NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Gaun untuk Hari yang Baru

Mobil Shaka berhenti di depan sebuah butik bernuansa putih klasik dengan sentuhan kaca besar di bagian depan. Di atas pintu masuk, tertulis nama butik itu dengan huruf elegan berwarna emas.

Alma Bride Atelier.

Dari luar saja, butik itu sudah terlihat anggun. Beberapa gaun pengantin terpajang di balik etalase kaca, sebagian besar berdesain muslimah modern dengan potongan panjang, lengan tertutup, dan detail manik-manik yang tidak berlebihan.

Jenna menatap butik itu dengan mata yang terasa lebih hangat.

Tempat itu bukan sekadar butik baginya.

Itu adalah tempat milik sahabat dekatnya, Syana Almaira, perempuan yang sudah berteman dengannya sejak masa kuliah. Syana tahu banyak hal tentang Jenna. Tentang kebiasaannya memilih warna lembut, tentang kecintaannya pada bunga, tentang caranya menghindari sorotan media, bahkan tentang impian kecilnya mengenai gaun pengantin yang sederhana tetapi tetap anggun.

Shaka mematikan mesin mobil, lalu menoleh kepada Jenna.

“Ini tempatnya?”

Jenna mengangguk. “Iya. Butik sahabat Jenna.”

Shaka keluar lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Jenna.

Jenna turun dengan hati-hati.

“Terima kasih, Mas.”

Shaka hanya mengangguk singkat.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu butik. Tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Ada jarak sopan di antara mereka, jarak yang sama-sama mereka jaga karena belum terbiasa dengan status baru yang sedang menunggu di depan.

Begitu pintu butik terbuka, suara lonceng kecil terdengar lembut.

Seorang perempuan muda yang sedang berdiri di dekat meja desain langsung menoleh. Ia mengenakan blouse putih dengan celana kain krem, rambutnya tertutup hijab satin warna beige, dan di tangannya ada pensil sketsa.

Matanya membesar begitu melihat Jenna.

“Jenna?”

Jenna tersenyum dari matanya. “Assalamu’alaikum, Syana.”

“Wa’alaikumussalam.” Syana berjalan cepat menghampiri Jenna, lalu memeluk sahabatnya dengan penuh rindu. “Ya Allah, kamu ke mana saja? Beberapa minggu nggak ketemu, tiba-tiba datang ke butik aku.”

Jenna membalas pelukan itu pelan.

“Maaf, akhir-akhir ini kafe sedang ramai.”

Syana hendak menjawab, tetapi tatapannya tiba-tiba jatuh kepada laki-laki tinggi yang berdiri di belakang Jenna.

Ia terdiam.

Matanya menilai Shaka dari atas sampai bawah dengan ekspresi terang-terangan terkejut.

Shaka berdiri tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa.

Syana perlahan menoleh kepada Jenna.

“Jen.”

“Iya?”

“Ini siapa?”

Jenna sedikit menunduk. “Ini Mas Shaka.”

“Mas Shaka siapa?”

Jenna terdiam sebentar.

Ada jeda yang membuat Syana semakin curiga.

“Jen,” ulang Syana, kali ini suaranya lebih tajam karena penasaran. “Jangan bilang kamu datang ke butik pengantin sama pria tampan begini cuma buat lihat-lihat.”

Jenna menarik napas kecil.

“Syana, Jenna mau fitting baju pengantin.”

Syana membeku.

Beberapa detik kemudian, ia menatap Jenna dengan mata membesar.

“Apa?”

Jenna menahan rasa malu. “Jenna mau menikah.”

“APA?”

Suara Syana naik satu oktaf, membuat dua staf butik yang berada di belakang langsung menoleh.

Syana segera menutup mulutnya sendiri, lalu menarik Jenna agak menjauh dari Shaka. Namun karena masih berada di ruangan yang sama, Shaka tetap bisa mendengar semuanya.

“Kamu mau menikah?” bisik Syana heboh. “Sejak kapan? Dengan siapa? Kenapa aku baru tahu? Kita baru nggak ketemu beberapa minggu, Jenna, bukan beberapa tahun!”

