Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Tak Lagi Bisa Bersembunyi
"Saya pasti gak berani minum, Pak," jawab salah seorang warga. "Karena mengira itu racun."
Pak Kades mengangguk. "Padahal saya tidak pernah mengatakan itu racun."
Beliau lalu menatap Daril. "Kalimat memang bisa disusun sedemikian rupa sehingga kita tidak berbohong secara langsung, tetapi tetap membuat orang lain sampai pada kesimpulan yang kita inginkan."
Daril tidak mampu menjawab.
Pak Kades melanjutkan. "Saudara bukan korban salah paham. Saudara sengaja membangun salah paham."
Ruangan kembali dipenuhi anggukan.
Hartato yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Kalau memang Daril ingin menjaga nama baik Vira, seharusnya dia mengatakan, 'Itu tidak benar. Jangan menyebarkan fitnah.' Bukannya malah memberi kalimat-kalimat yang membuat gosip semakin dipercaya."
Beberapa warga langsung mengangguk setuju.
Pak Kades kembali membuka berkasnya. "Berdasarkan keterangan saksi dan pengakuan Saudara sendiri bahwa hubungan tersebut tidak pernah melewati batas... maka saya menyatakan Saudara Daril terbukti ikut menyebarkan fitnah melalui penggiringan opini."
Daril mengepalkan kedua tangannya.
"Perbuatan Saudara telah memperkuat gosip yang merusak nama baik Vira."
Pak Kades menatapnya tajam. "Dan itu tetap merupakan bentuk penyebaran fitnah."
Daril menundukkan kepala. "Aku benar-benar gak punya alasan lagi untuk membela diri."
Pak Kades membuka lembar terakhir dalam mapnya. "Selanjutnya kita masuk ke gosip ketiga."
Tatapannya beralih kepada Yanti. "Gosip yang menyebut Vira sering membawa laki-laki masuk ke rumah."
Yanti langsung menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut erat.
"Untuk perkara ini, saya panggil Bu Sulastri."
Seorang ibu berdiri lalu berjalan ke depan.
"Bu Sulastri, di mana pertama kali Ibu mendengar cerita itu?" tanya Pak Kades.
"Di warung es kelapa muda, Pak."
"Siapa yang menyampaikannya?"
Bu Sulastri melirik ke arah Yanti. "Yanti."
Pak Kades mengangguk. "Coba ceritakan."
Bu Sulastri menarik napas. "Waktu itu Yanti bilang dia sudah hampir dua minggu tinggal di rumah Vira."
"Lalu?"
"Dia bilang beberapa kali tengah malam bangun karena haus."
"Terus?"
"Katanya dia mendengar suara dari kamar Vira seperti suara orang sedang berhubungan suami istri."
Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik.
Bu Sulastri melanjutkan. "Yanti juga bilang pernah melihat bekas merah di leher Vira."
"Apakah hanya itu?"
"Tidak, Pak."
"Silakan lanjutkan."
"Dia bilang... suara laki-lakinya tidak selalu sama."
Ruangan langsung riuh.
Pak Kades kembali mengangkat tangan. "Tenang."
Beliau kembali bertanya. "Apa lagi yang disampaikan Yanti?"
Bu Sulastri menghela napas. "Dia juga menangis."
"Menangis karena apa?"
"Katanya selama tinggal di rumah Vira, dia diperlakukan seperti pembantu. Dia bilang sering dimarahi, makan di dapur, dihina orang kampung, bahkan dipukul."
Pak Kades mengangguk pelan. "Lalu?"
"Dia memperlihatkan luka di lengannya. Dia mengaku luka itu akibat disiram kuah panas oleh Vira."
Bu Sulastri menambahkan, "Dia juga memperlihatkan memar di lututnya dan bilang didorong sampai jatuh."
Vira tertawa pendek tanpa suara. Jelas bukan tawa bahagia. Ia tak menyangka Yanti tega memfitnahnya sampai sejauh itu.
Pak Kades menutup catatannya. "Apakah setelah mendengar cerita itu Ibu mempercayainya?"
"Iya, Pak."
"Kenapa?"
"Karena yang cerita sepupunya sendiri."
Pak Kades mengangguk. "Baik." Beliau menatap Yanti. "Apakah Saudari membantah kesaksian Bu Sulastri?"
Yanti menggigit bibirnya. "Saya cuma menceritakan apa yang saya alami."
Pak Kades tidak langsung menjawab. Beliau justru memandang Hartato.
"Hartato."
Hartato berdiri. "Saya sudah meminta beberapa warga sekitar rumah Vira memberikan keterangan."
Ia membuka sebuah map. "Tetangga kanan, tetangga kiri, dan tetangga depan rumah menyatakan tidak pernah mendengar suara seperti yang diceritakan Yanti."
Hartato membalik halaman. "Bahkan beberapa malam yang disebutkan Yanti, Vira sedang menjaga toko sampai larut, kemudian tidur bersama Yanti di rumah."
Yanti langsung mengangkat kepala. "Itu... itu...."
