MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~KEPUTUSAN UNTUK MENJAUH
Langkah kaki Disya terasa sangat berat saat melangkah keluar dari gerbang agensi Blue Sky. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena rasa sakit yang menggerogoti setiap sudut hatinya. Kata-kata tajam, tuduhan keji, dan tatapan merendahkan Min Jae masih terngiang jelas di telinganya, seolah belum berhenti berputar di kepala. Ia menatap langit yang mendung, dan baru benar-benar sadar betapa kecil dan hinanya posisinya selama ini di mata pria itu.
Ia pulang ke apartemen mewah yang selama ini menjadi tempat berlindungnya. Tempat yang dulunya terasa hangat dan aman, kini terasa dingin, sempit, dan menyesakkan—seperti sangkar emas yang mengurungnya tanpa kebebasan. Disya berdiri diam di tengah ruang tamu yang luas, menatap sekeliling dengan mata yang kini mulai kering, digantikan oleh keteguhan hati yang perlahan tumbuh dari sisa kehancurannya.
Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, batinnya tegas. Aku tidak mau lagi hidup dari kemewahan orang yang tak pernah sekalipun percaya padaku. Aku tidak mau membiarkan orang lain menginjak-injak harga diriku hanya karena aku menerima pemberiannya.
Disya segera bergerak. Ia membuka lemari pakaian besar di kamar tidur, lalu memilah satu per satu isi lemari itu. Semua gaun mahal bermerek, sepatu berharga jutaan, tas-tas indah—semua pemberian Min Jae—ia letakkan kembali dengan rapi di tempat asalnya. Ia tidak mengambil satu pun barang itu. Ia hanya mengambil pakaian lama yang dulu ia miliki sebelum mengenal Min Jae, tas sekolah yang sudah agak kusam, buku harian pribadinya, serta beberapa barang kenangan dari almarhum ayahnya. Itu saja. Sisanya, biarlah tetap di sini, milik pemilik aslinya.
Saat ia sedang merapikan meja kerja, matanya menangkap sebuah kotak kecil berwarna biru tua yang terselip di sudut laci. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya tergeletak kalung berlian yang berkilau cantik, beserta sekotak coklat premium yang belum dibuka—pasti oleh-oleh yang dibawa Min Jae dari Paris. Hati Disya berdenyut perih sejenak, namun ia segera menutup kotak itu dan meletakkannya kembali di meja. Barang ini terlalu mahal untuk seseorang yang dianggap sekadar pelayan murah.
Di samping kotak itu, ia meletakkan kunci mobil mewah Mercedes milik Min Jae yang dulu ia pakai, serta kartu kredit tak terbatas yang pernah diserahkan Min Jae padanya. Semuanya diletakkan rapi, tak ada satu pun yang ia bawa.
Terakhir, ia mengambil secarik kertas dan pulpen. Tangannya tak lagi gemetar saat menuliskan pesan singkatnya:
"Terima kasih untuk waktu yang pernah kamu berikan. Sekarang aku berhenti di sini."
Disya meletakkan kertas itu di atas tumpukan barang-barang pemberian Min Jae, lalu memandang ruangan itu untuk terakhir kalinya. Air mata akhirnya jatuh lagi, namun ia segera menghapusnya. Ia berbalik, melangkah keluar, dan menutup pintu apartemen itu rapat-rapat, seolah menutup juga babak hidupnya bersama Min Jae.
Ia langsung menuju apartemen kecil lamanya—tempat sederhana, sempit, dindingnya agak kusam, tapi miliknya sendiri. Sesampainya di sana, ia langsung mematikan semua notifikasi dari nomor tak dikenal, menyembunyikan nomor Min Jae, dan memutuskan untuk menghindari setiap tempat yang mungkin dikunjungi oleh pria itu. Ia tidak ingin bertemu, tidak ingin berhadapan, dan tidak ingin mendengar penjelasan apa pun saat ini—lukanya masih terlalu basah.
Berjam-jam kemudian, Min Jae akhirnya datang ke apartemen itu. Penyesalan sudah melanda hatinya sejak tadi di agensi. Ia sadar kata-katanya terlalu kejam, tuduhannya terlalu berlebihan, dan ia ingin sekali meminta maaf, menjelaskan semuanya, serta memeluk Disya agar tahu betapa ia sebenarnya takut kehilangan gadis itu.
Namun saat pintu terbuka, ruangan itu sunyi senyap. Tak ada suara langkah kaki, tak ada aroma khas Disya yang biasanya mengisi ruangan. Matanya tertuju pada meja kerja—kunci mobil, kartu kredit, kotak hadiah, dan secarik kertas itu.
Min Jae membaca tulisan itu berkali-kali, hingga dadanya terasa seperti dihantam palu besar. Ia meraih kotak kalung itu, meremasnya erat, dan jatuh terduduk di lantai. Ia baru sadar: kemewahan, uang, dan perlindungan yang ia berikan tak ada artinya dibanding rasa percaya yang ia hancurkan sendiri.
Keesokan harinya, Min Jae berusaha mencari tahu keberadaan Disya. Ia datang ke kampus, tapi Disya meminta izin cuti sementara. Ia mendatangi rumah Jack, tapi Disya tak ada di sana. Ia bahkan memeriksa data tempat tinggal lama, tapi tak berani masuk karena sadar ia tak berhak lagi. Di mana pun ia cari, Disya seolah menghilang dari peredaran dunia yang ia kenal—sengaja menjauh sejauh mungkin dari jangkauannya.
Disya menghabiskan waktunya dengan bekerja paruh waktu di sebuah toko buku kecil di pinggiran kota, jauh dari pusat keramaian dan tempat biasa Min Jae lewat. Ia menyusun buku, melayani pembeli, dan mencoba melupakan segala kemewahan yang pernah ia rasakan. Kadang saat sedang melamun, namanya terucap tanpa sadar dari bibirnya, namun ia segera menggeleng kuat dan menyibukkan diri kembali.
Di sisi lain, Min Jae semakin gelisah setiap harinya. Ia berhenti makan dengan baik, sering melamun saat latihan menyanyi, dan matanya selalu mencari sosok mungil itu di setiap sudut ruangan yang ia lewati. Ia menyadari bahwa Disya benar-benar menjauh—menghindarinya sekuat tenaga, seolah ia adalah penyakit yang harus dijauhi.
Keduanya kini berdiri di dua sisi yang berbeda. Disya berusaha sembuh dengan cara pergi, sementara Min Jae berusaha memperbaiki dengan cara mencari. Namun dinding kesalahpahaman dan rasa sakit yang baru saja terbentang begitu tinggi, membuat jalan kembali ke satu sama lain terasa begitu jauh dan mustahil.