Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 22
Malam berlalu dengan sangat cepat. Kediaman Juragan Tama malam itu terlihat luar biasa ramai. Bagaimana tidak? Sang tuan rumah dengan sukacita menggelar acara selamatan besar-besaran untuk merayakan kehamilan Andini. Semua warga desa berkumpul memenuhi rumah utama. Ruang depan yang sengaja dikosongkan dari kursi-kursi membuat para tamu bebas duduk lesehan dengan nyaman.
Tama dan Andini duduk berdampingan di tengah-tengah warga, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat serta doa baik dari para tetangga dan pekerja di bawah naungan mereka. Di sudut ruangan, ayah dan ibu Elsa yang ikut hadir tampak celingukan, mata mereka sibuk menyapu ruangan mencari keberadaan putri mereka.
"Pak... Si Teteh mana, ya? Kok dari tadi Ibu enggak Melihat batang hidungnya," bisik Ibu Elsa cemas.
"Enggak tahu, Bu. Mungkin si Teteh lagi di kamar. Ya sudah, kita langsung temui Juragan saja dulu untuk mengucapkan selamat," jawab Ayah Elsa mengajak istrinya berdiri.
Keduanya lantas melangkah mendekati tempat duduk Juragan Tama dan istri pertamanya. "Selamat malam, Juragan... Nyonya..." sapa Ayah Elsa dengan senyum ramah dan gestur membungkuk sopan.
Tama yang menyadari kehadiran mertuanya hanya menyunggingkan senyum tipis, sangat kontras dengan Andini yang langsung melempar tatapan dingin penuh ketidaksukaan.
"Selamat, Juragan. Semoga kehamilan Nyonya Andini sehat dan selamat sampai bayinya lahir nanti," ucap Ayah Elsa tulus.
"Oh, tentu saja!" sahut Andini dengan nada ketus yang sengaja direndahkan agar tidak memicu perhatian warga. "Makanya, setelah ini, lebih baik anak perempuan kalian itu dibawa pulang saja. Keberadaannya di rumah ini benar-benar mengganggu saya. Bisa-bisa saya stres setiap hari kalau harus melihat tingkah anak kalian yang bar-bar itu."
Mendengar unek-unek tajam yang keluar dari mulut madu anaknya, sepasang suami istri itu langsung saling berpandangan dengan raut wajah tidak enak. Tama dengan sigap menggenggam tangan Andini, lalu menggelengkan kepalanya pelan—mengisyaratkan sang istri untuk tidak meneruskan kalimat ketusnya.
"Maaf, Juragan... Nyonya... Kalau selama ini Elsa selalu membuat Juragan dan Nyonya pusing," ucap orang tua Elsa, menunduk pasrah. Tama mengangguk maklum untuk menenangkan mereka, sementara Andini langsung membuang muka dengan angkuh.
•••••••••••••••••
Sangat berbeda dengan atmosfer riuh di luar, di dalam kamar belakang, Hana—atau yang kini menempati raga Elsa—sedang duduk termenung di tepi ranjang. Kepalanya yang terluka kini sudah terbungkus rapi oleh balutan perban putih.
Otaknya mulai berputar cepat, menimbang-nimbang setiap kemungkinan yang ada di kepalanya. 'Gue harus gimana sekarang? Apa gue pilih kabur aja ya dari rumah toxic ini?' pikirnya pelan.
'Nggak, nggak... Jangan bodoh! Kalau gue kabur sekarang tanpa persiapan dan tanpa duit, hidup gue di luar sana malah bakal makin luntang-lantung. Nggak bakal enak!' Elsa menggeleng keras, menolak ide mentah itu.
Sebuah seringai tipis mendadak terbit di wajah manisnya. 'Gue harus pakai cara lain. Gue harus bisa merayu si Tama, kuras hartanya pelan-pelan, baru setelah pegang modal banyak gue kabur sejauh mungkin dari desa sialan ini! Iya, itu satu-satunya cara terbaik. Gue cuma perlu bertahan sebentar lagi.' tekad Elsa berapi-api.
Perutnya yang mendadak berbunyi nyaring memotong aksi monolognya. Karena sudah tidak tahan dengan rasa lapar yang melilit, Elsa bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar.
Saat kakinya melewati ruang tengah yang mulai sepi karena para warga sudah pulang, matanya menangkap pemandangan Tama dan Andini yang sedang bermesraan di atas sofa. Tama terlihat asyik berbaring di pangkuan istri tuanya, sementara wajahnya terus maju untuk mengecup lembut perut rata Andini.
Sebenarnya Elsa sudah tahu dari bisik-bisik pelan pelayan dapur kalau Andini hamil. Jadi dalam benaknya, dia merasa kesempatannya untuk mengambil hati Tama mungkin sudah tertutup rapat, yang berarti dia harus memutar otak lebih keras untuk rencana pengurasan harta itu.
Langkah kaki Elsa membuat pasangan suami istri itu tersadar. Mereka spontan menoleh dan menatap Elsa dengan pandangan yang bertolak belakang. Tama yang merasa seperti tertangkap basah langsung dengan cepat bangkit dari posisinya dan duduk tegap dengan kikuk. Sementara Andini, dengan kebencian yang tampak mendarah daging, menatap punggung Elsa dengan sorot mata sinis yang menghunus. Elsa tidak peduli, dia tetap melenggang santai menuju dapur.
Begitu sampai di area dapur yang sudah sepi, Elsa langsung menggeledah meja. Matanya berbinar saat menemukan kotak berisi sisa kue brownies dari acara syukuran tadi. Tanpa pikir panjang, Elsa langsung mengambil potongan besar kue itu dan melahapnya. Mulut kecilnya mengunyah penuh kepuasan, menikmati rasa manis legit yang meleleh di lidahnya.
Di sisi lain, Andini yang sudah merasa kelelahan berpamitan pada Tama untuk masuk ke kamar tidur lebih dulu. Tama mengangguk pelan, membiarkan istrinya pergi. Setelah punggung Andini menghilang di balik pintu, Tama mengembuskan napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pria besar itu merasa lelah dengan kerumitan hidupnya sendiri.
Ingatannya mendadak kembali pada kondisi Elsa. Dengan gerakan cepat, Tama bangkit dari duduknya dan melangkah lebar menuju area dapur. Begitu sampai di ambang pintu, langkahnya memelan saat melihat Elsa yang sedang asyik melahap kue sisa dengan pipi yang menggembung lucu.
Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di wajah tegas sang Juragan. "Apa rasanya enak?" tanya Tama lembut sembari berjalan mendekat.
"Uhuk! Uhuk!" Elsa langsung tersedak hebat. Dia benar-benar terkejut mendengar suara bariton yang tiba-tiba menginterupsi aktivitas makannya.
"Astaga... Pelan-pelan. Ini, minum dulu," ucap Tama sigap. Pria itu dengan cepat mengambilkan segelas air putih dan mengulurkannya tepat di depan wajah Elsa.
Elsa menyambar gelas itu dengan cepat, meminumnya hingga tandas untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya. Setelah napasnya kembali teratur, dia menatap Tama dengan raut wajah merengut jengkel. "Juragan ini kayak hantu ya? Datang enggak ada suaranya, ngagetin orang aja!"
"Maaf... Saya yang salah," ucap Tama pelan, memilih langsung mengalah tanpa membantah.
Elsa seketika terdiam, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat heran. 'Tumben nih si Gergasi bisa diajak kompromi dan langsung minta maaf,' batin Elsa keheranan melihat perubahan drastis sikap pria di depannya.