Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Keesokan paginya, seberkas cahaya matahari kembali menembus tirai kamar. Shanum perlahan membuka kedua matanya, mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke sisi tempat tidur. Namun, kasur di sebelahnya sudah kosong dan terasa dingin.
Shanum mendudukkan diri sembari merapikan jilbab instan yang sedikit berantakan.
'Kemana perginya Pak Daniel?' gumamnya dalam hati penuh tanya.
Rasa penasaran menuntun langkah kaki Shanum bergegas menuju kamar Baby Ziva. Begitu pintu kayu itu diketuk dan dibukanya pelan, pemandangan hangat langsung menyapa penglihatannya. Daniel sudah berada di sana, berdiri tegap di dekat jendela sembari menimang Ziva yang tampak lincah di dalam gendongannya.
Shanum melangkah masuk dengan raut wajahnya yang sedikit cemas. "Pak Dokter... Ziva kenapa?"
Daniel menoleh, menyunggingkan senyum segar yang membuat ketampanannya berlipat ganda pagi ini. "Ziva tidak apa-apa, Num. Hanya saja, hari ini Ziva ada jadwal imunisasi rutin. Nanti setelah Ziva dimandikan dan kamu juga sudah rapi, kita langsung berangkat ke rumah sakit, ya."
Shanum mengangguk patuh. "Baik, Pak."
Sebelum berbalik untuk bersiap-siap, sepasang mata Shanum sempat mencuri pandang ke arah suaminya. Daniel rupanya sudah mandi dan berpakaian sangat rapi. Pria itu tampak begitu segar mengenakan kemeja berwarna biru muda yang pas di tubuh tegapnya. Pagi itu, Baby Ziva diambil alih oleh Bik Sumi untuk dimandikan dengan air hangat, sementara Shanum bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian, Daniel sudah menunggu Shanum di ruang makan lantai dasar. Tak lama, Shanum turun dengan penampilan yang anggun dan bersahaja. Mereka pun duduk bersama untuk menyantap sarapan pagi, ditemani oleh Tuan Lee dan Nyonya Tania yang sudah lebih dulu mengisi kursi meja makan.
Di sela-sela denting sendok dan garpu, Nyonya Tania meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap anak dan menantunya bergantian. "Oh iya Daniel, Shanum... Hari ini Mamah dan Papah rencananya mau pulang ke rumah kita sendiri. Rasa-rasanya sudah cukup lama ya Mamah tinggal di sini menemani kalian."
Daniel menghentikan kunyahannya sejenak lalu mengangguk. "Baik, Mah. Terima kasih sudah menemani kami di sini beberapa hari ini. Kalau bisa, Mamah dan Papah sering-sering ya main ke sini lagi untuk menemani Shanum di rumah."
Nyonya Tania terkekeh pelan sembari mengibaskan tangannya. "Ah, Mamah sama Papah itu takut mengganggu waktu kalian berdua sebagai pengantin baru. Yang terpenting sekarang...!"
Seketika, Nyonya Tania menekankan nada suaranya, menatap lurus penuh arti ke arah Daniel dan Shanum. "Kalian secepatnya memberikan kami seorang cucu baru, ya! Biar Baby Ziva ada teman main di rumah ini."
Uhuk!
Uhuk!
Jika kemarin pagi Shanum yang dibuat mati kutu, kini giliran Daniel yang langsung tersedak potongan roti bakarnya dengan hebat hingga wajahnya memerah. Shanum yang berada di sampingnya reflex ikut panik, dengan sigap ia meraih gelas berisi air putih di samping piringnya lalu memberikannya kepada Daniel.
"M... minum dulu, Mas," cicit Shanum gugup.
Daniel menyambar gelas itu dan meminumnya sampai tandas, mencoba meredakan rasa perih di tenggorokannya sekaligus menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa setelah mengatakan pengakuan rahasianya kepada Shanum semalam.
