Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Malam merayap perlahan menyelimuti Jakarta. Dari ketinggian Penthouse Lavender, pemandangan lanskap kota tampak bagaikan hamparan lautan permata gemerlap. Tidak ada lagi suara deru helikopter taktis atau ketegangan pengawal yang bersiaga ketat seperti malam sebelumnya. Udara malam ini begitu tenang, hangat, dan dipenuhi oleh keheningan yang menentramkan.
Di ruang tengah utama yang megah, lampu-lampu kristal disetting memancarkan cahaya keemasan yang redup dan hangat. *Grand Steinway*—piano hitam legam berlapis kayu ebony mengkilap yang selama bertahun-tahun berdiri sebagai pajangan megah yang terlupakan di sudut ruangan—kini telah dibersihkan hingga bersinar sempurna.
Alya duduk bersandar di sofa *chaise lounge* yang sangat empuk, disangga oleh beberapa bantal bulu angsa yang nyaman. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna putih murni berbahan sutra yang mengalir lembut mengikuti lekuk tubuhnya. Kandungannya yang kini berusia lima bulan terlihat makin membulat indah, memancarkan pesana keibuan yang kian matang. Sebuah selimut kasmir warna krem menutupi kakinya hingga sebatas pinggang.
Devan berdiri di dekat piano, mengenakan kemeja putih kasual dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang tergulung santai hingga ke siku. Sosoknya tampak begitu tampan, matang, dan sangat santai—sangat berbeda dari citra CEO dingin bernilai triliunan Rupiah yang ditakuti di papan bursa.
"Kamu siap, *Wifey*?" tanya Devan, menatap Alya dengan sepasang mata abu-abu yang hangat.
Alya tersenyum manis, membelai perutnya yang tenang. "Kami siap, Devan. El sudah tidak sabar menunggu konser pertamamu."
> *[Betul sekali! Sensor pendengaranku sudah aktif seratus persen!]*
> *[Ayah! Mainkan lagu yang punya nada harmonis dan gelombang frekuensi yang menenangkan, ya! Jangan lagu rock atau jazz yang rumit, karena sinapsis otakku sedang menyusun jaringan memori baru malam ini!]*
Suara Baby El yang ceria bergaung di batin Alya, membuat Alya terkekeh pelan. "Devan, El bilang mainkan lagu dengan nada yang harmonis dan menenangkan. Jangan terlalu rumit."
Devan terkekeh rendah. "Anak itu benar-benar mengerti musik, ya?"
Devan kemudian menarik kursi piano kulit hitam, melangkah mendekat, dan duduk di depannya. Jemari tangannya yang panjang, kekar, dan tegas perlahan terangkat, melayang sebentar di atas tuts-tuts piano yang bersih murni. Sudah hampir sepuluh tahun Devan tidak memainkan instrumen ini—sejak masa-masa sulit dalam hidupnya sebelum ia mengambil alih puncak kepemimpinan Dirgantara Group.
Namun malam ini, bukan lagi ambisi bisnis atau tekanan keluarga yang menggerakkan tangannya, melainkan rasa cinta yang teramat dalam bagi istri dan calon anak pertamanya.
*Ting... Tang... Ting...*
Nada pertama terlantun di udara. Suara piano buatan Jerman itu terdengar begitu jernih, bergema lembut menembus keheningan penthouse. Devan mulai memainkan simfoni klasik karya Debussy—*Clair de Lune*.
Jemari Devan menari-nari di atas tuts dengan sangat piawai, melahirkan alunan melodi yang mengalir anggun bagaikan aliran air di bawah Sinar rembulan. Setiap ketukan nada terasa begitu halus, hangat, dan sarat akan emosi yang mendalam.
Alya memejamkan matanya perlahan, menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. Ia membiarkan alunan musik indah itu meresap ke dalam jiwanya, mengikis sisa-sisa trauma dan ketakutan akibat serangan musuh beberapa hari terakhir. Rasa damai yang luar biasa menyelimuti hatinya.
Di dalam rahim Alya, sebuah keajaiban kecil tengah terjadi.
> *[Wah... Masya Allah...]*
> *[Ibu! Dengarkan frekuensi gelombang nadanya! Suara piano Ayah benar-benar memicu pelepasan hormon endorfin dan serotonin dalam jumlah besar di tubuhmu!]*
> *[Lihat ini, Ibu! Energi pelindungku merespons musik ini dengan membentuk pendaran cahaya keemasan yang sangat indah di sekeliling dinding rahim! Luar biasa... Ayah Siaga ternyata benar-benar seorang maestro!]*
Alya membuka matanya perlahan, menatap Devan yang fokus memainkan piano dengan mata terpejam sebagian, menikmati tiap ketukan nada yang diciptakannya. Alya meletakkan tangannya di atas perut, dan untuk pertama kalinya sejak kehamilannya, Alya tidak hanya merasakan denyutan energi spiritual, melainkan sebuah gerakan fisik yang sangat jelas!
*Dug...*
Sebuah tendangan kecil yang sangat lembut namun terasa begitu nyata menyundul telapak tangan Alya dari dalam rahim.
Alya tersentak pelan, matanya membelalak kaget bercampur rasa takjub yang luar biasa. "D-Devan..." bisik Alya gagap, suaranya hampir tak terdengar di antara alunan musik.
Devan yang memiliki pendengaran sangat tajam langsung menghentikan permainan pianonya. Tuts terakhir bergetar halus lalu perlahan mereda. Devan berdiri seketika, melangkah cepat menghampiri sofa Alya dengan raut cemas.
