Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Lorong utama gedung kediaman markas terbuat dari beton ekspos bertekstur kasar yang menyerap dinginnya udara pagi.
Langkah-langkah kaki bersepatu bot bergema berirama, memantul di antara dinding-dinding tinggi yang hanya dihiasi papan pengumuman baja dan jam dinding analitik.
Cherry melangkah di samping Kapten senior dan dua instruktur pengawas lainnya. Di belakang mereka, barisan 20 peserta pria menyusur koridor dengan menyeret koper masing-masing.
"Informasi penting untuk seluruh peserta pria," suara salah satu pengawas senior—Sersan Mayor Hendrick—membahana di lorong, memotong suara derit roda koper.
"Gedung asrama pria untuk program pelatihan ini tidak dipisah di area luar. Dikarenakan renovasi blok B, kalian akan menempati sayap timur Gedung Utama—satu bangunan langsung dengan mess para pelatih dan instruktur. Termasuk area kediaman Instruktur Cherry dan jajaran pengawas utama."
Pernyataan itu membuat beberapa peserta pria saling berbisik heran, sementara Cherry yang melangkah di depan mendadak menghentikan ritme jalannya sejenak. Matanya berkedip lambat.
Satu gedung?
Cherry melirik ke belakang melalui sudut matanya. Di sana, di barisan tengah, Evander sedang berjalan santai dengan koper kabin kecilnya.
Mendengar pengumuman dari pengawas, sudut bibir pria itu terangkat perlahan. Ia tidak berusaha menyembunyikan binar kepuasan di matanya, bahkan sempat melayangkan pandangan penuh arti yang mengunci matanya tepat pada Cherry.
Cherry dengan cepat membuang muka, mendengus pelan sembari melanjutkan langkahnya. Keadaan ini benar-benar di luar rencananya. Berada di markas yang sama saja sudah cukup menguji naluri ketahanannya, dan kini mereka berada di bawah satu atap bangunan yang sama.
"Kamar kalian adalah Blok C, Kamar Nomor 07," ujar Sersan Mayor Hendra sembari mendorong pintu kayu jati tebal berkode baja di ujung koridor.
Pintu terbuka lebar, memperlihatkan sebuah ruangan besar berdinding putih bersih dengan sepuluh unit tempat tidur tingkat berbahan besi hitam yang tertata simetris.
Di samping setiap tempat tidur, terdapat satu lemari besi dua pintu dan sebuah meja kayu kecil.
"Satu kamar menggabungkan sepuluh orang," kata Kapten yang berdiri di ambang pintu. "Ruangan ini didesain untuk membangun kebersamaan dan kerja sama tim. Sebelum kalian memilih ranjang, prosedur standar markas harus dijalankan: RAZIA DAN INSPEKSI KOPER.
Para peserta pria segera berbaris di tengah ruangan, meletakkan koper mereka di atas lantai beton dan membukanya lebar-lebar sesuai perintah.
Para pengawas melangkah maju untuk memeriksa isi tas—memastikan tidak ada barang terlarang seperti senjata, alkohol, obat-obatan tanpa resep, atau perangkat elektronik ilegal.
Cherry berdiri bersedekap di dekat jendela besar, mencoba menjaga jarak profesional. Namun pandangannya secara alami terseret ke arah tempat Evander berlutut di sebelah kopernya yang berwarna abu-abu gelap.
Koper itu kecil, jenis hard-case dari merek luxury travelware ternama yang terbuat dari bahan alumunium-magnesium kelas penerbangan. Ketika Evander menekan dua kait pengunci dan membuka koper tersebut, beberapa peserta di sekitarnya sempat menengok.
Meskipun ukurannya sangat ringkas, interior koper mahal itu dirancang dengan sistem kompresi vakum dan pembatas modular yang luar biasa efisien.
Di dalamnya tertata sangat rapi—hampir matematis—belasan kaos polos berbahan katun premium yang dilipat sangat tipis, beberapa celana pelatihan, serta satu tas toilet kulit berwarna cokelat gelap yang padat berisi peralatan mandi lengkap. Koper itu ternyata mampu memuat barang tiga kali lipat lebih banyak dari perkiraan visual luar.
