NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kota Awan Biru kembali menggeliat dengan hiruk-pikuk yang sama. Para pedagang mulai membuka kedai mereka, anak-anak kecil berlarian riang di jalanan berbatu, dan para kultivator keliling sibuk menjajakan pil spiritual serta jimat tingkat rendah.

​Namun, di halaman belakang kios obat sederhana itu, suasananya terasa begitu sunyi dan tenang.

​Arga sedang duduk di atas bangku kecil, telaten menumbuk tanaman herbal di dalam lumpang batu. Kedua telapak tangannya masih terbalut kain perban putih yang bersih.

​"Seharusnya kau beristirahat dan membiarkan lukamu pulih terlebih dahulu," sebuah suara lembut menegurnya. Ling Yue berjalan menghampiri dari arah pintu belakang.

​Arga mendongak, lalu menyunggingkan senyum tipisnya. "Jika aku hanya bermalas-malasan, Paman Darma akan kewalahan mengurus kios ini sendirian."

​Ling Yue tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekatnya, mengamati gerak-gerik pemuda itu diam-diam.

​Sebenarnya, semalam ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Semakin lama ia mengamati Arga, semakin sulit baginya untuk memahami pemuda sederhana ini. Arga tidak memiliki ambisi yang serakah, tidak pula memiliki keangkuhan seperti para kultivator muda yang biasa ia temui. Bahkan setelah mengetahui bahwa dirinya berasal dari latar belakang yang jauh berbeda, Arga sama sekali tidak pernah bertanya tentang harta, teknik kultivasi tingkat tinggi, ataupun asal-usul klan pribadinya.

​Alih-alih menanyakan hal-hal itu, yang keluar dari mulut Arga justru...

​"Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah membaik?"

​Pertanyaan sederhana yang tulus itu seketika memercikkan rasa hangat yang asing di dalam dada Ling Yue.

​"Sudah jauh lebih baik," jawab Ling Yue lembut.

​Mereka saling melempar senyum dalam keheningan. Untuk sesaat, hiruk-pikuk dunia di luar sana seolah memudar, menyisakan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah bayangan besar tiba-tiba menyelimuti halaman belakang kios, menutup pancaran sinar matahari pagi.

​Wusss!

​Deru angin kencang berembus saat seekor bangau roh raksasa mendarat dengan anggun di atas tanah. Aura tekanan spiritual yang dipancarkan oleh makhluk mistis itu begitu kuat, hingga membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa berat.

​Di atas punggung bangau tersebut, berdiri seorang pria tua berjubah ungu megah. Rambut dan janggutnya telah memutih sempurna, namun postur tubuhnya tetap tegak dan kokoh, memancarkan wibawa sedahsyat bilah pedang yang terhunus.

​"Nona Muda," sapa pria tua itu dengan suara berat yang menggema.

​Ling Yue menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Tetua Mo..."

​Tetua Mo melompat turun dari punggung bangau roh. Begitu kakinya menyentuh tanah, sepasang matanya yang tajam langsung tertuju pada Arga, mengintimidasi. "Jadi, bocah inikah yang telah gegabah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu?"

​Meskipun terintimidasi oleh tekanan energi yang mahabesar, Arga tetap menjaga sikapnya dan membungkuk memberi hormat. "Salam, Senior."

​Tetua Mo hanya mengangguk tipis, ekspresinya tetap datar. "Kau telah berjasa besar bagi kami. Sekte kami tidak akan berutang budi; aku akan memberimu hadiah seratus batu roh tingkat menengah sebagai kompensasi."

​Namun, di luar dugaan sang Tetua, Arga kembali menggelengkan kepala perlahan. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Senior. Namun, saya menolong Nona Ling bukan karena menginginkan imbalan atau bayaran."

​Alis Tetua Mo sedikit terangkat, gurat keterkejutan tampak jelas di wajah keriputnya. Selama ratusan tahun hidup di dunia luar, belum pernah ada satu pun kultivator rendahan yang berani menolak hadiah cuma-cuma dari sekte besarnya.

​Ling Yue yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum kecil. "Aku sudah mengatakannya padamu, Tetua. Dia memang orang yang seperti ini."

​Tetua Mo menghela napas panjang, lalu kembali menatap Ling Yue dengan serius. "Nona Muda, kita harus segera kembali sekarang juga. Keberadaanmu di luar sudah terendus, dan banyak pihak yang sedang mencarimu."

