NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Wanita yang Tak Lagi Sama

Ruang kantor panti sederhana itu dipenuhi aroma teh hangat dan cat dinding lama.

Belvina duduk berhadapan dengan pemimpin panti, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ratna.

Di luar jendela, suara anak-anak masih terdengar bermain.

Belvina mendorong map tipis ke depan.

“Saya tidak ingin uang ini habis begitu saja.”

Bu Ratna menatapnya bingung.

“Maksud Nak Vina?”

“Saya ingin panti ini punya penghasilan sendiri.”

Kalimat itu membuat Bu Ratna terdiam.

Belvina membuka isi map. Beberapa catatan, hitungan modal, daftar alat, dan sketsa sederhana.

“Kita buat toko roti kecil di depan panti.”

Ia menunjuk halaman depan yang menghadap jalan.

“Posisinya bagus. Orang lewat cukup ramai.”

Bu Ratna mencondongkan badan, mulai tertarik.

“Roti juga bisa dititip ke warung sekitar. Kita jual online. Kalau belum langsung laku, tidak masalah.”

Belvina tersenyum kecil.

“Yang tidak habis bisa dimakan anak-anak. Tidak ada yang terbuang.”

Mata Bu Ratna perlahan berubah. Dari ragu menjadi harap.

Belvina melanjutkan, “Saya bisa ajari mereka membuat roti.”

Tangannya menunjuk ke luar.

“Anak yang teliti bisa pegang kasir dan pencatatan. Yang kreatif urus desain kemasan. Yang sabar dekorasi. Yang cerewet bagian promosi live jualan.”

Sudut bibirnya terangkat.

“Yang pemalu biar aman di dapur produksi.”

Bu Ratna tak kuasa menahan tawa haru. Air matanya justru muncul lebih dulu.

“Nak…”

Suara wanita itu bergetar.

“Selama ini orang datang membawa bantuan. Tapi belum pernah ada yang datang membawa masa depan.”

Kalimat itu menyentuh sisi dirinya yang tak pernah menjadi milik Belvina lama.

Bibirnya melengkung tipis.

“Kalau begitu… mari kita mulai.”

Namun Bu Ratna masih tampak ragu. “Tapi nama Nak Belvina terlalu besar. Kalau keluarga tahu Nak Vina berjualan roti…”

Belvina mengulurkan tangan, lalu menggenggam tangan wanita itu hangat.

“Yang memalukan bukan berjualan roti.” Suaranya mantap. “Yang memalukan adalah punya banyak… tapi tidak berguna.”

Bu Ratna memandangnya lama, lalu mengangguk kecil dengan mata yang basah.

Di luar ruangan, tawa anak-anak masih terdengar riang.

Dan setelah sekian lama, tempat itu terasa seperti sedang menunggu masa depan datang.

***

Di tempat lain--

Alden sedang membaca kontrak saat ponselnya berbunyi lagi.

“Tuan, Nyonya Belvina selesai menjual semuanya.”

“Lalu?”

“Beliau pergi ke panti asuhan di daerah selatan kota.”

Alden berhenti membuka halaman berikutnya.

“Untuk apa?”

“Belum jelas, Tuan. Tapi beliau bertemu cukup lama dengan kepala panti.”

Alden mengangkat wajahnya.

“Lalu?”

“Beliau datang membawa beberapa map. Setelah itu berkeliling area depan panti."

Mata Alden bergeser ke jendela kaca besar di belakang mejanya. Kota membentang sibuk di bawah sana, tapi pikirannya tertahan pada satu nama.

Panti asuhan.

Selama ini Belvina tak pernah tertarik pada tempat semacam itu. Jangankan datang, membicarakannya pun tidak pernah.

“Cari tahu dia ke sana untuk apa.”

Ia menurunkan ponselnya.

Sejak beberapa waktu terakhir, ia masih melihat wajah yang sama, tetapi tak lagi mengenali orang di baliknya.

Dan entah kenapa, perubahan itu jauh lebih mengusiknya daripada ancaman perceraian.

***

Di Panti

Belvina duduk di halaman belakang panti bersama beberapa anak kecil yang mengerubunginya.

Ada yang menarik lengan bajunya. Ada yang memamerkan gambar crayon. Ada yang hanya ingin duduk dekat dengannya.

Ia tertawa kecil sambil membantu seorang anak merapikan pita rambut yang miring.

"Cantik sekali," ujarnya sambil mencubit lembut pipi chubby itu.

Tak jauh dari sana, tangis bayi pecah dari ruang dalam.

Belvina spontan menoleh.

“Sebentar ya.”

Ia bangkit, lalu masuk ke kamar bayi sederhana di sisi bangunan.

