Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menusuk sampai di hati
Bunyi ledakan itu menggelegar kuat sekali. bersamaan dengan rusaknya lantai semen lapangan yang retak berantakan, potongan kecil beterbangan tak jauh-jauh seolah hanya memberi peringatan keras, bukan untuk melukai siapa pun. Asap berwarna oranye pekat mengepul tinggi ke langit malam, membawa serbuk halus yang menempel di tanah membentuk tulisan besar tak terhapus,
"KEADILAN TIDAK BOLEH BUTA!"
Kelimanya melongo tak percaya sambil menahan sorak kegirangan di balik semak-semak.
"Wuih! Ini baru keren banget! Gue kira cuma bikin debu doang, ternyata bisa bikin tulisan rapi begini!" seru Talia berbisik antusias, matanya berbinar kagum melihat karya jenius gadis di sampingnya.
Claire menyeringai bangga sambil menepuk-nepuk debu di tangannya.
"Dibilangin juga gue bisa bikin sesuatu yang berfaedah! Ini cuma efek getaran terarah, nggak ada yang kena bahaya. Cuma rusakin lapangan sekalian ngasih polisi-polisi itu peringatan. Siapa suruh kerja gak becus.
Tapi suara langkah kaki dan teriakan petugas kembali terdengar mendekat, kali ini lebih banyak dan lebih bergegas.
"Cepat pergi sebelum mereka melihat kita!" bisik Lordan memberi isyarat. Mereka segera bergerak mundur perlahan, menjauh dari lokasi sambil terus menunduk, menyusuri jalan sempit yang sudah direncanakan tadi untuk keluar dari area kantor polisi.
Namun belum sampai di jalan sempit tersebut, ada beberapa sosok laki-laki yang kini berdiri tepat di depan mereka dengan tatapan tajam. Awalnya Claire pikir orang-orang itu adalah polisi dan mereka sudah ketahuan. Tapi begitu melihat dengan jelas, ia lebih kaget lagi.
"Mister Jem?!"
Ia menutup mulutnya hendak berbalik kabur, tapi gerakan Jeremy lebih cepat meraih pergelangan tangannya. Di belakangnya berdiri Damian dan Ryan. Damian juga kaget melihat istrinya bersama orang-orang yang tidak dia kenal. Dan seluruh tubuhnya hitam sekali. Semua orang itu, penampakan ke limanya saat ini konyol sekali.
"Hai suamiku, cintaku. Daddy-nya anak-anak." ucap Talia pada Damian dengan senyum lebar merekah. Damian hanya mendengus. Ia tahu sekali sifat Talia kalau sudah begitu.
"TUTUP SEMUA JALAN KELUAR! CARI PELAKUNYA SAMPAI DAPAT!" Teriakan kuat itu menggelegar di seluruh lapangan yang sudah hancur lebur.
"Bos, cari tempat sembunyi dulu. Kita tidak bisa keluar sekarang." kata Ryan maju selangkah.
Jeremy tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya masih fokus ke sang istri dengan tatapan yang seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Aku tahu tempat sembunyi yang aman. Ikut aku." kata Damian lalu menarik tangan Talia dan bergerak lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, sayang. Aku dapat temen baru. Asyik banget mereka bisa bikin bom! Bakat langka itu ya ampun." Bisik Talia dengan wajah sumringah pada Damian.
Sementara Damian belum menggubris ucapan sang istri. Dia terus menarik tangan Talia dan berjalan cepat ke tempat persembunyian yang aman seperti katanya tadi. Di belakang sana, Jeremy berjalan sambil menarik Claire. Tidak bicara sama sekali. Dia masih syok dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sang istri dan teman-temannya.
Lordan, Kean dan Kiara berjalan di belakang mereka. Ryan, sang bawahan berjalan paling belakang sambil menahan tawa. Ia juga sempat syok melihat kenakalan istri bos-nya itu.
"CARI DI BAGIAN BELAKANG! JANGAN SAMPAI MEREKA LOLOS!"
Suara kencang petugas polisi di luar sana kembali terdengar. Suasana di sekitar mereka semakin tegang. Langkah kaki berat dan teriakan petugas polisi terdengar makin dekat, memecah keheningan malam yang sempat tenang. Damian terus berjalan cepat, menuntun rombongan menyusuri lorong sempit dan berkelok di antara bangunan tua bagian belakang kantor polisi. Napasnya teratur, namun genggamannya pada tangan Talia terasa kuat, campuran antara rasa ingin melindungi dan rasa kesal karena tahu istrinya ikut terlibat dalam kekacauan ini.
