NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Sesuatu yang Tidak Cocok

Namun, Belvina tidak mundur. Tidak juga menepis tangannya. Ia hanya menatapnya.Tenang.

“Kesabaran?” ulangnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kamu yakin itu yang kamu punya?”

Udara di antara mereka menegang.

Perlahan, Alden menurunkan tangannya. Bukan karena kalah. Tapi karena, ia memilih mundur.

Untuk sekarang.

Tatapannya tidak bergeser. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya akhirnya.

Nada suaranya kembali datar. Namun tidak sepenuhnya sama. Ada sesuatu yang tertinggal.

“Perubahan kecil tidak akan mengubah apa pun." Ia tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. "Atau kamu kira aku mudah dibodohi?”

Belvina tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Lalu—

“Kalau begitu,” katanya tenang, “kenapa kamu masih di sini?”

Satu kalimat. Sederhana. Tapi cukup.

Alden terdiam. Sepersekian detik. Cukup lama untuk terasa.

Kemudian, ia berbalik. Langkahnya tetap tenang. Namun kali ini, tidak sepenuhnya tak terganggu.

Pintu terbuka. Lalu tertutup kembali.

Klik.

Di dalam kamar, Belvina masih berdiri di tempatnya.

Diam.

Beberapa detik berlalu. Baru kemudian, ia akhirnya mengembuskan napas.

“Gila…” gumamnya.

Bukan karena takut. Tapi karena, permainan ini… jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

-

Di kamar sebelah.

Malam itu Alden tidak langsung memejamkan mata.

Ia berbaring telentang, satu tangan di atas dahi, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Biasanya, begitu tubuhnya menyentuh kasur, pikirannya akan otomatis kosong. Lelah bekerja lebih dari cukup untuk membuatnya tidur tanpa gangguan.

Tapi tidak kali ini.

Bayangan itu terus muncul.

Tatapan Belvina. Datar. Tenang. Seolah-olah tidak lagi membutuhkan apa pun darinya.

Dulu, tatapan itu selalu penuh harap. Mudah ditebak.

Biasanya, ia yang mengakhiri sebelum dimulai. Kali ini, ia tidak ingin berhenti.

Rahangnya mengeras.

“Bukan aku.”

Kalimat itu terngiang lagi. Pendek. Ringan. Tapi mengusik.

Alden mengembuskan napas kasar, lalu memiringkan tubuhnya. Ia mencoba menutup mata. Beberapa detik berlalu, namun pikirannya justru semakin aktif.

Terlalu rapi.

Itu yang mengganggu. Ia terbiasa melihat celah. Kali ini, tidak ada yang bisa ia pegang.

Tidak ada kegugupan yang dibuat-buat. Tidak ada usaha menarik perhatian yang biasanya berlebihan.

Yang ada justru sebaliknya. Jarak. Penolakan.

Alden membuka matanya lagi. Tatapannya menggelap.

“Permainan baru?” gumamnya pelan.

Masuk akal.

Itu lebih mudah diterima daripada kenyataan lain yang bahkan tidak ingin ia pertimbangkan.

Namun, ingatannya kembali ke satu detail kecil. Napas yang tertahan. Bahunya yang sempat kaku. Reaksi spontan yang tidak sinkron dengan sikap dinginnya.

Alden mengernyit.

Itu bukan sesuatu yang bisa direncanakan dengan sempurna.

Ia bangkit duduk. Tangannya menyisir rambut yang masih sedikit lembap.

"Kalau itu akting… maka terlalu bagus. Kalau bukan…"

Pikirannya berhenti di situ. Tidak ia lanjutkan. Ia tidak suka kemungkinan yang tidak bisa ia kendalikan.

Matanya menyipit tipis. Menghitung ulang.

Wajah yang sama. Tapi cara dia menatap… berbeda. Bukan lagi seseorang yang meminta. Melainkan seseorang yang… memilih.

Alden berdiri, berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit disibakkan. Cahaya lampu luar masuk tipis, memantul di matanya yang kini jauh dari tenang.

Ia tidak menyukai ini.

Perubahan itu seharusnya tidak berpengaruh. Tapi nyatanya, ia masih memikirkannya.

Sudut bibirnya menegang.

