Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSECURE
Mama tanyanya satu-satu dong. Kala bingung nih balas yang mana. Nanti sore Kala telepon deh, lagi padat kuliah sampai jam 3 soalnya. Love you mama. Akhirnya Kala tahu mengapa Pevita mendadak ngambek, pastinya sebagai menantu dadakan jelas tersinggung dengan pesan mama, apalagi Pevita sejak dulu hidup nyaman dan tentram, tak pernah mungkin bersinggungan dengan orang hingga salah paham. Biarlah nanti Kala yang menjelaskan pada sang mama usai pulang dari kampus, syukur-syukur kalau Pevita juga mau ngobrol.
Hari ini Kala seperti mahasiswa paling sibuk se kampu, 6 jp mata kuliah berakhir hingga pukul 2 sore, lanjut briefing dengan Pak Thoriq jam 3. Belum lagi ia sempat mengerjakan tugas kelompok sampai jam 5, beres urusan kampus Kala sampai rumah jam setengah 7 malam. Sejak pukul 4 sore tadi mama masih terus mengirim pesan, menanyakan posisi Kala.
Kala masih di kampus, Ma. Masih briefing dengan dosen. Balas Kala.
Kala masih kerja kelompok, Ma. Nanti aku kabari kalau sampai rumah. Love you Maa. Begitu balasan Kala kesekian kali saat mama bertanya posisi. Kala menyadari sang mama pasti tak sabar mendengar penjelasan sang putra tentang pekerjaannya. Kala juga menebak, pasti mama sudah chat Tante Lily. Hem, padahal yang tahu Kala kerja hanya sang istri.
"Halo, Ma!" baru juga selesai mandi, ponsel Kala berdering dan tertera nama mama di layar. Pantas Pevita tak mau mengangkat. Sang istri tampak cuek dan keluar kamar begitu saja. Masih ngambek rupanya.
"Halo Ma, halo Ma. Enteng banget kamu menyapa mama, padahal sejak pagi mama sudah penasaran sama kerjaan kamu!" seperti biasa sang mama akan mode emak-emak, mengomel is number one. Sedangkan Kala hanya menanggapi dengan haha hehe saja, sudah terbiasa mendengar omelan sang mama.
"Ya sabar, Ma. Anak mama kan sekarang sibuk!" ujar Kala cengengesan.
"Jadwal kuliah kamu sepadat itu, masih mengambil kerjaan, jelas mama gak sabar mendengar alasan kuat kamu memilih jalan itu. Ingat ya Kala, mama kasih restu kamu buat nikah aja berat, apalagi ditambah cari kerja begini. Dah lah, mama gak tau harus mengomeli kamu seperti apa!" masih saja mama mengomel, katanya mau segera mendengar penjelasan sang putra, tapi tak segera diam.
"Iya, maaf kalau keputusan nikah itu masih mengganjal di hati mama! Tapi beneran deh, Kala bahagia kok dengan pernikahan ini," jujur Kala.
"Ya Alhamdulillah kalau bahagia, tapi gak hanya dimulut kan?" tebak mama, khawatir Kala menyembunyikan sesuatu.
"Enggak, Mama. Yakin deh, Kala bahagia!"
"Oke. Sekarang kasih penjelasan ke mama, kenapa kamu kerja!" tuntut mama tak bisa mengelak.
Kala pun menjelaskan bahwa keputusan untuk bekerja adalah murni dari inisiatifnya sendiri. Setiap menerima transferan dari papa, ada rasa sungkan, kok mengandalkan uang orang tua terus. Ada baiknya mulai mencari kerja. "Ikut proyek dosen IT, masih ada hubungannya sama kuliah, Ma. Bukan di kantor, kerjanya ya di rumah, di kampus, kalau sudah selesai proyeknya dikirim via email atau gdrive, tergantung pada produknya. Mengandalkan internet semua Ma, namanya kerja remote," jelas Kala dengan bahasa sederhana, meski mama zaman now, tapi istilah IT belum tentu paham juga.
"Jadi kerja di rumah?" tanya mama memastikan.
"Iya, jam kerja juga suka-suka aku. Pokok proyek dikirim sebelum deadline!" penjelasan Kala sesuai dengan pekerjaan lalu, entah pada proyek nanti bagaimana, Kala juga tidak tahu. Tapi yang jelas, kalau produk yang dikirim berupa web, game, kemungkinan besar ya kerja dari rumah.
"Beneran? Kamu gak bohongin mama, biar mama gak melarang kamu berhenti kerja?" tuduh mama masih belum rela melihat sang putra menanggung tanggung jawab sebagai suami, dengan bekerja.
"Suer deh!" jawab Kala meyakinkan. Terdengar mama menghela nafas berat.