"Alya? Kenapa? Ada yang sakit lagi?" tanya Devan cepat, langsung berlutut di samping sofa Alya.
Alya menggeleng cepat, air mata haru mendadak menggenang di sudut matanya yang indah. Ia meraih tangan besar Devan dan menempelkannya tepat di titik perutnya yang baru saja bergetar.
"Bukan sakit, Devan... Lihat... maksudku, rasakan ini..." panggil Alya dengan suara bergetar.
Devan membeku. Pria itu menahan napasnya, memfokuskan seluruh indranya pada telapak tangannya yang menempel di perut Alya.
Satu detik... dua detik...
*Dug... Dug...*
Dua gerakan tendangan kecil yang sangat teratur dan lembut kembali menghantam telapak tangan Devan, seolah-olah sang kaisar kecil di dalam sana sedang menyapa ayahnya yang baru saja selesai bermain piano.
Mata abu-abu Devan membelalak lebar. Pria yang tak pernah gentar menghadapi kehancuran pasar saham atau ancaman senapan pembunuh bayaran itu mendadak gemetar hebat. Seluruh tubuhnya membeku dalam rasa syok dan rasa takjub yang paling murni dalam hidupnya.
"I-ini..." Devan terbata-bata, menatap Alya dengan pandangan yang benar-benar terpukul oleh kebahagiaan. "Dia... dia menendangku, Alya? Dia bergerak?!"
Alya mengangguk dengan air mata bahagia yang menetes mengalir di pipinya. "Iya, Devan... Itu tendangan pertamanya. Dia merespons permainan pianomu."
> *[Hehehe! Halo, Ayah!]*
> *[Ini aku! Tendangan tadi adalah bentuk tepuk tangan paling mulia dari pewaris tunggalmu! Musikmu sangat bagus, Ayah! Aku sangat menyukainya!]*
Devan mendekatkan wajahnya, membenamkan dahi dan hidungnya di perut Alya. Air mata yang amat sangat jarang terlihat dari sang CEO dingin itu akhirnya menetes basah di atas kain gaun sutra Alya. Pria itu terkekeh pelan di antara rasa harunya yang membuncah.
"Terima kasih... Terima kasih, Nak..." bisik Devan serak, suaranya tenggelam dalam getaran emosi yang begitu mendalam. Pria itu mengecup perut Alya berkali-kali dengan sangat lembut, seolah perut itu adalah harta paling berharga dan rapuh di seluruh semesta. "Ayah mendengarmu... Ayah merasakannya..."
Alya mengusap rambut hitam Devan yang halus, membiarkan suaminya menikmati momen paling emosional sebagai seorang ayah. Rasa haru dan cinta di antara mereka berdua malam itu begitu pekat, mengikat jiwa mereka dalam sebuah ikatan keluarga yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapa pun.
---
Setelah momen keharuan itu mereda, Devan tidak membiarkan Alya kembali duduk di sofa. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, pria itu mengangkat Alya ke dalam gendongannya, membawanya menuju tempat tidur utama mereka.
Devan membaringkan Alya dengan sangat pelan, menyelimutinya dengan kain kasmir, lalu ia sendiri menyusul naik ke atas ranjang. Devan berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus mengelus lembut perut Alya yang baru saja sibuk menendang.
"Mulai sekarang, aku akan memainkan piano untuk kalian setiap malam sebelum tidur," janji Devan, menatap Alya dengan binar mata yang dipenuhi kasih sayang tanpa batas.
Alya tersenyum hangat, menyandarkan posisinya hingga dadanya menempel di dada bidang Devan. "El pasti akan sangat senang. Dia bilang permainan pianomu malam ini membuat energi spiritualnya pulih lebih cepat."
Devan terkekeh rendah, mengusap pipi Alya. "Anak itu benar-benar ajaib. Tapi kamu juga harus ingat pesan dokter, *Wifey*. Kamu masih harus istirahat total. Besok Kakek Abraham bilang beliau mau datang berkunjung untuk membawa dokter spesialis nutrisi tambahan."
"Kakek mau datang?" mata Alya berbinar. "Aku merindukan Kakek. Sejak kejadian Klan Blackwood, Kakek pasti sangat cemas."
"Beliau sangat cemas sampai hampir mengerahkan pasukan veteran Dirgantara untuk meratakan London," kekeh Devan pelan. "Tapi aku sudah memastikan padanya kalau keadaan kita sudah aman seratus persen."
> *[Wah, Kakek Tua mau datang besok?! Haruskah aku menyiapkan tendangan selamat datang khusus untuknya nanti?]*
Suara Baby El yang kembali muncul dengan nada jahil membuat Alya tertawa kecil. "El, jangan menendang Kakek terlalu keras nanti, ya. Kakek kan sudah tua."
> *[Siap, Ibu! Aku akan berikan tendangan versi paling lembut dan penuh rasa hormat!]*
Devan mengecup bibir Alya sekilas, lalu berpindah mengecup keningnya dengan waktu yang lama. "Tidurlah, Sayang. Hari ini sudah sangat panjang. Aku akan selalu ada di sini menjaga kalian."
Alya mengangguk pelan, merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Devan yang begitu hangat dan protektif. Perlahan tapi pasti, kelopak matanya berat dan ia mulai terlelap dalam tidur yang paling nyenyak dan damai yang pernah ia rasakan.