Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Wanita yang Tak Lagi Sama
Ruang kantor panti sederhana itu dipenuhi aroma teh hangat dan cat dinding lama.
Belvina duduk berhadapan dengan pemimpin panti, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ratna.
Di luar jendela, suara anak-anak masih terdengar bermain.
Belvina mendorong map tipis ke depan.
“Saya tidak ingin uang ini habis begitu saja.”
Bu Ratna menatapnya bingung.
“Maksud Nak Vina?”
“Saya ingin panti ini punya penghasilan sendiri.”
Kalimat itu membuat Bu Ratna terdiam.
Belvina membuka isi map. Beberapa catatan, hitungan modal, daftar alat, dan sketsa sederhana.
“Kita buat toko roti kecil di depan panti.”
Ia menunjuk halaman depan yang menghadap jalan.
“Posisinya bagus. Orang lewat cukup ramai.”
Bu Ratna mencondongkan badan, mulai tertarik.
“Roti juga bisa dititip ke warung sekitar. Kita jual online. Kalau belum langsung laku, tidak masalah.”
Belvina tersenyum kecil.
“Yang tidak habis bisa dimakan anak-anak. Tidak ada yang terbuang.”
Mata Bu Ratna perlahan berubah. Dari ragu menjadi harap.
Belvina melanjutkan, “Saya bisa ajari mereka membuat roti.”
Tangannya menunjuk ke luar.
“Anak yang teliti bisa pegang kasir dan pencatatan. Yang kreatif urus desain kemasan. Yang sabar dekorasi. Yang cerewet bagian promosi live jualan.”
Sudut bibirnya terangkat.
“Yang pemalu biar aman di dapur produksi.”
Bu Ratna tak kuasa menahan tawa haru. Air matanya justru muncul lebih dulu.
“Nak…”
Suara wanita itu bergetar.
“Selama ini orang datang membawa bantuan. Tapi belum pernah ada yang datang membawa masa depan.”
Kalimat itu menyentuh sisi dirinya yang tak pernah menjadi milik Belvina lama.
Bibirnya melengkung tipis.
“Kalau begitu… mari kita mulai.”
Namun Bu Ratna masih tampak ragu. “Tapi nama Nak Belvina terlalu besar. Kalau keluarga tahu Nak Vina berjualan roti…”
Belvina mengulurkan tangan, lalu menggenggam tangan wanita itu hangat.
“Yang memalukan bukan berjualan roti.” Suaranya mantap. “Yang memalukan adalah punya banyak… tapi tidak berguna.”
Bu Ratna memandangnya lama, lalu mengangguk kecil dengan mata yang basah.
Di luar ruangan, tawa anak-anak masih terdengar riang.
Dan setelah sekian lama, tempat itu terasa seperti sedang menunggu masa depan datang.
***
Di tempat lain--
Alden sedang membaca kontrak saat ponselnya berbunyi lagi.
“Tuan, Nyonya Belvina selesai menjual semuanya.”
“Lalu?”
“Beliau pergi ke panti asuhan di daerah selatan kota.”
Alden berhenti membuka halaman berikutnya.
“Untuk apa?”
“Belum jelas, Tuan. Tapi beliau bertemu cukup lama dengan kepala panti.”
Alden mengangkat wajahnya.
“Lalu?”
“Beliau datang membawa beberapa map. Setelah itu berkeliling area depan panti."
Mata Alden bergeser ke jendela kaca besar di belakang mejanya. Kota membentang sibuk di bawah sana, tapi pikirannya tertahan pada satu nama.
Panti asuhan.
Selama ini Belvina tak pernah tertarik pada tempat semacam itu. Jangankan datang, membicarakannya pun tidak pernah.
“Cari tahu dia ke sana untuk apa.”
Ia menurunkan ponselnya.
Sejak beberapa waktu terakhir, ia masih melihat wajah yang sama, tetapi tak lagi mengenali orang di baliknya.
Dan entah kenapa, perubahan itu jauh lebih mengusiknya daripada ancaman perceraian.
***
Di Panti
Belvina duduk di halaman belakang panti bersama beberapa anak kecil yang mengerubunginya.
Ada yang menarik lengan bajunya. Ada yang memamerkan gambar crayon. Ada yang hanya ingin duduk dekat dengannya.
Ia tertawa kecil sambil membantu seorang anak merapikan pita rambut yang miring.
"Cantik sekali," ujarnya sambil mencubit lembut pipi chubby itu.
Tak jauh dari sana, tangis bayi pecah dari ruang dalam.
Belvina spontan menoleh.
“Sebentar ya.”
Ia bangkit, lalu masuk ke kamar bayi sederhana di sisi bangunan.