Hartato melanjutkan. "Soal bekas merah di leher."
Ia menatap Vira. "Lehernya merah-merah karena tomcat. Hal itu juga diketahui beberapa tetangganya."
Beberapa ibu langsung mengangguk.
"Iya, saya ingat."
"Waktu itu memang merah-merah."
"Merah-merahnya melepuh persis kayak kena tomcat. Bukan cupang."
Hartato kembali membuka lembar berikutnya. "Soal luka bakar."
Beliau memandang Yanti lalu Bu Sri.
Bu Sri langsung berdiri dari duduknya. "Waktu saya selesai belanja di toko Vira, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar jeritan. Vira langsung masuk. Karena penasaran saya gak langsung pulang dan ngintip dari jendela."
Bu Sri menatap Yanti. "Yanti bilang dia ketumpahan kuah panas karena kecerobohannya sendiri. Bahkan saya dengar Vira nyuruh Yanti tunggu sebentar karena mau ambil salep di kamar. Suara Vira kedengeran khawatir.banget."
Yanti mulai pucat.
"Sedangkan memar di lutut." Hartato kembali berkata. "Menurut keterangan Arvin dan dua tetangga yang datang pagi itu, Yanti terpeleset saat membawa ember berisi air. Tidak ada seorang pun yang melihat Vira mendorong Saudari."
Ruangan mulai gaduh.
"Berarti bohong semua?"
"Pantesan nangisnya meyakinkan."
Pak Kades kembali meminta semua tenang. Beliau lalu menatap Yanti.
"Saudari bukan hanya menyebarkan gosip. Saudari juga membangun cerita seolah-olah menjadi korban agar orang lebih mudah mempercayai ucapan Saudari."
Yanti mulai terisak. "Saya..."
"Sekarang saya tanya." Pak Kades berbicara tegas. "Apakah Vira pernah membawa laki-laki masuk ke rumah untuk melakukan perbuatan seperti yang Saudari ceritakan?"
Yanti terdiam cukup lama. Air matanya terus mengalir. Akhirnya ia menggeleng pelan.
"Tidak."
Suasana balai desa langsung hening.
Pak Kades menatapnya tanpa berkedip. "Jadi Saudari mengakui bahwa cerita tersebut tidak benar?"
Yanti menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Iya, Pak."
Tangisnya pecah. "Maaf... Maaf..." Maafkan saya...."
Vira memejamkan mata sejenak. Meski sejak awal ia sudah mengetahui semua tuduhan itu hanyalah fitnah, mendengar Yanti akhirnya mengaku tetap membuat dadanya terasa sesak.
Ia tak pernah menyangka.
Orang yang ia beri tempat tinggal, pekerjaan, bahkan ia anggap sebagai keluarga sendiri, ternyata tega menghancurkan nama baiknya dengan cerita-cerita yang tidak pernah terjadi.
Perlahan Vira mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan gejolak di dadanya.
Di sampingnya, Arvin mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras sejak tadi. Berkali-kali ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih diam menghormati jalannya musyawarah.
Tatapannya kemudian beralih kepada Vira. Melihat wanita itu berusaha tetap tegar, muncul dorongan untuk menggenggam tangannya, sekadar memberi kekuatan.
Namun jemarinya hanya bergerak sedikit sebelum akhirnya berhenti.
"Aku ini siapa?" batinnya.
Ia hanyalah rekan kerja Vira. Belum ada hak baginya untuk melakukan hal seperti itu.
Arvin akhirnya hanya berdiri sedikit lebih dekat, seolah ingin menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan meninggalkan Vira sendirian.
Di sisi lain, Hartato mengembuskan napas lega yang sejak tadi tertahan. Sejak awal ia memang tidak pernah sepenuhnya percaya pada gosip yang beredar.
Kini, setelah semua fitnah itu terbantahkan satu per satu, beban di hatinya seolah terangkat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Syukurlah..." batinnya. "Berarti tidak ada lagi alasan bagiku untuk ragu memperjuangkan Vira."
Tatapannya kembali jatuh kepada wanita itu. Bukan karena iba, melainkan karena rasa hormat.
"Meski begitu banyak tuduhan yang dilempar padanya, dia gak membalas, gak nunjukin amarah apalagi teriak-teriak." Bibir Hartato bergerak samar. "Dia milih nunggu kebenaran bicara. Hingga hari ini kebenaran benar-benar berdiri di pihaknya."
Sedangkan Mirna, Daril dan Yanti hanya diam dan pasrah. Menunggu keputusan dari Pak Kades.
...✨"Orang yang memutarbalikkan kenyataan sering lupa bahwa suatu hari ia harus mempertanggungjawabkan setiap ucapannya."...
..."Jangan pernah menjadikan prasangka sebagai cerita, karena sekali fitnah menyebar, penyesalan tak akan mampu menariknya kembali."...
..."Diam yang membiarkan orang salah paham bisa sama berbahayanya dengan ucapan yang penuh dusta."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu