NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

***

Langit malam di atas Hulu Rawa membentang bagaikan kain beludru hitam yang ditaburi ribuan bintang. Di tengah pelataran luas depan Rumah Adat, sebuah api unggun raksasa membumbung tinggi, melemparkan pendar jingga hangat dan percikan api yang menari-nari menembus kegelapan. Suara tabuhan gendang kayu, gesekan alat musik petik tradisional, serta gelak tawa warga membahana, menggantikan suasana tegang yang menyelimuti desa selama beberapa hari terakhir.

Pesta syukuran digelar meriah atas pulihnya anak-anak desa dari bahaya racun. Aroma daging rusa panggang berbumbu rempah hutan dan beras ketan kukus menguar lezat di udara, memanggil siapa saja untuk menikmati kehangatan malam.

Melani duduk di salah satu bangku kayu panjang di dekat pinggir pelataran. Bidan muda berwajah manis itu tampak begitu anggun mengenakan pakaian tenun birunya. Senyum ramah tak pernah lepas dari bibirnya saat menyapa warga yang hilir mudik menyapanya.

"Bidan Melani!" panggil sebuah suara mungil.

Seorang anak laki-laki kecil—salah satu pasien yang semalam dirawat Melani akibat keracunan—berlari mendekat sambil tersenyum lebar. Pipi anak itu yang tadinya pucat kini kembali merona segar.

"Wah, Bimo! Sudah bisa berlari lincah begini, ya?" puji Melani lembut seraya berlutut menyejajarkan tingginya dengan anak itu. Jemari lentiknya mengusap kepala sang bocah penuh kasih sayang.

"Sudah tidak sakit perut lagi, Bu Bidan! Terima kasih air hitam dan air kelapanya kemarin!" seru Bimo polos. Ia menyodorkan seikat buah rambutan hutan yang merah merona. "Ini untuk Bu Bidan dari Ibu dan Bapak!"

Belum sempat Melani menjawab, beberapa warga lain berdatangan mengekor di belakang Bimo. Para ibu dan pemuda desa membawa beragam buah tangan: keranjang-keranjang bambu berisi ubi cilembu, madu hutan murni dalam bumbung, pisang raja, ikan asap segar, hingga kriya ukiran kayu kecil.

"Ini dari kami, Bidan Melani. Tolong diterima," ujar seorang ibu dengan mata berkaca-kaca penuh haru.

"Aduh... Bapa, Ibu, terima kasih banyak atas kebaikannya..." ujar Melani, matanya membelalak kaget melihat tumpukan hadiah yang makin meninggi di atas meja kayunya. Ada rasa kebingungan yang merayap halus di balik wajah bahagianya.

Melani menggaruk pelipisnya yang tak gatal, menatap tumpukan hasil bumi dan cinderamata itu dengan canggung. Jujur saja, dalam hatinya yang paling dalam, Melani merasa sedikit keberatan menerima semua ini. Bukan karena ia tak menghargai ketulusan mereka, melainkan karena keterbatasan dirinya sendiri.

Ia hidup sendirian di desa ini. Bangunan tempat tinggalnya hanyalah sebuah mess kecil berukuran tiga kali empat meter yang menempel di samping Puskesmas Pembantu. Ruangannya sangat sempit, hanya cukup untuk satu dipan kayu, lemari pakaian kecil, dan meja periksa. Bagaimana mungkin ia bisa menyimpan belasan keranjang ubi, puluhan sisir pisang, dan cinderamata sebanyak ini? Jika tidak segera dihabiskan, semua makanan segar ini hanya akan membusuk sia-sia.

"Bukan apa-apa, Bu... saya senang sekali," bisik Melani pelan pada Bu Minah yang berdiri di dekatnya, mencoba menyampaikan keberatannya tanpa melukai perasaan warga. "Tapi... mess saya kecil sekali, Bu Minah. Saya tinggal sendirian, tidak akan sanggup menghabiskan semua hasil panen sebanyak ini. Nanti kalau busuk, kasihan usaha Bapa dan Ibu yang sudah memanennya."

Bu Minah tertawa terkekeh, menepuk pelan bahu Melani. "Bidan Melani ini polos sekali, ya. Maksud kami memberikan ini agar Bidan tidak perlu repot-repot mencari bahan makan selama bertugas di sini."

Melani menyunggingkan senyum manisnya, lalu mendapatkan sebuah ide cerdik yang positif. Ia menatap anak-anak desa yang berkumpul di sekelilingnya dengan mata berbinar.

"Bagaimana kalau begini?" ujar Melani nyaring namun ramah, membuat warga menoleh padanya. "Saya terima semua pemberian tulus dari Bapa dan Ibu sekalian, tapi boleh ya kalau malam ini juga kita makan bersama-sama di dekat api unggun? Kita bagi hasil panen ini untuk anak-anak dan seluruh warga yang ada di sini!"

"Wah! Mau, Bu Bidan! Mau!" sorak Bimo dan anak-anak desa lainnya sambil bertepuk tangan gembira.

Warga yang mendengar keputus bijak dan murah hati dari Bidan Melani mendesah kagum. Kehangatan Melani yang mau berbagi kembali meluluhkan hati mereka. Dalam sekejap, anak-anak desa mengerumuni Melani. Ada yang menarik-narik ujung kain tenunnya, ada yang memamerkan mainan kayunya, dan para ibu bersenda gurau memuji paras cantiknya yang tiada tanding di desa tersebut.