"Sebenarnya papa, mama dan papa mertua kamu tidak keberatan sama sekali kalau kalian hidup dengan transferan kita. Kondisi kalian bisa kita maklumi, Mas. Makanya mama kaget, saat kamu bilang kerja!"
"Kala juga sadar diri, Ma. Tugas Kala dan Pevita itu menomorsatukan kuliah. Jadi kalau Kala gak sanggup kerja, Kala juga bakal mundur. Cuma kerjaan atau proyek kemarin masih bisa dihandle kok, Ma. Tidak mengganggu kuliah sama sekali!"
"Jangan ragu buat cerita apapun ke mama, Mas."
"Iya, tenang aja, kalau ada masalah Kala bisa juga cerita sama Pevita dan mama."
"Dia baik kan sama kamu, Mas?" tanya mama, dan tepat Pevita masuk. Kala sempat bertatapan dengan sang istri. Tatapannya masih sinis. Ngambeknya otw lama nih. Biarlah setelah telepon, Kala akan membujuknya.
"Baik, Ma. Tante Lily dan papa baik, istri aku juga baik. Alhamdulillah, kami berdua sudah berdamai dan menerima pernikahan ini sebagaimana mestinya!" jawab Kala, harus bijak dan jangan sampai ada keluhan yang membuat mama khawatir.
"Kelihatan kok, kalau kamu dan Pevita sudah dekat. Foto kemarin kelihatan kalau kalian sudah saling menyayangi," ucap mama tak tahu saja kalau panggilannya ini di loudspeaker oleh Kala, agar Pevita paham bahwa mama Kala perlahan menganggap Pevita anaknya juga, dan suatu saat akan menjadi menantu idaman keluarga Kala. "Mama minta maaf sempat menuduh kamu kerja karena disuruh Pevita. Ya meskipun seorang istri boleh menuntut nafkah juga. Mungkin mama yang belum rela anak mama berjuang di usia kamu yang masih muda!"
"Wajar, Ma. Kalau mama merespon gitu. Tapi istri aku gak pernah komplain soal nafkah kok Ma, dia sadar juga kalau kondisi kita menikah serba dadakan, jadi kita masih adaptasi bersama. Aku kerja murni inisiatifku sendiri," sengaja Kala bersuara sedikit keras agar Pevita tak salah paham dengan mamanya lagi.
"Iya, mama paham. Mama juga yang salah, sudah sejauh ini, tapi mama belum pernah menanyakan kabar Pevita, atau berkabar via chat. Mama yang belum berdamai kalau kamu sekarang sudah suami orang. Harusnya mama gak ikut campur juga, maafkan mama ya!"
"Iya, mama gak perlu merasa bersalah begitu. Justru Kala yang harusnya minta maaf, karena belum kabari mama soal bekerja."
"Gak pa-pa, Mas. Kamu sekarang punya kehidupan sendiri, tidak semua harus diceritakan sama mama. Yang penting kamu wajib mengabari mama kalau kondisi kamu dan Pevita sehat," ucap mama yakin sih beliau mewek.
Kala mengiyakan dan tak lama panggilan pun berakhir. "Masih ngambek?" tanya Kala sembari memeluk pinggang sang istri. Kebetulan Pevita duduk, di ranjang mengerjakan tugas kuliah.
"Aku gak ngambek!" sewot Pevita, dan Kala hanya tersenyum saja.
"Tadi mama sempat minta maaf telah menuduh kamu, cuma aku udah jelasin alasan aku bekerja! Maaf ya Sayang, kalau mamaku belum bisa dekat sama kamu. Harusnya aku sebagai suami yang mengakrabkan kalian," ujar Kala.
"Sebenarnya aku tipe cewek cuek, terserah orang mau ngomong apa tentang aku. Cuma membaca tuduhan mamamu, aku tersinggung. Aku gak melakukan apa-apa malah dituduh. Selama ini aku hidup tak pernah diremehkan atau disindir orang, Cil, wajar kan kalau tersinggung atas pesan mama kamu!"
"Wajar, Sayang. Wajar, makanya aku mewakili mama, minta maaf akan hal itu, ya?" pinta Kala, jangan sampai di dalam pernikahannya terjadi pertengkaran antara mama dan istrinya. Aduh Kala tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Semoga dia bisa menjadi suami bijak.
"Iya aku maafin juga. Maaf kalau sempat ngomel tadi pagi. Tahu gak sih, aku pernah insecure dengan sahabat kecilmu, karena dia bisa dekat sama mama, sedangkan aku sebagai istri sahmu ngobrol berdua aja gak pernah, apalagi menggandeng tangan beliau," ucap Pevita dengan mengerucutkan bibir.
"Ya kapan-kapan kita berkunjung dan menginap di rumah orang tuaku deh, biar dekat antara menantu dan mertua!" saran Kala dan disetujui oleh Pevita.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh