'Erlangga Saputra' atau yang biasa di panggil 'Rangga' adalah anak payah, bodoh, pemalas, dan sangat tidak berguna!
hingga suatu saat, ketika ia terbangun dari koma, dan perlahan-lahan menyadari keanehan dalam dirinya.
"sejak kapan aku bisa ini itu? sejak kapan aku bisa melakukan semua hal?"
"apakah kau terbangun dan menemukan sistem?"
"tidak!"
"apakah kau manusia dari dunia lain dan merasuki tubuh Rangga?"
"tentu saja ini adalah diriku sendiri, mana mungkin aku tidak mengenal diriku sendiri?!"
lalu mengapa tiba-tiba dia menjadi jenius dan serba bisa?
penasaran?
silahkan di baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airis28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jadi banyak berfikir?
“Apa kau baik-baik saja? Bisa berdiri? Biar aku bantu” seorang polisi menghampiriku.
Aku menoleh “ah.. saya baik-baik saja ko pak” aku berdiri, menepuk-nepuk baju dan celanaku dari debu.
“Syukurlah kau baik-baik saja, apa kau bisa ikut dengan kami untuk memberi kesaksian?”
Aku langsung membeku mendengarnya. Akhhh... aku menyesal tadi mengatakan baik-baik saja. Seharusnya aku pura-pura masih dalam keadaan trauma atau takut. Jadi tidak perlu ikut memberi kesaksian pada polisi. Eh... tapi meski begitu, besok-besok pasti polisi datang padaku lagi, untuk memberi kesaksian. Bagaimanapun bertanya tentang suatu kejadian pada saksi itu lebih bagus jika memang bisa bertanya dengan banyak saksi. Jadi bisa mengetahui kepastian tentang keseluruhan kejadian. Mengeluh sekarang rasanya juga percuma.
“ehem.... begini pak, saya sebenarnya baru sembuh dari koma, saya masih harus banyak beristirahat” aku mencoba memelas.
“saya akan memberi kesaksian” William mendatangi kami. Wajahnya sedikit lebam, sepertinya akibat bertarung dengan penjahat tadi. Dia ini... padahal sedang terluka seperti itu, tapi masih mau memberi kesaksian tanpa beristirahat dahulu ataupun mengobati lukanya? Benar-benar warga negara yang baik!
Polisi itu tersenyum. “tidak. Lukamu harus di obati dulu, istirahatlah... besok baru kami akan datang kembali pada kalian untuk meminta persaksian” benar-benar polisi yang bijak!
Polisi itu menoleh padaku, tersenyum. Dan pergi dengan kelompoknya. Sebagian meringkus dan membawa para penjahat ke kantor polisi untuk di introgasi. Dan sebagian membawa para korban sandera pada keluarga mereka masing-masing.
Dari tangga bawah. 3 orang pria berpakaian hitam rapi muncul dan menghampiri William. Aku tau, mereka adalah pengawal William. Meski William anak orang kaya, tapi setiap sampai pintu gerbang, dia selalu turun dari mobilnya dan menyuruh para pengawalnya untuk tidak menunggunya, membiarkan para pengawalnya pergi dan baru datang menjemputnya saat sudah jam pulang.
Aku menolak bantuan polisi yang ingin mengantarku pulang atau ke keluargaku yang mungkin ada di depan sekolah menungguku. Entahlah... menurutku itu merepotkan.
Aku menuruni tangga, dan berjalan menuju gerbang.
Sudah kuduga, ada batas garis polisi di sana, kalau tidak, pasti orang-orang yang ada di sekitar akan langsung masuk berhamburan ke dalam sekolah. Entah untuk melihat rupa penjahat, melihat keadaan korban yang di jadikan sandera, atau sekedar ingin membuat konten seperti ‘PENJAHAT MASUK SEKOLAH DAN MENYANDERA MURID!’ Tanpa peduli soal penjahat ataupun nasib korban yang penting bikin konten!
Memangnya ada orang yang seperti ini? Entahlah... menurutku memang ada. Kalau sedang melihat media sosial yang menayangkan vidio seseorang yang sedang tenggelam atau sejenisnya, bukanya di tolongin dulu, malah di vidioin. Bukankah itu bodoh? Kalau memang ga bisa nolong, seharusnya cari bantuan. Bukannya sibuk bikin vidio dari awal sampai akhir kemudian memberi judul ‘KORBAN TENGGELAM’ dan seolah-olah bersimpati pada si korban.
Kalau pengawalnya William kenapa bisa masuk?
Bukankah sudah jelas? Karna dia anak sultan! Atau bisa saja pakai orang dalam. Dan bisa juga para pengawal William menawarkan bantuan jasa untuk ikut mengepung penjahat itu.
Tapi mereka baru sampai di atas saat para penjahat sudah di borgol, jadi aku yakin bukan alasan terakhir.
“Rangga!”
Aku mendengar teriakan paman. Karna terlalu fokus berfikir, aku jadi tidak terlalu memperhatikan sekitar. Kenapa sekarang aku jadi banyak mikir sih?? Merepotkan!
Ternyata Pamanku sudah ada di depan gerbang sekolah, tepat di batas garis polisi bersama Siska dan Bibi yang menatapku dengan cemas.
Senyum tersungging dari sudut mulutku.
Ah... meski keluarga paman kasar, tapi mereka benar-benar orang yang baik. Aku berjalan menghampiri mereka.
“kau baik-baik saja?”
“apakah kau terluka?”
“tenang saja! Semua sudah selesai okey. Jangan khawatir!”
Rentetan pertanyaan langsung membanjiriku. “tidak apa, aku baik-baik saja ko” aku tersenyum tulus. Namun mereka terlihat seperti masih khawatir.
Ahh... hal ini jadi mengingatkanku saat keluargaku meninggal 3 tahun yang lalu.
Saat itu yang mencoba menenangkanku saat sedang menangis juga mereka, bahkan paman yang pertama kali mengajukan untuk mengadopsiku. Meski paman sudah tau kalau aku ini sangat payah.
Kalau paman tidak mengadopsiku, aku pasti sudah mati. Ini bukan lelucon loh.
Tentu saja, coba bayangkan! Saat itu aku masih smp, sudah tidak punya keluarga, tidak punya uang juga. Aku pasti tidak bisa sekolah dan harus bekerja di usia dini. Tapi aku sangat payah melakukan segala hal. Sudah pasti aku akan langsung di pecat. Hingga hidupku akan menderita kemiskinan, kelaparan, dan berujung kematian.
“Rangga! Kenapa kau menangis? Apakah ada yang sakit?”
Ah sial. Memikirkan hidupku yang mungkin saja berakhir tragis, tanpa sadar aku malah menangis.
“Tidak ko, aku tidak apa-apa” ini memalukan! Aku segera menghapus air mataku.
“Bohong! Ayo cepat ke rumah sakit!” Siska memaksa.
“Untuk apa? Aku baik-baik saja, bahkan tidak terluka sedikitpun” sebelah alisku terangkat. Heran dengan sikap Siska yang berlebihan.
“Lihat! Ada noda darah di sepatumu! Jika kau terluka seharusnya kau bicara bodoh!!”
Oh.... ini bukan darahku.
Ini darah dari si bos yang tangannya tadi tertembak. Karna sepatuku mendarat tepat di dekat bos penjahat itu, jadi tetesan darahnya ada yang mengenai sepatuku. Sebenarnya aku malas untuk memakai sepatuku yang kotor terkena darah ini, tapi.... masa aku pulang harus ceker ayam? Ogah!
Paman langsung menggendongku seperti karung beras dan berlari “gawat! Kita harus cepat kerumah sakit!” bibi dan Siska ikut berlari di belakang kami.
“tunggu paman, ini bukan darahku! Ini darah penjahat tadi!” menangis di hadapan mereka saja sudah memalukan, apalagi di gendong seperti ini di tempat seramai ini, apalagi ada teman-teman sekelasku disini yang turut menyaksikan jalannya proses penangkapan penjahat. Harga diriku rasanya turun drastis!
“Jangan membantah! Atau paman akan memukul pantatmu!”
Aaakkkhhhhhhh...... ada kantong kresek ga? Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku pakai apapun yang ada. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. MEMALUKAN!!!
Aku sempat melihat William dan 3 penjaganya masuk kedalam mobilnya. Bukan Cuma itu, mobilnya di kawal oleh 4 mobil lainnya. 2 di depan, dan 2 di belakang. Namun aku tidak melihat ayahnya sama sekali. Bahkan selama aku sekolah, sepertinya ayahnya memang tidak pernah datang ke acara apapun yang biasanya di hadiri para orangtua. Bahkan pembagian raport ataupun pemberian penghargaan pada siswa teladan, dia juga tidak pernah datang. Dan lagi, di situasi seperti ini kenapa dia tidak datang juga? Kejadian seperti ini bisa membuat nyawa putranya bisa saja menghilang loh...
Aku jadi merasa sangat beruntung karna orangtuaku selalu hadir menemaniku, meskipun aku sangat payah dan bodoh. Bahkan saat mereka sudah tiada, paman senantiasa menggantikan peran ayah dan menemaniku. Meskipun kehidupanku biasa saja, tapi aku sangat senang. Paman dan keluarganya bahkan datang kemari saat aku dijadikan sandera oleh para penjahat itu.
Huft.... tidak boleh, tidak boleh. Ayo berfikir positif! Mungkin orangtua William tidak bisa datang hari ini karna dia sedang berada di luar negri, dan butuh berjam-jam untuk bisa sampai di negara ini.
Sebelum masuk dalam mobil paman, aku memperhatikan keadaan sekolah yang di segel garis pembatas kuning itu. Sepertinya sekolah akan di liburkan untuk sementara waktu, dan ujian di undur.
Aku tersenyum senang. “aah... akhirnya aku bisa bersantai lama” batinku.