Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 10
Tiga hari berlalu sejak pagi di mana benteng dingin Kiara menyambut Vino. Selama tiga hari itu pula, Vino tidak pernah absen mendatangi rumah keluarga Kiara, meski hanya untuk mengantarkan sarapan atau memastikan kondisi fisik calon istrinya itu membaik dari jauh.
Sesuai pesan Ayah Haidar, Vino tidak menekan Kiara. Dia tidak lagi memaksakan masuk ke dalam kamar atau mendesak penjelasannya didengar. Ketika Kiara menolak untuk turun menemui, Vino hanya menitipkan pesan lewat Ibu Anisa, tersenyum sopan, lalu berpamitan. Namun, setiap detail kecil tetap dia perhatikan, buah-buahan favorit Kiara, vitamin tambahan dari dokter keluarga Vino, hingga bunga baby’s breath putih yang tahu-tahu sudah terpasang rapi di vas meja belajar Kiara.
"Ra..." Panggil Vino saat tiba di rumah Kiara dan kebetulan Kiara sedang menyiram bunga. Pagi itu rupanya keadaan Kiara sudah jauh lebih baik. Kiara berbalik, ekspresinya masih terlihat dingin saat menatap Vino.
DEGH
Vino merasakan nyeri di ulu hatinya melihat tatapan Kiara seperti itu, biasanya Kiara akan tersenyum lembut dan juga tatapan matanya penuh cinta. Vino sudah melukai kiara sebegitu dalam dan juga menghancurkan keprcayaan dan cinta yang selama ini di berikan Kiara. Dan dia malah kebablasan bersama dengan Shela. Bahkan dia sering mengabaikan pesan dari Kiara. Dan sekarang dia sulit untuk mendapatkan kembali semua itu.
"Pagi, Ra..." suara Vino terdengar begitu lembut, bergetar pelan.
"Senang lihat kamu sudah mau keluar dan beraktivitas lagi. Wajah kamu... juga sudah agak segar."
Kiara tidak membalas sapaan itu. Jemarinya yang memegang selang air mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mematikan kran air di dekatnya, menciptakan hening yang canggung di antara mereka. Kehadiran Vino di dekatnya saat ini bagai pedang bermata dua, ada kehangatan yang merambat halus di lubuk hatinya yang paling dalam, namun rasa sakit atas segala kebohongan Vino dan bayang-bayang Shela mendadak membakar dadanya kembali.
"Kamu mau apa ke sini, Mas?" tanya Kiara datar, tanpa ada nada ketus namun justru ketiadaan emosi itulah yang paling menyiksa Vino.
"Bukankah Ayah sudah bilang untuk tahan semuanya dulu?"
"Mas ke sini cuma mau antar ini," Vino mengangkat kantong kertas cokelat yang dibawanya sejak tadi.
"Ini kue beras hangat langganan kamu dari pasar subuh, sama... beberapa buah segar. Mas tahu kamu belum begitu selera makan berat, jadi setidaknya ini bisa buat ganjal perut."
Ia tidak mencoba mendekat untuk menyerahkannya langsung ke tangan Kiara. Vino meletakkannya perlahan di atas meja kaca teras rumah Kiara, menghormati ruang gerak wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mas tidak ada maksud untuk ganggu kamu, Ra. Mas cuma... rindu. Dan Mas mau pastikan kamu baik-baik saja," tambah Vino ragu, matanya tak lepas menatap wajah pucat Kiara.
Kiara tertawa samar, sebuah tawa kecil tanpa nada humor yang terkesan getir.
"Rindu? Kapan Mas mulai merasa rindu sama aku? Apa sejak kebohongan 'sepupu' itu terbongkar, atau baru sekarang setelah Mas sadar kalau aku bisa pergi kapan saja?"
Kata-kata Kiara menusuk tepat di ulu hati Vino. Pria itu menunduk dalam-dalam, tak sanggup menyanggah karena ia tahu setiap ucapan Kiara adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Kebodohannya yang mengabaikan Kiara demi Shela, wanita yang bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya kini menjadi cermin paling brutal yang memperlihatkan betapa buruknya dia sebagai seorang pasangan.
"Kamu benar, Ra. Mas memang bodoh, mas jahat, dan Mas pantas dapat semua kekecewaan kamu," ujar Vino serak, suaranya kini bergetar menahan tangis.
