Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatto
Sampai di Bandara, penerbangan mereka satu jam lagi menuju ke doha. Tidak mengalami perubahan, karena Karel bersama rombongan tiba tepat waktu. Sehingga mereka tidak perlu bermalam di kota ini.
Adel sudah tidak mengingatkan suaminya tentang tatto lagi. Karena Karel tidak mau. Jadi dia hanya berdiam diri saja. Karel tahu, istrinya lagi bad mood. Namun dia cuek saja.
"Sa, kamu tolong cek tempat tatto yang aman di singapore dimana??"
"Siapa yang mau tatto??"
"Adel." Resa tertawa, dia tidak menyangka bahwa istri temannya ini nyentrik sekali.
"Adel??? Tatto???" Ya ngak masalah juga itu kan seni."
"Aku ngak setuju. Tetapi lihat mukanya seperti itu, ngak tega."
"Entar dia ngak mau beri jajan sama kamu kalau tidak memenuhi keinginannya."
"Mana bisa dia menolak hal itu. Tolong kamu cari tempat tatto yang bagus, bersih dan terpercaya. kan teman gaul kamu banyak. Ini dia sudah minta dari kita masih di Bali. Dari aku melamarnya."
"Kamu sudah pikir matang - matang. Biasanya kamu itu yang nanti reseh dengan tatto istrimu."
"Iya juga. Tetapi itu, aku ngak bisa kalau lihat muka memohonnya."
Akhirnya kembali Karel memberi kejutan buat istrinya mereka berangkat dari bandara doha ke bandara changi singapore. Alasan Karel saat boarding tadi, mereka hanya transit saja. Adel sudah tidak berpikir lagi. Apakah keinginannya untuk tatto bisa terwujud tidak.
Kembali delapan jam penerbangan dari Doha ke Changi airport. Selesai mengambil koper, Ade bertanya mau melapor lagi jam berapa.
"Kita disini jalan - jalan tiga hari sambil menunggu luka akibat tatto sembuh."
"Serius, mas ijinkan."
"Iya asal gambar tatto di tubuhmu atas persetujuan mas."
"Iya." Karel dan Resa, tersenyum melihat sikap bahagianya Adel. Istirahat sebentar di hotel. Sore hari mereka ke studio tatto. Sesuai dengan janji dan rencana Karel. Adel memilih tatto apa yang mau dibuat dan harus persetujuan suaminya.
"Sayang ini sakit loh."
"Ade mau mas, ade suka."
Akhirnya tatto rangkaian bunga bagaikan rantai. Setelah di anastesi di tempat akan dibuat tatto, Adel menunggu gilirannya. Karel yang sedikit kesal dengan keinginan istrinya hanya bisa pasrah.
Sampai di studio tatto, Karel di komplen karena sesuai dengan apa yang di mau. Adel mulai memilih gambar tattonya. Karel begitu kaget istrinya minta di tatto pada punggung belakang tepatnya dibawah leher belang.
"Sayang ..... Kenapa harus disini. Ini lagi gambarnya???"
"Mas......."
"Ini sakit sayang."
Tatto tulisan nama Karel yang dibuat kaligrafi itu yang di pilih. Meskipun jengkel namun, Karel tetap menemani istrinya. Setelah menunggu setengah jam Akhirnya istri Karel di tatto. Adel menahan rasa sakit. Karel terus membelai dan memberi ciuman di bibir untuk menenagkan istrinya. Resa yang menemani bersama Simeon terharu dengan sikap komandan mereka.
Sementara itu di penginapan padang savana, jack yang mencari - cari Adel, akhirnya menanyakan kepada resepsionis tentang keberadaan mereka. Ternyata Adel dan suaminya sudah cek out dan kembali ke kota.
"Tanya apa pi??"
"Ngak ada."
Elisabeth memperhatikan gestur suaminya yang mencurigakan. Dia tahu, bahwa selama liburan disini, Jack selalu memperhatikan istri orang. Tetapi Elisabeth merasa tenang karena suaminya melindungi dan perempuan itu bukan tipe perempuan nakal. Kembali Jack melamun dalam hatinya berkata, bahwa dia akan merebut kebahagiaan dari polisi itu.
"Tunggu saja tanggal mainnya AKP Karel Imanuel Barnabas."
Sudah tiga hari Karel bersama Adel di Singapore, selain tujuan utama membuat tatto, mereka juga jalan - jalan. Karel memanjakan istrinya. Resa dan Simeon mengakui, bahwa Komandan mereka ini orang kaya. Sebagai cucu pewaris kekayaan opa mereka, Karel memiliki harta yang banyak. Dan dokter Adel sangat beruntung memilikinya.
"Mas, ade punya tas yang mas beri belum kepakai loh."
"Sayang..... Tas ini investasi."
"Mas juga mau ganti tas kerja kamu."
Adel begitu kaget ternyata tas yang tampak sederhana namun harganya selangit. Adel tidak bisa menolak. Di akui kualitasnya bagus. Bukan hanya tas. Ada beberpa perhiasan juga yang Karel beli. Dan baju.
"Disini harganya lebih murah dari pada toko di Jakarta sayang."
"Oke mas..... Ade suka. Tetapi ini ngak berlebihankan??" Karel menatap istrinya. Ini yang Karel suka dari Adel, dia bukan cewek matre, seperti cewek - cewek yang perna dekat dengannya.
"Mas... Bisa memberi diri mas buat kamu loh. Asal bisa buat kamu bahagia. Kita punya uang dan kamu pantas mendapatkan semua ini."
"Terima kasih mas."
"Aku mencintaimu Adel istriku."
"Aku juga mencintaimu mas Karel."
Tatto yang menjadi keinginan Adel juga diketahui oleh orangtua Karel bahkan kakaknya di Amerika. Dan orangtua serta kakaknya menilai bahwa itu adalah seni. Jadi mereka tidak mempermasalahkan jika, Adel membuat tatto di tubuhnya.
Pagi ini mereka akan terbang kembali ke Jakarta, Adel sangat cantik dengan penampilannya. Dia menggunakan baju yang bisa memperlihatkan tatto yang baru dibuat. Semua laki - laki memandang dia.
"Bos.... Pilihan tatto ibu sangat cantik."
"Sekali lagi mon, kamu melihat istriku seperti laki- laki yang ada disini, saya lepas mata kamu."
"Jahat amat bos..... "
Karel langsung memeluk istrinya. Sikap posesif diperlihatkan Karel lagi. Resa hanya bisa tersenyum melihatnya.