NovelToon NovelToon
(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Saras Arindu

Nikah muda sesungguhnya tidak begitu masalah buat Arin, tapi kenapa harus mendadak? Tanpa pesta dan terkesan buru-buru. Apalagi calon suaminya yang tidak dikenalnya, ralat, tidak ia ketahui sama sekali, bahkan hanya untuk nama.

Dihari H, ia dikejutkan dengan satu hal bahwa suaminya adalah kakak dari mantan terindahnya. Kenyataan itu membuatnya merasa aneh dan berpikir bahwa ia sedang dipermainkan.

Tapi tanpa Arin sadari seiring berjalannya waktu, tingkahnyalah yang seakan mempermainkan kakak beradik itu.

Penasaran bagaimana kisahnya? Bagaimana Arin mempertahankan pernikahannya dan menyatukan dua bersaudara yang bersitegang karenanya? Jika ingin tahu jawabannya, mari baca dari awal sampai akhir.
***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Arindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

 

 

Kenzi menatap sketsa yang ia buat disebuah kertas. Lalu memperhatikan sekitaran

ruang kerjanya. Puluhan remasan kertas berhamburan. Sudah dua jam ia berkutat

dengan kertas-kertas gambar itu tapi tak ada hasil yang membuatnya merasa puas.

Lagi dan lagi ia menggambar lalu ia buang.

Hal

seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali, sangat

sering. Ia sering kali tidak merasa puas dengan hasil gambarnya sendiri. Kenzi

adalah seorang arsitek bidang hunian tapi ia juga mahir dalam bidang komersial

dan landscape(pertamanan).

Merasa

lelah, Kenzi berhenti. Ia menyandarkan badannya kesandaran kursi. Matanya ia

tutup, berharap hal itu berusaha merefresh otaknya.

Tiba-tiba

terdengar isak tangis seseorang. Kenzi menolehkan kepalanya. Ia melihat Arin

dirungan berbeda disampingnya, sedang menangis sambil membaca novel. Karena

dindingnya yang terbuat dari kaca maka dari itu ia bisa melihat apapun yang ada

disana, ruang baca, tapi siapa pun yang ada dirungan baca itu tidak akan bisa

melihat Kenzi dan seisi dalam ruang kerjanya.

Kenzi

tertawa pelan sambil berdiri dari kursinya. Ia keluar dan duduk disamping Arin.

Arin sama sekali tak menghiraukannya dan masih menangis tapi masih melanjutkan

bacaannya. Kenzi mendengus lalu merebut paksa novel yang dibaca Arin membuat

gadis itu memberengut.

"Aku

belum selesai." Rengek Arin, berusaha merebut kembali novelnya.

Kenzi

berusaha menghindarkan novel itu dari jangkauan tangan Arin, ia membaca sekilas

dihalaman terakhir yang Arin baca. Ia mendengus lagi. "Kenapa perempuan

sangat suka bacaan seperti ini sih?"

"Ih,

kembalikan!" Arin masih berusaha mengambil kembali novelnya.

Kenzi

mendorong dahi Arin dengan telunjuknya agar kembali duduk ditempatnya semula.

"Sudah malam, bacaannya dilanjutkan besok saja."

Arin

menengkurapkan tubunnya asal diatas karpet yang mereka duduki. "Ngga

mau!" Kata Arin, ia tanpa sadar berucap dengan nada manja.

Kenzi

memukul-mukul pelan betis Arin. "Jangan biasanya tidur larut malam! Tidak

baik."

"Kalo

udah mau tidur ya tidur aja sana, duluan, aku belum ngantuk." Sungut Arin.

"Masih

ada pekerjaan harus aku selesaikan segera. Kamu tidur duluan ya? Tidak baik

begadang terlalu sering."

Arin

bangkit. "Emang pekerjaanmu apa sih?" Jujur sudah lama ia ingin

menanyakan perihal pekerjaan Kenzi tapi ia sering lupa.

"Pekerjaanku

merupakan sesuatu yang rumit. Tidak semua orang bisa mengerjakannya."

Jawab Kenzi berbelit.

