Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Batu Uji Kuasa
Pelataran utama sekte yang terbuat dari marmer putih itu kini dipenuhi oleh keheningan yang tegang. Di atas panggung kehormatan, Tetua Utama sekte pinggiran seorang pria tua berjanggut putih panjang dengan fluktuasi Qi yang dalam melangkah maju. Suaranya yang diperkuat dengan energi spiritual bergema ke seluruh penjuru.
"Seleksi masuk Akademi Bintang Tujuh tahun ini akan dibagi menjadi dua tahap! Tahap pertama adalah Uji Kuasa Fisik dan Qi. Di depan kalian telah disiapkan Batu Uji Kuasa. Hanya mereka yang mampu memancarkan cahaya minimal setara dengan puncak ranah Penempaan Tubuh yang berhak maju ke arena pertarungan!"
Di tengah pelataran, sebuah batu hitam raksasa setinggi tiga meter berdiri kokoh. Batu itu dilapisi segel formasi kuno yang akan menyala sesuai dengan kekuatan benturan yang diterimanya.
Satu per satu, murid-murid pelataran dalam dan luar mulai maju. Kebanyakan dari mereka hanya mampu memancarkan cahaya redup, menandakan fondasi yang lemah.
Tiba giliran Zhu Da. Pemuda gempal yang sangat memikirkan urusan perutnya itu melangkah dengan kaki gemetar. Ia menutup mata rapat-rapat, berteriak sekencang-kencangnya, dan menabrakkan seluruh tubuh gemuknya ke arah batu tersebut.
BUM!
Batu itu berkedip sesaat, memancarkan cahaya hijau pudar batas paling minimum untuk lolos. Zhu Da jatuh terduduk sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"A-aku lolos?! Chen-ge, aku lolos! Malam ini kita harus merayakannya dengan memanggang tiga ekor kalkun berbulu api!" teriak Zhu Da kegirangan, sama sekali mengabaikan tatapan jijik dari para murid pelataran dalam.
Lin Chen hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya. Sebulan dikejar monster hutan rupanya benar-benar membuat kulit dan tenaga pemuda gempal itu bertambah keras tanpa ia sadari.
Kini, tibalah saat yang paling dinantikan. Nama Lin Chen akhirnya dipanggil oleh pengawas ujian.
Saat Lin Chen melangkah keluar dari barisan murid asrama luar, suasana pelataran berubah menjadi canggung. Kabar tentang seorang murid pelataran dalam di ranah Pengumpulan Qi yang dihancurkan hanya dengan satu pukulan fisik murni oleh Lin Chen menyebar bagai kebakaran hutan sebulan yang lalu. Para murid luar menatapnya dengan rasa takut dan hormat, sementara para murid dalam menatapnya dengan rasa penasaran bercampur tidak suka.
Di atas panggung, para tetua saling berbisik. "Bukannya dia si sampah yang meridiannya cacat bawaan itu?" bisik salah satu tetua. "Kudengar dia menggunakan trik kotor untuk mengalahkan Wang Lei. Hari ini, di depan Batu Uji Kuasa, semua trik murahan tidak akan berguna. Kita akan melihat kebenaran dari bakatnya."
Di sisi panggung yang terpisah, Su Qingyue berdiri diam. Gadis itu tampak sangat dingin, cantik tiada tara, dengan jubah putih yang berkibar anggun. Namun, mata jernihnya tak pernah lepas dari sosok pemuda berjubah abu-abu sederhana yang sedang berjalan menuju batu raksasa tersebut.
Di dalam benak Lin Chen, roh kuno yang cerewet itu kembali berulah. "Peluang emas, Bocah!" teriak Tua Hitam antusias. "Hancurkan batu itu menggunakan kepalamu! Tunjukkan pada dewi es di atas sana bahwa kepalamu lebih keras dari batu! Wanita paling suka pria berkepala batu yang rela gegar otak demi cinta!"
Lin Chen nyaris saja tersandung langkahnya sendiri. Jika ia benar-benar menanduk batu raksasa itu, Su Qingyue bukan akan terkesan, melainkan akan menganggapnya sudah gila. Ia menekan suara Tua Hitam ke sudut terdalam Dantian-nya dan memusatkan seluruh konsentrasinya.
