Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan yang Tak Diundang
Malam mulai menyelimuti Jakarta.
Mobil hitam milik Arga melaju pelan memasuki halaman rumah keluarga Mahendra. Sebuah mansion megah bergaya klasik berdiri anggun dengan taman yang luas dan air mancur di tengahnya.
Begitu turun dari mobil, Arga langsung menghela napas panjang.
“Aku harap ini bukan lagi soal perjodohan.”
Dimas yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis.
“Semoga beruntung, Pak.”
Arga meliriknya.
“Kamu senang melihatku menderita?”
“Saya tidak berani, Pak.”
“Tapi?”
“Tebakan saya… sembilan puluh sembilan persen benar.”
Arga tidak menjawab.
Ia sudah tahu apa yang menunggunya di dalam.
Di ruang makan…
Meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan mewah.
Ibunya, Clara Mahendra, tersenyum begitu melihat Arga datang.
“Akhirnya kamu pulang.”
“Selamat malam, Ma.”
“Papa belum pulang?”
“Ayahmu masih perjalanan.”
Arga mengangguk singkat.
Baru saja hendak duduk…
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah tangga.
“Arga…”
Ia menoleh.
Seorang wanita cantik bergaun merah turun sambil tersenyum manis.
Rambut panjangnya tergerai rapi.
Wajahnya dipoles makeup elegan.
“Amanda?”
Wanita itu mengangguk.
“Sudah lama kita tidak bertemu.”
Arga langsung mengerti.
Ia menatap ibunya.
“Ma…”
Clara tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Amanda baru pulang dari London.”
“Kalian cocok.”
“Mama pikir sudah waktunya kalian saling mengenal lagi.”
Arga menarik napas dalam.
“Aku sudah bilang.”
“Aku tidak mau dijodohkan.”
Amanda tertawa kecil.
“Tenang saja.”
“Aku juga datang bukan untuk memaksa.”
“Tapi kalau akhirnya kita berjodoh, kenapa tidak?”
Arga memilih diam.
Sepanjang makan malam, Amanda terus berusaha mengajak Arga berbicara.
Namun jawabannya selalu singkat.
“Iya.”
“Tidak.”
“Nanti.”
Melihat putranya yang dingin seperti batu, Clara mulai kesal.
“Arga.”
“Kamu ini kenapa?”
“Sejak kapan jadi sulit diajak bicara?”
Arga meletakkan sendoknya.
“Aku lelah.”
“Kalau tidak ada hal penting lagi, aku kembali ke apartemen.”
“Arga!”
Namun pria itu sudah berjalan pergi.
Amanda memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
“Sepertinya…”
“Dia berubah.”
Keesokan paginya.
Mahendra Group kembali sibuk.
Nayla datang lebih pagi dari biasanya.
Di tangannya ada sekotak donat.
“Pagi semuanya!”
“Pagi!”
Rina tersenyum.
“Ada apa?”
“Traktiran.”
“Wah!”
“Kok tumben?”
Nayla tertawa.
“Kemarin Pak Arga senyum.”
“Saya jadi senang.”
Semua orang langsung tertawa.
“Kamu bahagia cuma gara-gara itu?”
“Iya.”
“Soalnya susah.”
“Kayak lihat gerhana.”
Tiba-tiba…
Suara dingin terdengar dari belakang.
“Gerhana?”
Seluruh ruangan langsung hening.
Nayla membeku.
Pelan-pelan ia menoleh.
Arga berdiri di belakangnya.
Lengkap dengan wajah datar khasnya.
Mata Nayla membulat.
“Astaga… sejak kapan dia di sini?”
“Ehehe…”
“Pagi, Pak.”
Arga melirik kotak donat.
“Ada acara?”
“Enggak.”
“Traktiran.”
“Karena?”
Nayla menggaruk pipinya.
“Ya… itu…”
Rina buru-buru menyela.
“Pak, kami permisi dulu.”
