NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda

Adit: *["Gue nggak bisa. Gue lagi nggak enak badan parah. Badan gue ganjil. Lo suruh orang lain aja, jangan ganggu gue dulu."]

"Lha? Aneh banget nih anak. Tadi pas ditelpon sengaja di-reject, giliran dikirim chat langsung gercep dibalas dalam hitungan detik. Gabut apa gimana?" ujar Rahsya heran sambil menyodorkan layar ponsel pintarnya ke depan wajah Reno.

"Apa katanya? Dia bisa datang bawa makanan nggak?" tanya Reno penuh harap dengan perut yang kembali keroncongan.

"Nggak bisa. Katanya dia lagi nggak enak badan juga. Tumben-tumbenan si Adit nolak perintah, biasanya dia paling gercep kalau soal solidaritas," sahut Rahsya heran.

Reno langsung panik setengah mati. Wajahnya yang sudah putih pucat makin terlihat menderita lahir batin. "Lah, terus yang jagain gue di kamar VIP dingin ini siapa, Sya?! Masa gue di sini sendirian kayak yatim piatu? Terus kalau tengah malam gue mendadak mau ke kamar mandi lagi gimana? Kaki gue masih lemes banget buat jalan, udah kayak jeli basah!"

"Kan ada suster rumah sakit, Reno bodoh! Lo tinggal pencet tombol merah di atas kasur lo, nanti susternya datang bawa pispot. Atau... alternatif lain, suruh aja pacar-pacar lo yang berderet itu ke sini buat jagain lo secara bergantian tiap tiga jam sekali," goda Rahsya sambil terkekeh jahil.

"Pacar-pacar apa maksud lo?! Pacar gue cuma satu ya saat ini! Meskipun gue suka gonta-ganti tiap bulan, tapi gue nggak pernah berani selingkuh kalau lagi jadian! Dan lagian, gue nggak mau kasih tahu pacar gue soal musibah ini! Takutnya dia shock berat melihat keadaan ketampanan gue yang se-estetik ini di atas ranjang RS. Gue juga malu dunia akhirat kalau dia tahu cowoknya yang keren ini tumbang mencret gara-gara seblak maut!" cerocos Reno membela harga dirinya.

Rahsya tertawa kencang sampai memegangi tiang infus. "Hahaha! Sorry, maksud gue mantan-mantan lo yang jumlahnya udah kayak daftar pemilih pemilu! Emang dasar lo-nya aja yang lemah, masa kalah sama kuah cabe, ahahaha!"

"Lama-lama gue bisa muntaber beneran plus kena gangguan jiwa kalau terus-terusan ngomong sama lo! Mendingan lo pergi aja sana dari sini, hus! Polusi suara lo merusak usus gue!" usir Reno kesal, wajahnya ditekuk habis.

"Iya, gue pergi! Gue juga sebenernya takut

ketularan virus mencret lo. Soalnya yang gue lihat waktu kita masih di mansion tadi sebelum gue gotong lo, si Adit gaya larinya juga aneh banget, kayak mencret-mencret sama kayak lo. Jangan-jangan mansion Oma Karin lagi kena kutukan boker massal! Bwahaha... Udah, gue cabut dulu. Bye, kerupuk letoy!"

"Anjrr lo, Sya! Sialan... dasar teman luknut, tidak berperikemanusiaan!" teriak Reno sekuat tenaga.

Dengan sisa-sisa energi kemarahannya, ia menyambar bantal rumah sakit yang empuk dan melemparkannya ke arah Rahsya. Namun sayang, lemparannya meleset karena Rahsya sudah lebih dulu lari ngibrit keluar pintu sambil tertawa puas.

Bugh!

Bantal itu hanya menghantam pintu yang tertutup rapat.

Reno kembali terhempas ke atas kasur dengan helaan napas pasrah. Ia meratapi nasib sialnya yang malang di sore hari itu sambil memegangi perutnya yang mendadak kembali mengeluarkan bunyi gemuruh mengerikan. Krucuk-krucuk-brot.

Sementara itu, di koridor rumah sakit, Rahsya yang baru saja menghentikan tawanya mendadak teringat sesuatu. Ia merogoh ponselnya lagi, berniat menelepon Rakha untuk menceritakan kejadian aneh di mansion tadi—soal hilangnya Adit dan munculnya wanita cantik misterius bercelana melorot yang diceritakan pelayan.

Namun, tepat saat jemarinya hendak menyentuh nama Rakha, sebuah panggilan masuk justru datang dari nomor supir pribadi Mansion Abraham yang mengantar Adit pulang tadi.

Rahsya mengerutkan kening, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Pak? Ada apa?"

"Den Rahsya! Tolongin saya, Den!" suara supir mansion terdengar gemetar ketakutan di seberang sana. "Ini... ini saya tadi disuruh mengantar seorang nona cantik yang ngaku temennya Den Adit ke apartemen. Tapi pas sampai di basement apartemen, nona cantik itu malah teriak-teriak histeris nyari 'burungnya' yang hilang ditelan bumi! Sekarang dia malah mau terjun dari balkon lantai dua puluh karena frustrasi! Saya harus gimana, Den?!"

Deg!