Nyonya Tania yang melihat pemandangan itu justru tertawa renyah sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini, kebiasaan deh... Kalau Mamah sudah membahas soal anak, pasti saja ada yang tersedak. Kemarin Shanum yang tersedak, eh sekarang gantian kamu, Daniel!" goda sang ibu mertua jahil.
Daniel berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya, melirik Shanum yang kini sudah menunduk sedalam-dalamnya dengan pipi sewarna kepiting rebus.
"Sudah, Mah, jangan bahas itu dulu," sela Daniel mencoba meluruskan suasana. "Ziva juga kan masih sangat kecil, dia masih butuh perhatian penuh dan masih butuh ASI eksklusif dari Shanum. Kasihan kalau harus buru-buru punya adik."
Nyonya Tania terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang ucapan putra semata wayangnya yang berprofesi sebagai dokter itu. "Iya juga sih, ada benarnya kata kamu. Ya sudah kalau begitu, kalian atur saja bagaimana baiknya. Yang terpenting bagi Mamah dan Papah, rumah tangga kalian selalu harmonis. Kami senang sekali melihat kalian berdua akur dan saling perhatian seperti ini."
Selesai menghabiskan sarapan pagi yang penuh drama menggemaskan itu, Daniel pun bangkit berdiri. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu berjalan menghampiri Tuan Lee dan Nyonya Tania untuk berpamitan.
"Mah, Pah, Daniel sama Shanum pamit bawa Ziva ke rumah sakit sekarang, ya. Kebetulan setelah imunisasi Ziva selesai, hari ini Daniel juga mendapatkan jadwal praktik siang sampai malam di rumah sakit," pamit Daniel sembari menyalami kedua orang tuanya bergantian, yang kemudian diikuti oleh Shanum dari belakang.
"Iya, hati-hati di jalan, ya. Jaga menantu dan cucunya Mamah baik-baik, Daniel," pesan Nyonya Tania hangat.
Dengan menggendong Baby Ziva yang sudah rapi dan wangi dalam dekapan Shanum, mereka berdua melangkah keluar menuju mobil. Meski ada rasa canggung yang tersisa dari obrolan semalam tentang kekurangan Daniel, namun binar di mata keduanya pagi ini menunjukkan bahwa ada dinding pembatas yang mulai runtuh secara perlahan di antara mereka.
*
*
Setibanya di Rumah Sakit Citra Medika, kehadiran Daniel langsung menyita perhatian hampir seluruh pasang mata di lobi utama. Hari ini, Daniel sudah menjadwalkan imunisasi rutin untuk putrinya ke seorang dokter spesialis anak yang baru. Tentu saja, ia tidak akan pernah sudi membawa Ziva kembali ke Dokter Maura yang telah mencoba mencelakai putri nya. Pria itu memilih Dokter Renata, salah satu dokter anak andalan yang baru saja bertugas selama beberapa hari di rumah sakit tersebut.
Langkah kaki Daniel yang tegap berjalan bersisian dengan Shanum yang menggendong Baby Ziva. Pemandangan keluarga kecil ini seketika membuat atmosfer koridor rumah sakit menjadi riuh oleh bisik-bisik. Sebagian besar staf medis, perawat, dan pengunjung wanita yang selama ini selalu mengagumi ketampanan sang dokter bedah jantung mendadak dirundung rasa iri yang teramat sangat kepada Shanum. Di mata mereka, Shanum hanyalah wanita biasa berpenampilan bersahaja, namun secara ajaib berhasil menaklukkan hati si dokter es yang terkenal tak tersentuh.
Sikap Daniel pagi ini pun benar-benar sengaja ia tunjukkan secara terbuka. Ia bersikap sangat hangat dan protektif, bahkan tangan kanannya sesekali mengusap lembut punggung Shanum untuk menuntun jalannya. Netra tajamnya Daniel lebih sering menatap dalam ke arah wajah Shanum di depan banyak orang, seolah-olah ia tidak ingin kehilangan sedetik pun sosok istrinya dari pandangannya.