Dari atas teras Rumah Adat yang agak tinggi, sosok Rangga Wira berdiri memperhatikan pemandangan itu. Pria tegap itu mengenakan jubah adat kebesarannya yang disulam benang emas tipis di bagian dada, dipadukan dengan kain tenun gelap yang melilit pinggangnya.

Sorot matanya yang sehitam malam tak pernah beralih dari pendar wajah Melani. Di bawah pendar cahaya api unggun yang memantul di kulit mulusnya, kecantikan Melani tampak begitu ajaib—manis, tulus, dan penuh energi kehidupan yang menghangatkan suasana desa yang biasanya sunyi dingin.

Rangga Wira mengelus sebuah wadah kain sutra kecil di balik saku jubahnya. Keputusan dalam dadanya telah bulat.

Dengan langkah tegap dan berwibawa, sang Ketua Adat berjalan turun menaiki anak tangga kayu Rumah Adat. Begitu langkah kaki Rangga memijak pelataran, tabuhan gendang perlahan mereda. Warga yang tadinya riuh mendadak membuka jalan, memberikan ruang bagi pimpinan tertinggi mereka untuk melangkah menuju tempat Melani berdiri.

Melani yang sedang membagikan pisang raja kepada anak-anak mendongak. Jantungnya seketika berdesir hebat saat mendapati Rangga Wira melangkah makin dekat ke arahnya. Wajah tampan dan garis rahang tegas pria itu tampak begitu mengintimidasi namun sarat akan kelembutan yang hanya ditujukan padanya.

"Rangga..." gumam Melani pelan, menyebut nama pria itu sesuai dengan permintaan mereka saat di hulu sungai sore tadi.

Rangga Wira menghentikan langkahnya tepat satu tapak di hadapan Melani. Udara di antara mereka mendadak terasa hangat oleh aroma asap kayu bakar dan wangi khas cendana dari tubuh Rangga.

"Wargaku sekalian!" suara bariton Rangga Wira menggelegar tenang, memecah keheningan pelataran. Seluruh warga menahan napas, menyimak ucapan sang Ketua Adat.

"Malam ini, bumi Hulu Rawa menyaksikan kebaikan yang kembali mengalir," lanjut Rangga, matanya menatap lurus ke dalam manik mata jernih Melani. "Bidan Melani telah menyerahkan jiwa, raga, dan keahliannya untuk menjaga darah keturunan kita tetap hidup."

Rangga merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah kalung tenun buatan tangan yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari jalinan serat kayu langka berwarna merah marun berlapis benang emas, dengan sebuah batu hitam jernih berbentuk lonjong di tengahnya.

Mbah Baya dan para tetua adat yang menyaksikan hal itu dari kejauhan membelalakkan mata kaget.

"Itu... kalung tenun milik mendiang Ibu Ki Rangga!" bisik Mbah Baya dengan nada tak percaya seraya menahan napas.

"Kalung itu adalah simbol perlindungan tertinggi suku kita..." sahut tetua lainnya penuh takjub.

Melani memandangi kalung di jemari besar Rangga dengan raut bingung namun terpesona. "Pak Rangga... ini apa?"

Rangga Wira melangkah setengah tapak lebih dekat, berdiri sangat rapat dengan Melani hingga bidan muda itu bisa merasakan kehangatan dada lapangnya.

"Ini adalah Sumpah Tenun milik mendiang ibu saya," bisik Rangga dengan suara berat yang menggetarkan dada Melani. "Di tanah Hulu Rawa, barang siapa yang mengenakan kalung ini... ia tidak hanya dihormati sebagai warga adat, tetapi secara tersirat berada di bawah perlindungan pribadi, jiwa, dan darah dari Ketua Adat."

Melani menahan napasnya, matanya membelalak pelan. Perlindungan pribadi Ketua Adat?!

Rangga Wira perlahan mengangkat kedua tangannya, melingkarkan kalung tenun bernilai sakral itu ke leher Melani. Jarak jemari hangat Rangga yang menyentuh tengkuk dan merapikan helai rambut hitam Melani membuat merinding halus merayap di kulit mulus sang bidan. Pipi Melani seketika merona merah padam di hadapan ratusan pasang mata warga.

"Dengan ikatan tenun ini..." seru Rangga Wira nyaring ke arah warga seraya menatap Melani, "Saya tegaskan kembali di depan api suci ini: Bidan Melani adalah jiwa yang tak boleh disentuh oleh kejahatan apa pun di tanah ini! Barang siapa yang berniat buruk padanya, ia berhadapan langsung dengan saya dan seluruh kekuatan Hulu Rawa!"

Tepuk tangan dan sorak riuh warga membahana seketika, memecah keheningan malam. Anak-anak bersorak gembira menyambut Bu Bidan mereka yang kini secara resmi menjadi sosok yang amat dilindungi di desa mereka.

Melani memegang batu hitam di dada bagian atasnya, menatap lurus ke dalam mata hitam Rangga Wira yang tajam namun penuh kejujuran. Di tengah gejolak emosi dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Melani tahu... langkahnya di tanah buangan ini tak lagi dirayapi rasa sepi.

Bersambung..

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!