NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Rina berjalan manja sambil menggelayut mesra di lengan Dimas.

​"Tentu saja, Sayang, kamu boleh pilih mobil apa saja yang kamu mau hari ini," balas Dimas dengan gaya sombongnya.

​Langkah Rina mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok pria tinggi dan gagah yang berdiri di dekat sofa ruang tunggu.

​"Tunggu dulu... Dimas, coba kamu lihat pria di sana," bisik Rina sambil menunjuk ke arah Anton.

​Dimas menoleh dan mengamati pria berkemeja hitam elegan itu dari jauh.

​"Kenapa? Kamu terpikat melihat pria tampan?" goda Dimas dengan nada sedikit cemburu.

​"Bukan begitu, wajahnya... mirip sekali dengan Anton," kata Rina dengan dahi berkerut.

​Dimas tertawa keras mendengar ucapan Rina.

​"Hahaha! Kamu ngelindur ya, Sayang?" tawa Dimas memecah suasana dealer.

​"Si gembel Anton itu mana mungkin ada di tempat mewah seperti ini?" cibir Dimas.

​"Mungkin dia sedang mengemis di pinggir jalan sekarang," tambahnya sambil melangkah mendekat.

​Anton membalikkan badannya dan menatap dua orang itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.

​Mata Rina terbelalak lebar saat menyadari bahwa pria gagah itu memang benar-benar Anton.

​"A-Anton? Ini benar-benar kamu?" pekik Rina tidak percaya.

​Anton hanya mengangkat sebelah alisnya dengan santai.

​"Oh, Rina. Ternyata kamu," jawab Anton dengan suara berat dan tenang.

​Dimas tertegun sejenak melihat perubahan drastis pada penampilan Anton.

​Namun, rasa gengsi dan kesombongannya dengan cepat mengambil alih.

​"Buset, gembel kemarin malam mendadak pakai baju rapi," sindir Dimas sambil tersenyum remeh.

​"Kamu menyewa pakaian mahal ini cuma untuk berpura-pura jadi orang kaya di sini?" tanya Dimas dengan nada mengejek.

​Rina menghembuskan nafas lega dan tertawa sinis setelah mendengar perkataan Dimas.

​"Astaga, Anton! Kamu kasihan sekali," seru Rina penuh celaan.

​"Kamu sengaja menyewa baju mahal dan mengikutiku ke sini untuk menarik perhatianku, kan?" tebak Rina percaya diri.

​Anton tersenyum tipis, merasa kasihan dengan kebodohan mantan kekasihnya itu.

​"Kalian terlalu percaya diri," balas Anton santai.

​"Aku ke sini untuk membeli mobil, bukan melihat drama murahan kalian," tegas Anton.

​"Beli mobil?" Dimas tertawa terbahak-bahak sampai menepuk dadanya.

​"Hahaha! Dengar tidak, Sayang? Si gembel ini bilang mau beli mobil di dealer impor!" seru Dimas pada Rina.

​"Anton, sadar diri!" bentak Rina dengan wajah jijik.

​"Mobil paling murah di sini harganya ratusan juta!"

​"Kamu bahkan tidak sanggup membeli sepeda motor baru!" seru Rina membentak.

​Pada saat yang sama, sales yang mengurus berkas Anton kembali berjalan cepat dari arah kantor staf.

​Sales itu membawa map tebal dan kunci mobil berlogo BMW di tangannya.

​"Pak Anton, semua dokumen pembayaran tunai sudah selesai dikonfirmasi!" seru sales itu dengan nada penuh penghormatan.

​"Mobil BMW Seri 4 Coupé merah seharga tujuh ratus dua puluh juta milik Anda sudah siap dibawa pulang sekarang," tambah sales itu sambil membungkuk dalam.

​Suasana di area dealer mendadak menjadi sangat hening.

​Tawa ejekan Dimas terhenti seketika, seolah tenggorokannya tersumbat batu.

​Mata Rina melotot hampir melompat keluar dari kelopaknya.

​"A-apa? Pembayaran tunai?" gugup Dimas dengan suara bergetar.

​"Mas Sales, kamu pasti salah orang, kan?" tanya Rina panik sambil menarik lengan sales.

​"Pria ini gembel miskin! Mana mungkin dia punya uang tujuh ratus juta rupiah?!" teriak Rina histeris.

