NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Pelarian di Tengah Hutan

Darah di dalam Dantian Sun Chen bergejolak hebat saat raga balitanya melesat menembus kegelapan Hutan di luar Kota Gunung Hijau. Pohon-pohon pinus raksasa tampak bagaikan bayangan hitam yang melintas cepat di kanan dan kirinya.

Brak!

Dari arah belakang, dentuman tenaga dalam yang berasal dari kawasan pergudangan kota masih meledak bertubi-tubi. Getaran Qi dari pertempuran antara Chou Tian dan Pelindung Merah mengguncang udara malam, memancarkan gelombang angin yang menggerakkan Dedaunan di dalam hutan.

Sun Chen menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga rasa asin darah memenuhi mulutnya. Setiap naluri pertarungan di dalam jiwanya menuntutnya untuk berbalik dan bertarung di samping gurunya. Namun, gema suara Chou Tian yang memerintahkannya untuk lari terus bergema di dalam kepalanya. Sun Chen tahu, memaksakan diri kembali saat ini sama saja dengan membuang sia-sia pengorbanan yang telah dibuat oleh sang guru.

Ia harus bertahan hidup.

Melangkah menembus hutan yang gelap gulita, Sun Chen langsung menggunakan seluruh pengalaman hidupnya sebagai mantan Jenderal Demonic. Ia menyadari bahwa tubuh anak-anaknya tidak akan sanggup berlari terus-menerus mengandalkan kecepatan fisik murni.

Sun Chen menghentikan langkahnya di atas sebuah batu kali. Ia tidak lagi melangkah di atas tanah basah yang mudah meninggalkan bekas pijakan. Sebaliknya, ia melompat dari satu permukaan batu licin ke permukaan batu lainnya, lalu menyusuri aliran sungai dangkal sejauh beberapa ratus langkah.

Saat keluar dari sungai, Sun Chen sengaja menggunakan ranting pohon kering untuk menegakkan kembali rumput-rumput yang terinjak, menyebarkan jalur jejak palsu ke arah jurang timur, sementara raga kecilnya sendiri membelok menyusup ke kawasan berbatu di sebelah barat. Semua teknik penyamaran dan penghapusan jejak ini tereksekusi dengan sangat rapi, murni mengandalkan kejelian taktik dan kecerdikan pengalamannya, bukan dengan pamer tenaga dalam.

Sementara itu, di pinggir hutan dekat dinding benteng kota yang hancur.

Sekelompok pemburu bergaun hitam melompat keluar dari gulungan debu. Di barisan paling depan, Lu Gu melangkah dengan napas terengah-engah, memegangi dadanya yang masih memar.

"Cari bocah itu!" seru Lu Gu dengan suara serak penuh amarah. "Pelindung Merah sedang menahan si tua bangkai Chou Tian! Bocah itu masih balita dan tidak mungkin berlari jauh! Sebarkan barisan dan kepung seluruh area hutan ini!"

Belasan pemburu elit segera memisahkan diri, melesat masuk ke dalam kerapatan pohon-pohon pinus untuk melacak sisa-sisa keberadaan Sun Chen.

Satu jam berlalu dalam ketegangan.

Di tengah hutan perbukitan barat yang diselimuti kabut malam, Sun Chen merayap di bawah lindungan semak-semak berduri. Indra spiritual dasarnya mendeteksi tiga gelombang napas asing yang terus bergerak mendekati posisinya.

Para pemburu elit itu bergerak sangat cepat. Meskipun Sun Chen telah menyesatkan jejak utamanya, jumlah musuh yang menyebar membuat jarak di antara mereka semakin menipis.

Sun Chen mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kondisi raga balitanya saat ini terlampau lemah untuk menghadapi pertempuran terbuka. Benih Qi di dalam Dantiannya sudah berada di ambang batas menyusut, dadanya terasa nyeri bagaikan dihantam batu, dan rasa lapar serta haus yang amat sangat mulai menggerogoti daya tahannya. Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Sun Chen merasakan secara nyata betapa terbatasnya raga anak kecil berusia empat tahun ini.