Lin Chen berdiri tepat satu meter di depan Batu Uji Kuasa. Ia memejamkan mata. Waktu satu bulan penuh penderitaan direbus di dalam tong obat mengalir kembali di ingatannya. Kini, ia telah mencapai batas maksimal, yakni ranah Penempaan Tubuh Tingkat 9.
Tanpa mengambil kuda-kuda yang rumit, dan sama sekali tidak memancarkan fluktuasi energi Qi seperti murid lainnya, Lin Chen hanya menarik tangan kanannya ke belakang.
Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba diaktifkan secara maksimal.
Di bawah kulitnya, otot-otot yang telah ditempa hingga sekeras baja murni berkontraksi hebat. Suara raungan gajah purba yang sangat samar namun berat terdengar beresonansi dari dalam tulang-tulangnya, membuat udara di sekitar kepalan tangannya terdistorsi.
BAM—!!!
Tinju Lin Chen menghantam permukaan batu hitam itu.
Tidak ada ledakan cahaya spiritual, hanya suara hantaman fisik yang begitu mengerikan hingga menyerupai ledakan meriam. Gelombang kejut angin menyapu ke segala arah, membuat jubah para pengawas berkibar kencang dan memaksa murid-murid di barisan depan mundur beberapa langkah.
Selama dua detik penuh, Batu Uji Kuasa itu tidak memancarkan cahaya apa pun.
Tetua pengawas baru saja hendak mencibir dan menyatakannya gagal, ketika tiba-tiba terdengar suara retakan tajam.
KRAAAK!
Sebuah retakan besar menjalar layaknya jaring laba-laba dari titik benturan tinju Lin Chen, menyebar ke seluruh permukaan batu setinggi tiga meter tersebut. Detik berikutnya, cahaya keemasan yang sangat menyilaukan jauh melampaui batas warna yang seharusnya mampu ditampilkan batu itu meledak keluar dari sela-sela retakan, membutakan mata ribuan orang di pelataran.
BRUK.
Batu Uji Kuasa yang terbuat dari material khusus itu hancur berkeping-keping, runtuh menjadi tumpukan kerikil bersinar di kaki Lin Chen.
Keheningan mencekik seluruh puncak sekte. Tidak ada suara burung, tidak ada embusan napas. Para tetua di atas panggung kehormatan terlonjak dari kursi mereka, membelalakkan mata hingga bola mata mereka nyaris melompat keluar.
Menghancurkan Batu Uji Kuasa hanya dengan kekuatan fisik murni tanpa setetes pun energi Qi? Itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal bagi seseorang yang berada di ranah Penempaan Tubuh!
Lin Chen menarik kembali tinjunya secara perlahan, menghembuskan napas panjang. Ia menepuk debu dari lengan bajunya dengan santai, seolah baru saja memukul bantal kapuk.
Tanpa mempedulikan tatapan horor ribuan orang di sekelilingnya, ia mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung menembus kerumunan, mengarah tepat ke anjungan tempat sang gadis es berdiri.
Su Qingyue, gadis yang selalu menganggap semua orang sama saja, kali ini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bibir kecilnya sedikit terbuka, dan mata esnya bergetar memantulkan cahaya keemasan dari sisa-sisa batu yang hancur.
Melihat reaksi gadis itu, Lin Chen memberikan senyuman tipis yang hangat, seolah menyampaikan satu pesan tanpa suara: Ini baru permulaan. Aku akan terus naik, hingga aku bisa berdiri di sampingmu.
Di balik sikap acuh tak acuhnya yang mulai runtuh, wajah Su Qingyue kembali memerah sedikit. Ia menundukkan wajahnya, jari-jari dinginnya meremas ujung jubah putihnya dengan gelisah. Jantungnya berdetak begitu kencang, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sepanjang usianya berkultivasi.
Hari itu, seluruh sekte pinggiran akhirnya menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan: Naga yang selama ini tidur di lumpur keruh, kini telah membuka matanya untuk menantang langit.