"Mas tak akan cari alasan lagi. Mas akui Mas salah karena sudah menelantarkan kamu dan membiarkan wanita lain masuk di antara kita. Tapi demi Tuhan, Ra... tidak ada yang lebih penting buat Mas selain kamu. Mas sangat mencintai kamu dan Mas tak mau kehilangan kamu, Kiara..."
"Mudah ya buat Mas bilang begitu?" Kiara menatap langsung ke iris mata Vino. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangan di depannya kabur.
"Mas bisa bilang dengan mudah mencinta aku dan nggak mau kehilangan aku, tapi Mas malah lebih mementingkan sepupu kamu yang lemeh dan tak memiliki siapa-siapa itu hunga harus kamu yang bertanggung jawab atas hidup sepupumu itu! Tapi rasa sakit yang Mas tanam di sini. di hati aku, tidak bisa sembuh cuma dengan semangkuk sup, kue beras, atau bunga baby’s breath, Mas!"
Kiara menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar. Suaranya mulai memecah kesunyian pagi.
"Setiap kali aku ingat gimana Mas abaikan pesan aku cuma demi antar dia, setiap kali aku ingat gimana Mas bohongi aku demi wanita yang bukan siapa-siapa Mas... aku merasa jadi orang paling bodoh di dunia ini. Aku mencintai Mas sampai aku lupa cara menjaga diri aku sendiri. Dan sekarang, Mas minta aku buat percaya lagi? Gimana caranya, Mas?"
Vino melangkah satu pijakan mendekat, berlutut pelan di atas rumput halaman teras tanpa peduli celananya menjadi kotor. Dia menengadahkan wajahnya, menatap Kiara dengan mata yang sudah sepenuhnya membasah.
"Mas tahu, Ra. Mas tahu lukanya terlalu dalam," bisik Vino dengan suara parau.
"Mas tidak minta kamu percaya sekarang. Mas juga tidak minta kamu langsung memaafkan Mas hari ini. Beri Mas kesempatan untuk tebus semuanya, tunjukkan ke kamu kalau Mas bisa jadi pria yang pantas buat kamu pegang kata-katanya."
Ia menatap Kiara yang kini sudah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak pelan dalam diam. Pemandangan itu menghancurkan sisa-sisa kesombongan dan pertahanan Vino.
"Kalau butuh waktu satu bulan, satu tahun, atau seumur hidup Mas buat nyembuhin luka kamu... Mas bakal jalani, Ra. Mas tidak akan ke mana-mana lagi."
Kiara menurunkan tangannya, menatap Vino yang berlutut di bawahnya. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk menghambur ke pelukan pria itu, merengkuh tubuh yang biasa menjadi tempat nyamannya. Namun, suara bisikan ketakutan di kepalanya kembali bergema. Bagaimana kalau dia mengulangnya lagi? Bagaimana kalau kamu dinomorduakan lagi?
Dengan menyeka air matanya kasar, Kiara memalingkan wajah.
"Mas pulanglah," bisik Kiara pelan namun tegas.
"Kuenya... terima kasih. Tapi tolong jangan ke sini dulu untuk beberapa hari ke depan. Aku butuh tenang, Mas. Aku butuh bernapas tanpa harus terus ingat rasa sakit ini tiap kali lihat muka Mas."
Vino memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sesak luar biasa menghimpit dadanya, namun ia berusaha tersenyum tipis dan berdiri perlahan. Ia tahu ia tidak boleh egois lagi. Jika jarak adalah apa yang Kiara butuhkan saat ini untuk menyembuhkan lukanya, maka ia harus memberikannya.
"Baik, Ra..." jawab Vino perlahan. Ia mengusap sudut matanya, lalu mengangguk penuh pengertian.
"Mas pulang dulu. Kamu jaga kesehatan, ya? Tolong dimakan kuenya."
Vino berbalik melangkah menuju gerbang dengan langkah berat. Setiap meternya terasa seperti menyusuri jalan berduri. Namun di dalam hatinya, tekad itu telah terkunci rapat. Ia telah kehilangan kepercayaan Kiara, tapi ia bersumpah demi jiwanya sendiri, ia tidak akan pernah menyerah untuk memenangkan kembali hati sang pemilik jiwanya.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,