“Berhenti mengejar… lalu membuatku yang memerhatikan?”

Ia tertawa pelan, tanpa humor.

“Licik." Ia terdiam sejenak. "Atau… kamu memang berubah?”

Namun kata itu tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti pengakuan.

Ia kembali ke tempat tidur, menarik selimut dengan satu gerakan kasar. Matanya terpejam lagi, tapi kali ini bukan untuk benar-benar tidur.

Pikirannya masih bekerja. Masih berputar di orang yang sama.

Dan tanpa ia sadari, yang berubah bukan hanya Belvina.

Tapi juga… fokusnya.

***

Pagi itu, meja sarapan sudah tertata rapi. Alden sudah duduk di sana. Tenang. Seolah tidak menunggu siapa pun.

Langkah kaki terdengar dari arah pintu.

Alden mengangkat pandangannya. Dan saat itulah, matanya sedikit menyipit.

Belvina.

Wanita itu berjalan masuk dengan langkah mantap. Tenang. Tanpa ragu. Namun ada yang berbeda. Sangat berbeda.

Biasanya, Belvina selalu tampil sempurna. Glamor. Mencolok. Seolah setiap detailnya dibuat untuk menarik perhatian.

Tapi hari ini, lebih sederhana. Justru lebih menarik.

Alden memerhatikannya tanpa sadar. Beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Dia bahkan hampir tidak terlihat seperti orang yang sama."

Belvina tidak membalas tatapan itu. Tidak tersenyum. Tidak juga menyapa. Ia berjalan melewati meja, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Alden. Sama seperti semalam.

Jarak yang jelas. Pilihan yang disengaja.

Para pelayan saling bertukar pandang diam-diam. Ada yang berubah. Dan semua orang bisa merasakannya.

Belvina duduk dengan tenang. Seolah posisi itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

Sementara di depannya, Alden masih menatapnya. Lebih fokus dari sebelumnya.

Belvina menatap makanan yang tersaji. Roti hangat. Telur. Buah segar. Minuman yang bahkan namanya tidak ia kenali sebagai Dina.

Ia menahan diri. Sangat menahan. Namun ketertarikan itu tetap muncul. Kecil. Cepat. Tapi nyata.

Ia mengambil roti. Mengoleskan sesuatu di atasnya dengan gerakan yang ia tiru dari ingatan Belvina. Namun tidak berlebihan seperti Belvina asli.

Gigitan pertama, dan lagi-lagi rasa itu. Rasanya terlalu enak. Ia hampir lupa diri.

“Tidak, tidak. Aku tidak mau merusak tubuh indah ini.”

Ia menahan ekspresi, berusaha tetap tenang. Matanya sempat berubah. Lalu tenang kembali.

Tapi tidak untuk Alden.

Pria itu duduk di depannya. Mengawasi. Detail kecil itu tertangkap jelas. Sama seperti semalam. Detail kecil itu kembali muncul.

Alden meletakkan cangkirnya pelan. Kini ia yakin. Ini bukan sekadar perubahan sikap. Ada sesuatu yang… tidak sinkron.

Dan itu menarik. Sangat menarik.

Ia berdiri. Langkahnya tenang saat mendekat ke sisi Belvina.

Para pelayan langsung menunduk sedikit. Suasana berubah. Lebih tegang.

“Besok malam,” ucapnya.

Belvina tidak menoleh.

“Apa?”

“Kamu ikut denganku.”

Tidak ada penjelasan tambahan. Nada itu sudah cukup jelas—bukan ajakan.

 

...✨“Beberapa perubahan tidak meminta perhatian, justru itu yang membuatnya diperhatikan.”...

...“Kecurigaan tidak muncul dari hal besar, tapi dari detail kecil yang berulang.”...

...“Yang tidak masuk akal selalu lebih mengganggu daripada yang salah secara jelas.”✨...

.

To be continued

1
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
Bakulgeblek
"sudah boleh?" 🤣🤣🤣🤣
Bakulgeblek
hanjayyyy... modelan lanangan podo ae...
"boleh ya..." 🤣🤣🤣🤣
anonim
Dimas mendapatkan bukti-bukti dari kejahatan Seraphina yang di bantu pelayan klub malam dengan membayarnya.

