NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Orang Asing Bernama Artharva

Matahari telah lama tenggelam di balik kota Veridian, menyisakan pendar lampu-lampu LED putih dari Menara Akademik yang menjulang angker di tengah kompleks Nexus Academy. Bagi tiga ratus dua puluh peserta yang tersisa, malam pertama ini tidak diisi dengan kasur empuk atau istirahat yang menenangkan. Mereka ditempatkan di sebuah aula transisi sementara yang disulap menjadi asrama darurat sebuah ruangan luas dengan ratusan ranjang lipat militer yang disusun rapi, memisahkan faksi putra dan putri hanya dengan sebuah pembatas sekat kaca buram yang tinggi.

Di dalam asrama putra, atmosfernya tidak jauh berbeda dengan ruang ujian. Bisik-bisik dan kasak-kusuk terdengar di setiap sudut. Dan malam itu, hampir seluruh percakapan bermuara pada satu nama: Atharva.

"Dia bukan manusia, aku yakin," bisik Dimas sambil mendudukkan diri di tepi ranjang lipatnya, menatap ke arah Nareswara yang sedang sibuk mengotak-atik sebuah perangkat genggam kecil yang berhasil ia selundupkan. "Bagaimana bisa seseorang memecahkan enkripsi simulator krisis tanpa memakai mikrofon? Kelompokku tadi sampai hampir saling cakar demi menentukan siapa yang jadi ketua, sementara dia cuma duduk, diam, dan mendadak sistemnya jebol."

Nareswara tidak langsung menjawab. Matanya yang diterangi pendar layar gawai memicing. "Dia tidak menjebolnya dari luar, Dim. Aku sempat memeriksa arus data log simulasi yang bocor di jaringan lokal sebelum mereka memperketat. Anak itu... dia membaca kode sumbernya seolah itu bahasa ibunya. Tapi yang aneh, rekam jejak akademiknya di basis data publik sangat bersih. Terlalu bersih. Tidak ada nama sekolah menengah yang mentereng, tidak ada piagam olimpiade tingkat nasional. Dia seperti hantu yang mendadak muncul di daftar pendaftar pertama."

"Mungkin dia anak pejabat yayasan?" tebak Raka yang baru saja bergabung setelah mencuci muka, handuk kecil tersampir di bahunya. Senyum sinisnya yang khas terukir di sudut bibir. "Di tempat seperti ini, hak istimewa bisa dibeli dengan banyak cara. Aku sudah mencoba mengajaknya bicara tadi di ruang logistik, menanyakan dari mana asal keluarganya atau apa pekerjaan orang tuanya. Tahu apa tanggapannya? Dia cuma menatapku seolah aku ini seonggok angin lalu, kemudian pergi begitu saja. Orang yang terlalu tertutup biasanya menyembunyikan sesuatu yang memalukan atau sesuatu yang terlalu besar."

Gavin yang berbaring dua ranjang di sebelah mereka, dengan kedua tangan menyangga kepala menetap langit-langit, akhirnya bersuara datar. "Jika dia curang, Profesor Adrian adalah orang pertama yang akan melemparnya keluar dari gerbang ini. Jika dia masih di sini, artinya dia memang lebih pintar dari kalian semua. Berhentilah membuang energi untuk menebak-nebak."

Kata-kata Gavin yang dingin seketika membungkam perdebatan itu. Raka mendengus pelan, sementara Dimas kembali berbaring dengan helaan napas berat.

Di sudut paling gelap ruangan, dekat dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah Ruang Arsip Yayasan yang tertutup rapat, sang subjek pembicaraan sedang duduk menekuk lutut di atas ranjangnya. Atharva mendengar setiap bait spekulasi tentang dirinya, namun wajahnya tetap sedatar dinding beton di belakangnya. Baginya, menjadi bahan pembicaraan adalah sebuah konsekuensi yang menjengkelkan, namun selama mereka tidak menyentuh alasan aslinya berada di sini, ia tidak peduli.

Ketika napas teratur dari para peserta lain mulai menandakan bahwa sebagian besar dari mereka telah menyerah pada kantuk dan kelelahan mental, Atharva perlahan merogoh bagian terdalam dari tas ransel usangnya. Dari sebuah selipan tersembunyi yang dilapisi kain flanel, ia mengeluarkan sebuah benda tipis yang telah ia jaga sepanjang hari: sebuah lembar foto fisik berukuran saku yang sudut-sudutnya sudah sedikit mengelupas.

