seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyelamatkan ayah ku
Di Malam harinya.gerimis turun cepat di kota Sanata. Angin dingin masuk lewat celah jendela kediaman Hana yang baru.
Hana duduk di ruang makan. Di depannya ada semangkuk bubur ayam hangat untuk kelima pengawalnya. Mereka makan dengan lahap tapi tetap menjaga sikap.
Jay meletakkan sendok. “Nona, kediaman ini aman. Kami sudah memeriksa setiap sudut. Tidak ada lubang tikus pun yang terlewat.”
Hana mengangguk. Matanya menatap peta lusuh di atas meja. Itu peta perbatasan kerajaan yang ia beli dari pedagang tua di pasar gelap.
Logan menunjuk titik hitam di peta. “Ini perbatasan utara, Nona. Tempat pembuangan para tahanan berat. Kondisinya keras. Banyak batu, sedikit air.”
“Di sana ayahku,” kata Hana pelan. Jarinya menekan titik itu. “Namanya Bima. Dia dipenjara karena dituduh mencuri obat Ibu Suri. Padahal itu fitnah ibuku sendiri.”
Kelima pria itu terdiam. Mereka baru tahu majikannya punya latar seberat ini.
Jek bersuara hati-hati. “Nona, perjalanan ke perbatasan butuh dua hari dua malam jika naik kuda. Jalanannya banyak bandit dan tebing curam.”
Hana berdiri. “Kita berangkat malam ini. Tidak perlu kuda. Kita jalan kaki. Lebih cepat dan tidak menarik perhatian.”
Leo mengerut. “Malam ini, Nona? Kondisi gelap. Sangat berbahaya.”
Hana menatapnya tajam, tapi tidak marah. “Aku tidak bisa menunggu satu hari lagi. Setiap detik di sana, ayahku menderita. Aku sudah terlambat 18 tahun. Aku tidak mau terlambat sedetik pun lagi.”
Jay langsung berdiri. “Baik, Nona. Kami ikut. Perintahkan saja.”
Hana mengambil buntalan kainnya. Di dalamnya ada bola peledak jarak jauh dari sistem, beberapa keping emas, dan pil pemulih tenaga. Ia juga mengenakan jubah hitam penutup kepala. Wajahnya hanya terlihat separuh.
Sebelum keluar, ia menoleh ke ruang kosong. “Sistem, aku butuh kekuatan untuk malam ini.”
[Sistem Jahat: Membunuh target yang menyakiti keluargamu akan melipatgandakan kekuatan. Perjalanan ke perbatasan telah tercatat sebagai misi penyelamatan. Hadiah tambahan jika berhasil.]
Hana tersenyum dingin. “Bagus.”
---
Perjalanan ke Perbatasan – Tengah Malam
Hutan gelap. Hanya suara langkah kaki dan napas mereka.
Hana berjalan paling depan. Kecepatan larinya yang baru didapat dari sistem membuat langkahnya ringan. Kelima pengawal kewalahan mengimbangi.
Tiba-tiba Jek mengangkat tangan. “Berhenti.”
Dari semak-semak muncul 3 orang bersenjata. Wajahnya tertutup kain. Bandit.
“Berhenti di situ! Serahkan semua barang berharga kalian!” bentak salah satu bandit.
Hana tidak menjawab. Ia hanya melepas jubahnya pelan.
Bandit itu tertawa. “Wanita kecil. Kau pikir bisa melawan kami?”
Srekkk.
Sebilah belati muncul di tangan Hana. Gerakannya cepat seperti bayangan.
Bugg. Bugg. Bugg.
Tiga tubuh jatuh bersamaan. Tidak ada suara jeritan. Hanya suara napas terakhir.
Kelima pengawal tertegun. Leo bergumam. “Ini... ini bukan gadis biasa.”
Hana menyeka belatinya ke jubah bandit. “Lewat sini aman 2 li ke depan. Jalan terus.”
Ia berjalan lagi tanpa menoleh. Hatinya tidak berdebar. Yang ada hanya satu nama: Ayah.
---
Perbatasan Utara – Menjelang Fajar
Bau keringat, darah, dan lumpur menyengat hidung.
