Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan khawatir Alden
Suasana di area sekolah justru jauh lebih bising dan ramai dari biasanya. Aula penuh dengan riuh rendah suara anak-anak baru yang sedang mengikuti berbagai kegiatan, sementara musik dari pengeras suara sekolah terdengar menggema hingga ke koridor kelas XII.
di tengah kebisingan itu, Alden tetap duduk di barisan belakang kelasnya yang cenderung sepi karena sebagian besar anak kelas dua belas memilih nongkrong di kantin atau melihat anak baru di lapangan. Sebagai ketua OSIS atau kakak kelas, Alden seharusnya ikut memantau jalannya MPLS, tetapi ia justru memilih menyendiri di kelas kosong ini.
Kedua tangannya saling bertaut di bawah meja, sesekali jemarinya mengetuk lutut dengan gelisah. Tatapannya tertuju ke luar jendela, memperhatikan kerumunan siswa baru yang berlarian di lapangan bawah, namun pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Fokusnya tertinggal jauh di kamarnya sendiri.
Apakah dia sudah bangun?
Apakah dia mau menyentuh sarapannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, merusak konsentrasinya total. Kilasan wajah pucat Aleta saat pingsan semalam dan noda kemerahan yang ia ciptakan sendiri terus membayangi benaknya. Rasa bersalah yang teramat sangat berbaur dengan rasa posesif yang egois. Ia sengaja mengunci pintu kamar dari luar sebelum berangkat ke sekolah tadi pagi, semata-mata karena ia tahu, jika pintu itu terbuka sedikit saja, Aleta pasti akan langsung berlari meninggalkannya. Dan Alden belum siap melepaskannya.
Tangan kanannya perlahan merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel, lalu membuka aplikasi pesan. Ia menatap layar itu dengan dahi berkerut, ragu apakah harus menghubungi Bi Sumi sekarang untuk menanyakan keadaan Aleta, atau tetap menahan diri.
🌍🌍🌍
Alden menatap layar ponselnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar. Dengan gerakan tegas, ia memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana abu-abunya.
Ia tidak boleh terlihat lemah atau terdistraksi. Sebagai Ketua OSIS, seluruh jalannya MPLS tahun ini berada di bawah tanggung jawabnya. Ratusan pasang mata siswa baru, guru-guru, hingga anggota panitia lainnya tertuju padanya. Ia harus tetap profesional, menjaga wibawa, dan memastikan acara hari ini berjalan tanpa cela—terlepas dari badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya sendiri.
Alden bangkit dari kursinya, merapikan seragamnya yang sedikit kusut, lalu memasang kembali topeng wajahnya yang dingin, datar, dan tak tersentuh.
Begitu ia melangkah keluar dari kelas dan menyusuri koridor menuju aula utama, beberapa anggota OSIS yang berpapasan dengannya langsung menegakkan tubuh.
"Al! Nah, kebetulan ketemu," panggil Kevin, wakil ketua OSIS, yang berlari kecil menghampirinya dengan membawa sebundel susunan acara.
"Sesi pengenalan ekskul setelah ini mau dimulai. Anak-anak baru sudah dikumpulin di lapangan utama. Lo yang bakal kasih sambutan pembuka, kan?"
Alden menghentikan langkahnya, menatap Kevin dengan sorot mata tajam yang biasa.
"Iya. Siapkan pengeras suaranya. Lima menit lagi gue ke lapangan."
"Siap, Ketua," jawab Kevin patuh.
Alden melanjutkan langkahnya menuju lapangan utama. Sorak-sorai dan keriuhan anak-anak baru mulai terdengar jelas, tetapi jauh di lubuk hatinya, Alden hanya berharap waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat agar ia bisa segera pulang dan membuka pintu kamar yang ia kunci itu.
🌍🌍🌍
Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua siang, seluruh rangkaian acara MPLS untuk hari itu akhirnya selesai. Saat panitia OSIS yang lain masih sibuk membereskan perlengkapan di lapangan dan aula, Alden sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Rasa cemas yang ia pendam rapat-rapat sejak pagi kini membuncah, mendesaknya untuk segera pergi.
"Vin, sisanya lo yang handle Gue harus balik duluan, ada urusan mendesak," ucap Alden singkat pada Kevin sambil menyampirkan tas ranselnya di satu bahu.
"Eh? Tapi Al, evaluasi panitia gimana—"
Belum sempat Kevin menyelesaikan kalimatnya, Alden sudah berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area sekolah. Ia mengabaikan tatapan heran dari beberapa guru dan teman-temannya. Fokusnya hanya satu: rumah.
Cowok itu mengendarai kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan kota yang cukup terik. Pikirannya terus berputar liar. Sudah empat jam sejak pukul sepuluh siang tadi.
Bagaimana keadaan Aleta? Apakah dia histeris saat tahu pintunya dikunci? Apakah makananya sudah ia sentuh?