Jenna tampak salah tingkah.

“Prosesnya memang cepat.”

“Cepat?” Syana menatap Shaka lagi, lalu kembali kepada Jenna. “Secepat apa sampai kamu muncul di butik aku sama calon suami tanpa briefing sahabat dulu?”

Jenna menunduk malu. “Syana…”

Syana memegang kedua bahu Jenna, matanya masih penuh keterkejutan.

“Jennaira Hanania Mecca, kamu tahu aku hampir tersinggung?”

“Maaf.”

“Tapi aku juga bahagia.” Syana tiba-tiba memeluk Jenna lagi. “Ya Allah, sahabat aku mau menikah.”

Jenna terdiam sebentar, lalu membalas pelukan itu.

Ada rasa hangat yang muncul di dadanya. Di tengah persiapan yang begitu cepat dan perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami, pelukan Syana terasa seperti pengingat bahwa ia tidak berjalan sendirian.

Setelah melepas pelukan, Syana menghapus sudut matanya yang sedikit berkaca-kaca, lalu menoleh kepada Shaka.

“Maaf, Mas Shaka. Saya Syana, sahabat Jenna sekaligus pemilik butik ini.”

Shaka mengangguk sopan.

“Arshaka Zayd Kalandra.”

Syana tersenyum kecil, tetapi matanya tetap menyelidik.

“Kalandra?”

“Iya.”

Syana langsung menoleh cepat kepada Jenna.

“Kamu serius tidak bercanda?”

Jenna hampir tertawa. “Menurut Syana, Jenna biasa bercanda soal menikah?”

“Tidak. Itu masalahnya.” Syana menghela napas, lalu menatap Shaka lagi. “Baik, Mas Shaka. Karena Mas datang membawa sahabat saya untuk fitting gaun pengantin, saya anggap niatnya serius.”

Shaka menatap Syana dengan tenang.

“Saya memang serius.”

Jawaban singkat itu membuat Jenna diam.

Syana pun terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum puas.

“Oke. Saya suka jawaban itu.”

Jenna menunduk, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.

Syana kemudian bertepuk tangan kecil.

“Baik. Sekarang kita fokus. Jenna, kamu datang ke tempat yang tepat. Sebenarnya aku sudah lama menyiapkan sesuatu untukmu.”

Jenna mengangkat wajah. “Untuk Jenna?”

“Iya.” Syana tersenyum bangga. “Aku pernah bilang, kan? Kalau suatu hari kamu menikah, aku yang harus mendesain gaunmu.”

“Syana, itu dulu hanya obrolan.”

“Buat kamu mungkin obrolan. Buat aku janji.”

Syana berjalan ke bagian dalam butik, lalu memberi isyarat kepada salah satu staf.

“Tolong keluarkan koleksi khusus yang saya simpan di ruang fitting utama.”

Staf itu mengangguk cepat.

Jenna menatap sahabatnya dengan bingung. “Syana, kamu benar-benar sudah menyiapkannya?”

“Sudah lama.” Syana kembali menghampiri Jenna. “Aku cuma tidak tahu kapan kamu akan memakainya.”

Tidak lama kemudian, beberapa gaun pengantin dibawa keluar satu per satu.

Jenna terdiam.

Gaun-gaun itu berbeda dari koleksi lain yang terpajang di butik. Semuanya tampak lebih personal. Lebih lembut. Seolah dirancang dengan memahami siapa Jenna.

Ada gaun putih dengan potongan syar’i, lengan panjang, rok menjuntai anggun, serta detail renda halus di bagian dada dan ujung lengan. Ada gaun bernuansa ivory dengan taburan payet kecil seperti embun. Ada pula gaun berwarna hijau emerald yang tampak mewah tetapi tetap tertutup, dengan detail bordir bunga kecil di bagian bawah rok.

Jenna menatap semuanya dengan mata berkaca-kaca.

