NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 – GERBANG DIMENSI AIR

Belum sempat Haruto melangkah, suara benturan dahsyat kembali mengguncang dinding gua. Retakan-retakan halus mulai muncul di permukaan batu kristal, disusul suara logam beradu dan desisan sihir yang saling berbenturan dari luar.

“Mereka sudah sampai di pintu masuk!” teriak Mizuna dari balik tirai air yang kini berguncang hebat.

Ryuusen tidak menoleh sedikit pun. Tangannya yang keriput namun kokoh menyentuh permukaan kolam yang kini mulai memancarkan cahaya biru menyilaukan. Air yang tadinya tenang bagaikan cermin, kini berputar perlahan membentuk pusaran yang makin lama makin dalam, seolah menarik seluruh cahaya di ruangan itu ke dalamnya.

“Ini bukan sekadar air biasa,” ucap Ryuusen dengan suara yang kini terdengar bergetar seirama dengan aliran di hadapannya. “Ini adalah Gerbang Arus Murni—dimensi tempat waktu berjalan berbeda, tempat hakikat sihir air terungkap apa adanya. Di sana, kau tidak akan belajar menguasai air… melainkan kau akan belajar menjadi bagian darinya.”

Haruto menelan ludah. Ia melirik ke arah pintu keluar, lalu ke pundaknya di mana Pochi tampak gelisah namun tetap setia.

“Pochi, kau ikut ya?”

“Pyoo!” Slime itu melompat masuk ke dalam saku bajunya seolah memberi jawaban pasti.

Ryuusen mengulurkan tangan kanannya.

“Pegang tanganku. Jangan lepaskan walau kau merasa seolah terseret arus yang tak berujung.”

Haruto meraih tangan itu. Kulitnya terasa kasar namun memancarkan kehangatan yang menenangkan. Saat jari-jarinya saling bertaut, cahaya dari kalung di lehernya bersinar terang, menyatu dengan cahaya dari pusaran air di hadapan mereka.

“Bersiaplah!”

Di saat yang sama, suara ledakan besar terdengar tepat di mulut gua. Tirai air yang melindungi tempat itu pecah berkeping-keping. Sosok Kael dengan baju besi gelap dan pedang hitam di tangannya melangkah masuk, diikuti puluhan anggota Orde Air Kuno yang tatapannya tajam mengincar Haruto.

“Terlambat, Haruto!” seru Kael dingin sambil mengangkat pedangnya. “Kau tidak akan lari lagi!”

Namun sebelum pedang itu sempat melayang, Haruto dan Ryuusen sudah melangkah masuk ke dalam pusaran air. Tubuh mereka seketika lenyap terserap ke dalam cahaya biru yang memuncak, seketika menyelimuti seluruh ruangan.

Saat Kael dan pasukannya tiba di tepi kolam, yang tersisa hanyalah air yang kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tak ada jejak, tak ada sisa energi. Hanya permukaan jernih yang memantulkan wajah Kael yang penuh amarah.

“Mereka masuk ke sana…” geramnya sambil mengepalkan tangan kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. “Tapi aku tahu di mana mereka berada. Dan aku akan menunggu sampai mereka keluar.”

Di luar gua, Mizuna dan Daichi yang terluka namun masih berdiri teguh saling bertatapan. Mereka belum tahu apa yang terjadi di dalam, namun satu hal yang mereka yakini—Haruto kini berada di tempat yang jauh lebih aman, dan lebih penting lagi… di tempat di mana ia akan menemukan kekuatan sejatinya.

...****************...

Rasa melayang itu perlahan memudar, berganti dengan sentuhan lembut seolah telapak kakinya menyentuh permukaan air yang padat namun lentur. Haruto mengerjap, dan napasnya tercekat melihat pemandangan di hadapannya.

Langit di sini bukan berwarna biru atau hitam, melainkan berkilauan seperti permukaan danau yang disinari cahaya bulan purnama tanpa henti. Tanah tempat mereka berpijar terbuat dari air yang membeku dalam wujud bening namun kokoh, di sekelilingnya membentang lautan kabut biru yang bergerak mengikuti irama tak kasat mata. Udara di sini terasa sangat sejuk, setiap tarikan napas seolah memasukkan butiran energi murni langsung ke dalam aliran darahnya.

Pochi mengintip dari saku bajunya, matanya membelalak lebar sebelum melompat keluar dan memantul-pantul di permukaan tanah air itu dengan riang.

“Pyoo! Pyoo!”

Ryuusen melepaskan genggamannya, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Haruto, seolah melihat jauh ke dalam aliran mana yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda itu.

“Di sini, waktu dan hukum alam bekerja berbeda,” ucap Ryuusen, suaranya bergema lembut di udara. “Apa yang kau rasakan selama ini—beratnya menarik mana, sulitnya menyeimbangkan aliran, rasa lelah yang datang tiba-tiba—semua itu bukan semata karena kau baru belajar. Itu karena titik-titik aliranmu masih tersumbat dan belum terbuka sempurna.”

Tanpa menunggu jawaban, Ryuusen melangkah maju. Dua jari tangannya yang keriput namun bertenaga bergerak lincah, menyentuh titik di dada, leher, perut, dan punggung Haruto dengan gerakan yang begitu cepat namun presisi.

Tak! Tak! Tak!

