Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Dansa di atas es tipis
Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam Aula Agung justru semakin mendingin, kontras dengan kehangatan ratusan lilin yang menyala. Musik berganti menjadi ritme waltz yang lambat dan megah—sebuah tanda bahwa lantai dansa telah dibuka untuk pasangan utama malam itu.
Pangeran Cassian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. Gerakannya tenang, namun ada dominasi yang tak terucapkan di sana. Aurelia menatap tangan itu selama satu detik penuh sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Cassian. Kulit pria itu terasa hangat, bahkan menembus kain sarung tangannya.
"Jangan tegang, Putri," bisik Cassian saat ia menuntun Aurelia ke tengah aula. "Rakyat Anda sedang menonton. Jika Anda terlihat seolah-olah sedang digiring ke tiang gantungan, mereka akan mulai panik."
"Saya hanya sedang beradaptasi dengan aroma belerang dan darah yang tampaknya Anda bawa dari Utara, Pangeran," balas Aurelia dengan senyum formal yang dipaksakan, memastikan suaranya cukup rendah agar tidak terdengar oleh para musisi.
Cassian terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang menggetarkan dada bidangnya. Ia menempatkan satu tangannya di pinggang Aurelia, menarik tubuh sang Putri sedikit lebih dekat dari yang lazim dilakukan dalam tata krama Oakhaven. Aurelia tersentak kecil, namun ia berhasil menguasai diri dan meletakkan tangan kirinya di bahu kokoh Cassian.
Saat musik mulai mengalun, mereka mulai bergerak.
Aurelia harus mengakui, di balik reputasinya yang brutal, Cassian adalah seorang pedansa yang luar biasa. Langkah-langkahnya presisi dan mantap, menuntun Aurelia melewati lantai marmer seolah-olah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Namun, mata abu-abu Cassian tidak pernah lepas dari wajah Aurelia, mengunci pandangannya dengan intensitas yang mengintimidasi.
"Anda memiliki lidah yang cukup tajam untuk seorang putri yang menghabiskan hidupnya di menara kaca," ujar Cassian, memutar tubuh Aurelia mengikuti ketukan musik. "Kira-kira, apakah keberanian ini asli, atau hanya topeng untuk menyembunyikan fakta bahwa Anda gemetar di dalam gaun indah ini?"
"Anda boleh menguji saya jika Anda berani, Pangeran," tantang Aurelia, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang seperti badai itu. "Oakhaven mungkin terlihat rapuh di mata kerajaan militer seperti Valenica, tetapi kami tidak sekadar pasrah untuk dihancurkan. Jika saya harus menjadi jembatan perdamaian, maka pastikan Anda tidak mencoba membakarnya, karena saya akan memastikan Anda ikut jatuh bersama saya."
Mendengar itu, kilatan aneh muncul di mata Cassian. Bukannya marah, seringai tipis kembali menghiasi wajahnya yang tegas. "Menarik. Ayah Anda menawarkan pernikahan ini sebagai tanda penyerahan diri, tetapi Anda... Anda berbicara seperti seorang jenderal yang siap berperang."
"Pernikahan ini adalah negosiasi, bukan penyerahan diri," ketus Aurelia.
Sebelum Cassian sempat membalas, musik mencapai puncaknya dan melambat, menandakan dansa mereka telah usai. Cassian melepaskan pinggang Aurelia dengan perlahan, lalu mengambil tangan kanan sang Putri. Kali ini, ia mendekatkan jemari Aurelia ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di punggung tangannya, tanpa melepaskan kontak mata.
"Kita akan sering bertemu sebelum hari pernikahan, Putri Aurelia," bisik Cassian, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Persiapkan diri Anda. Udara di Utara jauh lebih dingin daripada konfrontasi malam ini."
Cassian membungkuk hormat, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju delegasinya, meninggalkan Aurelia yang berdiri mematung di tengah lantai dansa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena adrenalin. Aurelia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di hadapannya kini ada seorang pria yang tidak bisa ia kendalikan, dan di belakangnya ada sebuah kerajaan yang harus ia selamatkan.
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"