“Syana…”

“Jangan menangis dulu,” kata Syana cepat. “Nanti cadarmu basah, fitting-nya jadi drama.”

Jenna tertawa pelan.

Shaka yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan dalam diam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Jenna.

Di kafe, Jenna tampak tenang dan profesional. Di rumahnya, ia tampak sopan dan terjaga. Namun di hadapan Syana, ia terlihat lebih ringan, lebih manusiawi, lebih dekat dengan dirinya sendiri.

Ia punya sahabat yang sangat menyayanginya.

Dan entah kenapa, hal itu membuat Shaka merasa sedikit lega.

Syana menunjuk gaun putih pertama.

“Untuk akad, aku langsung membayangkan kamu pakai ini. Putih bersih, syar’i, tidak terlalu ramai, tapi tetap anggun. Bagian cadarnya bisa aku buat senada dengan detail renda halus di pinggirnya.”

Jenna menyentuh kain gaun itu perlahan.

Bahannya lembut. Detailnya indah tanpa terasa berlebihan.

“Cantik sekali,” ucap Jenna lirih.

“Ini memang paling kamu.” Syana tersenyum. “Sederhana, bersih, tapi tetap punya karakter.”

Lalu Syana menunjuk gaun hijau emerald.

“Kalau untuk resepsi, aku pilihkan ini. Warnanya kuat, tapi tetap elegan. Hijau emerald akan membuat kamu terlihat anggun. Bukan tipe warna yang terlalu manis, tapi dewasa dan berkelas.”

Jenna menatap gaun itu lebih lama.

Hijau emerald itu tampak dalam dan menenangkan, seperti warna daun setelah hujan. Bordir halus di bagian rok menyerupai sulur bunga yang menjalar lembut, membuat gaun itu terasa hidup.

“Jenna suka yang ini,” ucapnya akhirnya.

Syana langsung tersenyum lebar.

“Aku sudah tahu kamu akan pilih itu.”

Jenna menoleh. “Kenapa?”

“Karena kamu selalu suka sesuatu yang tenang tapi kuat.”

Kalimat itu membuat Jenna terdiam.

Shaka juga mendengarnya.

Tenang tapi kuat.

Entah mengapa, kalimat itu terasa sangat tepat untuk menggambarkan Jenna.

Setelah memilih desain, Syana membawa Jenna ke ruang fitting. Beberapa staf perempuan membantu dengan hati-hati. Shaka menunggu di ruang tamu butik, duduk di sofa krem dengan segelas air mineral di depannya.

Syana sempat keluar sebentar dan menghampiri Shaka.

“Mas Shaka.”

Shaka mengangkat wajah.

“Iya?”

Syana duduk di sofa seberangnya tanpa basa-basi.

“Saya tahu ini bukan urusan saya sepenuhnya, tapi Jenna sahabat saya.”

Shaka menatapnya diam.

“Dia kelihatan lembut,” lanjut Syana. “Tapi bukan berarti dia lemah. Dia jarang meminta apa pun untuk dirinya sendiri. Jadi kalau nanti dia diam, jangan langsung mengira dia baik-baik saja.”

Shaka tidak menyela.

Syana menatapnya dengan serius.

“Jenna orang baik. Tapi orang baik juga bisa terluka kalau tidak dijaga.”

Kalimat itu jatuh dengan tenang, tetapi cukup kuat.

Shaka menatap Syana beberapa detik.

“Saya mengerti.”

“Bagus.” Syana berdiri. “Karena kalau Mas menyakiti dia, saya mungkin tidak punya perusahaan sebesar Kalandra, tapi saya punya gunting kain yang sangat tajam.”

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Shaka bergerak sangat tipis.

Nyaris tidak terlihat.

Tapi Syana menangkapnya.

“Nah, ternyata bisa hampir senyum.”

Shaka kembali datar.

Syana tertawa kecil, lalu kembali ke ruang fitting.

Beberapa menit kemudian, Jenna keluar mengenakan gaun akad putih yang sudah disesuaikan sementara. Cadarnya senada, dengan detail renda halus di tepinya. Gaun itu jatuh dengan anggun, menutup tubuhnya sempurna, tanpa kehilangan keindahan desainnya.