Mesti di usut sampai tuntas, Seraphina harus menerima konsekuensinya.sm Sampai Seraphina jera tak akan mendekati Alden sekaligus tidak mengusik Belvina lagi.
anonim
Alden minta jatah sebagai suami, Belvina menolak dengan alasan sedang hamil.

Belvina terpesona dengan tubuh didepannya yang sedang dia bantu melepas baju.

Alden selesai mandi menyerahkan dokumen untuk ditandatangani Belvina.

Belvina terkejut.

Alden serius memindahkan hampir seluruh asetnya atas nama Belvina.

Belvina pasti tak menyangka dengan jawaban Alden, ketika dia bilang jika dirinya kabur membawa hampir seluruh aset milik Alden.
anonim
Harta tak ada artinya bagi Alden tanpa Belvina dan anaknya berada di sisinya.

Seluruh kekayaan Alden dipindah atas nama Belvina.

Dimas kenapa takut Belvina meninggalkan Bos-nya. Kerjakan saja perintahnya Bos.

Bagi Alden itu hanya sebuah penebusan kecil. Tidak sebanding dengan penderitaan Belvina rasakan karena dirinya.
Bakulgeblek
pertama baca, bahasanya kaku...
dibaca lagi jadi penasaran...
lanjut baca, jd jatuh cinta 😍😍😍😍
Bakulgeblek
ketika bini sdh nyaman dan mengeluarkan potrnsinya... jangan terkejut ketika itu terjadi... 🤣🤣🤣🤣
Bakulgeblek
yap... itu sangat menyedihkan... walau hanya skdr membayangkan saja itu benar2 menyakitkan...
Bakulgeblek
dan saya menjadi bagian dari orang yg sangat2 beruntung... sadar sepenting apakah orang yg mengejar kita sebelum dia lelah mengejar... dan itu sangat2 membahagiakan... 😍😍😍
anonim
Apa isi dokumen yang sudah dibuat Alden, sampai Dimas matanya membelalak.
anonim
Panggilan tersambung dengan Dimas.

Tujuan Alden menghubungi Dimas supaya Belvina tahu kejadian yang sebenarnya.

Tuh Dimas malah komplit menjawabnya ketika Alden bertanya tentang kejadian tadi.

Dimas, cari tuh orang yang sudah bikin salah paham Belvina. Usut tuntas seakar-akarnya.
anonim
Naaa begitu dong Belvina, mestinya bicara baik-baik. Tanya baik-baik. Dasar bumil emosinya yang maju terdepan lebih dulu.

Belvina menyerahkan ponselnya yang telah dibuka aplikasi pesannya pada Alden. Minta penjelasan dari Alden.

Alden melihat foto-foto dirinya bersama Seraphina, sedikit terkejut pastinya.

Dari pada ribut dengan istrinya, Alden menghubungi Dimas, ponsel dalam mode pengeras suara.
anonim
Seraphina sukses bikin Belvina salah paham terhadap Alden.

Bawaan Ibu hamil lebih dominan, emosinya tak terkontrol.

Alden yang sudah merebahkan tubuhnya di belakang Belvina, lengannya melingkar di pinggang Belvina. Reflek Belvina menepis tangan Alden.

Belvina diam ketika Alden bertanya belum tidur.

Alden memeluk lagi, Belvina kembali menepis lebih keras.

Alden belum tahu kenapa Belvina bersikap begitu.

Dipanggilnya Belvina "sayang."

Jangan panggil aku sayang.

Waduuuh
anonim
Alden meluruskan apa yang ada di pikiran Raymond dan kalangan pebisnis.

Rasa penasaran Raymond harusnya sudah terjawab dengan penjelasan Alden.

Raymond bicaranya semakin jauh. Tidak menjaga kepantasan dengan apa yang dia ucapkan. Mengurusi rumah tangga orang lain.

Dimas ikut bicara, Seraphina geram, dalam hati mengumpat.

Mereka benar telah salah paham. Seraphina saja yang tidak paham, dadanya jadi terasa sesak kan 😄.

Seraphina ini pintar tapi kesadarannya tumpul. Kenapa mesti tidak terima kalau Alden terus berada di sisi Belvina. Belum sadar juga kalau Alden sudah membangun benteng.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!