Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Langkah Pertama Menuju Bebas
Pagi itu, setelah sarapan bersama anak-anak yatim, Arini kembali duduk di ruang kerja Bu Khadijah. Secangkir teh hangat mengepul di atas meja, sementara dari balik jendela terdengar suara tawa anak-anak yang bersiap berangkat sekolah. Satu per satu mereka menaiki mobil operasional panti—dua unit kendaraan yang dibelikan Arini dua tahun lalu agar anak-anak tak lagi berdesakan menggunakan angkutan umum setiap pagi.
Bu Khadijah memperhatikan pemandangan itu dengan senyum haru. "Kalau bukan karena kamu, mungkin sampai sekarang anak-anak masih harus jalan kaki atau naik angkot bergantian."
Arini hanya tersenyum tipis. "Rezeki mereka saja, Bu."
Namun senyum itu tak mampu menyembunyikan wajahnya yang tampak lelah. Kelopak matanya sedikit bengkak, menyisakan sembab yang jelas terlihat meski sudah dicuci berkali-kali.
Bu Khadijah mengernyit prihatin. "Rin, matamu sembab. Kamu menangis lagi semalam?"
Arini mengembuskan napas panjang sebelum mengangguk pelan.#"Iya, Bu. Semalam pas aku masuk kamar, Mas Galang nelepon. Dia marah-marah gara-gara aku mengeluarkan semua baju dan barang-barangnya dari kamar. Terus kamarnya aku kunci."
"O ya?" Mata Bu Khadijah membesar karena terkejut.
"Iya. Soalnya kalau aku nggak berbuat begitu, aku yakin Mas Galang bakal ngajak perempuan itu tidur di kamarku. Bisa jadi perempuan itu juga memakai pakaian, tas, atau barang-barangku. Aku nggak rela, Bu."
Bu Khadijah mengangguk mantap. "Kamu melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, kamar itu milikmu. Kamu yang paling berhak menentukan siapa yang boleh masuk."
"Iya, Bu."
Suasana kembali hening beberapa saat. Bu Khadijah lalu bertanya dengan nada hati-hati.
"Mertuamu gimana? Ada menelepon juga?"
Arini menggeleng. "Nggak, Bu."
"Ngomong-ngomong... ibu mertuamu tahu nggak kalau sebenarnya rumah itu adalah rumahmu?"
Arini tersenyum getir. "Nggak tahu, Bu. Semalam aku sempat bilang kalau rumah dan semua aset yang selama ini dipakai Mas Galang itu milikku. Tapi mereka malah ketawa."
"Ketawa?"
"Iya. Ibu mertua sampai terbahak-bahak, seolah aku lagi melucu. Mereka nggak percaya kalau anak yatim piatu yang besar di panti asuhan bisa punya rumah dan mobil. Di mata mereka, aku cuma perempuan miskin yang numpang hidup sama anaknya."
Bu Khadijah menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan itu. "Mertuamu jahat sekali, Rin."
"Itulah, Bu." Suara Arini mulai bergetar. "Mereka datang membawa perempuan itu, lalu memperkenalkannya di depan aku sebagai istri kedua Mas Galang. Setelah itu mereka duduk makan dengan lahap menikmati semua makanan yang sudah aku masak untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami."
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Coba Ibu bayangkan... makanan itu aku siapkan dari pagi. Aku pikir malam itu bakal jadi malam yang indah. Ternyata yang datang malah penghinaan."
Tak kuasa lagi, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Siapa yang nggak sakit hati, Bu?"
Bu Khadijah segera menggeser kursinya lebih dekat. Dengan penuh kasih sayang, beliau menggenggam kedua tangan Arini.
"Nangis saja kalau memang ingin menangis. Jangan dipendam terus!"
Arini mengusap air matanya perlahan. "Aku cuma nggak nyangka, Bu. Orang yang paling aku percaya justru tega menghancurkan semuanya."
Bu Khadijah mengelus punggung tangan Arini beberapa kali sebelum kembali bertanya. "Selanjutnya gimana? Kamu kan sudah mantap mau mengajukan cerai. Selama proses itu, apa yang akan kamu lakukan?"
Arini menarik napas dalam-dalam. Kali ini sorot matanya terlihat lebih tegas. "Yang pasti aku nggak akan kembali ke rumah itu. Aku mau tinggal di rumah yang dipakai anak-anak buat jualan online. Di sana ada kamar kecil yang bisa aku benahi untuk sementara."
"Itu rumah yang dekat gudang, ya?"
"Iya, Bu."
Bu Khadijah mengangguk pelan. "Bagus juga. Yang penting kamu punya tempat yang aman."
"Selain itu, aku juga tetap bisa mengawasi operasional usahaku setiap hari."
Bu Khadijah tersenyum hangat. "Kalau kamu berubah pikiran, pintu panti ini selalu terbuka buat kamu, Rin. Tinggal di sini juga nggak apa-apa. Kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri."