Di kejauhan terlihat barisan tahanan mengangkat batu besar di bawah cambuk para penjaga. Suara cambuk berdesing. Suara rintihan tertahan.
Hana bersembunyi di balik bukit kecil bersama pengawalnya. Ia mengintip dari sela batu.
Matanya mencari satu wajah. Keriput. Rambut memutih. Tubuh kurus tapi punggungnya tetap tegak.
“Di sana,” bisik Jay. Ia menunjuk pria paruh baya yang sedang mengangkat batu lebih besar dari tubuhnya.
Bima. Ayahnya.
Baju tahanan compang-camping menempel di tubuhnya. Luka cambuk mengering di punggungnya. Tapi tangannya tetap kuat menggenggam tali.
Seorang penjaga berteriak. “Bima! Lambat sekali kau! Angkat lebih cepat!”
Cambuk melayang ke udara.
Hana mengepalkan tangan sampai kukunya menancap ke telapak. “Berhenti,” desisnya.
Sebelum cambuk itu menyentuh punggung Bima, Hana sudah melompat dari bukit.
Gerakannya seperti petir. Belati di tangannya memotong cambuk itu di udara.
Para penjaga terkejut. “Siapa kau!”
Hana berdiri di depan ayahnya. Ia melepas penutup kepala. Rambutnya jatuh ke bahu.
Bima menatapnya dengan mata kabur. “Kau... siapa?” Suaranya serak karena kehausan.
Hana berlutut di hadapan pria itu. Air matanya jatuh, tapi suaranya tetap tegas. “Ayah. Aku Hana. Putrimu.”
deggggggggggggggg
Bima terbelalak. Bibirnya bergetar. “Hana? Putriku? Tidak... tidak mungkin. Kau... kau sudah besar...”
Hana menggenggam tangan kasar ayahnya yang penuh kapalan. “Ayah, maafkan Hana karena datang terlambat. Tapi malam ini Hana akan membawa Ayah pulang. Tidak ada yang bisa menyentuh Ayah lagi.”
Bima menggeleng lemah. “Nak, pergi. Tempat ini dijaga ratusan prajurit. Kau akan mati di sini.”
Hana tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak ia hidup kembali. “Ayah tidak perlu khawatir. Putrimu sekarang bukan Hana yang lemah dulu lagi.”
Ia berdiri. Menatap lurus ke arah para penjaga yang sudah mengepung mereka.
“Siapa pun yang berani menyentuh ayahku... akan mati.”
Suara guntur menggelegar di langit. Angin bertiup kencang.
Kelima pengawal Hana maju selangkah, berdiri sejajar di belakangnya.
Perang kecil di perbatasan... baru saja dimulai.
Buggggggggg!!
Tinju Hana menghantam dada penjaga pertama. Tulang rusuknya remuk. Darah menyembur dari mulutnya. Tubuhnya terpental ke batu besar di belakang.
Srekkkk.
Belati Hana menyayat leher penjaga kedua. Darah memancar seperti air mancur. Matanya melot. Tangannya mencakar udara sebelum akhirnya terkulai.
“Aaaahhhkkk,” jerit penjaga ketiga saat kaki Hana menghantam lututnya. Tulutnya patah. Ia jatuh berlutut sambil meraung kesakitan.
Bima terbelalak di belakang Hana. “Hana, berhenti nak! Mereka manusia!”
Hana tidak menoleh. Wajahnya dingin. Matanya merah. “Ayah, mereka yang pertama kali mengangkat cambuk ke punggung Ayah. Mereka pantas mati.”
Srekkkk.
Pedang pendek milik Jay menebas lengan seorang penjaga. Lengannya putus. Darah berceceran ke tanah.
Buggggggggg!!
Tendangan Logan membuat kepala bandit penjaga pecah. Otak dan darah mengotori tanah perbatasan.
Jeritan para tahanan bercampur dengan jeritan para penjaga. Suasana berubah jadi neraka.
“Pencuri! Bunuh mereka!” teriak kepala penjaga. Ia mengangkat tombak dan berlari ke arah Hana.
Hana tersenyum tipis. “Terlambat.”
Srekkkk.