Sementara itu, di sampingnya, Jeremy berjalan dengan langkah yang jauh lebih sunyi namun jauh lebih mengintimidasi. Ia tak melepaskan pergelangan tangan Claire sedikit pun. Tatapannya yang tajam dan dingin menusuk punggung gadis itu, membuat Claire yang biasanya berisik dan penuh celotehan kini tiba-tiba menjadi bungkam. Sesekali ia melirik suaminya dari sudut mata, berharap melihat sedikit senyum, namun yang didapat hanya wajah keras tanpa ekspresi, seperti batu yang tak tergoyahkan.
"Mister Jem ... kamu nggak marah kan?" bisik Claire pelan, suaranya bergetar sedikit. Jeremy tetap diam, tak menoleh, tapi tekanan pada pergelangan tangannya sedikit mengeras. Itu sudah cukup sebagai jawaban yang jelas.
Mereka akhirnya tiba di sebuah gudang tua yang tertutup rapat, tersembunyi di balik tumpukan peti dan barang bekas. Damian membuka pintu besi yang berderit pelan, lalu memberi isyarat agar semua masuk dengan cepat dan tertib. Begitu pintu tertutup, kegelapan memenuhi ruangan, hanya diterangi sedikit cahaya bulan yang menyelinap lewat celah kecil di jendela tinggi.
Di dalam sana, suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Jeremy melepaskan genggamannya pada Claire, lalu berbalik dengan gerakan cepat. Cahaya samar membelai wajahnya yang tampak mengeras.
"Kau ..." akhirnya dia buka suara juga setelah sekian menit bungkam. Claire langsung bernafas lega mendengar suaranya dan tiba-tiba berlutut di lantai gelap sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Tingkahnya yang tiba-tiba itu langsung membuat semua orang menatap ke arahnya, meski penampakannya tidak begitu jelas.
"Terimakasih ya Tuhan. Telah melancarkan semua rencana kami hari ini dan suamiku gak jadi bisu. Aku pikir tadi dia tiba-tiba bisu karena terlalu syok. Ternyata masih bisa bicara. Terimakasih Tuhan, terimakasih."
Semua orang yang berada dalam ruangan gelap itu menahan tawa karena kerandoman Claire, terkecuali Jeremy yang makin kesal luar biasa dibuatnya. Jeremy maju dan mengangkat Claire yang masih dalam posisi berlutut.
Pruuut ... Brrrap!
Tiba-tiba bunyi kentut keras terdengar memenuhi ruangan sunyi itu. Claire tidak sengaja kentut saat Jeremy menariknya berdiri. Mana bunyinya kuat dan panjang pula. Dan bau. Semua orang refleks menutup hidung mereka dan menatap Claire dengan pandangan berbeda-beda.
"Ya ampun Claire! Lo makan apa sih? Bau banget bangkee!" Seru Kean pelan. Sesekali ia mengambil nafas panjang lalu kembali menutup hidungnya.
"Gila, bau bangeet!" Talia ikut berseru pelan.
Lordan, Kiara dan Ryan sudah mati-matian menahan tawa sambil menutupi hidung mereka. Jeremy? Malu sekali. Istrinya yang kentut tapi dia yang malu.
"Mister Jem sih! Pake narik-narik gitu. Aku kan kalo lagi gugup bisa gitu. Untung gak sampe berak di celana. Udah, nikmatin aja. Anggap bau parfum mahal. Menusuk dan sampai di hati."
Jeremy menatapnya tak percaya, rahangnya mengeras sementara pipinya memerah menahan rasa malu yang luar biasa.
"Parfum? Itu bau yang bisa bikin lalat pingsan, Claire." ucap Kiara pelan. Claire malah tersenyum lebar.
Mereka masih terus berdebar masalah kentut sampai cahaya senter masuk ke dalam ruangan itu dan semuanya langsung merunduk dengan nafas tertahan.
"Ssstt... Diam, jangan nafas semuanya!" Seru Claire asal.
"Gak nafas mati dong, dodol!" Balas Talia yang mulutnya langsung di tutupi dengan tangan besar Damian.
"Diam, tahan nafas, tidak usah bicara." kata Jeremy, lebih ke istri nakalnya.
mister jem ayo dtng, kaya ny claeir cs dlm bhaya/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/