Mata Arini kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena terharu.
"Terima kasih, Bu."
"Tapi memang benar," lanjut Bu Khadijah, "kalau semua usahamu harus dipantau langsung, tinggal di sini akan kurang efektif. Jaraknya terlalu jauh."
"Iya, Bu. Makanya aku memilih tinggal di sana dulu. Setidaknya sampai semua proses perceraian selesai."
Bu Khadijah mengangguk mantap.
"Kalau begitu lakukan apa yang menurutmu paling baik. Apa pun keputusanmu, Ibu akan selalu mendukungmu."
Arini menggenggam tangan wanita yang sejak kecil menjadi sosok ibu baginya itu. "Terima kasih, Bu. Dukungan Ibu membuat aku merasa masih punya keluarga."
Bu Khadijah tersenyum lembut. "Kamu memang punya keluarga, Rin. Bukan karena hubungan darah, tapi karena kasih sayang. Dan percayalah, orang yang menghargaimu jauh lebih banyak daripada mereka yang meremehkanmu."
Ucapan itu membuat hati Arini terasa sedikit lebih ringan. Kini, ia merasa masih memiliki tempat untuk pulang dan orang-orang yang akan berdiri di sisinya, apa pun badai yang akan datang.
Arini terdiam beberapa saat setelah mendengar dukungan dari Bu Khadijah. Ada satu hal lagi yang sejak semalam terus berputar di kepalanya.
"Bu," panggilnya pelan. "Ibu punya kenalan pengacara nggak? Buat menangani proses perceraianku sama Mas Galang?"
Bu Khadijah yang sedang menyeruput teh langsung mengangguk. "Ada, bahkan beberapa."
Wajah Arini sedikit berbinar. "Yang perempuan ada nggak, Bu?"
"Ada. Kenapa memang?"
Arini tersenyum tipis. "Kalau perempuan, mungkin aku lebih nyaman buat cerita. Ada banyak hal yang rasanya lebih mudah diungkapkan ke sesama perempuan."
"Itu masuk akal." Bu Khadijah meletakkan cangkirnya. "Kebetulan ada satu orang yang langsung teringat oleh Ibu. Beliau pengacara senior dan sudah lama menjadi donatur di panti ini."
"Benarkah?"
"Iya. Orangnya baik, tegas, dan berpengalaman. Sudah menangani banyak kasus, mulai dari sengketa harta sampai perceraian."
Arini mengangguk pelan. Mendengar itu, ia merasa sedikit lega. "Kalau begitu, boleh nggak Bu, Ibu bantu menghubungi beliau?"
"Tentu saja boleh."
"Kalau bisa, aku ingin bertemu beliau secepat mungkin. Aku nggak mau menunda-nunda lagi."
Bu Khadijah tersenyum memahami. "Ibu mengerti. Setelah ini Ibu akan coba menghubunginya."
"Terima kasih, Bu."
Bu Khadijah mengambil ponselnya dari atas meja lalu membuka daftar kontak. "Semoga beliau sedang tidak ada sidang hari ini."
Beberapa saat kemudian, jari-jari Bu Khadijah mulai mengetik pesan.
Arini memperhatikan dengan perasaan campur aduk. Prinsipnya dari dulu dia tidak berubah, kalau pasangan selingkuh, dia memilih untuk mengakhiri pernikahannya. Galang sebenarnya tahu hal itu, tapi dia tidak peduli. Makanya mendingan dia mundur.
Tak lama kemudian, ponsel Bu Khadijah bergetar.
"Wah, cepat sekali dibalas."
Arini spontan menegakkan tubuhnya. "Gimana, Bu?"
Bu Khadijah membaca pesan itu sambil tersenyum.
"Katanya beliau sedang tidak ada jadwal sidang sampai siang. Kalau kamu berkenan, beliau bisa datang ke panti setelah makan siang. Atau kamu yang datang ke kantornya."
Mata Arini langsung berbinar. "Aku ke kantornya saja, Bu. Sekalian aku ingin menjelaskan semuanya dengan lebih leluasa."
"Baiklah. Nanti Ibu kirim alamat dan nomor teleponnya."
Arini mengembuskan napas panjang. Kini, ia merasa memiliki arah hubungan yang jelas.
Kini ia tidak lagi sekadar menangis dan meratapi nasib. Ia mulai menyusun langkah untuk memperjuangkan hak-haknya dan menutup babak kehidupan yang tak layak diperjuangkan.
Bu Khadijah memandangnya dengan bangga.
"Itu Arini yang Ibu kenal. Boleh sedih, boleh kecewa, tapi jangan pernah berhenti melangkah."
Arini tersenyum kecil sambil mengangguk. "Iya, Bu. Kali ini aku ingin memperjuangkan diriku sendiri."
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.