Dalam hitungan detik seluruh karyawan menghilang.
Meninggalkan Nayla sendirian.
“Pengkhianat…” gumamnya pelan.
Arga masih berdiri di tempat.
“Kemarin kamu bilang…”
“Apa?”
“Kamu berhasil membuatku tersenyum.”
“Iya.”
“Itu alasan traktiran?”
Nayla mengangguk polos.
“Iya.”
Arga menggeleng pelan.
“Kamu memang aneh.”
“Biarin.”
“Yang penting bahagia.”
Tanpa diduga…
Nayla mengambil satu donat lalu menyodorkannya.
“Mau?”
Arga menatap donat itu.
Lalu menatap Nayla.
“Kamu menyuap CEO?”
“Bukan.”
“Nawarin.”
“Sama saja.”
“Terus?”
“Mau nggak?”
Entah kenapa…
Arga menerima donat itu.
Seluruh karyawan yang diam-diam mengintip dari balik pintu langsung melongo.
“Ya Tuhan…”
“Pak Arga makan donat?”
“Yang ngasih Nayla lagi!”
Belum sempat suasana kembali normal…
Lift VIP terbuka.
Seorang wanita cantik melangkah keluar memakai setelan putih elegan.
Seluruh resepsionis langsung berdiri.
“Selamat pagi, Nona Amanda.”
Amanda hanya tersenyum.
“Aku mau bertemu Arga.”
“Silakan, Nona.”
Nayla yang masih memegang kotak donat berbisik pada Rina.
“Siapa dia?”
Rina langsung membulatkan mata.
“Kamu nggak tahu?”
“Nggak.”
“Itu Amanda.”
“Katanya calon tunangan Pak Arga.”
Deg!
Entah kenapa…
Jantung Nayla seperti berhenti sesaat.
“Calon…”
“Tunangan?”
“Iya.”
“Katanya keluarga mereka sudah dekat sejak lama.”
Nayla memaksa tersenyum.
“Oh…”
“Pantas cantik.”
Ia mencoba bersikap biasa saja.
Namun tanpa sadar…
Senyumnya mulai memudar.
Amanda langsung masuk ke ruang CEO tanpa mengetuk.
“Morning, Arga.”
Arga mendongak.
“Kamu?”
“Aku mampir.”
“Sekalian ngajak makan siang.”
“Aku kerja.”
“Bisa nanti.”
Amanda duduk begitu saja di sofa.
Tatapannya kemudian tertuju ke luar ruangan.
Melalui dinding kaca, ia melihat Nayla sedang tertawa bersama rekan-rekannya.
“Siapa gadis itu?”
Arga ikut melihat.
“Nayla.”
“Pegawai baru.”
Amanda memperhatikan lebih lama.
“Cantik.”
“Lumayan.”
“Tapi…”
Tatapan Amanda berubah tajam.
“Kenapa kamu tadi makan donat darinya?”
Arga sedikit terkejut.
“Kamu lihat?”
“Tentu.”
Amanda tersenyum tipis.
“Aku mengenalmu sejak kecil.”
“Kamu tidak pernah menerima makanan dari orang lain.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan Arga sendiri baru menyadari…
Amanda benar.
Selama ini ia selalu menjaga jarak dengan semua orang.
Namun terhadap Nayla…
Batas itu perlahan mulai menghilang.
Dan itu membuat Amanda merasa terancam.
Di luar ruangan…
Nayla tanpa sengaja melihat Amanda keluar dari kantor CEO sambil tersenyum anggun.
Wanita itu bahkan merapikan dasi Arga dengan begitu akrab.
Hati Nayla tiba-tiba terasa sesak.
Ia langsung memalingkan wajah.
“Ngapain aku mikirin…”
“Dia memang cocok sama Pak CEO.”
Tanpa disadari siapa pun…
Benih-benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.
Namun bersamaan dengan itu…
Rintangan pertama juga mulai muncul.
jd senam jantung🤧