"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Jalan Bersama
Saat ini hanya Celia dan Alfian yang sudah berada di ruang tamu.
"Ngapain lo ke rumah gue, dan lu tahu dari mana rumah gue hah?" tanya Celia.
"Pertanyaan yang mana dulu yang harus dijawab?" tanya Alfian dengan tenang.
"Jawab keduanya," jawab Celia.
"Bukankah lo nyuruh gue untuk datang ke rumah lo, mengerjakan tugas kelompok yang diberikan Bu Tati dan yang kedua untuk masalah di mana lo tinggal bukan suatu hal yang sulit untuk mencarinya," jawab Alfian.
"Alasan lo, lo bilang aja stalking gue dan alasan aja bawa-bawa tugas, bukankah sebelumnya lo nggak mau ngerjain tugas bareng gue hah!" sahut Celia.
"Jangan kepedean lu bukan tipe gue, gue hanya nggak mau dibilang pemalas," jawab Alfian.
"Baguslah kalau gue bukan tipe lu," sahut Celia.
"Masih ngobrol aja," Ratih tiba-tiba sudah kembali ke ruang tamu.
"Bunda menyuruh kamu untuk cepat-cepat ganti seragam, kamu ini bisa-bisanya pulang sekolah jam segini, Alfian saja sudah pulang dari beberapa jam yang lalu," ucap Ratih.
"Dia juga biasanya nongkrong dulu, mungkin aja ada malaikat yang tiba-tiba saja masuk ke dalam tubuhnya makanya langsung pulang," sahut Celia tidak terima jika dia dibandingkan dengan Alfian.
"Sudah kamu ini memang kebiasaan, sana buruan ganti baju dan setelah itu kita makan siang," ucap Ratih.
"Iya-iya," sahut Celia, terpaksa berdiri dari tempat duduknya dan masih saja melihat dengan penuh kekesalan terhadap Alfian.
"Anak itu," Ratih geleng-geleng kepala.
"Alfian, bagaimana perkembangan Celia di sekolah kamu? Apa Celia bisa menyesuaikan diri?" tanya Ratih.
"Saya tidak terlalu memperhatikan Bunda," jawab Alfian.
"Bunda titip Celia ya sama kamu, Celia anaknya sedikit ceroboh, dan mungkin sulit menyesuaikan diri dengan murid-murid di SMA Bintang, tetapi Bunda yakin Celia memiliki impian yang sangat tinggi yang membuatnya perlahan akan mampu menyesuaikan diri," ucap Ratih.
"Saya tidak janji apapun Bunda," jawab Alfian.
****
Untuk pertama kali Alfian makan di rumah Celia, di meja makan yang tampak sederhana, sudah pasti berbeda dari rumah mewah Alfian.
"Alfian maaf ya makannya harus seperti ini, Bunda baru saja pulang kerja dan tidak sempat masak banyak, jadi hanya apa adanya, untung Bunda masih sempat masak sayur asem, sambal terasi dan ayam goreng," ucap Ratih merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bunda, saya merasa tidak enak harus menumpang makan di rumah orang lain," sahut Alfian.
"Apa-apaan ini, panggil bunda-bunda, sejak kapan nyokap gue ngelahirin lu," sahut Celia terdengar tidak suka dengan panggilan Alfian.
"Shuttt Celia!" tegur Ratih.
"Celia risih dengernya," sahut Celia.
"Kamu tidak suka?" tanya Alfian.
"Mana mungkin gue suka, enak aja panggil nyokap gue Bunda-Bunda, Bunda itu hanya khusus untuk panggilan gue sebagai anak kandungnya dan elu hanya......"
"Kan calon menantunya," sambung Alfian tersenyum miring membuat Celia mengerutkan dahi tampak jijik mendengarnya.
Sementara Ratih justru geleng-geleng kepala sembari memasukkan nasi ke dalam piringnya tampak gemas melihat pertengkaran dua anak remaja itu.
"Apaan sih lu," sahut Celia kesal tetapi wajahnya merah.
"Kamu juga bisa panggil kedua orang tuaku Mama dan Papa, impas bukan," sahut Alfian justru menantang Celia.
"Issss, apaan sih lo," Celia bertambah kesal dengan Alfian.
"Sudah-sudah kalian berdua jangan jangan bertengkar. Celia, Bunda tidak masalah sama sekali jika Alfian harus memanggil Bunda, Bunda senang dan seperti punya anak cowok," sahut Ratih.
"Issss," Celia semakin kesal karena ibunya justru membela Alfian.
Ekspresi Alfian dipenuhi dengan kemenangan, tampak dari wajah tampannya itu, Alfian memang memperlihatkan ekspresi petantang-petentengnya.
