Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Sementara itu, Emily sudah tertidur pulas. Bahkan saat Rei memindahkannya pun, Emily tidak tergeming sama sekali. Benar kata Altan, kalau sudah tidur, dia benar-benar seperti kebo.
Sedangkan Rey, bingung harus apa. Emily sudah tidur, sementara ia hanya bisa berguling di sampingnya, menatap wajah istrinya yang lelap.
“Ily, bangun dong. Gue gabut banget. HP lowbat, casannya di mana?” gumam Rey pelan.
“Ily, sayang, bangun dong. Gue gabut nih, nggak tahu mau ngapain. Di luar hujan gede banget lagi... ahhh.”
“Ilyy...”
Emily hanya berdehem pelan, matanya tetap tertutup rapat.
Karena gabut, mau tak mau Rey mencium kening Emily dengan lembut. Tapi tetap saja, gadis itu tidak bangun.
“Ahhh, dasar kebo...” gumam Rey sambil tersenyum kecil.
Ia akhirnya berbaring lagi di samping Emily, menatap langit-langit kamar dengan wajah jenuh. Tangan kanannya ia taruh di belakang kepala, sementara napasnya teratur dalam kebosanan.
“Bangun dong, Ily. Gabut banget sumpah...,” ucapnya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.
Namun Emily tetap diam, tenggelam dalam tidurnya yang dalam.
Karna gabut mau tidak mau Rey mencium Emily. Tapi tetap saja .dia tak bngun
Cup
Cup
Cup
". Ahhh dasar keboo.."!!gumann rey
Tapi akhir nya dia punya ide .
Emily yg hnya memakai hot pant Rey memasukan tangan nya ke dada Emily. Tapi tetap saja walaupun Rey meremas nya dia hanya. Mengerang tipis
"Ahhhhhh,,,,,!! Desah Emily tapi matanya masih terpejam
Dari dada turun ke bwah akhir nya Rey membukanya ...
"Ilyy buka kaki ny .."!! Bisik rey
Emily masih tidak bangun ahhh dasar istri gue lelap bngett. Pasti setelah ini dia pasti bngun
Rey langsung memsukn si Jony tanpa pemanasan dulu ke si si mimaw..membuat Emily akhirnya mereingis" ahhh reyy perihh Lo ngapain ."???
"Bangun ily gue gabut ga bisa tidur buka *** nya
ayoo iclik .."!!!bisik rey
"Tapi gue ngantuk .Rey ahh pelan ...Napa Rey perih begoo..pemanasan dulu..!!! Guman Emily ..
"Gue udah bangunin Lo ahhh,, dari tadi nanggung udah basah juga kan gue pelan ko.. ahh enak ilyy nyamping begini" ucap Rey yang masih memegangi tangan Emily .
"Ahhh huuuh ahhh iya enakk tapi perih ahhh desah Emily akhirnya. Ia juga menikmati ... Ahhh reyy ahhh nyamping gini nyampe emang Rey. Ahhh!!!! Desah Emily lagi.." ?
"Lo ngeraguin si Jony haahh...ahh enak sampe mentok begini ilyy..Lo enak kan ?" Haaah
Plok ,,, plokk,,, jlebbb suara itu jelas terdengar ..
" Ahhh uhh aahhh iya enaakk Rey. Tadi doang perih ahhh gue gakuatt Rey ..pecah Rey ahhh .huuuh ahhh. Ringis Emily ",,!!
"Tahan sayang ,,plokk ahhhh.....erang reyy,,
Rey langsung membalikan posisi..
Dan langsung memompa nya lagi ..
Plokk ahhh jleebbb plokk,,, suara itu masih menggema
"Ahhhh gue gakuat ahhhh reyy ahhhhhhh" desah Emily..
Plok plok… jlebb… plokkk… plokk…
Altan, yang baru saja naik ke lantai atas, seperti mendengar suara hentakan itu. Apalagi, suara desahan yang samar begitu jelas di telinganya. Ia melirik ke kamar Emily. Ternyata kamar itu tidak ditutup rapat, dan bodohnya, ia malah berdiri lama di situ, menahan rasa penasaran.
" Ahhh huuuuh ahh enak reyy ahhhh hoooh uhh ahh",,,!!!!! Desah Emily
“Ahh… dasar adik laknat,” Altan mengernyit, menahan tawa.
“Mentang-mentang sudah halal, ahh… icik, seenaknya saja, nggak ngerti apa ada yang berjuang demi halal,” gumamnya pelan.
“Si adek dasar tadi saja, dia pelor digendong suaminya sampai nggak nyadar… sekarang malah main kuda-kudaan,” gumam Altan, lalu langsung merebahkan dirinya di kasurnya.
