"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Bayangan Masa Lalu
Malam semakin larut. Seluruh penghuni rumah sudah kembali ke kamar masing-masing. Hanya lampu taman di halaman depan yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan ke jendela kamar Arga dan Nadira.
Sejak kejadian surat ancaman beberapa hari lalu, keduanya nyaris tidak pernah benar-benar berjauhan. Arga bahkan semakin sering memastikan Nadira selalu berada dalam jangkauan pandangnya. Hal itu membuat Nadira beberapa kali merasa canggung, tetapi diam-diam ia juga menikmati perhatian yang diberikan suaminya.
Nadira berdiri di balkon kamar sambil memandangi langit malam yang cerah. Angin bertiup pelan, membuat beberapa helai rambutnya tertiup ke depan wajah. Dari belakang, Arga menghampiri tanpa suara lalu menyelimutkan cardigan tipis ke bahu Nadira.
"Nanti masuk angin," ucapnya pelan.
Nadira menoleh sambil tersenyum kecil. "Mas terlalu khawatir."
"Aku memang khawatir."
Arga berdiri di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati suasana malam tanpa berkata apa-apa. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi.
"Aku masih kepikiran surat itu," gumam Nadira.
Arga menggenggam tangan Nadira. "Aku akan cari siapa pelakunya."
"Kalau ternyata berbahaya?"
"Aku tetap cari."
"Mas..."
Arga menatapnya. "Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Nada suaranya terdengar begitu mantap hingga membuat dada Nadira menghangat. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di bahu Arga. Arga membalas dengan merangkul pinggangnya, mendekatkan jarak di antara mereka.
"Terima kasih."
"Buat apa?"
"Karena selalu ada."
Arga tersenyum tipis. Ia mengangkat dagu Nadira perlahan hingga tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata lagi. Hanya keheningan yang terasa nyaman. Arga mengecup lembut kening Nadira, kemudian ujung hidungnya, sebelum akhirnya mengecup bibir Nadira singkat penuh kehati-hatian. Nadira tidak lagi menghindar seperti dulu. Ia membalas pelan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang selama ini perlahan tumbuh di antara mereka.
Nadira mengikis jarak dan tertawa kecil karena napasnya sedikit memburu. "Mas..."
"Hm?"
"Kita jadi sering begini."
Arga terkekeh pelan. "Nggak suka?"
Nadira pura-pura berpikir. "Masih dipertimbangkan."
"Kalau begitu..." Arga kembali mendekat. "...aku kasih alasan lagi supaya cepat memutuskan."
"Mas!"
Nadira mendorong dada Arga pelan sambil tertawa. Suasana kamar yang semula dipenuhi ketegangan kini berubah hangat oleh canda sederhana mereka.
Tak lama kemudian mereka memutuskan beristirahat.
Nadira lebih dulu terlelap. Napasnya terdengar teratur, sementara jemarinya masih menggenggam ujung selimut.
Arga membuka matanya. Ia menoleh ke arah jam digital di meja samping tempat tidur. Pukul 00.47 tepat.
Perlahan ia melepaskan pelukan Nadira agar tidak membangunkannya. Dengan hati-hati Arga turun dari ranjang, mengenakan jaket hitam, lalu mengambil kunci mobil dan ponselnya.
Sebelum keluar kamar, ia sempat menoleh sekali lagi. Tatapannya berhenti cukup lama pada wajah Nadira yang sedang tertidur.
"Maaf..." gumamnya hampir tak terdengar.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Beberapa menit kemudian, mata Nadira terbuka. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong.
"Mas?"
Nadira duduk perlahan. Lampu kamar masih dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela membuat ruangan tetap terlihat samar. Ia melihat pintu kamar sedikit terbuka. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Mas Arga?" Kali ini suaranya sedikit lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.
Nadira turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Rumah begitu sunyi. Ia sempat mengintip ke ruang kerja Arga tetapi kosong. Ruang keluarga juga kosong. Ia melirik ke arah garasi melalui jendela. Mobil Arga tidak ada.
Nadira kembali ke kamar dengan langkah pelan. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Layar menunjukkan pukul 01.17.
Ia membuka ruang obrolannya dengan Arga. Tidak ada pesan baru. Jarinya sempat mengetik.
"Mas di mana?"
Kalimat itu sudah selesai ditulis. Beberapa detik kemudian dihapus kembali. Ia menggigit bibir bawahnya pelan.
"Aku ini istrinya atau masih sekadar pasangan kontrak?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja di dalam kepalanya. Padahal beberapa jam sebelumnya mereka masih saling berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain.
Tidak ada jawaban.
Nadira langsung menggeleng pelan. "Jangan berpikir macam-macam..." bisiknya kepada diri sendiri.