Tombak itu patah jadi dua. Pedang Hana sudah lebih dulu menembus dadanya. Kepala penjaga itu jatuh ke tanah. Matanya masih terbuka.
Jay, Leo, Jek, Logan, dan pria berwajah dingin itu bertarung bahu membahu. Mereka jago bela diri, tapi jumlah musuh terlalu banyak.
Drappppppp... drappppppp... drappppppp.
Suara langkah kaki berdentum dari kejauhan. Tanah bergetar.
Ratusan. Tidak, ribuan pasukan perbatasan datang berlari sambil membawa obor dan tombak. Suara teriakan mereka memecah malam.
“Penyerang! Kepung mereka! Jangan ada yang lolos!”
Wajah kelima pengawal Hana menegang. Keringat dingin jatuh dari pelipis mereka. Leo berbisik panik. “Nona, jumlah mereka terlalu banyak. Kita dikepung.”
Bima menarik lengan Hana. “Nak, lari! Selamatkan dirimu! Ayah sudah tua. Ayah rela mati di sini.”
Hana menoleh. Senyumnya muncul di sudut bibir. Senyum yang membuat Bima merinding.
“Ayah,” bisik Hana. “Aku tidak datang ke sini untuk lari. Aku datang untuk menjemput Ayah. Dan tidak ada satu pun orang yang bisa menghentikanku.”
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Darah musuh menetes dari ujungnya.
Para prajurit berhenti 10 langkah di depan Hana. Mereka ragu. Gadis kecil ini sudah membantai puluhan penjaga tanpa luka sedikit pun.
Kepala pasukan berteriak. “Tangkap hidup-hidup! Kaisar butuh interogasi!”
Hana tertawa pelan. Tawanya menusuk. “Interogasi? Kalian tidak pantas.”
Tangannya masuk ke buntalan kain di pinggang. Ia mengeluarkan bola kecil berwarna hitam. Tidak ada yang pernah melihat senjata seperti itu.
“Sistem, aktifkan bola peledak jarak jauh.”
[Sistem Jahat: Bola peledak siap. Radius ledakan 30 tombak. Hati-hati, Nona.]
Hana melemparkannya ke tengah kerumunan prajurit.
Bola itu berputar di udara. Sunyi selama satu detik.
Duarrrrrrrrrrrrrrrrr!!!
Cahaya putih menyilaukan mata. Gelombang panas menerjang ke segala arah. Tanah terangkat. Batu-batu beterbangan seperti hujan.
Buggggggggg!! Buggggggggg!! Buggggggggg!!
Tubuh para prajurit hancur berkeping. Ada yang terlempar ke udara. Ada yang hanya menyisakan separuh tubuh. Jeritan mengerikan menggema ke seluruh perbatasan.
“Aaaahhhkkk... kakiku!”
“Aaaahhhkkk... mataku! Aku tidak bisa melihat!”
“Tolong... tolong aku...”
Asap tebal menutupi langit. Bau darah dan daging terbakar menyengat.
Hana berdiri di tengah asap itu. Jubahnya berkibar. Wajahnya tidak setitik pun terluka. Ia mengayunkan pedangnya lagi, menebas prajurit yang masih merangkak kesakitan.
Srekkkk.
Kepala prajurit itu menggelinding di tanah.
Bima menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak percaya. Putrinya... putri lemah yang ia tinggalkan 18 tahun lalu, sekarang berdiri seperti iblis pembalasan.
Jay mendekat sambil terengah. “Nona, jalan ke gerbang barat terbuka. Kita harus pergi sekarang sebelum bala bantuan datang lagi.”
Hana menoleh ke ayahnya. Ia menyarungkan pedangnya lalu menggendong Bima yang tubuhnya lemah.
“Pegang erat, Ayah,” kata Hana pelan.
Bima memeluk leher putrinya. Air matanya jatuh. “Hana... maafkan Ayah...”
Hana tidak menjawab. Ia hanya berlari menembus hujan darah dan asap, diikuti kelima pengawalnya.
Di belakang mereka, perbatasan terbakar. Ribuan prajurit tewas tanpa tahu siapa gadis iblis yang datang malam itu.
bagaimana? lanjutkan lagi ?