Ponsel di genggaman Rahsya hampir saja merosot ke lantai rumah sakit. Matanya membelalak sempurna penuh keterkejutan. Kekacauan di apartemen Adit tampaknya sudah mencapai level krisis internasional yang siap meledak malam ini.

Sementara di rumah sakit Rahsya sedang syok mendengar laporan supir, suasana di dalam unit apartemen mewah milik Adit—yang biasanya berantakan dengan baju kotor dan bungkus camilan—kini terasa mencekam bak rumah hantu. Adit sedang mengurung diri di dalam kamar tidur utama, mengunci pintu rapat-rapat hingga tiga kali putaran kunci seolah-olah ada pasukan zombie kelaparan yang sedang mengejarnya.

Ia meringkuk tragis di pojok tempat tidur ukuran king size sambil memeluk guling erat-erat dengan kaki gemetar. Jangankan keluar dari unit apartemennya, menatap bayangan cantiknya sendiri di cermin lemari saja ia sudah tidak berani sama sekali. Pikirannya sudah melantur jauh ke mana-mana, membayangkan skenario film horor-komedi yang sangat merusak masa depannya.

"Aduh, gimana kalau tetangga sebelah lihat ada cewek cantik keluar dari kamar gue? Pasti langsung jadi bahan gosip panas di grup WhatsApp penghuni apartemen lantai dua puluh!" gumam Adit dengan nada suara yang kini terdengar lembut, merdu mendayu-dayu, yang justru membuat bulu kuduknya sendiri berdiri karena saking merindingnya.

Ia membayangkan dirinya digerebek massa, dituduh kumpul kebo dengan dirinya sendiri, diarak keliling kompleks apartemen sambil diteriaki, dan yang paling parah: dinikahkan secara paksa dengan kuli bangunan setempat! Padahal, kenyataannya penghuni apartemen di pusat Jakarta itu sangatlah individualis.

Jangankan mengurusi cewek misterius di kamar Adit, ada kebakaran kecil di dapur saja mungkin mereka baru menoleh setelah bau gosong menyengat kulit. Masing-masing sudah pusing dengan cicilan paylater dan deadline kantor. Mana sempat mereka mengurusi hidup lo yang mendadak berganti gender, Dit!

"Sialan banget gue hari ini! Oke, gue akuin setelah ngaca tadi... gue emang cantik banget, bahkan saking cantiknya gue hampir naksir diri sendiri. Tapi gue nggak mau kehilangan jati diri sejati gue sebagai cowok tulen!" rintih Adit sambil menjambak rambut panjang barunya yang halus selembut sutra iklan sampo.

Ia bangkit sejenak, mondar-mandir di atas karpet bulu dengan langkah kaki yang entah kenapa secara otomatis jadi lebih anggun nan gemulai.

"Gue harus ngomong apa sama Nyokap nanti? 'Ma, Adit sekarang berubah jadi Adit-a'? Bisa pingsan stroke beliau! Untung Bokap masih dinas di Paris. Coba kalau beliau sudah pulang hari ini, bisa jadi rujak bebek dah gue diulek-ulek pake ulekan batu!"

Adit mengacak-acak rambutnya frustrasi, lalu kembali membanting tubuh feminin barunya ke atas kasur empuk. Ia menarik selimut tebal sampai menutupi seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala, hanya menyisakan lubang kecil di dekat hidung bangirnya untuk bernapas.

"Semoga aja ini cuma mimpi buruk atau efek halusinasi gara-gara gue begadang mabar game kemarin. Gue harus cepat tidur! Pokoknya pas gue bangun besok subuh, 'burung' gue harus sudah balik dari migrasi dan semuanya kembali normal seperti semula. Amin!" rapal Adit dalam hati sambil memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi nasib "aset" masa depannya yang lenyap ditelan bumi.

****

Di belahan kota lain pada sore yang sama, suasana di rumah makan tempat Alin bekerja paruh waktu sedang ramai-ramainya. Aroma sambal terasi dan ayam goreng mentega menyeruak di udara, bercampur dengan denting sendok yang beradu dengan piring. Alin tampak menyeka keringat di dahinya dengan ujung celemek kain yang sedikit kusam, namun wajahnya tetap bersinar glowing paripurna sisa efek ubi rebus mawar tadi pagi.

"Kayaknya kamu capek banget hari ini, Lin? Habis dari mana sih tadi pagi?" tanya Elis, rekan sesama pelayan, sambil menata tumpukan piring bersih di atas meja kasir. Elis memperhatikan wajah Alin yang tampak jauh lebih letih dari biasanya.

"Aku dari dapur terus, Kak. Terus lanjut nganterin pesanan pembeli meja nomor lima yang cerewetnya minta ampun kayak komentator bola," jawab Alin sambil menghembuskan napas panjang.

Elis menggelengkan kepala. "Bukan itu maksud aku, Lin. Maksud aku, sebelum kamu datang ke rumah makan ini tadi siang? Kamu kan sempat telat tiga puluh menit, kan?"

"Oh, itu... Aku tadi habis kerja di tempat baru, Kak. Dan rencananya, sore hari ini adalah hari terakhir aku kerja paruh waktu di sini," bisik Alin rahasia dengan mata berbinar.

Elis langsung menghentikan aktivitas mengelap piringnya, matanya membulat sempurna. "Hah? Serius lo? Emang kamu kerja di mana sekarang, Lin?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!