Mereka bertiga kemudian menaiki lift menuju lantai empat, tempat di mana ruang praktik Dokter Renata berada. Ruangan itu tampak sepi karena Dokter Renata memang sengaja mengosongkan jadwal sejenak demi menunggu kedatangan keluarga Dokter Daniel.
Tok!
Tok!
Daniel mengetuk pintu lalu perlahan mendorongnya terbuka. "Selamat pagi, Dokter Renata," sapa Daniel ramah sembari melangkah masuk.
Namun, begitu Daniel bergeser dan mempersilakan Shanum untuk ikut masuk, atmosfer di dalam ruangan medis itu mendadak membeku seketika.
Shanum terbelalak, langkah kakinya terhenti di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut setengah mati saat menatap wajah dokter anak di hadapannya. Sosok Dokter Renata yang anggun dengan jas putihnya itu ternyata bukanlah orang asing bagi Shanum. Wanita itu adalah anak kandung dari mantan majikan tempat Shanum bekerja banting tulang menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) dulu, sebelum nasib membawanya menikah dengan Daniel.
Di seberang meja, ekspresi yang sama pun ditunjukkan oleh Renata. Dokter anak itu sampai melongo tak percaya, matanya mengerjap berkali-kali memastikan penglihatannya tidak salah. Lembar dokumen medis di tangannya hampir saja merosot jatuh.
"Shanum...?" ucap Renata dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, masih syok mendapati fakta bahwa istri dari dokter spesialis bedah jantung paling terpandang di rumah sakit ini adalah wanita yang dulu sering ia suruh-suruh untuk membersihkan rumah keluarganya. "Kamu... istrinya Dokter Daniel? Bekas ART di rumahku dulu?"
Mendengar celetukan spontan yang sarat akan nada merendahkan itu, Shanum langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa minder dan canggung seketika menyerbu dadanya, membuat cengkeramannya pada selimut Ziva semakin erat.
Daniel yang menyadari perubahan raut wajah istrinya, langsung tanggap dengan situasi yang terjadi. Alih-alih merasa malu atau menjauh, Daniel justru mengambil langkah maju. Ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Shanum, menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat ke sisinya, memberikan perlindungan yang nyata di hadapan rekan sejawatnya.
Bagi seorang Daniel, lembaran masa lalu Shanum yang pernah menjadi seorang ART sama sekali tidak akan pernah berpengaruh apa pun pada perasaannya. Ia tidak melihat seseorang dari kasta, harta, ataupun status sosial masa lalu. Yang Daniel lihat dan rasakan sendiri di rumah adalah ketulusan yang murni, pengorbanan, serta kebaikan luar biasa yang Shanum berikan untuk merawat putri kecilnya, Ziva. Itulah alasan kuat yang pada akhirnya meruntuhkan keangkuhannya dan membuat sosok Daniel jatuh hati sepenuhnya kepada Shanum.
Daniel menatap Dokter Renata dengan sorot matanya yang kembali menajam, mengunci pandangan dokter anak itu dengan aura wibawanya yang dingin.
"Benar, Dokter Renata. Dia adalah Shanum, istri sah saya sekaligus Bunda yang sangat hebat untuk Ziva," tegas Daniel, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan yang membuat Renata seketika tersadar dari kelancangannya. "Bagi saya, masa lalunya adalah bagian dari perjuangan hidupnya yang terhormat. Dan sekarang, dia adalah nyonya di rumah saya."
Renata yang menangkap nada tidak senang dari Daniel langsung menelan ludahnya gugup, wajahnya mendadak memerah karena salah tingkah. Sementara Shanum, ia mendongak menatap profil samping wajah Daniel dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa haru dan tak percaya yang membuncah di dadanya karena sang suami begitu lantang membelanya tanpa rasa malu sedikit pun akan status masa lalunya.
Bersambung...
🪷🪷🪷🪷
Hallo pembaca setiaku, yang cantik dan genteng 🤗
Jangan lupa mampir di karya terbaruku ya 😉🥰
Sinopsis
Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
tida ada perbedaan kasta
Sekali tepuk 2 ekor lalat mati🤭