Setiap sentuhan terasa seperti aliran air hangat yang menyusup tiba-tiba ke dalam urat-uratnya. Haruto tersentak, bukan karena sakit, melainkan karena rasa aneh yang luar biasa. Bagian tubuh yang selama ini terasa berat, kaku, atau seolah tertutup selaput tipis, kini seketika terbuka lebar.

“Itu…!”

Haruto menatap kedua telapak tangannya. Rasa berat yang selalu ia rasakan saat mencoba memanggil sihir lenyap seketika. Seluruh tubuhnya terasa sangat ringan, seolah ia bisa melayang hanya dengan satu hembusan napas. Aliran mana yang dulu harus ia paksa dan cari dengan susah payah, kini terasa begitu dekat, begitu melimpah—bagaikan berdiri di tepi sungai besar yang airnya terus mengalir deras tanpa henti, tinggal merentangkan tangan untuk merasakannya.

“Aku… aku bisa merasakannya di mana-mana!” seru Haruto tak percaya. “Di tanah, di udara, bahkan di dalam tubuhku sendiri!”

Ryuusen mengangguk pelan.

“Aku baru saja membuka kunci titik aliran manamu yang selama ini tertutup rapat. Mizuna mengajarimu dengan benar, namun ia tidak berhak membuka jalur itu secara paksa—itu adalah hak yang hanya boleh dilakukan oleh penguasa elemen tertinggi agar tidak merusak fondasi kekuatanmu. Kini… cobalah lakukan apa yang sudah kau pelajari darinya. Mulai dari yang paling dasar.”

Haruto menarik napas panjang. Ia mengingat kembali setiap ajaran Mizuna, setiap kesulitan yang ia rasakan saat pertama kali mencoba membentuk bola air. Ia merentangkan telapak tangan kanannya, berniat mengumpulkan mana pelan-pelan seperti biasa.

Namun belum sempat ia berkonsentrasi penuh, setetes air langsung muncul di telapak tangannya. Dalam sekejap, jumlahnya berkembang menjadi gumpalan bulat sempurna, bersinar lembut dan stabil—Water Ball.

Tanpa getaran, tanpa rasa lelah, tanpa butuh waktu lama.

“Ini…” Haruto terbelalak. “Biasanya aku butuh waktu hanya untuk membentuk satu ini…”

“Lanjutkan,” perintah Ryuusen tenang. “Jangan berhenti di situ.”

Haruto mengangguk. Ia memikirkan bentuk selanjutnya yang sering ia latih namun belum pernah sempurna. Dengan gerakan pergelangan tangan yang halus, bola air di tangannya memanjang, memadat, lalu berubah menjadi sebilah pedang berkilauan biru bening. Pedang air itu terasa kokoh di genggamannya, tajam dan seimbang, seolah ia sudah memegangnya selama bertahun-tahun.

Masih tak percaya, ia mengayunkannya perlahan. Udara di depan terbelah, memunculkan riak air yang memercik lembut namun terasa sangat bertenaga.

“Masih kurang,” ucap Ryuusen. “Jangan hanya membentuknya. Biarkan aliranmu yang menentukan wujudnya. Panggil apa yang ada di pikiranmu.”

Haruto menutup matanya sejenak. Ia teringat saat di hutan, saat ia berharap memiliki teman yang bisa melindunginya. Ia membuka mata kembali, dan kali ini ia melebarkan kedua tangannya. Air dari sekelilingnya berputar cepat, menari-nari mengikuti irama detak jantungnya, lalu dengan satu gerakan tangan, gumpalan air itu berubah wujud.

Muncul seekor serigala air yang besar namun anggun, bulunya terbentuk dari aliran cairan yang terus bergerak, matanya berkilau lembut menatap Haruto seolah ia adalah tuannya. Makhluk itu mengaum pelan, lalu berputar mengelilingi Haruto dengan lincah sebelum kembali menjadi butiran air yang melayang di udara.

Haruto terengah sedikit, namun bukan karena kelelahan—melainkan karena kagum dan takjub yang meluap-luap. Dulu, hanya mempertahankan satu Water Ball selama sepuluh detik saja sudah membuatnya pusing. Kini ia bisa melontarkan sihir berturut-turut dengan mudah, seolah itu adalah hal yang paling alami di dunia ini.

“Semua rasa sulit itu… hilang begitu saja,” gumamnya pelan. “Seperti air yang akhirnya menemukan jalan keluarnya.”

Ryuusen tersenyum tipis, tatapannya penuh harap namun tetap serius.

“Ini baru permulaan, Haruto. Kau belum menguasai sihir air—kau baru saja mulai menyadari bahwa kau dan air itu sebenarnya adalah satu kesatuan. Yang kau rasakan sekarang adalah kemudahan yang baru didapatkan. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga hati dan pikiranmu tetap tenang, saat kekuatan ini semakin besar dan semakin banyak orang yang menginginkannya.”

Pochi kembali melompat ke bahu Haruto, mengeluarkan suara riang seolah ikut merayakan kemajuan temannya itu. Haruto menatap kedua telapak tangannya yang kini memancarkan cahaya biru samar, lalu menatap Ryuusen dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

“Aku siap, Guru Ryuusen. Ajarkan aku segalanya.”

Di luar sana, waktu mungkin berjalan cepat, dan Orde Air Kuno mungkin sedang menunggu dengan sabar maupun penuh amarah. Namun di sini, di dimensi Arus Murni ini, Haruto akhirnya menemukan tempat di mana ia benar-benar miliknya sendiri—dan di mana kekuatan sejatinya baru saja mulai terungkap sepenuhnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!