Atharva menggeser tubuhnya, memanfaatkan bias cahaya bulan yang menembus kaca jendela untuk menyinari permukaan foto tersebut.

Di dalam foto itu, dua orang remaja laki-laki sedang berdiri di depan sebuah pagar rumah sederhana dengan latar pohon mangga yang rindang. Yang lebih muda adalah Atharva, berusia empat belas tahun, dengan wajah yang jauh lebih polos namun sudah memiliki tatapan mata yang tajam. Di sebelahnya, seorang remaja yang lebih tinggi merangkul bahunya dengan senyum lebar yang lepas. Alvaro Prasetya. Kakaknya.

Alvaro dalam foto itu mengenakan jaket almamater biru tua dengan sulaman perak berbentuk fraktal geometris di dada kirinya seragam resmi Elite One dari Nexus Academy. Tiga tahun lalu, foto ini dikirimkan Alvaro ke rumah dengan sebuah surat pendek yang membanggakan. Namun, hanya berselang enam bulan setelah foto itu diambil, surat-surat dari Alvaro mendadak berhenti. Pihak sekolah menyatakan Alvaro mengundurkan diri karena tekanan mental dan telah pulang, namun Alvaro tidak pernah sampai ke rumah mereka. Ia lenyap, menguap seperti embun di pagi hari, meninggalkan orang tua mereka dalam histeria yang perlahan berubah menjadi keputusasaan yang sunyi.

Jemari Atharva bergerak pelan, mengusap wajah kakaknya di atas kertas foto yang dingin.

“Jangan pernah cari Kakak, Athar.”

Kalimat itu kembali berbisik di telinganya, begitu nyata hingga membuat rahang Atharva mengeras. "Kamu menyuruhku jangan mencari, tapi kamu meninggalkan petunjuk di buku catatanmu, Kak," gumam Atharva dalam hati. Simbol segitiga terbalik dengan fraktal yang memotong sudut bawah yang ia temukan di layar ujian tadi adalah bukti mutlak bahwa apa yang menimpa Alvaro berakar di tempat ini, di dalam sistem yang sedang mereka perebutkan saat ini.

Atharva melirik ke arah luar jendela. Di kejauhan, lampu di lantai tertinggi Gedung Kompetisi masih menyala, memancarkan aura kekuasaan yang absolut dari Yayasan Veritas Lux Fortuna.

Di sekat kaca buram yang membatasi asrama, Atharva sempat melihat bayangan siluet seorang gadis yang juga sedang berdiri menatap keluar jendela di faksi putri. Meskipun tertutup kabur, dari postur tegak dan ikat rambut kudanya yang khas, Atharva tahu itu adalah Keisya. Gadis peringkat kedua yang sejak siang tadi terus mengawasinya seperti elang yang menemukan mangsa asing. Mereka berdua berada di ruangan yang sama, dikelilingi oleh ratusan jenius yang mengejar kejayaan, namun hanya mereka berdua yang berjalan di tempat ini dengan membawa beban dari orang-orang yang telah tiada.

Atharva memasukkan kembali foto itu ke dalam selipan tasnya dengan sangat hati-hati, memastikan ritsletingnya tertutup rapat tanpa suara. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks namun otaknya tetap bekerja, memetakan kemungkinan skenario untuk tahap ketiga besok pagi: Ujian Ketahanan Mental 24 Jam.

"Aku tidak akan pulang, Kak," bisik Atharva pada kegelapan malam, sebuah janji yang mengikat seluruh sisa hidupnya. "Sebelum aku membedah apa yang ada di balik dinding sekolah ini dan menyeret mereka yang membuatmu menghilang."

...****************...

Di seberang sekat kaca buram, di sisi asrama putri, Keisya Aurellia Wibisono juga belum bisa memejamkan mata. Ia berdiri bersandar pada bingkai jendela yang dingin, menatap pendar lampu kompleks Nexus Academy yang luas. Tangannya meraba saku celana trainingnya, menyentuh permukaan sebuah flashdisk kecil berbentuk kartu yang selalu ia bawa. Di dalamnya terdapat salinan jurnal digital terakhir milik ayahnya yang sempat ia amankan sebelum seluruh komputer di lab ayahnya dibersihkan oleh pihak yang mengaku sebagai "tim audit internal".

