NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"Kamu terdiam," Shegan menatap tajam ke dalam mata Nadira. "Kamu tidak sedang memikirkan cara untuk mengambil surat wasiat itu, kan? Karena jika ya, kamu akan sangat kecewa. Kakek sudah mengubah isi surat wasiatnya minggu lalu."

Tanah seolah menelan kaki Nadira. Darahnya berdesir dingin. Perubahan surat wasiat? Mengapa Clarissa tidak tahu ini? Atau apakah Clarissa sengaja menyembunyikannya darinya? Pikiran Nadira berputar liar, mencoba menghubungkan potongan-potongan

informasi yang saling bertentangan.

"Apa maksudmu?" tanya Nadira, suaranya parau.

"Maksudku, permainan yang kau mainkan selama ini mungkin sudah berakhir sebelum ia mulai," Shegan menyeringai, menikmati kekacauan yang ia timbulkan. "Tapi, aku punya tawaran untukmu. Berhenti bekerja sama dengan Dinda. Dia hanya menggunakanmu untuk membersihkan jalannya. Bergabunglah denganku, dan mungkin aku bisa melobi kakek untuk mempertahankan namamu di surat itu."

Nadira menatap wajah Shegan, mencari kebohongan di sana. Tapi mata pria itu terlihat sangat yakin, sangat tulus dalam pengkhianatannya. Ini adalah pengkhianatan di tingkat yang baru. Dinda mengancamnya, Shegan memanipulasinya. Dan di tengah semua itu, ia adalah Nadira, jiwa yang terperangkap di tubuh yang dibenci semua orang, tanpa sekutu sejati.

"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Bukankah kamu juga sama saja! Mengincar surat wasiat itu?"

"Jangan membuat kesimpulan tanpa bukti, Clarissa. Kamu belum sepenuhnya tahu tentangku,"

"Tidak ada manusia yang hidupnya mulus tanpa imbalan yang menguntungkan. Aku sudah hafal dari rencana yang kamu tawarkan barusan,"

"Terserah apa maksudmu. Aku hanya ingin membantumu,"

"Kalau begitu aku tidak butuh bantuanmu, Shegan," Nadira berkata, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa mempercayai Shegan, tidak sekarang. "Dan aku tidak sedang merencanakan apa-apa. Aku hanya ingin sarapan pagiku tidak terganggu oleh keluarga yang obsesif." Nadira berjalan

melewati Shegan, bahunya bersenggolan dengan dada pria itu, mencoba menunjukkan keberanian yang sebenarnya tidak ia miliki.

Namun, saat ia melangkah keluar ruangan, Nadira mendengar suara Shegan di belakangnya.

"Kamu bisa berbohong pada kami, Clarissa. Tapi kamu tidak bisa berbohong pada kakek. Dan pastikan kamu mengunci pintu ruang kerjamu dengan benar mulai sekarang. Karena jika tidak, Dinda akan menemukan apa yang kau sembunyikan... dan aku tidak akan ada di sana untuk menyelamatkanmu."

"Lagi pula siapa yang akan minta tolong padamu!"

Nadira berjalan cepat menuju kamarnya, menutup pintu dan menguncinya dengan gemetar. Ia merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu kayu yang keras.

Dunia di luar sana jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Nadira curiga, Dinda dan Shegan mengetahui lebih banyak dari yang ia tahu, dan surat wasiat itu mungkin sudah berubah.

Ia harus segera bertindak, atau ia akan kehilangan segalanya sebelum ia benar-benar memilikinya. Ia harus mencari tahu isi surat wasiat yang baru. Itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan ia tidak bekerja sia-sia. Tapi bagaimana ia bisa mengakses dokumen itu tanpa ketahuan? Clarissa pasti punya rencana cadangan, semacam penyimpanan rahasia atau orang dalam di kantor notaris. Nadira harus menemukannya, menyelami sisi gelap memori Clarissa yang mungkin saja menjadi kunci keselamatannya.

Nadira bangkit dari lantai, menatap wajahnya di cermin meja rias. Wajah Clarissa yang cantik dan dingin menatapnya kembali.

"Kita harus bekerja sama jika kamu tidak ingin kehilangan semua yang kamu banggakan," bisik Nadira pada bayangannya.

Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang menekan. Nadira mengerti, dalam permainan ini, hanya ada satu orang yang bisa ia percayai, yaitu dirinya sendiri, dan kecerdikan Nadira yang sebenarnya.

Ia mengambil jaket dari gantungan, memutuskan untuk pergi keluar, jauh dari mansion yang pengap ini. Ia butuh ruang untuk berpikir, dan mungkin, bertemu dengan seseorang yang masih setia pada Clarissa di dunia luar.

Jika surat wasiat berubah, maka ia harus mengubah strateginya. Warisan dua ratus triliun itu bukan lagi sekadar hadiah, itu adalah pertaruhan nyawa.

Saat ia membuka pintu kamar untuk pergi, ponselnya berdering kembali. Nadira menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Nama yang muncul bukan Dinda, bukan Shegan, melainkan sebuah nama yang tidak dikenalnya, namun terasa familiar di bagian paling gelap dari memorinya. Sebuah nama yang membuat tangan Nadira terpaku di udara, ragu untuk mengangkat atau membiarkannya berdering sampai habis.

Napas Arga memburu cepat saat ia menatap Nadira dengan mata menyipit. Punggungnya

menekuk ke depan, menahan sisa amarah yang hampir meledak dari dadanya.

"Dinda lagi? Apa yang direncanakan sepupumu itu sampai kalian harus bicara rahasia di belakangku?" tanya Arga dengan nada menuduh yang menggetarkan kaca jendela di sekitar mereka.

Nadira menarik napas panjang melalui hidungnya, mencoba meredam kepanikan yang melilit tenggorokannya. Ia menatap lantai marmer, menghindari sorot mata tajam pria itu agar tidak terbaca saat sedang berbohong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!