Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hati yang telah terluka, guratannya, selamanya akan membekas.
"Agrhhhhh....! Ada apa dengan, Reny? Kenapa istriku akhir-akhir ini seperti orang asing saja dalam hidupku. Dia yang dulunya patuh, seolah mau menunjukkan taringnya. Lama-lama dia makin berani bicara dan bertingkah. Entah, apa maksud ucapannya tadi, tapi berhasil dengan sukses membuatku merinding. Betapa tidak, kata-katanya yang disertai ucapan tajam dan eskpresi dingin itu, berhasil membuatku syok. Belum pernah aku melihatnya seperti itu bicara.
Selama ini setiap perkataanku adalah titah yang tak pernah dia bantah. Paling dia protes kalau apa yang aku perintahkan itu terlalu berat untuk dia lakukan. Selebihnya dia akan diam dan masalah selesai.
Tapi, akhir-akhir ini, Reny makin banyak protes. Terutama soal gajiku yang selalu ia pertanyakan. Padahal selama ini dia tidak pernah mau tau berapa gajiku, bekerja di salah satu BUMN itu.
Dulu sebelum pindah, gajiku utuh kuberikan padanya. Aku hanya mengambil beberapa juta, dari total gajiku. Selebihnya aku berikan untuk di kelola istriku. Reny, memang transparan dalam mengelola keuangan rumah tangga kami. Dia tulis semua uang masuk serta pengeluaran secara detail.
Sebagai mantan karyawan dengan jabatan kasir, Reny pasti lihai dengan pembukuan. Catatannya mudah di mengerti. Semua tercatan rapi, dalam buku yang selalu ia letakkan di atas kulkas.
Aku tau tentang itu, karena pernah iseng membuka buku catatannya. Aku jadi semangat, memberikan uang berlebih kepada istriku, karena pandai mengelola keuangan rumah tangga kami.
Setiap selisih uang belanja, selalu ia tabung. Karena kami punya impian sama, untuk membangun rumah dan telah kami mulai dengan menyicil tanah kaplingan, di derah ibu. Aku sengaja membelinya di daerah ibu, selain karena lebih murah, aku juga akan dipindah tugaskan beberapa bulan lagi ke daerah ibu.
Pimpinanku telah memberi bocoran, bahwa aku telah dipromosikan menjadi manajer di daerah baru. Hal itu tentu kusambut dengan girang. Selain akan dekat dengan ibu, bekerja di kampung halaman sendiri juga adalah impianku.
Setelah menikah kami hanya tinggal 1 tahun lebih di kota. Devan putra pertamaku lahir di tahun pertama pernikahan kami. Mengginjak tahun kedua aku sudah memboyong anak istriku pindah ke daerah kabupaten, tempat tinggal ibu. Karena kebetulan, ke daerah ibulah tempatku di mutasi. Jadi sangat kebetulan sekali. Masuk tahun ke 3 pernikahanku, lahir pulalah anak keduaku seorang putri, Mitha.
Sejak kelahiran, Mitha, Reny makin sibuk mengurus kedua anak balita kami. Karena tak punya asisten rumah tangga, otomatis dilah yang menghandel semua pekerjaan rumah sekalian mengurus Devan dan Mitha.
Nyaris, aku melihatnya tak sempat mengurus dirinya sendiri. Aku juga yang terlalu sibuk dengan tanggung jawab baru, tak bisa turun tangan membantunya.
Semua pekerjaan di rumah dan urusan anak, memang beres di tangannya. Tapi, itu tadi, waktu untuk mengurus dirinya sendiri tidak ada waktu.
Setiap hari aku selalu melihatnya, dasteran. Tidak pagi, siang, malam pun saat pulang kerja dia terus memakai daster.
Walau pakaian kebesarannya itu, bagus dan bersih, tidak ada koyak di sana-sini. Tapi mataku jenuh setiap kali melihat dandanannya yang sama dari hari ke hari. Dasteran, dengan rambut di kuncir satu. Persis ekor kuda.
Pernah aku protes, katanya dia lebih nyaman, karena bebas bergerak. Ya, sudahlah, aku diam saja sejak itu. Satu hal lagi yang sering membuatku jengkel, disaat aku asyik dengan secangkir kopi, ketika baru pulang, kerja. Kedua anakku selalu bertengkar. Entah apa yang mereka perebutkan. Teriakan mereka yang memekakkan telingaku, sungguh membuatku tak nyaman.