Shaka terdiam.

Ia tahu Jenna tidak memperlihatkan wajahnya.

Namun entah bagaimana, ia tetap terlihat sangat indah.

Bukan indah yang berisik.

Bukan indah yang meminta dilihat.

Melainkan indah yang membuat seseorang diam karena tidak ingin merusak momen dengan kata-kata yang salah.

Syana berdiri di samping Jenna dengan bangga.

“Bagaimana, Mas Shaka?”

Shaka tidak langsung menjawab.

Jenna menunduk, sedikit gugup menunggu pendapatnya.

“Bagus,” ucap Shaka akhirnya.

Hanya satu kata.

Namun nada suaranya lebih lembut dari biasanya.

Jenna mengangkat wajah sebentar. Mata mereka bertemu.

“Terima kasih,” ucap Jenna pelan.

Setelah itu, Jenna mencoba gaun kedua untuk resepsi. Gaun hijau emerald itu memberi kesan berbeda. Lebih dewasa, lebih kuat, tetapi tetap anggun. Warna itu membuat mata cokelat terang Jenna tampak semakin hidup.

Syana berputar mengelilinginya, memeriksa bagian lengan dan panjang rok.

“Ini perlu sedikit dipendekkan. Bagian bahu juga aku rapikan. Tapi secara keseluruhan, pas.”

Jenna menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Untuk pertama kalinya sejak semua persiapan pernikahan dimulai, ia benar-benar melihat dirinya sebagai calon pengantin.

Dadanya terasa hangat dan gugup bersamaan.

Setelah fitting selesai, Jenna kembali mengenakan pakaiannya semula. Syana mencatat semua detail perubahan pada gaun, lalu menyerahkan salinan jadwal pengambilan kepada Jenna.

“Besok sore sudah bisa fitting akhir,” kata Syana.

Jenna mengangguk. “Syana, soal pembayaran—”

“Tidak.”

Jenna terdiam. “Maksudnya?”

Syana menutup buku catatannya dengan tegas.

“Kamu tidak usah membayar gaunnya.”

“Syana, jangan begitu. Ini butik kamu. Jenna tetap harus membayar.”

“Tidak.” Syana menatap Jenna serius. “Gaun itu hadiah dari aku. Sebagai tanda bahagia karena sahabat baikku menikah.”

Mata Jenna langsung berkaca-kaca.

“Syana…”

“Jangan tolak. Kalau kamu tolak, aku tersinggung.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi.” Syana menggenggam tangan Jenna. “Kamu sudah terlalu banyak hadir di hidup aku, Jen. Saat aku mulai butik ini dari kecil, kamu salah satu orang yang paling percaya aku bisa. Sekarang giliran aku memberi sesuatu untuk hari pentingmu.”

Jenna tidak mampu berkata apa-apa.

Ia hanya memeluk Syana erat.

“Terima kasih,” bisiknya.

Syana membalas pelukan itu.

“Bahagia ya, Jen. Itu saja yang aku minta.”

Shaka melihat keduanya dalam diam.

Ada sesuatu yang perlahan ia pahami tentang Jenna.

Perempuan itu dicintai banyak orang bukan karena nama Nirankara, bukan karena kekayaan keluarganya, bukan karena statusnya. Ia dicintai karena caranya hadir untuk orang lain.

Dan itu membuat Shaka semakin merasa bahwa Jenna bukan perempuan yang bisa diperlakukan sembarangan.

Setelah semua selesai, Jenna dan Shaka berpamitan.

Syana mengantar mereka sampai depan butik.

“Mas Shaka,” panggil Syana sebelum mereka masuk mobil.

Shaka menoleh.

“Jaga sahabat saya baik-baik.”

Jenna langsung menunduk malu. “Syana.”

Shaka menatap Syana, lalu mengangguk singkat.

“Insyaallah.”

Jawaban itu membuat Syana tersenyum puas.