​Sales itu memandang Rina dengan tatapan dingin dan tersinggung.

​"Mbak, tolong jaga bicara Anda," tegur sales itu tegas.

​"Pak Anton baru saja mentransfer tujuh ratus dua puluh juta rupiah secara tunai lunas dari rekening pribadinya," jelas sales tersebut.

​"Beliau adalah pelanggan VIP kami hari ini," tambah sales itu dengan bangga.

​Deg!

​Jantung Rina serasa berhenti berdetak saat mendengar penjelaskan resmi dari sales dealer.

​Dia menatap Anton dengan tubuh gemetar hebat dan wajah pucat pasi.

​Anton berjalan mendekati sales dan menerima kunci mobil BMW merah tersebut.

​Ting!

​Suara remote mobil berbunyi, dan lampu mobil sedan merah yang sangat elegan di tengah ruangan menyala terang.

​Anton memutar kunci mobil tersebut di jarinya, persis seperti yang dilakukan Dimas kemarin malam.

​"Bagaimana, Dimas?" tanya Anton sambil menatap Dimas dengan pandangan meremehkan.

​"Kemarin malam kamu pamer mobil lima ratus jutaan secara kredit, kan?" sindir Anton dingin.

​"Sekarang, aku membeli mobil tujuh ratus jutaan secara tunai," tambah Anton dengan senyum tipis.

​Wajah Dimas merah padam karena malu yang luar biasa.

​Para pengunjung dan sales lain di dealer mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Dimas dan Rina.

​"Kasihan sekali, sok kaya tapi ternyata kalah jauh sama pria kemeja hitam itu," bisik seorang pengunjung.

​"Iya, lagaknya sombong sekali dari tadi," sahut pengunjung lainnya.

​Rina merasa mukanya seperti ditampar berulang kali di depan umum.

​Rasa penyesalan yang sangat dalam tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya.

​Pria yang kemarin malam dia buang seperti sampah, kini berdiri gagah di depannya sebagai orang kaya baru yang mampu membeli mobil mewah secara tunai.

​"A-Anton..." panggil Rina dengan suara lemah dan mata berkaca-kaca.

​Dia melangkah maju mendekati Anton dan mencoba meraih lengan kemeja mahal Anton.

​"Anton, maafkan aku soal kemarin malam," ucap Rina dengan nada memelas.

​"Aku cuma emosi saja, Anton... sebenarnya aku masih mencintaimu," aku Rina tanpa malu sedikit pun.

​Dimas terbelalak kaget mendengar ucapan Rina.

​"Rina! Apa-apaan kamu?!" teriak Dimas murka.

​Rina menepis tangan Dimas dengan kasar.

​"Diam kamu, Dimas!" bentak Rina pada Dimas.

​"Kamu cuma bisa belikan aku mobil murah dan pamer!" seru Rina.

​Rina kembali menatap Anton dengan tatapan memohon dan senyuman manis yang dipaksakan.

​"Anton, kita balikan ya? Aku janji akan jadi pacar yang baik untukmu," bujuk Rina manja.

​Anton menatap Rina dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.

​Plak!

​Anton menepis tangan Rina yang mencoba menyentuhnya dengan sangat kasar.

​"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu, Rina," ucap Anton dingin.

​"Kemarin kamu bilang udara di dekatku membuatmu mual, kan?"

​"Sekarang, kamu yang membuatku mual," balas Anton tanpa keraguan.

​Rina terpaku di tempatnya, air mata mulai menetes membasahi pipinya.

​"Anton, tolong beri aku kesempatan kedua..." tangis Rina pecah.

​Anton mengabaikan tangisan Rina dan melangkah masuk ke dalam mobil BMW merahnya.

​Brumm!

​Suara raungan mesin mobil sport bernada garang menggema di seluruh ruangan dealer.

​Anton membuka kaca mobilnya sedikit dan menatap Rina serta Dimas untuk terakhir kalinya.

​"Pembalasan dendamku baru saja dimulai," batin Anton dengan seringai tajam.

​Dia menekan pedal gas dan meluncurkan mobil mewahnya keluar dari showroom, meninggalkan Rina yang menangis penyesalan di atas lantai dan Dimas yang menahan malu luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!