Arin

mendengus kesal. "Kalo mau belajar pasti bisa lah. Jawab jujur! Apa

pekerjaanmu?" Ia menatap Kenzi tajam. "Oh, jangan-jangan kamu pembuat

bom ya?" Tuduhnya.

Kenzi

terkekeh seraya mengacak rambut Arin. "Jangan su'udzon! Sudah, pergi tidur

sana." Kenzi beranjak berdiri hendak kembali kedalam ruang kerjanya.

Cepat

Arin menarik salah satu tangan Kenzi. Ia ikut berdiri juga. "Dari pada

suntuk kerja sendirian, aku temani ya didalam sana?" Bujuknya, ia sangat

ingin tahu apa sebenarnya pekerjaan Kenzi. Arin kerap kali berpikir mungkin

Kenzi pegawai kantoran yang posisinya sudah cukup tinggi kisaran manager. Tapi

beberapa kali Arin melihat Kenzi tidak pergi bekerja pada hari dan jamnnya

pekerja kantoran. Atau dia bosnya? Cih, Arin sudah bosan berpikiran seperti itu

tentang Kenzi.

"Eeeh

jangan!" Kata Kenzi panik membuat Arin memicingkan kedua matanya.

"Jangan-jangan

bener ya dugaanku? Iya 'kan?"

"Mana

ada orang buat bom ditempat seperti ini?"

"Ya

kali aja didalam sana buat rancangannya, terus pabriknya ditempat lain."

"Jangan

ngaco kamu!"

"Makanya,

aku ikut kedalem, temani kamu kerja jadi ngga suntuk sendirian." Rayu Arin

lagi sambil mengoyang-goyangkan lengan Kenzi.

"Tidak.

Sekali tidak ya tidak. Ruangan ini terlarang untuk kamu." Kenzi masih pada

pendiriannya yang tidak mengijinkan Arin masuk kedalam ruang kerjanya.

Arin

jadi semakin penasaran apa isi ruangan itu sampai otaknya kembali berpikir yang

macam-macam. "Kenapa? Didalam banyak poster bokep ya?" Tuduhnya lagi.

Kenzi

menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan segala pikiran buruk

Arin. "Tidak ada hal aneh didalam sana." Katanya sambil menggaruk

hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Kalo kamu memang mau liat

pekerjaanku, duduk saja disana!" Kenzi menunjuk karpet ditengah ruangan.

"Duduk manis disana dan tunggu aku mengambil pekerjaanku. Jangan ikut

masuk!"

Akhirnya

ekspresi Arin sedikit berubah. Sementara Arin berbalik menuju karpet, Kenzi

cepat masuk kedalam ruang kerjanya. Tidak lupa dikunci terlebih dahulu agar

Arin tidak masuk saat ia tengah membereskan pekerjaannya yang akan ia bawa

keluar.

Begitu

ia keluar, tidak ada Arin disana. Mungkin kekamar mandi, pikir Kenzi. Kenzi

meletakkan gulungan-gulungan kertas dan lainnya yang ia bawa diatas karpet. Ia

mengambil meja kecil yang tingginya sampai lututnya didekat rak buku. Lalu

menggelar salah satu gulungan kertas itu diatas meja itu.

"Oooh

tukang gambar bangunan toh." Celetuk Arin tiba-tiba sudah ada

disampingnya. Ia datang membaca nampan berisi secangkir teh manis hangat

untuknya dan secangkir kopi hitam panas untuk Kenzi, tak lupa dengan cemilannya

sekalian. "Bilang kek dari tadi. Jadi tukang gambar saja belagu pake disembunyiin."

Gerutunya.

Kenzi

terkekeh pelan. Ia menerima sodoran cangkir kopi dari Arin. "Terima

kasih." Gumamnya sebelum menyeruput kopi hitam itu. "Kamu tambah

pintar ya. Manis kopinya sudah pas, tidak kurang manis atau kemanisan seperti

biasanya."

"Iya

dong." Jawab Arin. Matanya fokus mengamati hasil gambar Kenzi. Ia tidak

menyadari Kenzi yang mencicipi teh manisnya. "Akh.." pekiknya

tiba-tiba. Ia melotot tajam pada Kenzi yang baru saja memukul tangan besarnya

pada dahi Arin.

Kenzi

balas melotot. "Sudah dibilang kalo makan atau minum jangan terlalu manis.

