ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Setelah keberhasilan rapat siang itu, suasana di antara Gyantara dan Adelia perlahan kembali hangat. Namun bagi Gyantara, perasaan di hatinya kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar rasa sayang atau rasa ingin tahu. Ia mulai merasakan sesuatu yang asing: rasa tidak nyaman setiap kali melihat orang lain terlalu dekat dengan istrinya.
Sore itu, Julian dan Tama datang berkunjung ke kantor Raharja Groups. Mereka membawa obat asma baru dan beberapa buku yang dipinjamkan untuk Adelia. Begitu melihat kedua sahabatnya, wajah Adelia langsung berseri-seri. Ia berlari kecil menyambut mereka di lobi, lalu tertawa lepas mendengar cerita konyol Tama tentang dosen yang terlambat masuk kelas.
Gyantara berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, menatap pemandangan itu dari kejauhan. Dadanya tiba-tiba terasa sesak—bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang tajam mengiris. Ia melihat cara Julian menatap Adelia dengan tatapan yang begitu dalam dan melindungi, cara Tama menepuk kepala Adelia dengan akrab seolah mereka adalah saudara kandung. Mereka berbicara bahasa yang hanya mereka mengerti, tertawa tanpa menyertakan siapa pun di sana.
Selama lima tahun aku menjalin hubungan dengan Adelin, tidak pernah sekalipun dia tertawa sebebas itu di depan sahabat laki-lakinya, batin Gyantara cemburu. Dan tidak pernah ada laki-laki yang berani menatapnya seberhati itu.
Tanpa sadar, langkahnya memburu mendekat. Adelia yang menyadari kehadirannya langsung menundukkan senyum, lalu berdiri tegak. "Ah, Mas... ini Julian dan Tama. Mereka sahabatku."
"Aku tahu siapa mereka," jawab Gyantara singkat, suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. Ia menatap Julian lekat-lekat. "Terima kasih sudah mengantar barang. Tapi Adelia butuh istirahat, dia baru pulang dari rapat panjang."
Nada bicaranya membuat suasana seketika kaku. Julian menyipitkan mata, menyadari ada rasa tidak suka yang tak disembunyikan. "Kami cuma sebentar kok, Mas Gyantara. Kami kangen sama Adelia, apalagi setelah kejadian sakit kemarin."
"Kangen boleh, tapi tidak perlu lama-lama mengganggu waktu istirahat istriku," balas Gyantara tegas. Ia kemudian merangkul pinggang Adelia erat, menariknya mendekat ke arah dirinya—seolah menandakan batas yang tidak boleh dilanggar siapa pun.
Adelia bingung. Ia tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba bersikap seperti ini. "Mas, mereka tidak mengganggu kok. Kita cuma bicara sebentar saja."
"Katakan pada mereka kalau kita harus pulang sekarang," potong Gyantara tanpa menatapnya.
Melihat ketegangan itu, Tama menarik lengan Julian pelan. "Baiklah, kami pamit dulu ya. Jaga diri baik-baik ya, Del. Kami datang lagi nanti kalau suasananya lebih tenang."
Saat kedua sahabatnya berjalan pergi, Adelia menatap punggung mereka dengan sedih. Ia kemudian menoleh pada Gyantara yang masih berdiri kaku. "Kenapa kamu begitu kasar pada mereka? Mereka sahabat terbaikku, mereka yang menyelamatkanku kemarin."
"Kamu terlalu akrab dengan mereka," jawab Gyantara pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Terlalu dekat, terlalu bebas. Itu tidak pantas bagi seorang istri."
Perkataan itu membuat hati Adelia sakit. "Mereka seperti saudaraku sendiri. Tidak ada yang salah dengan persahabatan kita. Kenapa kamu tiba-tiba berpikir buruk seperti itu?"
"Entahlah!" Gyantara akhirnya berbalik menatapnya, matanya penuh kekacauan perasaan. "Aku tidak suka melihatmu begitu riang di depan laki-laki lain. Aku tidak suka melihat mereka menatapmu seolah kamu milik mereka juga. Aku tahu ini mungkin tidak masuk akal, tapi aku tidak bisa menahannya!"
Adelia terdiam. Ia akhirnya paham—Gyantara cemburu. Tapi cemburu ini terasa aneh. Seharusnya ia senang, tapi justru ia merasa sedih. Karena cemburu ini lahir pada orang yang salah: Gyantara cemburu pada Adelin yang ia kira ada di depannya, bukan pada Adelia yang sebenarnya.
"Kamu cemburu..." bisiknya pelan.
"Iya, aku cemburu!" akui Gyantara tanpa ragu. "Dan aku benci diriku yang jadi begini. Selama ini aku tidak pernah cemburu pada siapa pun, tapi melihatmu dengan mereka... rasanya aku takut kehilanganmu."
Kata-kata itu seharusnya manis, tapi bagi Adelia rasanya seperti duri. Ia tahu, kalau Gyantara tahu siapa dirinya yang sebenarnya, mungkin dia tidak akan pernah merasa cemburu atau takut kehilangan. Ia mungkin justru akan mengusirnya dengan kebencian.
"Kamu tidak perlu takut," ucap Adelia lembut, tangannya menyentuh lengan Gyantara pelan. "Mereka memang sahabatku, tapi kamu suamiku. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu."
Namun rasa cemburu itu tak hilang begitu saja. Sepulang ke rumah, Gyantara menjadi pendiam. Ia duduk di teras sendirian, menatap langit. Adelia mendekat, duduk di sebelahnya tanpa banyak bicara.
"Dulu Adelin tidak pernah punya sahabat laki-laki sedekat ini," kata Gyantara tiba-tiba memecah keheningan. "Dia selalu bilang laki-laki hanya ada dua jenis: yang berguna, dan yang tidak berguna. Dia tidak pernah mau membagi ceritanya pada siapa pun selain dirinya sendiri."
Adelia menelan ludah. "Setiap orang punya cara berbeda menjalin hubungan."
"Mungkin," jawab Gyantara menoleh padanya. "Tapi yang membuatku cemburu bukan hanya kedekatan kalian. Aku cemburu karena melihatmu begitu bahagia bersama mereka, sementara bersamamu kamu sering tampak takut, ragu, atau bersalah. Aku ingin menjadi orang yang membuatmu tertawa paling lepas, bukan mereka."
Kalimat itu menyentuh hati Adelia paling dalam. Ia menatap mata Gyantara yang tampak begitu tulus dan terluka. "Bukan begitu, Mas. Bersamamu aku merasa aman dan dihargai—hal yang tidak pernah aku dapatkan dari orang lain. Bersama mereka aku bebas seperti anak kecil, tapi bersamamu... aku merasa menjadi wanita yang berharga. Itu jauh lebih berarti bagiku."
Penjelasan itu perlahan menenangkan hati Gyantara. Ia menyadari bahwa rasa cemburunya memang tidak beralasan logis—itu hanya karena ia terlalu takut kehilangan wanita yang perlahan mengubah seluruh dunianya. Ia meraih tangan Adelia, menggenggamnya erat.
"Maafkan aku yang tadi bertindak kekanak-kanakan," katanya lembut. "Aku hanya... aku baru sadar betapa sedikitnya hal yang aku tahu tentangmu. Dan betapa banyaknya hal yang mungkin dimiliki orang lain yang tidak aku miliki."
"Kamu punya hatiku," jawab Adelia pelan, tanpa sadar mengucapkan kebenaran yang berbahaya. "Itu lebih dari cukup."
Malam itu, rasa cemburu yang tak beralasan itu berubah menjadi tekad. Gyantara berjanji dalam hati: ia akan berusaha lebih keras lagi mengenal setiap sisi wanita ini, menjadi tempat paling aman baginya, sehingga suatu hari nanti Adelia tidak perlu lagi menyembunyikan apa pun—termasuk siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan di sisi lain, Adelia menyadari satu hal yang menakutkan: perasaannya pada Gyantara sudah tumbuh begitu besar, hingga rasa cemburu sekecil apa pun dari pria itu cukup untuk membuatnya merasa bahagia sekaligus ketakutan setengah mati.