Seorang pengasuh tampak kewalahan menenangkan bayi laki-laki yang terus menangis.

“Biar saya coba.”

Belvina mengulurkan tangan. Bayi itu dipindahkan ke pelukannya.

Ia menggendong hati-hati, menepuk punggung kecil itu dengan ritme lembut.

“Sudah… sudah…”

Nada suaranya turun tanpa sadar. Familiar. Hangat.

Beberapa menit kemudian, tangis itu reda. Bayi kecil itu justru tertidur di bahunya.

Pengasuh tersenyum lega. “Ibu hebat sekali.”

Tangan Belvina berhenti bergerak.

Ibu.

Kata itu terasa asing sekaligus menusuk.

Ia menunduk, sorotnya jatuh pada wajah bayi yang damai.

Kalau dulu donasi terlambat datang, anak-anak di panti akan makan bubur encer dua kali sehari.

Ia masih ingat rasa lapar yang ditahan sambil pura-pura kenyang.

Masih ingat malam-malam ketika pengurus tersenyum sambil bilang semuanya baik-baik saja, padahal dapur hampir kosong.

Karena itu tas dan pakaian mahal yang menumpuk di lemari terasa tak masuk akal baginya.

Lebih baik menjadi susu, beras, obat demam atau sepatu sekolah.

Belvina mengecup pucuk kepala bayi itu penuh kasih.

“Semoga hidupmu lebih baik dariku.”

 

Di Kantor

Ponsel Alden kembali bergetar.

“Pak, Nyonya Belvina masih di panti.”

Alden tetap menandatangani berkas.

“Lalu?”

“Beliau cukup lama di ruang bayi.”

Pulpen Alden berhenti.

“Ruang bayi?”

“Ya, Pak. Ada bayi menangis. Beliau menggendongnya sampai tertidur.”

Ruangan mendadak terasa terlalu tenang.

Alden mengenggam pena lebih erat.

Rumah mereka besar. Terlalu besar untuk dua orang. Dan terlalu kosong untuk disebut rumah tangga.

Pikiran yang tak pernah ia izinkan muncul begitu saja. Belvina kesepian. Ia ingin anak.

Rahang Alden mengeras tipis.

Namun yang lebih mengganggunya adalah pertanyaan berikutnya. Kalau Belvina benar menginginkan keluarga...

Masihkah ia menginginkannya bersama dirinya?

***

Belvina pulang ketika matahari mulai turun.

Langit berwarna jingga pucat, jalanan makin lengang saat mobilnya keluar dari kawasan pinggir kota.

Ia memutar setir pelan, masih memikirkan daftar bahan baku dan oven kecil yang harus dibeli lebih dulu.

Lalu mobil terasa oleng.

Belvina mengernyit.

“Apa lagi?”

Suara gesekan halus terdengar dari sisi kiri depan.

Jantungnya turun sedikit.

“Jangan bilang…”

Ia menepikan mobil ke bahu jalan, lalu turun cepat. Benar saja. Ban depan kempes total. Belvina menutup mata sesaat.

“Bagus. Lengkap sudah.”

Ia mengambil ponsel dan membuka aplikasi taksi online. Layar menyala beberapa detik. Lalu mati.

Belvina menatap ponselnya tak percaya.

“Astaga.”

Baru sekarang ia ingat.

Semalam ia lupa mengisi daya ponselnya. Tadi di panti, sisa baterai yang sedikit itu habis dipakai memutar kartun untuk menenangkan anak kecil yang tantrum dan tak mau makan.

Ia menoleh ke kanan kiri.

Jalan itu sepi. Deretan lahan kosong di satu sisi, pagar tembok panjang di sisi lain. Nyaris tak ada kendaraan lewat.

Tiba-tiba, ia merasa tidak nyaman.

Suara knalpot mendekat. Dua motor berhenti tak jauh dari mobilnya. Empat pria turun perlahan.

Perhatian mereka langsung jatuh pada Belvina. Salah satu menyeringai.

“Adik manis sendirian?”

Belvina menggenggam ponselnya erat.

Yang lain melangkah mendekat.

“Ban bocor ya? Biar kami bantu.”

Nada suaranya terlalu ramah untuk dipercaya.

Belvina mundur setengah langkah.

“Tidak perlu.”

Pria ketiga tertawa pendek.

“Galak juga.”

Matahari turun makin rendah. Jalanan tetap sepi. Dan tak satu pun dari mereka tampak berniat pergi.

 

...✨Ia datang ke panti membawa harapan, sementara di tempat lain seorang pria mulai sadar bahwa wanita yang ingin ia lepaskan… sudah berubah menjadi seseorang yang tak sanggup ia kehilangan.✨...

.

To be continued

1
Eva Novianti
hahahahahaja lucuuuu
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!