Kurang dari dua puluh menit, Alden sudah sampai di depan gerbang rumah megahnya. Setelah memarkirkan kendaraannya dengan asal, ia melangkah cepat memasuki rumah, membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengannya terkejut melihat sang tuan muda sudah pulang secepat ini.
Alden tidak memedulikan mereka. Ia langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Begitu sampai di depan pintu jati yang masih terkunci rapat itu, jantungnya berdegup kencang. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan kunci, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi klik yang nyaring.
Dengan napas yang sedikit memburu, Alden perlahan mendorong pintu itu terbuka.
Suasana di dalam kamar itu hening, hanya terdengar deru napas Alden yang tertahan. Begitu pintu terbuka lebih lebar, pemandangan di depannya membuat rahangnya mengeras.
Aleta tidak ada di atas kasur. Gadis itu duduk meringkuk di sudut ruangan, tepat di samping nakas dekat ranjang. Kepalanya tertunduk dalam, dengan kedua tangan yang memeluk lututnya sendiri, seolah mencoba menjadi sekecil mungkin agar tidak terlihat oleh dunia—atau lebih tepatnya, agar tidak terlihat oleh Alden. Bahu gadis itu sesekali masih bergetar, sisa dari tangis yang mungkin belum juga berhenti.
Alden menahan napas. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu sedikit terbuka di belakangnya. Kakinya bergerak sangat pelan, memastikan setiap injakan di atas karpet tebal tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Ia bergerak seperti predator yang mendekati mangsanya, namun dalam sorot matanya tidak ada keinginan untuk menyakiti lagi. Ada rasa sakit yang luar biasa melihat Aleta begitu ketakutan hingga memilih sudut gelap sebagai tempat berlindung.
Alden berhenti beberapa langkah di belakang Aleta, mematung di sana. Ia bisa melihat betapa berantakannya rambut gadis itu dan bagaimana bahunya menegang, seolah merasakan kehadiran seseorang di dekatnya meskipun ia belum melihat siapa orang tersebut. Alden tidak langsung menyapa; ia hanya berdiri di sana, menatap punggung Aleta dengan perasaan campur aduk yang menyesakkan dada.
🌍🌍🌍
Alden mengalihkan pandangannya dari punggung Aleta ke arah meja kecil di dekatnya. Nampan sarapan yang ia minta disiapkan oleh Bi Sumi pagi tadi masih tersaji utuh di sana. Nasi, lauk, dan segelas susu yang sudah dingin itu bahkan tidak tersentuh sedikit pun. Tidak ada satu pun sendok yang bergeser dari posisinya.
Rahang Alden mengencang. Rasa bersalahnya sedikit bercampur dengan rasa frustrasi karena Aleta memilih untuk membiarkan dirinya kelaparan.
perhatian Alden kemudian teralih pada detail lain yang membuatnya terdiam.
Aleta tidak lagi mengenakan pakaian yang ia lihat semalam, Gadis itu kini mengenakkan baju yang tadi pagi ia perintahkan untuk disiapkan.
Seketika, Alden sadar. Aleta sempat bergerak. Aleta sempat berdiri, sempat membersihkan dirinya, sempat berganti pakaian, namun tetap tidak mau menyentuh makanan yang ia sediakan.
Alden menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang tidak karuan. Ia menyadari satu hal: Aleta sedang melakukan aksi mogok, atau mungkin, gadis itu benar-benar terlalu takut hingga tidak memiliki selera makan sedikit pun.
Alden kemudian melangkah maju satu langkah lagi, jaraknya kini hanya tinggal satu meter di belakang gadis yang masih memeluk lututnya itu. Suaranya terdengar berat dan sangat hati-hati saat ia akhirnya memutuskan untuk angkat bicara.
"Kamu... kamu harus makan, Aleta," ucap Alden pelan, berusaha agar tidak membuat gadis itu semakin terkejut.
Mendengar suara yang paling ia hindari itu, tubuh Aleta tersentak hebat. Ia mendongak dengan cepat, dan saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di depannya, napasnya seolah terhenti.
Rasa takut yang semalam terasa seperti mimpi buruk kini menjadi kenyataan yang mencekam. Alden berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—datar, namun intens.
"Jauhkan tanganmu... jangan mendekat,"
suara Aleta terdengar parau dan gemetar.
Saat Alden mengambil satu langkah maju, insting Aleta untuk bertahan hidup langsung mengambil alih. Ia segera mencoba menggeser tubuhnya ke samping, mencoba merangkak mundur ke sudut yang lebih dalam, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin antara dirinya dan Alden. Ia tidak peduli jika punggungnya kini membentur dinding dengan keras; yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar cowok itu tidak menyentuhnya lagi.
Wajah Aleta pucat pasi, matanya membelalak ketakutan, dan ia menatap Alden seperti menatap seekor predator yang siap menerkam kapan saja.
"Kumohon..." bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar, menunjukkan betapa hancurnya mental gadis itu.
"Jangan sakiti aku lagi."
🌍🌍🌍
Di depan nanti ada kejutan lagi yaaa😉
jangan lupa like yaa, heheh