Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Malam yang Mengubah Segalanya
#
Lampu sorot di halaman pabrik baru Hartono Group menyala terang, sampai kelihatan kayak siang bolong padahal jam sudah nunjuk angka delapan malam. Damar berdiri di podium, pakai jas abu abu yang tadi siang baru diambil dari tukang jahit langganan keluarga, dan dia masih inget banget bau kain baru itu, agak nyengat, bikin idungnya gatel sedikit tapi ya sudahlah, dia diemin aja.
Di depan sana, ratusan orang berdiri. Ada pejabat daerah, ada wartawan yang sibuk motret, ada beberapa pegawai pabrik yang dipanggil khusus buat hadir, katanya biar acaranya keliatan meriah. Damar sempet ngelirik ke sisi kanan podium, ke arah Wisnu Hartono, bapak angkatnya, yang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, wajahnya datar kayak biasa, tapi ada sesuatu di matanya malam itu yang Damar nggak bisa nangkep artinya. Gelisah? Bukan, kayaknya bukan itu. Lebih ke... entahlah. Damar nggak sempet mikirin lama lama soalnya dia harus mulai pidato.
Di sisi kiri, ada Sasha. Cantik, seperti biasa, pakai gaun biru dongker yang bikin dia keliatan anggun banget di bawah lampu sorot. Tunangannya itu senyum ke arah dia, senyum yang biasanya bikin Damar tenang, tapi malam itu entah kenapa senyumnya kayak agak dipaksain. Ah, mungkin cuma perasaan Damar aja. Mungkin dia kecapean. Sudah tiga bulan ini dia ngurusin persiapan pabrik ini sendirian, dari pemilihan lokasi sampe negosiasi sama kontraktor, sampe lupa makan siang berkali kali, sampe Sasha sering nelfon cuma buat nanya "kamu udah makan belum" dengan nada yang setengah khawatir setengah kesel.
"Pabrik ini," Damar mulai bicara, suaranya agak bergetar sedikit di awal tapi dia paksain tetep lanjut, "bukan cuma soal produksi. Ini soal ratusan keluarga yang bakal dapet penghasilan, ini soal masa depan yang kita bangun bareng bareng..."
Dia lupa sisa kalimatnya gimana. Beneran lupa. Padahal udah dilatih semalem suntuk di depan cermin kamar. Untung otaknya masih nyambung, dia improvisasi dikit, orang orang di bawah tepuk tangan, jadi ya sudah aman.
Terus dia ngeliat jam tangannya. Jam delapan lewat dua belas menit.
Detik itu juga suara alarm meraung.
Bukan alarm kebakaran biasa yang cuma bunyi pelan terus orang orang jalan tenang keluar sambil ngobrol. Ini beda. Ini kayak suara yang bikin bulu kuduk berdiri, panjang dan melengking, dan sebelum Damar sempet mikir apa apa, tanah di bawah kakinya berguncang.
BUUM.
Suara ledakan itu... anjir, gimana ya jelasinnya. Bukan cuma suara. Itu kayak sesuatu yang nendang dada dari dalam. Damar keinjek kaki sendiri saking kagetnya, sampe jatoh nabrak mik di podium, dan dia denger orang orang di bawah mulai teriak teriak, ada yang lari, ada yang malah diem aja saking syoknya, kayak kaki mereka nggak mau gerak.
Asap item ngebul dari arah bangunan produksi, yang jaraknya cuma sekitar dua ratus meter dari tempat mereka berdiri. Damar noleh ke Wisnu. Ekspresi bapak angkatnya itu... Damar nggak akan pernah lupa. Bukan kaget. Lebih ke kayak orang yang udah nunggu sesuatu terjadi, terus pas kejadian dia malah kayak lega, sekaligus takut, campur aduk gitu, aneh banget mukanya, tapi Damar nggak sempet mikirin itu lama lama karena kakinya udah lari sendiri ke arah asap.
"Damar!" Sasha teriak manggil dari belakang, suaranya kedengeran pecah, "Damar jangan ke sana, tunggu petugas dulu—"
Dia nggak denger lanjutannya. Atau denger tapi nggak masuk otak. Kakinya udah lari, jasnya udah dia lepas di tengah jalan entah kenapa, mungkin insting aja biar lebih enak gerak, dan makin deket dia ke bangunan produksi, makin jelas dia denger suara orang orang minta tolong dari dalam.
"Tolong... tolong ada yang di dalem..."
Ada bapak bapak security yang keluar sambil megangin lengannya yang keliatan gosong, jalannya terseok seok, matanya udah merah kena asap. Damar nangkep tubuhnya sebelum ambruk, terus teriak ke arah orang orang di belakangnya, "Panggil ambulans! PANGGIL AMBULANS SEKARANG!"