“Jika sains hanya diukur dari hasil akhir, maka manusia di dalamnya tak lebih dari sekadar angka yang bisa dihapus saat terjadi galat,” itulah kalimat pembuka dalam jurnal ayahnya yang paling membekas di benak Keisya.

Keisya tahu ayahnya bukan orang yang lemah. Jonathan Wibisono adalah profesor bidang kecerdasan buatan yang selalu menekankan etika dalam setiap risetnya. Namun, mengapa orang sekuat ayahnya bisa ditemukan tewas di meja kerjanya dengan diagnosis serangan jantung yang terlalu dipaksakan? Dan mengapa nama yayasan selalu muncul di baris-baris kode enkripsi yang gagal diselesaikan ayahnya sebelum wafat?

Pandangan Keisya beralih ke bayangan siluet di balik kaca buram faksi putra. Siluet itu adalah Atharva. Pemuda itu baru saja bergerak kembali ke ranjangnya setelah cukup lama berdiri di dekat jendela.

Ada sesuatu dari cara Atharva menatap layar ujian tadi siang yang membuat Keisya yakin bahwa pemuda itu tidak sedang mengejar status Elite One demi masa depan atau uang. Tatapan Atharva terlalu dingin untuk seorang yang ambisius. Itu adalah tatapan seorang pemburu yang sedang mengendap-endap di sarang serigala.

"Siapa kamu sebenarnya, Atharva?" bisik Keisya, suaranya tersapu angin malam yang berembus lewat celah ventilasi.

Di ranjang yang tak jauh dari Keisya, Celine Valencia Danendra tampak membalikkan badannya. Sebagai atlet anggar, Celine memiliki pendengaran yang cukup peka terhadap sekitarnya. Ia membuka mata sedikit, melihat Keisya yang masih terjaga, namun memilih untuk tidak menegurnya. Celine tahu, di tempat seperti ini, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi stres. Ia sendiri lebih memilih mengatur napasnya dengan hitungan konstan agar otot-ombak tubuhnya tidak menegang sebelum ujian ketahanan mental besok.

Sementara itu, di sudut ranjang faksi putri yang lain, Kirana Safira Maheswari sedang duduk bersila sambil menatap layar gawai resminya yang disediakan oleh panitia. Wajahnya yang lembut di siang hari kini tampak mengeras di bawah kegelapan. Ia sedang membaca ulang daftar profil singkat peserta tiga puluh besar yang sempat dirilis di papan pengumuman digital. Jarinya berhenti di nama Keisya dan Atharva. Ambisi Kirana tidak mengizinkannya berada di bawah bayang-bayang siapa pun. "Tahap ketiga... ketahanan mental," gumam Kirana dengan senyum tipis yang penuh rahasia. "Kita lihat seberapa lama top dua ini bisa mempertahankan kewarasan mereka."

Malam semakin larut, dan aula transisi itu perlahan-lahan benar-benar tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Tiga ratus dua puluh remaja tertidur dengan beban mimpi, ambisi, ketakutan, dan dendam yang saling berbenturan di dalam tidak berwujud.

Tepat pukul tiga pagi, seluruh lampu asrama mendadak menyala benderang dengan intensitas cahaya seratus persen, disusul oleh suara sirine bernada tinggi yang memekakkan telinga.

WUUU— WUUU— WUUU—

"Bangun! Seluruh calon Elite One, kosongkan ranjang kalian dalam waktu enam puluh detik!" suara bariton pengawas bergema lewat pengeras suara ruangan, meruntuhkan keheningan malam dengan kejam.

Ujian ketahanan mental dua puluh empat jam telah dimulai, bahkan sebelum mereka sempat menyelesaikan istirahat mereka. Di sudut barisannya, Atharva langsung melompat turun dari ranjang, menyampirkan tas ranselnya dalam satu gerakan refleks yang cepat, matanya langsung tajam bersiap menghadapi siksaan psikologis berikutnya yang telah disiapkan oleh Nexus Academy.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!