Belum lagi kalau, Reny, menyuruhku menjaga mereka sebentar. Dahlah, mood ku untuk ngopi santai di rumah, ambyar. Bila sudah begitu, aku akan pergi menyingkir ke rumah ibu. Di rumah ibu aku akan merasa tenang, dan dimanjakan karena tidak ada suara- suara yang membisingkan.
Begitulah terus, hingga aku tak sadar telah melakukannya beberapa tahun ini. Aku betah di rumah ibu hingga pulang larut malam. Bahkan tak pulang sama sekali. Terkadang juga sepulang kantor aku mampir dulu di rumah ibu. Barulah pulang setelah menghabiskan secangkir kopi hitam.
Perlahan namun pasti, saat mengopi, di rumah ibu tentu aku harus mengeluarkan uang untuk beli camilan, kopi, atau gula. Selain uang gajiku yang rutin aku bagi sama ibu.
Bahkan kalau kak Sarah dan keponakanku datang bertandang ke rumah ibu. Aku juga memberi mereka uang. Aku bahkan sangat royal pada mereka. Karena aku kasihan, abang ku Rio, jarang pulang ke rumah karena berkerja di luar kota.
Bila aku sudah membagi uang saat gajian, di hari berikutnya juga aku sering memberi kedua keponakanku itu uang jajan. Akibatnya, uang untuk Reny jadi makin menipis. Agar Reny tidak curiga, aku selalu memberinya alasan, entah dia percaya atau tidak. Tapi sejauh ini dia selalu diam.
Baru beberapa bulan ini di mulai protes. Mungkin karena aku memang semakin keterlaluan memotong uang gajiku. Hal ini terjadi karena ibu juga semakin sering memintaiku uang, untuk arisanlah atau apalah. Aku lupa apa saja, itu. Bahkan kak Sarah, dengan dalih untuk anak-anaknya juga meminta uang padaku.
Katanya kiriman bang Rio terlambat datang. Karena ada urusan pentinglah. Yang awalnya behutang tapi pada akhirnya tidak dibayar. Lupa atau sengaja lupa entahlah. Untuk meminta, jelas aku segan.
Pernah aku menyuruh ibu mengingatkan, eh, malah berurai air mata dia meminta maaf padaku. Sikapnya sejak itupun mulai berubah. Dia lebih lembut dan perhatian padaku.
Setiap kali aku datang ke rumah ibu, diapun selalu mampir. Kadang membawakan makanan atau camilan. Penampilannya juga berubah. Sepertinya hendak memikat hatiku. Bodohnya aku kala itu, justru sangat senang dan nyaman sekali setiap bertemu dengannya.
Aku yang selalu suntuk di rumah karena istri yang selalu dasteran. Lalu disuguhi pemandangan yang menyegarkan mata, semakin membuatku betah, di rumah ibu. Tidak jarang saat kami asyik ngobrol pembicaraan lari ke Reny istriku. Bukannya tersinggung karena Reny di jadikan topik, aku malah makin curhat.
Aku jadi sering menceritakan kekurangan Reny. Yang suka nyinyirlah soal uang yang kuberi. Juga protes panjangnya karena aku terlalu asyik di rumah ibu. yang tidak pandailah merawat diri. Jadi ketika kami kumpul bersama di rumah ibu saat ada acara keluarga. Ibu dan Sarah kerap menyindirnya dan aku tak bisa apa-apa untuk membelanya. Karena semua itu adalah ulahku. Aku hanya diam seolah tak tau apa-apa.
Bahkan sikap ibu dan Sarah makin keterlaluan saja saat menitipkan makanan padaku tempo hari, karena Reny dan kedua anakku batal ikut makan bersama di rumah. Aku sungguh tak bisa berbuat apa-apa waktu itu, untuk membela keluargaku. Kubiarkan saja mereka pulang lebih dulu. Karena ulah ibu.
Saat mau pulang, ibu menitipkan makanan untuk aku bawa ke rumah. Rasa bersalahku sedikit berkurang. Tanpa menduga sama sekali, kalau makanan itu adalah sisa makanan yang kami makan.
Aku sangat syok! Tapi tidak kutunjukkan di depan istriku. Sebelum ke kantor aku mampir dan memarahi ibu dan Sarah, siangnya ibu datang mengganti sup itu.
Lalu malam ini aku bermaksud ke rumah ibu, untuk mencari tau kenapa ibu sampai menganti sup itu lagi.
Tapi, istriku telah meradang, karena ulahku juga. Hanya karena soal anak yang rebutan berlari menuju meja makan.****