"Lumayan juga muatnya," gumam seorang peserta di sebelahnya yang kerepotan merapikan koper raksasanya yang berantakan.
Sersan Mayor Hendrick melangkah menghampiri posisi Evander. Pengawas itu menunduk, mengamati isi koper Evander dengan cermat, lalu menyenggol tas toilet dan lipatan kaos yang rapi tersebut menggunakan ujung tongkat komandonya.
"Kaos, celana, perlengkapan mandi... oke," Hendrick mengernyitkan dahi. Ia memutar tubuhnya mengelilingi tempat tidur Evander, lalu menatap lemari besi yang kosong. "Tunggu dulu. Mana selimut tebal dan handuk standar lapanganmu, Peserta Evander? Di barak ini udara malam sangat dingin, dan markas hanya menyediakan seprai tipis. Handuk dan selimut wajib dibawa sendiri oleh peserta."
Sersan Mayor Hendrick menggeleng-gelengkan kepala, lalu menatap Evander yang masih berlutut santai di lantai. "Kau datang ke markas militer tanpa membawa handuk dan selimut? Tidak punya persiapan sama sekali?"
Evander menengadah, menatap pengawas senior itu dengan raut wajah tanpa dosa yang sangat tenang. Ia membetulkan posisi duduknya, menyandarkan satu tangannya di atas lutut.
"Siap, Sersan Mayor. Ada sama istri saya," jawab Evander jujur tanpa ragu, suaranya terdengar tegas dan mantap.
Cherry yang sedang berdiri di dekat jendela hampir saja tersedak napasnya sendiri. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengelus pelipisnya yang mulai berdenyut.
Ada sama istri saya...
Kalimat itu diucapkan Evander dengan begitu mudahnya, seolah-olah hal itu adalah prosedur operasional paling normal di dunia.
Cherry benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir pria yang pernah—dan masih—mengisi seluruh ruang di hatinya ini. Evander dengan sengaja meninggalkan perlengkapan krusial itu agar memiliki alasan logis untuk mendatanginya nanti malam. Itu adalah trik klasik Evander, cara manis yang terbungkus kelakuan nekat yang selalu berhasil membuat Cherry menyerah.
Jawaban Evander seketika memancing rasa penasaran hebat di dalam ruangan. Bukan hanya para peserta pria yang saling bertukar pandang kaget, tetapi dua instruktur muda dan Sersan Mayor Hendrick sendiri ikut menghentikan kegiatannya.
Sejak di lapangan tadi pagi, pengakuan Evander soal 'istrinya yang sedang bertugas di markas' telah menjadi desas-desus hangat di antara para staf pengawas.
"Tunggu dulu," Kapten senior yang berdiri di dekat pintu tertawa kecil, melangkah mendekat karena rasa penasarannya tak tertahankan lagi.
"Sejak di lapangan tadi kau terus menyebut-nyebut istri mu. Kami ini sudah bertugas di Markas Pusat selama berbulan-bulan, mengenali hampir seluruh personel wanita di sini. Siapa sebenarnya istrimu itu, Peserta Evander? Apakah dia salah satu staf medis? Atau petugas administrasi di gedung utama?"
Salah satu instruktur muda ikut menimpali sambil tersenyum geli. "Iya, Peserta Evander. Sebutkan namanya. Siapa tahu kami bisa membantumu mengambilkan handuk dan selimutmu sebelum apel malam."
Seluruh mata di dalam ruangan nomor 07 kini tertuju pada Evander. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sidang interogasi santai yang dipenuhi rasa penasaran.
Evander berdiri dari posisinya. Ia mengibaskan sedikit debu imajiner dari celana cargo-nya, lalu berdiri tegap. Matanya yang bening bergeser perlahan—sangat tipis dan halus—melintasi ruangan, hingga berhenti tepat pada sosok Cherry yang masih berdiri kaku di sudut jendela, berpura-pura sibuk memeriksa dokumen di papan jepitnya.