Dia inget banget momen itu, panas dari api yang masih menjalar di sisi kanan bangunan, kerasa nyampe ke muka meski jaraknya masih agak jauh. Dia inget bau yang campur aduk, bau logam kebakar, bau plastik meleleh, dan ada satu bau lagi yang dia nggak mau sebutin, yang dia baru sadar belakangan itu bau apa.
Ada belasan orang yang nggak sempet keluar.
Damar masuk lagi ke dalam, padahal orang orang udah teriakin dia buat jangan, padahal ada yang narik lengannya sampe kemejanya robek dikit di bagian bahu. Tapi dia tetep maksa masuk, soalnya dia denger, samar samar, ada suara anak muda manggil manggil "Pak... Pak tolong..." dari balik reruntuhan besi yang runtuh di deket pintu masuk produksi dua.
Dia coba angkat besi itu. Berat banget, tangannya sampe lecet, kukunya ada yang copot satu, tapi dia nggak berenti, sampe akhirnya ada dua orang petugas yang dateng bantuin, dan mereka berhasil narik keluar satu pekerja yang kakinya udah nggak bisa digerakin, tapi masih idup, masih napas, dan Damar cuma bisa nangis lega sambil megangin tangan orang itu, bilang "tenang, tenang, kamu bakal selamet, tahan ya..."
Tapi yang lain nggak seberuntung itu.
Waktu tim penyelamat udah pada dateng, waktu api udah mulai bisa dikendaliin, Damar berdiri di antara reruntuhan, badannya penuh abu, tangannya gemeteran, dan dia baru sadar dia lagi berdiri persis di deket panel kontrol utama yang udah ancur separo, kabelnya mencuat keluar kayak isi perut yang keburai.
Dan di situ, di momen itu, dia denger seseorang teriak.
"ITU DIA! DIA YANG ADA DI DEKET PANEL!"
Damar noleh. Bingung. Orang orang mulai ngeliatin dia dengan tatapan yang beda, yang tadinya penuh syukur karena dia nyelametin nyawa, sekarang berubah jadi... curiga? Kenapa? Dia nggak ngerti. Dia cuma berdiri di situ, masih megangin tangan pekerja yang tadi dia tarik keluar, masih nangis, masih syok, dan dia nggak ngerti kenapa tiba tiba semua mata ngeliatin dia kayak dia ini bukan penyelamat, tapi tersangka.
"Damar," suara Wisnu, dingin, dari belakangnya. Damar noleh, dan dia liat wajah bapak angkatnya itu, yang sekarang beneran keliatan pucat, bukan pucat karena kaget doang, tapi pucat kayak orang yang lagi mikirin sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar ledakan.
"Ada apa, Pah?" Damar tanya, suaranya masih serak abis teriak teriak tadi.
Wisnu nggak jawab. Dia cuma megang hp nya, layarnya lagi muterin sesuatu, dan dia liatin ke Damar dengan tangan yang sedikit gemeteran.
Itu rekaman CCTV. Kualitasnya jelek, agak buram, ada gangguan garis garis di sana sini kayak sinyal yang putus putus. Tapi cukup jelas buat nunjukin satu sosok, pake seragam teknisi pabrik, lagi berdiri di deket panel kontrol produksi dua, tangannya lagi ngutak ngutik sesuatu, sekitar tiga menit sebelum ledakan.
Dan wajah orang itu, meski buram, meski cuma keliatan sekilas pas dia noleh ke arah kamera...
Mirip banget sama Damar.
Damar ngerasa kayak ada yang nyekek lehernya dari dalem. "Itu... itu bukan aku, Pah. Aku dari tadi di podium, aku baru masuk pas ledakan, semua orang liat—"
"Aku tau," Wisnu motong, tapi suaranya nggak kedengeran kayak orang yang percaya. Suaranya kedengeran kayak orang yang lagi coba yakinin diri sendiri, dan gagal.
Di belakang mereka, sirine mobil polisi mulai kedengeran, makin lama makin deket, dan Damar berdiri di situ, di antara asap yang masih ngebul, di antara mayat mayat yang mulai dikeluarin satu satu dari reruntuhan, ditutupin kain putih yang makin lama makin banyak jumlahnya, dan dia sama sekali nggak nyangka, malam itu, di malam yang seharusnya jadi malam kebanggaan buat dia, adalah malam terakhir dia jadi Damar Aditya Wijaya yang semua orang kenal.
Sasha lari ke arahnya, meluk dia erat erat, badannya gemeteran, "kamu kenapa, kamu kenapa," katanya berkali kali, tapi Damar ngerasa pelukan itu... beda. Ada yang beda. Dia nggak bisa jelasin apa, tapi tangan Sasha yang meluk dia itu kayak nggak sepenuhnya yakin buat meluk.
Dan Damar, di tengah asap, di tengah suara sirine, di tengah tatapan orang orang yang perlahan berubah dari simpati jadi curiga, cuma bisa mikir satu hal.
Kenapa ada orang yang mukanya mirip aku, berdiri di situ, tiga menit sebelum semuanya hancur?