“Gila memang si Rey. Umurnya tuaan gue, tapi dia malah udah pro, anjir… hahahaha…”
“Gilaaa… ahhh… Aruhiii, gue kangeun!” Altan langsung guling-guling di kasurnya, tak bisa menahan tawa dan rasa kangen.
Keesokan paginya, sekitar jam 5 subuh, Rey terbangun lebih dulu. Ia lalu membersihkan dirinya.
“Ily, bangun! Ayoo, kita pulang ke apart,” serunya sambil menatap Ily yang masih setengah tidur.
“Ahh… ngantuk… Rey, cape banget… tangan lo dingin… udah mandii,” gumam Ily pelan, menarik selimut lebih rapat.
“Udah, gue udah mandi. Ayoo pulang mumpung masih subuh. Ily, gue nggak bawa alat ngampus hari ini. Tanding, ayoo bangun. Gue harus berangkat pagi,” balas Rey tegas, mencoba menyemangati Ily.
“Ahhhh… hoaam… masih ngantuk…” Ily menguap panjang, matanya masih setengah terpejam.
“Yaudah… cepett mandi, Ily sayang. Ayoo, kalau nggak bangun, gue tusuk lagi nih,” Rey menggoda sambil tersenyum nakal.
“Ahh… gaseru lo, Rey, ngancem mulu… yaudahh… iya, gue mandi,” jawab Ily sambil menggeleng dan tersenyum, menyerahkan diri pada rayuan Rey.
Setelah mandi, mereka langsung turun ke garasi. Tampaknya di rumah itu masih sepi… hanya bibi yang sedang memasak.
“Nonn, mau kemana? Sarapan dulu?” tanya bibi.
“Ngga, bibi,” Emily menguap panjang, matanya masih setengah terpejam. “Ily mau pulang ke apart, kuliah pagi,” jawabnya.
“Ouh, yaudah. Hati-hati, non,” ucap bibi.
“Oke, bibi,” gumam Emily.
“Ily semotor aja. Nanti ambil lagi motor lo… Lo masih ngantuk, masa mau bawa motor?” tanya Rey, alisnya terangkat memperhatikan Emily.
“Hmmm… yaudahh, gue tidur di punggung lo, yah,” gumam Emily pelan, menempelkan kepalanya di punggung Rey.
“Tapi harus pegangan tetap… gue bawa nya ngebut,” ucap Rey, matanya fokus ke jalan.
“Oke, asiappp…” gumam Emily.
Rey memacu motornya menuju apartemen mereka.
Sesampainya di apart, Rey langsung berganti baju dan bersiap.
Sedangkan Emily, yang sudah bersiap sejak tadi, langsung meringkuk lagi di sofa, menarik selimut sedikit lebih rapat.
“Ily, ya ampun… Lo kenapa sih? Ayoo bangun, ngampus. Suami lo mau tanding nih. Ayoo, semangatin gue,” ucap Rey, menatap Emily sambil tersenyum.
“Lagian, lo Rey ngegempur gue sampai jam 2… gila, ga tuh?” gumam Emily, memutar matanya lelah.
“Kan gue ga bisa tidur, Ily. Yaudah, ayo, mau gue gendong ke basement,” ucap Rey.
“Iya, lagian kenapa jadi nginep? Kan rencana pulang,” tanya Emily.
“Lo tidur udah kaya apa… hujan gede juga. Bang Altan nggak izinin pulang, yaudah… nginep aja,” ucap Rey.
“Yaudah, ayoo lahh, Ily,” ucap Rey.
“Iya, iyaa…” gumam Emily.
Rey tidak membawa motor, melainkan mobil. Selain membawa persiapan tanding, dia juga khawatir Emily akan tertidur di perjalanan, dan ternyata benar, dia kembali pelor di kursi samping kemudi.
“Ily, sayang… heyy, bangun bentar lagi… nyampe, yakin KA retouce dulu?” tanya Rey, matanya menatap Emily sambil sedikit mencondongkan tubuh ke samping.
“Haaah… iya… nyampe, yah… ko cepet banget!!?” gumam Emily, matanya masih setengah terpejam.
“Cepet apa-nya? Dari tadi macet, lo…” ucap Rey, alisnya terangkat.
“Ahh… gue ngantuk… yaudah, gue turun. Tapi mau pakai lipcrem dulu,” gumam Emily pelan, tangannya mengusap wajah.
“Yaudah… iyah… gue turun, yah. Lo jangan lupa nonton,” ucap Rey sambil tersenyum.
“Oke… semangat, Rey,” gumam Emily.
Rey memberi kecupan di kepala Emily, membuatnya salah tingkah.