Sudut bibir Evander terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sarat akan kehangatan dan romantisme rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Saya tidak bisa menyebutkan namanya sekarang, Kapten," ujar Evander dengan suara bass-nya yang tenang dan berwibawa, namun diwarnai nada jenaka yang halus.
"Kenapa? Ini kan cuma nama," sahut Sersan Mayor Hendrick penasaran.
Evander terkekeh pelan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berkata dengan nada bersenda gurau yang terdengar sangat jujur dari dalam hatinya:
"Soalnya... dari semua instruktur dan pengawas di markas besar ini, istri saya itu yang paling galak. Kalau saya sebut namanya tanpa izin di depan umum seperti ini, bisa-bisa malam ini saya tidak cuma tidak dapat selimut, tapi disuruh tidur di lapangan apel."
BZZZZT!
Suara tawa renyah langsung pecah di antara para peserta pria dan beberapa pengawas di dalam kamar.
"Bagus! Jawaban yang sangat aman!" Kapten tertawa menepuk bahu Evander geleng-geleng kepala. "Ternyata pria setegap dan sepintar kau pun tetap takut pada istri yang galak!"
"Tentu saja, Kapten. Disiplin militer bisa dipelajari, tapi kemarahan istri tidak ada buku panduannya," balas Evander santai, disambut sorak-sorai kecil dari peserta pria lainnya.
°
°
Di sudut ruangan, wajah Cherry sudah sepenuhnya memerah. Sensasi panas membakar pipinya hingga ke ujung telinga. Ia mengepalkan tangannya pada papan jepit kayu, berusaha keras menahan diri agar tidak berjalan mendekati Evander dan memukul dada pria itu dengan dokumen yang dibawanya.
Paling galak?! Cherry merutuk gila-gilaan dalam hatinya. Wah Sialan, Kau! Siapa yang dia sebut galak?! Dia sendiri yang memancing keributan sejak pagi!
Namun di balik rasa kesal dan malu yang membuncah, ada denyut hangat yang mekar secara manis di dalam dada Cherry. Cara Evander menatapnya saat mengucapkan kata 'istri saya', cara pria itu selalu bangga mengakui keberadaannya di depan orang lain tanpa peduli tempat dan situasi—itu adalah sisi Evander yang dari dulu selalu berhasil melumpuhkan seluruh pertahanan Cherry.
"Sudah! Cukup bercandanya!" Cherry akhirnya bersuara, melangkah maju dua tindak dengan nada suara yang sengaja dipasang sedingin mungkin untuk menutupi gejolak di dadanya.
"Pemeriksaan koper dilanjutkan. Peserta yang kurang perlengkapan pribadi seperti selimut, laporkan ke piket logistik pukul empat sore nanti!"
Cherry melirik Evander dengan tatapan tajam yang menyiratkan ancaman, namun Evander hanya membalas tatapan itu dengan senyuman lembut dan satu kedipan mata singkat yang sangat cepat—hampir tak terlihat oleh orang lain.
"Siap, Instruktur Cherry," sahut Evander sopan, memberikan hormat kecil yang sempurna.
Cherry berbalik cepat, roda bot tempurnya mencicit di atas lantai beton saat ia melangkah keluar dari Kamar Nomor 07.
"Saya tunggu dokumen pemeriksaan di ruang pengawas, Sersan," pamit Cherry pada pengawas lain sebelum melangkah cepat menyusuri koridor.
Saat melangkah menuju area Mess Instruktur yang hanya berjarak beberapa puluh meter di lorong yang sama, Cherry memegangi dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang, memukul rongga dadanya dengan irama yang tak beraturan.
Ia menyandarkan punggungnya pada dinding beton di luar ruangannya, menarik napas dalam-dalam menghirup udara pagi yang dingin.
Dua bulan ke depan... tinggal di gedung yang sama, berpapasan di koridor yang sama, dan menghadapi sikap nekat Evander setiap hari.
Cherry memejamkan mata, bibirnya yang tadi dikatupkan rapat perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang tak sanggup lagi ia sembunyikan.
Pria itu benar-benar gila. Dan yang lebih gila lagi, Cherry tahu betul bahwa ia sangat merindukan kegilaan itu.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua