NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.

Dia menghidupkan keran, membiarkan air hangat mengalir, sementara pikirannya melayang mencari jawaban atas situasi yang tidak biasa ini.

Sebelum sempat merespon, Romeo, dengan gerakan cepat, menarik tubuh Violet mendekat.

Violet merasa tubuhnya terhempas oleh kekuatan Romeo, matanya melebar penuh ketakutan.

Air hangat dari keran terus mengalir, menciptakan kabut uap yang menambah ketegangan di ruangan itu.

Violet, yang kini dekat dalam genggaman Romeo, mencoba menenangkan diri, sambil berusaha memahami situasi dan mencari cara untuk mengatasi permintaan yang begitu pribadi dan mengganggu ini.

Romeo dengan wajah datar yang terlihat begitu tampan, mulai menghisap ASI milik Violet dengan sangat kuat, dan aneh Violet malah merasakan sebuah hasrat membara saat dadanya dihisap.

Baru kali ini, Violet merasakan hal aneh seperti ini.

Sekarang ini posisinya, Violet berada diatas pangkuan Romeo yang duduk didalam bahtub dengan air yang mengalir.

Setelah 5 menit berlalu, kedua dada Violet terasa kosong akibat hisapan kuat yang sebelumnya dilakukan oleh Romeo.

"Ayo sekarang mulai mandikan aku secara perlahan!" Titah Romeo dengan suara yang tidak terbantahkan.

Violet mengangguk dan mulai memandikan Romeo.

Dengan kelembutan yang terasa, Violet meresapi setiap sentuhan jari-jarinya pada kulit Romeo yang basah.

Posisi Violet di atas pangkuan Romeo, yang duduk nyaman di dalam bathtub penuh busa, memberi sensasi yang unik bagi keduanya.

Air hangat yang mengalir menambah keintiman momen itu.

Romeo menarik napas dalam-dalam, merasakan kehangatan dari Violet yang perlahan membasahi tubuhnya dengan spons.

Mata mereka saling bertemu, dan dalam tatapan itu, terjalin sebuah komunikasi tanpa kata.

Violet, meski merasa gugup dengan permintaan Romeo tadi, mulai mengerti keinginan yang tidak terucap.

Sentuhan-sentuhannya menjadi lebih berani, menjelajahi setiap kontur tubuh Romeo dengan spons yang berbusa.

Kedua dada Violet masih terasa ringan setelah hisapan kuat Romeo, dan perasaan hasrat yang sempat membara masih menyisakan rasa hangat di hatinya.

Dia berusaha mengabaikan rasa itu, fokus pada tugasnya memandikan Romeo.

Namun, setiap sentuhan Romeo yang sesekali menyapu punggung atau leher Violet hanya menambah intensitas perasaan yang rumit itu.

"Aku suka cara kamu memandikanku," bisik Romeo dengan suara serak yang penuh kepuasan, menambah keberanian Violet untuk terus melanjutkan.

Romeo membalas dengan cara mengusap lembut punggung Violet, gerakan yang membuat Violet semakin larut dalam tugasnya.

Saat air terus mengalir, dan busa sabun mulai menyusut, apa yang dimulai sebagai tugas sederhana berubah menjadi sesi penuh gairah dan keintiman, di mana setiap sentuhan menjadi simbol dari keinginan yang lebih dalam, mengubah bathtub itu menjadi saksi bisu atas perubahan hubungan mereka.

Tak berselang lama, akhirnya keduanya pun keluar dari dalam kamar bersama dalam keadaan rambut yang basah.

Yasa yang ingin menemui Romeo buru-buru membuat ekspresi wajahnya menjadi datar kembali.

Karena sebelumnya dia sempat memasang wajah terkejut, melihat Violet dan juga Romeo yang berbarengan keluar dari dalam kamar bersamaan dengan rambut yang sama-sama basah.

"Tuan Romeo ... " Celetuk Yasa yang melihat Romeo bisa berjalan dengan sangat lancar melewati dirinya.

Sementara Violet berjalan dengan menundukkan kepalanya ke arah ruang makan.

Violet masih merasa sangat rendah saat berada didalam rumah ini.

Romeo masuk ke dalam ruang kerja miliknya dengan Yasa yang mengekor dibelakang.

"Sekarang bagaimana dengan keadaan Samuel dan bebarapa orang yang terlibat?" tanya Romeo, saat baru sampai di ruang kerjanya.

