Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Pertama Sebagai Suami Istri
Sepeda motor yang dikendarai Satria akhirnya berhenti di pelataran sebuah supermarket yang cukup ramai. Naira turun lebih dulu dari boncengan sambil melepas helmnya.
"Terima kasih, Mas," ucap Naira manis.
"Ayo," sahut Satria mengangguk pelan setelah memastikan setang motornya terkunci aman.
Mereka berjalan berdampingan memasuki area dalam supermarket. Begitu pintu otomatis terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulit keduanya. Naira melangkah mengambil sebuah troli berukuran kecil.
"Mas, kita belanja secukupnya saja, ya," usul Naira sambil menoleh.
"Kenapa?" tanya Satria menaikkan sebelah alisnya.
"Takut kebanyakan dan mubazir," jawab Naira polos.
Satria tersenyum tipis mendengarnya. "Kalau memang dibutuhkan, tidak apa-apa."
Naira hanya mengangguk pelan menerima jawaban itu. Mereka mulai menelusuri lorong kebutuhan dapur. Dengan cekatan, tangan Naira mengambil beras lima kilogram, minyak goreng, gula, garam, kecap, saus tiram, hingga berbagai bumbu dapur yang stoknya mulai menipis di rumah baru mereka.
"Itu cukup?" tanya Satria yang sejak tadi bertugas mendorong troli di belakangnya.
"Cukup, Mas," jawab Naira memastikan.
"Telurnya?" tanya Satria lagi sambil melirik rak telur di dekat mereka.
"Oh iya, hampir lupa," tepis Naira pelan, lalu mengambil satu rak telur dengan hati-hati.
Mereka kemudian berpindah ke bagian sayur dan daging segar. Suasana belanja sore itu terasa sangat sederhana, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat keduanya menikmati setiap langkah. Sesekali Satria dengan sigap mengambilkan barang yang letaknya terlalu tinggi agar mudah dijangkau oleh Naira.
"Mas, jangan lupa sabun cuci," peningat Naira memeriksa catatan di benaknya.
"Sudah," jawab Satria menunjuk sudut troli.
"Pasta gigi?" tanya Naira lagi.
"Sudah juga," sahut Satria kalem.
Melihat daftar belanja yang perlahan terpenuhi membuat Naira tersenyum puas. Tak lama kemudian, langkah mereka membawa mereka memasuki lorong khusus bahan-bahan membuat kue.
Mata Naira seketika langsung berbinar cerah. Satria yang menyadari perubahan ekspresi istrinya itu tidak bisa menahan senyum.
"Sepertinya ada yang senang," goda Satria pelan.
"Sedikit," aku Naira sambil tertawa kecil, menyembunyikan rasa antusiasnya.
Jemarinya mulai sibuk memilih tepung terigu protein sedang, mentega, butter, kayu manis bubuk, gula palem, vanila, hingga beberapa loyang aluminium berukuran kecil. Satria memperhatikan satu per satu bahan kue itu masuk ke dalam troli belanjaan mereka.
"Buat eksperimen?" tanya Satria menebak.
"Iya," angguk Naira antusias dengan mata berbinar. "tadi Mas Doni sama Mbak Gea menyarankan aku membuat pai apel. Jadi aku mau coba beberapa resep dulu di rumah."
"Nanti aku jadi pencicip pertamanya," tagih Satria dengan nada tenang namun menuntut.
Naira tersenyum lebar, terkejut sekaligus senang. "Mas masih ingat?"
"Tuntutlah. Kan aku sudah dijanjikan," sahut Satria santai.
Pipi Naira kembali memerah mendengar ucapan suaminya. "Kalau nanti rasanya gagal bagaimana?"
"Berarti kita coba lagi. Sampai berhasil," jawab Satria tanpa ragu sedikit pun. Jawaban sederhana itu entah mengapa membuat hati Naira terasa begitu tenang dan dihargai.
Saat melewati bagian buah-buahan segar, langkah Satria tiba-tiba terhenti. "Naira."
"Iya, Mas?" Naira ikut menghentikan langkahnya.
"Kamu suka buah apa?" tanya Satria tiba-tiba.
"Aku?" Naira berpikir sejenak, sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak itu. "Kalau buah... aku paling suka apel. Lalu anggur, dan buah pir."
Satria mengangguk pelan. "Sebentar."
"Mas?" Panggil Naira bingung.
Belum sempat Naira bertanya lebih lanjut, Satria sudah berjalan cepat menuju rak buah. Dengan teliti, ia memilih beberapa apel merah yang segar, satu bungkus besar anggur tanpa biji, dan beberapa buah pir berukuran besar. Setelah memastikan kualitasnya bagus, ia kembali menghampiri Naira dan meletakkan semua buah itu ke dalam troli.
"Mas..." gumam Naira menatap tumpukan buah di depan matanya, lalu beralih menatap suaminya. "Aku kan cuma bilang suka."
"Iya. Makanya kubeli," sahut Satria dengan senyum tipis di bibirnya.
"Padahal tidak harus sekarang semuanya," bisik Naira malu.
Satria kembali mendorong troli mereka menuju arah kasir. "Sesekali tidak apa-apa. Vitamin juga penting untukmu."