Tehmu ini kemanisan tahu." Sekali lagi Kenzi memukul dahi Arin.

Arin

memberengut, "Ih biarin aja kali, sekali-kali." Jawabnnya membuat

Kenzi kembali melotot dan hendak memukul dahinya lagi. Cepat ia menutup dahinya

dengan telapak tangannya. Akhirnya, hidungnyalah yang menjadi sasaran cubitan

Kenzi.

"Jangan

begitu! Kamu itu sudah manis, jangan kamu tambah lagi dengan minum dan makan

yang terlalu manis." Kata Kenzi dengan suara lembut.

"Duh..

duuhh yang ngegombal." Cibir Arin. Tapi walaupun begitu wajahnya tampak

merona.

"Kamu

ini." Kenzi memperbaiki posisi duduknya menghadap meja. "Sudah, ngga

jadi kerja kalo kamu ganggu terus."

"Dih,"

Setelah

Kenzi fokus pada pekerjaannya, Arin pun ikut terdiam. Mata Arin juga fokus pada

gambar dihadapannya. Tapi sesekali matanya memperhatikan Kenzi yang serius.

Sesekali juga ia menanyakan sesuatu yang tidak dimengertinya dari gambar itu.

Sembari

mengamati Kenzi menggambar, Arin memakan brownis yang dibawanya. Ia juga

menyuapkan brownis itu ke mulut Kenzi, Kenzi tidak menolak suapan Arin

sementara fokusnya masih pada pekerjaannya. Arin terkikik geli melihat ada

coklat yang menempel didekat bibir Kenzi. Dengan pelan dan hati-hati, masih

menjaga gerakannya agar tidak mengganggu konsentrasi Kenzi, Arin membersihkan

sekitar bibir Kenzi dengan tisu.

Menit

demi menit berlalu, sekarang sudah pukul 11.43 p.m.. Mata Arin sudah tidak

tertarik lagi pada gambar buatan Kenzi. Sekarang ia tengah memperhatikan paras

tampan Kenzi yang sedang fokus dan berhias kacamata. Arin tersenyum kecil, ia

sudah pernah bilang bukan kalau ia suka ekspresi Kenzi yang tengah serius. Dan

sekarang ia tengah menikmati pemandangan itu.

Selang

beberapa menit kemudian ia mulai mengantuk. Kepalanya ia tundukkan, meski

pandangannya sudah berbayang tapi ia masih bisa melihat kaki Kenzi dan telapak

kakinya berhadapan. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang karena sadar akan perbedaan

ukuran telapak kaki mereka. Selama ini ia sudah yakin kalau kaki Kenzi sangat

besar karena melihat ukuran sepatu Kenzi yang juga besar. Tapi baru sekali ini

ia memperhatikan perbandingan ukuran kaki mereka. Hal itu membuat Arin tertawa.

"Kenapa?"

Tanya Kenzi yang heran dengan tawa Arin yang tiba-tiba padahal tadi ia sudah

melihat gadis itu mulai mengantuk.

"Lihat!"

Arin merapatkan telapak kaki mereka lalu ia tertawa lagi. Melihat tawa Arin

yang begitu ceria, Kenzi juga ikut tertawa.

"Kakiku

jadi keliatan kecil banget kalo dideketin dengan kakimu, kak." Katanya

masih dengan kikikan pelan. "Entah kakiku yang kekecilan atau kakimu yang

terlalu besar, kak."

"Ukuran

kaki itu seimbang dengan besar dan tinggi badan. Kakimu kecil karena badanmu

kecil, kalo badanmu kecil terus kakimu besar 'kan lucu." Kenzi memberi

sedikit penjelsana.

Arin

menampilkan cengirannya. Lalu matanya menangkap tangan Kenzi yang memegang

pensil. Diambilnya tangan itu lalu disatukan dengan tangannya. Lalu ia tertawa

lagi karena ukuran tangan mereka yang ukurannya juga jauh berbeda.

"Aku

baru sadar loh, hahahha.." Arin terus tertawa membuat Kenzi menyerngitkan

keningnya heran. Ia belum pernah melihat Arin yang tertawa seperti ini apalagi

hanya karena hal yang menurutnya sama sekali tidak lucu.