Seorang pengasuh tampak kewalahan menenangkan bayi laki-laki yang terus menangis.
“Biar saya coba.”
Belvina mengulurkan tangan. Bayi itu dipindahkan ke pelukannya.
Ia menggendong hati-hati, menepuk punggung kecil itu dengan ritme lembut.
“Sudah… sudah…”
Nada suaranya turun tanpa sadar. Familiar. Hangat.
Beberapa menit kemudian, tangis itu reda. Bayi kecil itu justru tertidur di bahunya.
Pengasuh tersenyum lega. “Ibu hebat sekali.”
Tangan Belvina berhenti bergerak.
Ibu.
Kata itu terasa asing sekaligus menusuk.
Ia menunduk, sorotnya jatuh pada wajah bayi yang damai.
Kalau dulu donasi terlambat datang, anak-anak di panti akan makan bubur encer dua kali sehari.
Ia masih ingat rasa lapar yang ditahan sambil pura-pura kenyang.
Masih ingat malam-malam ketika pengurus tersenyum sambil bilang semuanya baik-baik saja, padahal dapur hampir kosong.
Karena itu tas dan pakaian mahal yang menumpuk di lemari terasa tak masuk akal baginya.
Lebih baik menjadi susu, beras, obat demam atau sepatu sekolah.
Belvina mengecup pucuk kepala bayi itu penuh kasih.
“Semoga hidupmu lebih baik dariku.”
Di Kantor
Ponsel Alden kembali bergetar.
“Pak, Nyonya Belvina masih di panti.”
Alden tetap menandatangani berkas.
“Lalu?”
“Beliau cukup lama di ruang bayi.”
Pulpen Alden berhenti.
“Ruang bayi?”
“Ya, Pak. Ada bayi menangis. Beliau menggendongnya sampai tertidur.”
Ruangan mendadak terasa terlalu tenang.
Alden mengenggam pena lebih erat.
Rumah mereka besar. Terlalu besar untuk dua orang. Dan terlalu kosong untuk disebut rumah tangga.
Pikiran yang tak pernah ia izinkan muncul begitu saja. Belvina kesepian. Ia ingin anak.
Rahang Alden mengeras tipis.
Namun yang lebih mengganggunya adalah pertanyaan berikutnya. Kalau Belvina benar menginginkan keluarga...
Masihkah ia menginginkannya bersama dirinya?
***
Belvina pulang ketika matahari mulai turun.
Langit berwarna jingga pucat, jalanan makin lengang saat mobilnya keluar dari kawasan pinggir kota.
Ia memutar setir pelan, masih memikirkan daftar bahan baku dan oven kecil yang harus dibeli lebih dulu.
Lalu mobil terasa oleng.
Belvina mengernyit.
“Apa lagi?”
Suara gesekan halus terdengar dari sisi kiri depan.
Jantungnya turun sedikit.
“Jangan bilang…”
Ia menepikan mobil ke bahu jalan, lalu turun cepat. Benar saja. Ban depan kempes total. Belvina menutup mata sesaat.
“Bagus. Lengkap sudah.”
Ia mengambil ponsel dan membuka aplikasi taksi online. Layar menyala beberapa detik. Lalu mati.
Belvina menatap ponselnya tak percaya.
“Astaga.”
Baru sekarang ia ingat.
Semalam ia lupa mengisi daya ponselnya. Tadi di panti, sisa baterai yang sedikit itu habis dipakai memutar kartun untuk menenangkan anak kecil yang tantrum dan tak mau makan.
Ia menoleh ke kanan kiri.
Jalan itu sepi. Deretan lahan kosong di satu sisi, pagar tembok panjang di sisi lain. Nyaris tak ada kendaraan lewat.
Tiba-tiba, ia merasa tidak nyaman.
Suara knalpot mendekat. Dua motor berhenti tak jauh dari mobilnya. Empat pria turun perlahan.
Perhatian mereka langsung jatuh pada Belvina. Salah satu menyeringai.
“Adik manis sendirian?”
Belvina menggenggam ponselnya erat.
Yang lain melangkah mendekat.
“Ban bocor ya? Biar kami bantu.”
Nada suaranya terlalu ramah untuk dipercaya.
Belvina mundur setengah langkah.
“Tidak perlu.”
Pria ketiga tertawa pendek.
“Galak juga.”
Matahari turun makin rendah. Jalanan tetap sepi. Dan tak satu pun dari mereka tampak berniat pergi.
...✨Ia datang ke panti membawa harapan, sementara di tempat lain seorang pria mulai sadar bahwa wanita yang ingin ia lepaskan… sudah berubah menjadi seseorang yang tak sanggup ia kehilangan.✨...
.
To be continued
Putramu kalah telak🤭