Ia tidak boleh bertarung secara langsung. Ia harus memanfaatkan medan.

Sun Chen menggiring pergerakannya menuju kawasan tebing batu yang lapuk dan dipenuhi kabut tebal. Di sana, menggunakan sisa tenaganya, Sun Chen menyiapkan beberapa jebakan sederhana. Ia mengikis tumpuan batu di pinggir lereng, mengikat akar pohon yang tegang di celah jalur sempit, dan menumpuk batu-batu tajam di balik semak-semak.

Klak!

Seorang pemburu bergaun hitam yang melangkah terburu-buru menapak pada tumpuan batu lapuk yang telah dikikis Sun Chen. Lereng batu runtuh seketika, membuat pemburu itu terperosok dan terhempas ke dalam jurang dangkal dengan jeritan tertahan. Pemburu kedua yang mencoba mengejar tersandung akar pohon yang dipasang Sun Chen, jatuh terjerembap menghantam bebatuan tajam hingga pingsan dengan luka parah di wajahnya.

Jebakan-jebakan itu tidak membunuh para pemburu utama, namun berhasil memecah konsentrasi kelompok pengejar dan mengulur waktu yang sangat berharga bagi Sun Chen untuk terus menjauh.

Saat Sun Chen berhasil memanjat sebuah bukit batu yang lebih tinggi, sebuah dentuman yang jauh lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya mendadak bergema dari arah Kota Gunung Hijau.

Brak!

Ledakan gelombang Qi yang amat masif membumbung tinggi ke langit malam. Udara di seluruh kawasan hutan bergetar hebat, membuat daun-daun pinus berguguran dan kawanan burung malam terbang berhamburan ketakutan.

Sun Chen menghentikan langkahnya di atas batu besar. Ia membalikkan badan, menatap ke arah kota yang kini tampak diselimuti asap tebal di bawah remang cahaya bulan.

Dada Sun Chen bergejolak hebat. Ia tahu betul, ledakan dahsyat itu adalah pelepasan seluruh sisa tenaga dalam dari pertarungan puncak antara Chou Tian dan Pelindung Merah. Namun, di tengah jarak yang jauh dan kegelapan malam, tidak ada cara bagi Sun Chen untuk mengetahui bagaimana hasil akhir dari duel maut tersebut. Nasib sang guru kini sepenuhnya menjadi misteri yang menyelimuti malam.

Sun Chen mengepalkan tangan kecilnya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap dalam. Dengan memaksakan rasa perih di dadanya, ia berbalik dan melanjutkan pelariannya menembus kegelapan fajar.

Menjelang subuh, ketika garis-garis cahaya keemasan pertama mulai membiaskan kegelapan di ufuk timur, Sun Chen tiba di sebuah lereng tebing terjal yang terisolasi.

Di balik himpitan akar-akar pohon tua dan semak belukar yang rapat, Sun Chen menemukan sebuah celah gua batu kecil yang sangat tersembunyi. Tempat itu hampir tak terlihat dari luar.

Dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir habis, Sun Chen menyusup masuk ke dalam celah gua tersebut. Raga kecilnya langsung roboh tersandar ke dinding gua yang dingin, terengah-engah mencari udara.

Saat ia memegangi dadanya yang perih untuk mengatur napas, jemarinya tersentuh sesuatu yang keras di balik kantong jubah dalam bagian dadanya.

Sun Chen tertegun. Ia merogoh lipatan bajunya dan menarik keluar sebuah kantong kain sutra berwarna hitam.

Kantong ini tidak ada di bajunya kemarin. Sun Chen seketika teringat momen tepat sebelum pertarungan meletus di pergudangan barat, saat Chou Tian menepuk dada kecilnya dan menyuruhnya bersiap. Sang guru telah menyelipkan kantong penyimpanan ini secara diam-diam tanpa disadari olehnya.

Dengan tangan yang gemetar, Sun Chen membuka ikatan tali kantong kain tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa botol porselen kecil berisi pil penyembuh luka dalam, belasan keping emas dan perak, selembar peta kulit kuno yang menunjukkan jalur aman menuju wilayah Provinsi Selatan, serta selembar kertas tebal yang terlipat rapi.

Di atas kertas tebal itu, terukir tulisan tangan yang kasar namun tegas. Tulisan tangan milik Chou Tian.

Sun Chen membuka lipatan kertas itu dan membacanya di bawah temaram cahaya fajar yang menerobos masuk melalui celah akar.

"Sun Chen, Muridku."

"Jika kau membaca tulisan ini, berarti raga tua ini telah gagal untuk terus mendampingi langkahmu. Jangan biarkan hatimu dipenuhi oleh penyesalan atau amarah yang buta. Dendam yang terburu-buru hanya akan menghancurkan Dantianmu dan membuang sia-sia pengorbanan yang telah dibuat."

"Dunia persilatan di luar sana sangat kejam, namun ingatlah selalu syarat pertama yang kuajarkan padamu: jagalah selalu hati nuranimu, dan gunakan kekuatanmu untuk melindungi mereka yang tidak sanggup membela dirinya sendiri."

"Lanjutkan perjalananmu menuju wilayah perbatasan Provinsi Selatan, carilah sahabat lamaku di dekat wilayah Klan Wei untuk menyembuhkan luka-lukamu dan membimbing langkah awalmu. Hiduplah, Sun Chen. Berdirilah tegak di atas takdirmu sendiri."

Tangan kecil Sun Chen gemetar semakin hebat saat menyelesaikan baris terakhir tulisan tersebut.

Keheningan melingkupi gua batu yang dingin itu. Untuk pertama kalinya sejak ia terlahir kembali di kehidupan kedua ini, pertahanan emosi jiwa veteran Sun Chen runtuh. Air mata menetes pelan dari sudut matanya, jatuh membasahi kertas lembaran surat tersebut. Kehangatan seorang pembimbing yang baru saja ia rasakan kini harus terenggut kembali oleh kejamnya takdir dunia persilatan.

Namun, tangisan itu tidak berlangsung lama. Sun Chen mengusap air matanya dengan lengan jubahnya, melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, dan menyimpannya di tempat paling aman di dalam dadanya.

Ia meluruskan kakinya, duduk bersila di atas lantai gua yang dingin, dan mulai mengatur pernapasan dasar. Benih Qi keemasan di dalam Dantiannya perlahan-lahan kembali berputar, mengalirkan rasa hangat yang memulihkan otot-ototnya yang memar. Di dalam batinnya, sebuah sumpah yang tak tergoncangkan terpatri rapat: ia akan memenuhi seluruh amanat gurunya, tumbuh menjadi pendekar terkuat, dan menghancurkan organisasi pemburu itu sampai ke akar-akarnya.

Matahari pagi perlahan meninggi, memancarkan Sinar terang yang mengusir sisa-sisa kabut di luar gua.

Tiba-tiba, di tengah keheningan meditasi Sun Chen, indra spiritual dasarnya menangkap gesekan halus Dedaunan di luar mulut gua.

Srekk... Srekk...

Suara langkah kaki seseorang mendekat dengan sangat pelan, berhenti tepat di balik himpitan akar pohon yang menutupi pintu masuk gua.

Mata Sun Chen terbuka seketika. Sorot matanya mendadak berubah menjadi amat dingin dan tajam. Dengan gerakan yang sangat seimbang, tangan kirinya meraih bungkusan kain berisi lempengan besi berkarat, sementara tangan kanannya merapat ke pinggang, siap melepaskan dorongan benih Qi terakhir yang dimilikinya.

Di celah akar pohon yang menutupi mulut gua, siluet sesosok tubuh berdiri diam, menutupi masuknya cahaya matahari pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!