Meski begitu, malam itu ia tidak benar-benar bisa kembali tidur.
Mentari pagi mulai menyinari halaman rumah ketika Arga sudah kembali. Ia berganti pakaian olahraga lalu berpamitan kepada Nadira.
"Aku joging sebentar."
Nadira hanya mengangguk. "Jangan lama."
"Nggak."
Setelah Arga pergi, rumah kembali terasa sepi.
Nadira memilih membantu menyiapkan sarapan bersama para asisten rumah tangga. Saat ia sedang menuangkan teh ke dalam cangkir, bel rumah berbunyi.
Seorang pelayan bergegas membuka pintu. Tak lama kemudian pelayan itu kembali.
"Bu Nadira... ada tamu."
"Tamu?"
"Iya."
"Katanya ingin bertemu Pak Arga."
Nadira berjalan menuju ruang tamu. Begitu melihat sosok perempuan yang berdiri di sana, langkahnya langsung terhenti.
Bianca.
Perempuan itu mengenakan blouse krem sederhana dipadukan dengan celana panjang putih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi. Di tangannya terdapat sebuah paper bag berwarna hitam.
Bianca tersenyum sopan. "Selamat pagi."
"Pagi." Nadira membalas senyumnya meski terasa sedikit kaku.
"Maaf datang tanpa janji."
"Nggak apa-apa. Silakan duduk,” kata Nadira mempersilakan.
Bianca duduk perlahan di sofa. "Aku baru pindah rumah beberapa bulan lalu."
Nadira mengangguk pelan. "Oh ya?"
"Iya. Arga belum pernah cerita?”
Nadira hanya tersenyum kecil.
"Dia juga baru tahu alamat rumahku.” Bianca menambahkan.
Kalimat itu membuat tangan Nadira yang sedang memegang cangkir berhenti sesaat.
Bianca kemudian membuka paper bag yang dibawanya. "Aku hampir lupa." Ia mengeluarkan sebuah jaket hitam. "Ini punya Arga. Aku kemari untuk mengembalikan barangnya yang tertinggal."
Begitu melihat jaket itu, jantung Nadira seolah berhenti berdetak. Dia sangat mengenali jaket tersebut. Jaket yang biasa dipakai Arga saat keluar rumah waktu malam hari.
Bianca mengembuskkan napas pelan. "Semalam dia pulang terburu-buru. Jaketnya sampai tertinggal di rumahku."
Nadira mematung. Rasanya seperti seseorang baru saja menghantam dadanya dengan keras. Ia masih berusaha menjaga ekspresinya agar tetap tenang.
Bianca kembali berbicara. "Aku pikir lebih baik langsung kukembalikan."
Melihat wajah Nadira mulai berubah, Bianca buru-buru menambahkan,
"Jangan salah paham. Dia memang datang karena ada sesuatu yang harus kami bicarakan."
Nadira tersenyum tipis. "Iya. Aku mengerti." Padahal ia sama sekali tidak yakin bahwa dirinya benar-benar mengerti.
Beberapa menit kemudian terdengar suara gerbang otomatis terbuka. Arga memasuki halaman rumah sambil merepas earphone di telinga. Langkahnya terhenti begitu melihat Bianca duduk bersama Nadira di ruang tamu.
Wajah Arga langsung berubah. "Nad..."
Tatapannya lebih dulu mencari Nadira, bukan Bianca. Untuk pertama kalinya ia merasa takut melihat ekspresi istrinya sendiri.
Nadira menggenggam kedua tangannya di balik tubuh agar Bianca tidak melihat jemarinya yang mulai gemetar.
"Hai, Ga…" Bianca melambaikan tangan ke arah Arga. "Aku cuma mengembalikan jaketmu." Bianca mengangkat paper bag itu.
Arga langsung memahami apa yang sedang terjadi. Ia spontan berjalan mendekati Nadira.
"Nad..."
Nadira mengangkat tangan pelan, menghentikan penjelasan yang belum sempat keluar.
"Nggak apa-apa."
Senyumnya tetap ada. Tetapi mata itu tidak lagi memancarkan kehangatan seperti biasanya.
"Kalian ngobrol saja. Aku ke atas dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Nadira berbalik dan menaiki tangga dengan langkah perlahan.
Arga ingin mengejarnya. Namun Bianca lebih dulu memanggil. "Aku mau bicara, Ga."
Ketika kembali melihat ke arah tangga, Nadira sudah menghilang di balik koridor lantai dua.
Beberapa detik kemudian...
Klik.
Suara pintu kamar yang dikunci terdengar pelan. Arga mengepalkan tangannya. Sejak mereka benar-benar saling membuka hati Nadira memilih menutup pintu untuknya.