Tiba-tiba

kepala Arin jatuh kelengan Kenzi. Perlahan tawanya meredah sebelum benar-benar

hilang. Lalu yang terdengar hanyalah deru nafas Arin yang teratur.

"Hah?

Tidur?" Kenzi tertawa pelan. Ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak

menyangka Arin akan tertidur setelah tertawa lepas.

***

Arin

baru selesai pakai baju saat ponsel Kenzi yang berada diatas nakas berdering.

Ia ingin turun dan memberikan ponsel itu pada sang pemilik tapi melihat id

caller-nya, ia mengurungkan niatnya dan duduk manis ditepi ranjang.

"Kak

Iyaaaaannn..." pekiknya girang saat mendengar suara Ryan yang berucap

hallo disebrang sana.

"Eh,

Arin?" Tanya Ryan terdengar heran.

"Iya

ini aku, Arin." Jawab berubah ketus.

Terdengar

suara Ryan yang tertawa pelan. "Kenapa?"

""Kenapa?""

Arin mengulang ucapan Ryan. "Sombong banget sih sekarang. Kak Iyan juga

kemana aja selama ini? Arin kangen tahu." Rajuknya dengan nada manja.

Ryan

terkekeh lagi. "Kak Iyan juga kangen Arin ini."

"Kalo

kangen temuin dong... eehh," tiba-tiba sesorang merebut ponsel itu dengan

kasar. Arin menoleh pada Kenzi yang menatapnya tajam.

"Kak,

pinjam dulu dong! Itu kak Iya--"

"Jangan

lancang Arin!" Bentak Kenzi marah lalu keluar sambil membanting pintu.

Arin

tergugu ditempatnya. Ia sangat syok dengan bentakan Kenzi. Beberapa detik Arin

seperti orang linglung. Ia tak menyangka Kenzi akan semarah itu padanya. Selama

hampir satu bulan tinggal bersama Kenzi, ini kali pertama Kenzi membentaknya

begitu keras.

Jantung

Arin berpacu begitu cepat. Ada yang terasa sakit dibagian dadanya sampai

membuat air matanya menetes perlahan.

"Kenapa

kak Ken sangat marah?" Tanya Arin entah pada siapa sambil memegang

dadanya.

1
💝🧚SHA_QUANDRA 😇
Kenzi pergi selama itu psti karena merasa sakit hati liat bininya yg msh bermanja2 ke mantan. Lagian si bini jg gk bs menempatkan diri dgn sewajarnya. Gak tahu batasan. Polos sih polos tp ini terkesan bodoh si arin. Mending kenzi cari bini aja lg.
fifid dwi ariani
trus bersyukur
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus berkarya
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus sehat
Fitriyani Puji
ini crita nya galih sembuh dan menikah ama risda ato bagemana ini
Fitriyani Puji
kamu ngak tau aja di hamil pertama arin tidak tkut kluar mlm untuk cari makn ,jangn bilang erin di culik galih lagi
Fitriyani Puji
ini ank ngak ada dwasa nya ya ya jelas emosi kalo kerj d gangu mndeng kalo di sayang ini kaya ayam di cabuyi bulu nya kalo aku udah tk tendang
Fitriyani Puji
kenapa ngak lngsong aja ngak usah seassn 2
Fitriyani Puji
jangan lagi ada konflik ya seasen 2 biar kn mereka bahagia jangan ada lagi kemelut
Fitriyani Puji
trnyata kenzi suami pengertian semoga slalu tentram dan bahagia amiin
Fitriyani Puji
hhhhh gokil mereka
Fitriyani Puji
lsnjut thor jangan ada konflik baru lagi
Fitriyani Puji
kenapa mati thor dia belum menyesali perbuatan jahat nya pada ank sendiri hadeeeeh
Fitriyani Puji
bagemana bisa ank kandong berasa ank tiri ternyata kenzi sudah menderita sejk balita semoga kedepanya dia bahagia dengan kluarga kecil nya amiin
Fitriyani Puji
oalah ibu macam apa itu msak ngak merasa dia ank sendiri anh deh
Fitriyani Puji
ah rahasia apa lagi thor kenapa bnyak sekali teka teki nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!