan pria di sampingnya. Kata 'anak' yang keluar dari mulut pria ini sejak tadi... Rossi sangat paham bahwa pria kaya ini berniat menidurinya dan menjadikannya pemuas kebutuhan sekaligus pabrik anak tanpa ikatan.
Dia pikir aku gadis murahan?! Tidak! Aku bukan wanita lemah yang membutuhkan pertolongan seperti yang ada di dalam benakmu, Tuan! Aku bahkan sedang berniat membunuh ayahku sendiri saat ini... Atau kau yang ingin jadi korbanku yang pertama?! batin Rossi membara, matanya menatap Rowan dengan kilatan amarah yang tersembunyi.
Namun detik berikutnya, kesadaran Rossi memukul kepalanya sendiri.
Eh, tidak-tidak... kenapa aku jadi sesikopat ini? lirihnya lagi dalam hati, merutuki pikirannya sendiri yang mulai liar akibat stres bertubi-tubi.
Mencoba memutar otak dan mencairkan suasana yang tertekan ini, Rossi akhirnya memberanikan diri membuka suara. Ia merubah taktiknya dari perlawanan fisik menjadi permainan kata-kata.
"Kenapa Anda tidak menikah saja, Tuan?" tanya Rossi dengan nada bertanya sejujur mungkin. "Anda sangat kaya dan tampan. Anda bisa mendapatkan anak secara sah setelah menikah."
Rowan menoleh sejenak saat ia kembali menyalakan mesin dan memutar kemudi untuk kembali ke jalan utama. Untuk sejenak, pertanyaan sederhana itu menghantam bagian paling rapuh di dalam dadanya.
"Aku sudah menikah," sahut Rowan dingin. Namun, tanpa sengaja, kekecewaan mendalam membuat kalimat selanjutnya lolos begitu saja dari bibirnya, "Tapi istriku tidak siap melahirkan anak untukku."
Rowan sedikit mengutuk dirinya dalam hati karena telah membocorkan masalah privasi rumah tangganya pada seorang gadis asing. Namun amarah pada Cathez yang masih menyala-nyala membuatnya tidak peduli lagi.
"Dan..." Rowan meneruskan ucapannya, suaranya kembali mengeras dan penuh intimidasi, "itulah kenapa aku memintanya darimu. Kalau kau tidak mau, aku bisa membawamu kembali ke tempat tadi. Menyerahkanmu pada orang-orang berjas hitam itu."
Rossi membelalakkan matanya, menatap pria di sampingnya dengan ketakutan murni. "Kau jahat, Tuan! Demi Tuhan... aku tidak bisa..."
Di tengah keputusasaan yang menghimpit, otak Rossi yang terbiasa bertahan hidup di desa tiba-tiba memunculkan sebuah ide liar.
Sebuah jawaban pertahanan diri yang ia yakini akan membuat pria kaya beradab seperti di sampingnya ini mundur teratur.
Rossi membusungkan dadanya yang terbalut jas Rowan, lalu berkata dengan tegas, "Saya tidak bisa memberikan seorang anak tanpa status pernikahan yang jelas! Saya bukan wanita seperti itu, Tuan."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dipikir panjang.
Dalam hati, Rossi tersenyum penuh kemenangan. Pria kaya, terpandang, dan sudah memiliki istri ini pasti akan menciut.
Mana mungkin seorang pengusaha elit mau merusak nama baiknya dengan menikahi seorang gadis tidak jelas, tanpa asal-usul, dan berantakan seperti dirinya? Pria ini pasti akan berpikir dua kali, merasa enggan, dan akhirnya akan menurunkannya secara sukarela di perempatan depan. Dan saat itulah Rossi bisa bebas.
Namun, siapa sangka? Dunia nyata sama sekali tidak berjalan sesuai naskah di dalam kepala Rossi.
Rowan tidak tampak kaget, tidak terintimidasi, dan sama sekali tidak berniat menginjak pedal remnya. Sebaliknya, pria itu justru melirik Rossi dari sudut matanya, lalu sebuah ukiran senyum tipis yang penuh keputusan gila terbentuk di bibirnya.
"Mudah," sahut Rowan dengan suara yang sangat tenang namun sanggup meruntuhkan seluruh dunia Rossi dalam sekejap. "Ayo kita menikah! Dan lahirkan anakku."
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