"Ini Alfian kamu cobain sayur asemnya," Ratih terlihat begitu ramah melayani tamunya dengan sangat baik.
"Kamu mau sambal tidak?" tanya Ratih.
"Saya tidak bisa makan pedas Bunda," jawabnya.
"Dasar manja," Celetuk Celia ada-ada saja yang membuatnya protes.
"Heh kamu ini dari tadi ngoceh terus, ayo kamu juga cepat makan bukankah kalian setelah ini harus mencari bahan-bahan untuk tugas kelompok," sahut Ratih.
"Iya-iya," sahut Celia dengan terpaksa.
******
Celia dan Alfian akhirnya jalan berdua, terlihat keduanya melewati toko-tokoh yang berjejer di pinggir kota.
"Celia kita mau ke mana sih?" tanya Alfian sudah mulai kesal dengan cuaca yang panas sejak tadi terus berjalan.
"Cari bahan-bahan," jawabnya.
"Kenapa harus menyulitkan diri sendiri, kita bisa langsung ke Mall dan apa yang kita cari sudah ada di sana," ucap Alfian.
"Jangan mentang-mentang banyak duit, apa-apa harus membeli tempat yang mahal, kita itu diperintahkan untuk membuat kesenian, dan bahan-bahan kesenian di tempat seperti ini banyak, lagi puka kita berdua patungan, lu enak punya jajan banyak, nah gue harus ngirit," sahut Celia.
"Kalau begitu biar uang gue yang membeli semua bahan-bahannya," sahut Alfian membuat langkah Celia terhenti.
"Sombong .... Ini tugas bersama, dana harus dibagi dua dan begitu juga dengan pekerjaan, jangan mentang-mentang banyak duit jadi seenaknya," jawab Celia.
"Hahhhh!" Alfian menghela nafas, mau tidak mau harus Celia mencari bahan kemanapun yang dia inginkan.
Akhirnya dua remaja itu sudah berada di salah satu tokoh.
"Kira-kira kita akan membuat kesenian apa?" tanya keduanya sudah melihat miniatur-miniatur di dalam tokoh tersebut.
"Entah," jawab Alfian dengan mengangkat kedua bahunya.
"Jangan entah-entah saja, ayo mulai dipikirkan!" tegas Celia.
"Terus lo sendiri bagaimana? apa sudah memikirkan harus membuat apa?" tanya Alfian.
"Hmmmmm," Celia tampak berpikir sembari mengetuk-ngetuk kepalanya menggunakan jarinya.
"Bagaimana kita membuat rumah saja?" tanya Celia dengan cepat mendapatkan ide membuat Alfian mengerutkan dahi.
"Kita bisa membuat rumah dari stik es krim, terus juga perlengkapan lainnya, dan bukankah itu kesenian yang sangat unik," ucap Celia mengutarakan idenya yang cemerlang.
"Tidak setuju," jawab Alfian dengan enteng.
"Hah!" sahut Celia.
"Ribet membuat rumah, lebih baik membuat mobil saja, jadi simpel dan bahan yang digunakan juga tidak terlalu ribet," jawab Alfian.
"Tetapi membuat mobil terlalu muda dan artinya kita tidak akan memiliki effort untuk menyelesaikan tugas," ucap Celia tidak sependapat dengan Alfian.
"Ok, kalau begitu mari membuat kedua-duanya," sahut Alfian mengambil jalan tengah.
"Apa nggak terlalu ribet?" tanyanya.
"Oke kalau begitu kita langsung saja ambil bahan-bahan yang diperlukan," sahut Celia ternyata tidak keberatan sama sekali membuat Alfian menganggukkan kepala yang tidak keberatan.
Alfian saat ini mengambil keranjang kecil dan sementara Celia mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Keduanya tampak akrab, meski terus ada perdebatan di antara mereka, dari pemilihan bahan warna dan tetap saja ada yang menjadi masalah agar keduanya bertengkar.
Keduanya juga berkali-kali harus berdebat terlebih dahulu untuk menentukan mana yang harus dipakai dan jika tidak maka Celia dan Alfian akan kembali bertengkar.
"Kira-kira habis berapa ya!" Celia deg-degan saat keduanya berdiri di depan kasir dengan kasir tersebut menghitung belanjaan mereka.
"184.000!" ucap kasir tersebut.
Celia morogoh tasnya ingin mengambil uangnya tetapi tidak sampai uang itu keluar Alfian sudah terlebih dahulu mengeluarkan uangnya.
"Ini mbak, ambil aja kembaliannya!" dengan sombongnya Alfian memberikan uang rp200.000.
"Terima kasih, sampai belanja di lain waktu lagi," ucap kasir tersebut tampak ramah.
Bersambung....