Naira hanya bisa menganggukkan kepala pasrah sambil berusaha keras menyembunyikan senyuman manis yang terbit di bibirnya. Entah sejak kapan, perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Satria mulai berhasil membuat jantungnya berdebar tidak keruan.
Hampir satu jam berkeliling, troli mereka akhirnya penuh. Saat tiba di meja kasir, petugas mulai memindai satu per satu seluruh barang belanjaan mereka dengan cekatan.
"Totalnya jadi satu juta tiga ratus delapan puluh lima ribu rupiah, Kak," sebut Mbak Kasir ramah setelah selesai memindai barang terakhir.
Naira refleks membuka tas selempangnya dengan cepat. "Mas, biar aku saja yang bayar sebagian. Ini uangnya," potong Naira, sudah memegang dompetnya dan siap mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Namun, gerakan Satria jauh lebih cepat. Dengan santai, ia mengeluarkan kartu debit dari dompet kulitnya dan menyerahkannya kepada kasir. "Nggak usah."
"Mas, ini belanja keperluan kita berdua. Aku juga bekerja, jadi aku ingin ikut membantu membayar," sanggah Naira menggelengkan kepala, tidak enak hati jika semua harus ditanggung Satria.
Mbak Kasir yang memegang kartu debit Satria hanya bisa memandangi pasutri baru ini bergantian dengan senyum-senyum tertahan.
"Naira," panggil Satria lembut, menatap tepat di manik mata istrinya. "Aku senang kamu ingin ikut meringankan. Tapi, ada hal yang ingin tetap aku jalankan."
"Apa itu?" tanya Naira polos, menahan dompetnya di dada.
"Dalam rumah tangga, nafkah adalah tanggung jawab penuh seorang suami. Dan aku belum merasa keberatan sama sekali. Selama aku masih mampu bekerja, izinkan aku menjalankan kewajibanku dengan baik," jelas Satria dengan nada suara yang dalam, tegas, namun penuh kehangatan.
"Tapi, Mas—" Naira masih mencoba membantah.
"Kalau suatu saat nanti aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, aku pasti akan mengatakannya langsung," potong Satria menggeleng pelan, memberi tanda agar Naira menyimpan dompetnya kembali. "Untuk sekarang... cukup temani aku, doakan aku, dan terus buat rumah kita terasa hangat."
Ucapan telak itu sukses membuat Naira terdiam. Perlahan, ia menurunkan dompetnya kembali ke dalam tas dengan wajah merona hebat.
Mbak Kasir yang sejak tadi menyimak drama rumah tangga romantis di depannya akhirnya tidak tahan untuk tidak ikut berbicara. Sembari mengembalikan kartu debit dan struk, ia tersenyum geli menatap Satria dan Naira.
"Aduh, Mas... Mbak... tolong ya, ini kasir supermarket, bukan tempat audisi sinetron pencari suami idaman," goda Mbak Kasir sambil tertawa kecil, membuat beberapa pelanggan di antrean belakang ikut terkekeh.
"Saya yang masih jomblo di sini mendadak ngerasa kayak butiran debu di rak dadih. Tolong jangan bikin saya iri sore-sore begini, ya!" lanjut mba kasi tersenyum kecil melihat Satria dan Naira secara bersamaan.
"Ah... maaf, Mbak," sahut Naira spontan, wajahnya makin memerah padam karena malu menjadi pusat perhatian.
Satria hanya berdeham kecil, menahan tawa melihat wajah istrinya yang sudah matang mirip kepiting rebus. "Terima kasih, Mbak," ucap Satria singkat, langsung mengambil alih kantong-kantong belanjaan besar itu dengan kedua tangannya yang kekar.
Dalam perjalanan pulang membelah jalanan sore, Naira memeluk erat tas belanja kecil berisi bahan-bahan kue di pangkuannya. Kepalanya bersandar sekilas di punggung tegap Satria yang sedang fokus mengendarai sepeda motor di depannya. Pikirannya mendadak dipenuhi oleh sosok lelaki itu.
"Selama ini... Mas Satria selalu berusaha keras menjalankan setiap kewajibannya sebagai suami tanpa pernah mengeluh," batin Naira dalam hati.
Mulai dari menyediakan tempat tinggal yang layak, mengantar dan menjemputnya bekerja setiap hari, membelikan semua kebutuhan rumah, hingga selalu berusaha menjaga perasaannya dalam setiap keputusan kecil.
Sedangkan dirinya? Naira merasa belum melakukan banyak hal yang berarti untuk membalas kebaikan itu. Ia baru sebatas memasak, menyiapkan bekal, dan merawat rumah hal-hal standar yang memang sudah menjadi kesepakatan mereka sejak awal dan juga ia belum melayani Satria selayaknya seorang istri.
Naira tersenyum kecil di balik kaca helmnya. Ia mengeratkan pelukannya pada tas belanjaan.
"Mas Satria terus belajar menjadi suami yang baik untukku. Kalau begitu... aku juga harus terus belajar menjadi istri yang terbaik untuknya," tekad Naira dalam hati dengan mantap.
Tanpa mereka sadari, perjalanan pulang sore itu bukan hanya sekadar membawa pulang kantong-kantong berisi bahan makanan, melainkan juga membawa pulang satu langkah kecil lagi menuju tumbuhnya rasa yang perlahan namun pasti... mulai berubah menjadi cinta.
Bersambung..