Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Pertemuan
Sorot mata pria itu mendadak membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya terpaku menatap wajah Winarsih yang masih memejamkan mata. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan menutupi sebagian pipinya akibat terjatuh.
Kulit gadis itu tampak putih bersih tanpa polesan riasan sedikit pun. Meski hanya mengenakan kemeja lengan panjang sederhana dan celana kain, kecantikan alaminya begitu memikat.
"Bidadari..." gumamnya tanpa sadar.
Kelopak mata Winarsih perlahan terbuka. Begitu menyadari ada seorang pria asing yang tengah menatapnya, ia langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa nyeri.
"Aduh..."
Dengan gugup, Winarsih segera menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah lalu mundur beberapa langkah.
Dokter itu tersadar dari lamunannya. "Maaf... maaf. Saya benar-benar minta maaf," ucapnya penuh penyesalan.
Winarsih tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju pada keranjang rotinya yang terlempar ke pinggir jalan. Roti-roti itu berserakan di atas tanah hingga beberapa bungkusnya penyok.
Wajahnya langsung berubah pucat. "Astaga... roti-rotiku," lirihnya panik.
Tanpa memedulikan luka di siku dan lututnya, Winarsih berjongkok memunguti satu per satu roti yang masih bisa diselamatkan.
Dokter itu ikut membantu. "Maaf ya. Saya tadi mengira jalan ini sepi."
Winarsih hanya mengangguk pelan sambil terus mengumpulkan roti.
Dokter itu melirik logo yang tertera pada plastik pembungkus. "Ini roti yang akan dikirim ke Puskesmas Sekar Sari, ya?"
"Iya, Dok," jawab Winarsih lirih.
Pria itu menghela napas panjang. "Kalau begitu ini memang salah saya. Saya kurang hati-hati saat menyetir."
Ia kemudian ikut memasukkan roti ke dalam keranjang. "Perkenalkan, nama saya Arga Pratama. Saya dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."
Winarsih mengangguk singkat. "Saya Winarsih."
"Sebagai gantinya, biar saya antar kamu pulang."
Winarsih langsung menggeleng. "Tidak usah, Dok. Saya bisa pulang sendiri."
"Tapi kamu terluka."
"Tidak apa-apa. Cuma lecet sedikit."
Dokter Arga masih terlihat merasa bersalah. "Setidaknya izinkan saya mengantar sepedamu."
Winarsih kembali menolak dengan sopan. "Terima kasih, Dok. Sepertinya tidak usah."
Ia segera menegakkan sepedanya yang sempat terjatuh. Setelah memastikan rodanya masih bisa digunakan, Winarsih mengambil keranjang roti lalu menyerahkannya kepada Dokter Arga.
"Dok... ini rotinya. Kalau nanti ada roti yang rusak atau Dokter ingin komplain, Dokter bisa cari saya di pabrik roti Juragan Warso."
Setelah mengucapkan itu, Winarsih buru-buru menaiki sepedanya. "Saya permisi dulu, Dok."
Belum sempat Dokter Arga mengatakan apa pun, gadis itu sudah mengayuh sepedanya menjauh. Rambut hitamnya yang panjang melambai lembut tertiup angin sore.
Dokter Arga tetap berdiri di pinggir jalan sambil memegang keranjang roti. Tatapannya mengikuti sosok Winarsih hingga menghilang di balik tikungan.
"Cantik sekali wanita itu..." gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya sejak ditugaskan di Desa Sekar Sari, hatinya berdebar karena seorang gadis desa yang baru beberapa menit dikenalnya.
Tak lama kemudian, Dokter Arga akhirnya tiba di Puskesmas Sekar Sari. Ia turun dari mobil sambil membawa keranjang roti yang tadi dititipkan Winarsih.
Baru beberapa langkah masuk ke dalam, seorang perawat bernama Desi menghampirinya. "Lho, Dok... kok Dokter yang bawa keranjang roti?" tanyanya heran.
Arga tersenyum tipis. "Memangnya kenapa?"
"Biasanya roti dari pabrik Juragan Warso diantar sama pegawainya. Kami di sini memang langganan roti dari sana."
"Oh begitu, ya."
"Iya, Dok. Rotinya enak, makanya hampir setiap pagi kami selalu pesan."
Desi kembali menatap keranjang yang dibawa Arga. "Memangnya Dokter ambil sendiri ke pabrik?"
Arga menggeleng pelan. "Tidak, saya tadi bertemu pegawai pabrik roti di pinggir jalan."
"Oh..."
"Saya tidak sengaja menabrak sepedanya. Untung tidak terluka parah, cuma lecet sedikit. Jadi saya sekalian membawa rotinya ke sini."
Mata Desi langsung membulat. "Astaga... kok bisa, Dok?"
Arga mengembuskan napas pelan. "Saya kira jalanannya sepi. Ternyata ada orang dari arah depan."
"Kasihan juga ya."
"Iya. Saya juga merasa tidak enak."
Desi lalu tersenyum usil. "Memangnya yang ngantar roti cewek atau cowok, Dok?"
"Cewek."
"Oh..." Desi mengangguk sambil mengambil satu bungkus roti dari dalam keranjang. Tanpa sungkan, ia langsung membuka bungkusnya. "Hmm... masih hangat."
Ia menggigit roti itu sambil tersenyum puas. "Memang paling enak roti Juragan Warso."
Melihat tingkah perawatnya, Arga hanya tersenyum kecil. "Ya sudah, Des. Saya masuk ke ruangan dulu."
"Siap, Dok."
Sebelum masuk keruangannya Arga menoleh dan berkata. "Oh ya, roti itu tolong dibagikan ke yang lain juga."
"Siap, Dokter."
Arga mengangguk pelan lalu masuk keruang kerjanya. Sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
Namun entah mengapa, pikirannya kembali melayang pada gadis berambut panjang yang ditemuinya di jalan. Wajah Winarsih yang polos, tatapan matanya yang lembut, dan senyum tipisnya terus terbayang di benaknya.
"Kenapa aku malah jadi kepikiran dia?" gumam Arga pelan sambil menggelengkan kepala, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya sebagai dokter baru di Puskesmas Sekar Sari.
Sementara itu...
Winarsih akhirnya kembali ke pabrik roti milik Juragan Warso. Ia mengayuh sepedanya pelan karena lutut dan siku kirinya masih terasa perih akibat terjatuh.
Begitu sampai di halaman pabrik, Juragan Warso yang sedang memeriksa roti langsung menghampirinya.
"Winarsih, kenapa pulangnya lama?"
Winarsih tersenyum canggung. "Maaf, Juragan. Tadi di jalan saya mengalami kecelakaan kecil."
Juragan Warso langsung terkejut. "Kecelakaan? Kamu tidak apa-apa?"
"Alhamdulillah tidak apa-apa, cuma lecet sedikit."
Barulah Juragan Warso melihat luka di tangan dan lutut Winarsih. "Astaga... sudah diobati belum?"
Winarsih menggeleng. "Belum, Juragan. Nanti juga sembuh sendiri."
Juragan Warso menghela napas. "Kamu ini. Kalau luka dibiarkan nanti bisa infeksi."
Winarsih hanya tersenyum tipis. "Maaf sudah membuat Juragan khawatir."
"Lalu rotinya bagaimana?"
Winarsih langsung menundukkan kepala. "Beberapa bungkus penyok karena jatuh."
Juragan Warso tidak langsung marah. Ia justru menepuk pelan bahu gadis itu. "Yang penting kamu selamat. Roti masih bisa dibuat lagi."
Mendengar ucapan itu, mata Winarsih mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Juragan."
"Oh ya, siapa yang menabrakmu?"
"Dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."
"Dokter?"
"Iya. Beliau juga minta maaf berkali-kali. Bahkan beliau yang mengantarkan roti ke puskesmas."
Juragan Warso mengangguk pelan. "Kalau begitu orangnya bertanggung jawab."
Winarsih mengiyakan. "Beliau juga menawarkan mengantar saya pulang, tapi saya menolak."
"Bagus." Juragan Warso tersenyum tipis. "Jaman sekarang memang harus hati-hati. Meski orangnya terlihat baik, kita tetap harus menjaga diri."
"Iya, Juragan."
"Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu. Setelah itu baru lanjut membantu di bagian pembungkusan."
"Baik, Juragan."
Winarsih berjalan menuju ruang belakang untuk membersihkan luka di tangan dan lututnya. Namun baru beberapa langkah, seorang rekan kerjanya bernama Rudi menghampiri sambil membawa kotak obat.
"Winarsih, aku dengar kamu jatuh."
"Iya, cuma lecet sedikit."
"Ini, pakai dulu obat merah sama plesternya."
Winarsih tersenyum ramah. "Terima kasih, Mas Rudi."
"Sama-sama. Lain kali lebih hati-hati di jalan."
"Iya."
Dari balik pintu pabrik, tanpa disadari siapa pun, sepasang mata kembali mengawasi Winarsih. Sulastri yang sejak tadi mengintip dari kejauhan menyipitkan matanya saat melihat Rudi menyerahkan kotak obat kepada menantunya.
"Huh... sekarang terang-terangan perhatian."
Ia segera mengeluarkan ponselnya lalu diam-diam mengambil beberapa foto.
Senyum licik kembali menghiasi wajahnya. "Bagus sekali. Bukti untuk Benni semakin banyak."
Tanpa mengetahui dirinya kembali dijebak, Winarsih justru tersenyum tulus mengucapkan terima kasih kepada Rudi, sementara kamera ponsel Sulastri terus mengabadikan momen itu dari kejauhan.