Dalam perjalanan pulang, mobil kembali dipenuhi keheningan.

Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Jenna duduk sambil memandangi jalan. Dalam pikirannya masih terbayang gaun putih untuk akad dan gaun hijau emerald untuk resepsi. Ia juga masih merasakan hangat pelukan Syana.

Shaka menyetir tanpa banyak bicara, tetapi sesekali ia melirik Jenna dari sudut matanya.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun seperti biasa, kata-kata tidak mudah keluar darinya.

Akhirnya, setelah beberapa menit, Shaka bersuara.

“Sahabatmu baik.”

Jenna menoleh, sedikit terkejut karena Shaka membuka percakapan lebih dulu.

“Iya. Syana sudah seperti saudara untuk Jenna.”

“Dia sangat peduli padamu.”

Mata Jenna melengkung lembut.

“Dia memang begitu. Agak heboh, tapi hatinya baik.”

Shaka teringat ancaman gunting kain Syana, lalu berkata datar, “Dia juga cukup menakutkan.”

Jenna terdiam sepersekian detik.

Lalu tawa kecil keluar darinya.

Bukan tawa keras. Hanya tawa lembut yang tertahan di balik cadar. Namun bagi Shaka, suara itu cukup membuat ruang mobil terasa lebih hangat.

“Syana pasti mengancam Mas Shaka, ya?”

“Dengan gunting kain.”

Jenna semakin sulit menahan tawa.

“Maaf. Syana memang seperti itu kalau sudah menyangkut orang yang dia sayang.”

“Tidak apa-apa.”

Jenna menatapnya sebentar.

“Mas Shaka terganggu?”

“Tidak.”

“Benar?”

Shaka melirik Jenna sekilas.

“Dia hanya melakukan tugasnya sebagai sahabat.”

Jenna terdiam.

Jawaban itu sederhana, tetapi membuatnya melihat Shaka sedikit berbeda.

Laki-laki itu memang dingin. Kaku. Irit bicara. Namun ia tidak meremehkan kasih sayang orang lain. Ia tidak tersinggung ketika sahabat Jenna menunjukkan perlindungan.

Mungkin di balik dindingnya yang tinggi, Shaka masih bisa memahami hal-hal lembut.

Mobil terus melaju menuju kediaman Nirankara.

Ketika akhirnya sampai di depan rumah Jenna, Shaka turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya.

Jenna keluar sambil membawa tas kecilnya.

“Terima kasih sudah mengantar Jenna hari ini,” ucapnya.

Shaka berdiri di hadapannya, menjaga jarak sopan.

“Sama-sama.”

Ada jeda kecil.

Jenna menunduk, lalu berkata pelan, “Terima kasih juga sudah mengizinkan Jenna memilih butik Syana.”

“Itu pilihanmu.”

Jenna mengangkat wajah.

Shaka menatapnya tenang.

“Untuk hal-hal yang menyangkut dirimu, kamu berhak memilih.”

Kalimat itu membuat dada Jenna terasa hangat.

Ia tidak tahu apakah Shaka menyadari betapa berarti kalimat itu baginya. Mungkin tidak. Mungkin bagi Shaka itu hanya pernyataan biasa.

Namun bagi Jenna, itu adalah tanda kecil bahwa laki-laki di depannya tidak ingin menghapus suaranya.

“Mas Shaka hati-hati di jalan,” ucap Jenna lembut.

Shaka mengangguk.

“Kamu juga istirahat.”

Setelah itu Jenna masuk ke rumah, sementara Shaka kembali ke mobilnya.

Sebelum menyalakan mesin, ia sempat menatap pintu rumah Nirankara yang baru saja tertutup.

Empat hari lagi.

Empat hari lagi perempuan itu akan menjadi istrinya.

Shaka menarik napas pelan, lalu menyalakan mobil.

Di pikirannya, bukan lagi hanya mata cokelat Jenna yang tertinggal.

Tetapi juga tawanya.

Kecil, lembut, dan tanpa ia sadari, mulai mengisi ruang kosong yang selama ini ia biarkan dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!