​Ling Yue mengepalkan jari-jarinya di balik jubah. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada percikan keengganan yang aneh. Entah mengapa, dua hari yang ia habiskan bersama Arga di kota terpencil ini terasa jauh lebih damai dan nyata daripada bertahun-tahun hidup di bawah naungan sekte besarnya yang penuh kepalsuan.

​"Aku... harus pergi sekarang," ucap Ling Yue, menatap Arga lekat-lekat.

​Arga mengangguk pelan, seulas senyum tulus mengembang di wajahnya. "Aku mengerti. Perjalananmu pasti sangat penting."

​"Setelah hari ini, kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi," bisik Ling Yue, ada nada getir yang terselip di sana.

​"Jika takdir mengizinkan dan jodoh itu ada, dunia seluas apa pun pasti akan mempertemukan kita kembali suatu hari nanti," jawab Arga dengan tenang.

​Kalimat sederhana itu seketika membuat Ling Yue membeku. Sesuatu di dalam dirinya terenyak. Tanpa sepatah kata pun, ia meraih sebuah liontin giok kecil berbentuk bulan sabit dengan ukiran bunga teratai yang tergantung di pinggangnya, lalu melepasnya.

​"Pegang ini," ujarnya sambil menyodorkan liontin tersebut.

​"Ini barang yang terlalu berharga, aku tidak bisa—"

​"Kau bisa, dan kau harus menerimanya," potong Ling Yue tegas. Ia meraih tangan Arga dan memaksa liontin dingin itu berpindah ke telapak tangan sang pemuda. "Jika suatu hari nanti kau berhasil keluar dari tempat ini dan menginjakkan kaki di Benua Langit Utara... tunjukkan liontin ini pada siapa pun dari Sekte Teratai Bulan."

​Arga memandangi liontin giok di tangannya dengan tatapan bingung. "Aku... bahkan belum pernah sekalipun melangkah keluar dari gerbang kota ini."

​Ling Yue tertawa pelan, sebuah tawa jernih yang terdengar begitu indah di telinga Arga. "Kalau begitu... jadikan liontin itu sebagai alasanmu untuk melangkah keluar dan menjadi lebih kuat."

​Untuk beberapa saat, tatapan mata mereka kembali bertemu di bawah langit pagi. Tidak ada janji cinta yang terucap, tidak ada pula kata rindu yang tersemat. Namun, keduanya tahu jauh di dalam lubuk hati masing-masing, pertemuan singkat di bawah hujan roh itu telah menggoreskan jejak yang tidak akan pernah bisa terhapus.

​Bangau roh raksasa kembali mengepakkan sayapnya yang lebar, menciptakan embusan angin yang menerbangkan dedaunan kering. Ling Yue melompat naik ke punggung makhluk itu bersama Tetua Mo.

​Tepat sebelum bangau itu melesat tinggi membelah angkasa, Ling Yue menoleh ke bawah untuk terakhir kalinya. "Arga!" teriaknya lantang.

​"Ya?!"

​"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi!"

​Arga mengangkat tangannya yang dibalut perban, melambai dengan senyum lebar. "Aku akan berusaha sekuat tenaga!"

​Bangau roh itu pun melesat cepat ke angkasa, menembus gumpalan awan putih hingga akhirnya sosoknya hilang tak bersisa dari pandangan.

​Arga tetap berdiri terpaku di halaman belakang, menatap langit kosong untuk waktu yang lama, sampai lehernya terasa pegal. Perlahan, ia menunduk dan menggenggam erat liontin giok pemberian Ling Yue.

​Namun, tepat pada saat jemarinya meremas giok tersebut...

​Wush...

​Liontin itu mendadak memancarkan pendaran cahaya keemasan yang sangat redup namun pekat.

​Krak.

​Sebuah retakan halus muncul di permukaan giok yang mulus tersebut, menjalar bagaikan jaring laba-laba. Sebelum Arga sempat panik, getaran spiritual yang dahsyat merangsek masuk ke dalam kesadarannya, disusul oleh sebuah suara tua yang berat dan penuh wibawa purba yang bergema langsung di dalam benaknya.

​"Akhirnya... setelah sepuluh ribu tahun tertidur dalam kegelapan, ada juga seonggok daging yang berhasil membangunkanku..."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!