Romeo langsung duduk di kursi kerja dan membuka beberapa dokumen.

"Mereka sudah ditahan sesuai dengan perintah Tuan, bahkan semua media ternama dikota ini sudah membuat berita tentang korupsi yang mereka lakukan di perusahaan milik Tuan," jawab Yasa lugas.

Romeo tetap berekspresi datar dan juga menakutkan.

"Baguslah kalau semua sudah berjalan sesuai dengan rencana!"

Romeo mengepalkan tangannya dengan kepuasan, matanya menyala menatap Yasa yang berdiri di depannya.

"Pastikan mereka tidak bisa menghubungi siapa pun dari dalam sel, Yasa," ujarnya tegas, suaranya bergema di ruang kerja yang dipenuhi dengan aroma kayu mahoni.

Yasa mengangguk, "Sudah saya atur semua, Tuan. Telepon dan kunjungan sama sekali tidak diizinkan untuk mereka."

Dia mencatat sesuatu di ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat.

Romeo berdiri, berjalan menghampiri jendela besar yang menghadap ke kota yang sibuk di bawah sana.

"Mereka harus merasakan apa yang telah mereka renggut dari perusahaan," gumamnya, suaranya hampir tidak terdengar.

Dari luar, suara klakson dan hiruk pikuk kota terdengar seperti latar belakang musik yang menambah ketegangan dalam ruangan itu.

Romeo memandang ke bawah, ke arus kendaraan yang tak pernah berhenti, seakan mencerminkan aliran darah yang terus menerus berusaha untuk terus hidup, tak peduli apa pun rintangannya.

Romeo menambahkan, "yang penting sekarang kita harus mencari tahu siapa dalang orang yang membuatku seperti ini. Karena sebenarnya kutukan itu tidak ada, mungkin memang ada orang yang sengaja membuatku seperti kehilangan darah begini!"

Ucapan Romeo barusan langsung membuat ekspresi Yasa asisten pribadinya berubah.

Tapi Yasa buru-buru mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.

Nyatanya ekspresi aneh yang sebelumnya Yasa tunjukkan sudah tertangkap oleh kilatan mata Romeo.

Mata Romeo yang tajam segera menangkap perubahan singkat pada wajah Yasa. "Apa kau menyembunyikan sesuatu, Yasa?" tanya Romeo dengan suara yang menekan namun tenang.

Yasa menggeleng cepat, bibirnya bergetar seolah mencoba menyembunyikan kegelisahan.

"Tidak, Tuan. Saya hanya... hanya terkejut dengan teori Anda," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Romeo mendekat, menatap Yasa lebih dalam.

"Kau tahu sesuatu, bukan? Keluarlah apa yang kau sembunyikan. Itu mungkin kunci untuk mengungkap semua ini."

Yasa menunduk, menggigit bibirnya sebelum akhirnya berbicara.

"Saya mendengar desas-desus, Tuan. Bahwa ada seseorang di lingkaran dalam yang tidak senang dengan keberhasilan Anda dan mungkin... mungkin mereka berusaha menjatuhkan Anda dengan cara ini."

Romeo menarik napas dalam, raut wajahnya mengeras. "Siapa? Siapa orang itu, Yasa?"

Yasa menelan ludah, matanya berkilat-kilat antara ketakutan dan penyesalan.

"Saya belum yakin, Tuan. Saya perlu mengumpulkan lebih banyak bukti. Tapi saya janji, saya akan mencari tahu."

Romeo mengangguk pelan, memasang ekspresi yang lebih tenang. "Baiklah, Yasa. Aku percaya padamu. Lakukan apa yang harus kau lakukan, tapi berhati-hatilah."

Dengan itu, Romeo meninggalkan ruangan, langkahnya mantap namun pikirannya penuh dengan kekhawatiran dan pertanyaan yang belum terjawab.

Sementara itu di ruang makan, Violet nampak duduk dengan gugup.

Karena sekarang ini ada nenek Amarta yang berada satu meja dengan dirinya.

Violet duduk dengan tubuh yang kaku, matanya menatap piring kosong di depannya, sementara aroma makanan lezat menguar di ruang makan yang megah.

Nenek Amarta duduk di ujung meja yang lain, tatapan matanya tajam dan suaranya cukup keras untuk menggetarkan hati yang paling tenang sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!