NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Dari Sebuah Rahasia

​"Aku setuju..." ucap Yuna lirih namun terdengar sangat mantap. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata elang suaminya tanpa ada lagi keraguan. "Lagian, capek juga kalau harus diem-diem segala."

​Yuna mengembus napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban berat yang selama tiga bulan ini menyumbat dadanya. "Capek harus pura-pura nggak kenal di koridor kampus, capek harus nahan diri kalau ada mahasiswi lain yang terang-terangan godain Mas Labib, dan... capek karena harus ketakutan setengah mati kayak malam ini cuma gara-gara salah paham sama gosip murahan."

​Labib sempat tertegun selama beberapa detik. Ia tidak menyangka istri kecilnya yang biasanya sangat keras kepala dan pencemas itu akhirnya berani mengambil keputusan besar ini. Perlahan, sebuah senyuman tipis—yang sangat jarang ia perlihatkan kepada siapa pun—terukir di bibir tegas sang profesor.

​"Kamu serius?" tanya Labib memastikan, merapatkan duduknya hingga piyama satin mereka saling bergesekan. "Begitu semua orang tahu, tidak akan ada lagi jalan untuk kembali, Yuna. Kamu akan dikenal sebagai istri saya, bukan cuma sekadar mahasiswi bimbingan saya."

​"Aku serius, Mas," balas Yuna, pipinya mendadak merona merah saat menyadari jarak mereka yang kini sudah memangkas habis ruang di antara mereka. "Daripada aku harus gila karena cemburu terus berakhir nekat minum kayak tadi."

​Mendengar kata 'minum', ekspresi Labib kembali berubah sedikit intens. Ia meraih kedua tangan Yuna, menggenggamnya erat di atas pangkuannya.

​"Baik. Kalau begitu, besok setelah kelas struktur bangunan selesai, ikut saya ke ruangan. Kita selesaikan masalah administrasi ini, dan saya sendiri yang akan memastikan tidak akan ada lagi ruang untuk rumor miring tentang kita di kampus," ucap Labib dengan nada baritonnya yang sarat akan proteksi absolut.

​Pria itu lalu memajukan wajahnya, mengecup kening Yuna dengan lembut dan lama, menyalurkan rasa lega sekaligus janji bahwa mulai besok, Yuna tidak perlu lagi berdiri di balik bayang-bayang.

​"Dan nanti untuk Dinda, biar aku yang ngasih tahu, Mas. Biar dia nggak terlalu kaget," ucap Yuna pelan, menyusun rencana di kepalanya agar sahabat dekatnya itu tidak langsung jantungan saat mendengar kabar besar ini besok.

​Yuna menatap Labib dengan pandangan memohon. "Mas, kirim file foto akad nikah kita dong ke HP-ku. Biar aku bisa langsung kirim lewat chat WhatsApp ke Dinda sekarang."

​Labib tidak membantah. Pria itu mengambil ponselnya dari atas nakas, jemarinya bergerak lincah membuka folder tersembunyi yang menyimpan dokumentasi hari pernikahan mereka. Sebuah foto yang diambil tepat setelah kalimat qobiltu selesai diucapkan tertera di layar—menampilkan Labib yang menjabat tangan wali dengan tegas, dan Yuna yang duduk anggun di sebelahnya mengenakan kebaya putih.

​Tring.

​Notifikasi WhatsApp di ponsel Yuna berbunyi, menandakan file foto tersebut sudah sukses berpindah.

​"Sudah saya kirim," kata Labib dengan suara baritonnya yang rendah. Ia meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap Yuna yang kini tengah sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya yang baru saja dinyalakan dan diisi daya. "Pastikan sahabatmu itu tidak menyebarkannya ke grup angkatan sebelum besok siang."

​Yuna terkekeh kecil, rasa pening di kepalanya akibat alkohol tadi benar-benar sudah digantikan oleh debaran antisipasi. Jemarinya dengan cepat membuka ruang obrolan dengan Dinda, melampirkan foto akad tersebut, dan bersiap mengirimkan bukti yang akan meruntuhkan semua spekulasi miring di kampus mereka.

Tring! Tring!

​Kebetulan sekali, saat Yuna baru saja membuka aplikasi WhatsApp, rentetan pesan beruntun masuk dari Dinda. Notifikasi itu memenuhi layar ponselnya, memancarkan rasa khawatir yang amat sangat dari sahabatnya itu setelah kejadian nekat di kafe tadi.

​Dinda:

“Yun!! Lo udah sampai rumah? Gimana keadaan lo?”

“Sumpah ya lo bikin gue jantungan! Sejak kapan lo bisa minum kayak gitu sih?!”

“Ponsel lo kenapa dimatitin sih? Kabarin gue kalau udah sadar ya, gue khawatir banget nih!”

​Melihat pesan-pesan itu, Yuna menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Labib sekilas yang masih memperhatikannya dari tepi ranjang dengan tatapan mengunci.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar namun mantap, Yuna menekan tombol lampiran, memilih foto akad nikah yang baru saja dikirim oleh Labib, lalu mengetikkan sebuah pesan balasan untuk Dinda.

​“Gue udah di rumah, Din. Udah aman dan udah sadar kok. Maaf ya udah bikin lo panik tadi... Oiya, soal Pak Labib yang lo bilang mau tunangan sama Bu Citra tadi... nih, lo liat sendiri aja ya.”

​Glek. Yuna menelan ludahnya sendiri sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Foto sakral pernikahan mereka kini resmi berpindah ke ruang obrolan Dinda, siap meledakkan rasa terkejut sahabatnya itu dalam hitungan detik.

​Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik sampai tanda centang dua di pojok pesan berubah menjadi biru. Dinda sedang online. Yuna menahan napasnya, menatap layar ponselnya dengan intensitas yang tinggi.

​Satu detik... dua detik... status di bawah nama Dinda berubah menjadi 'typing...' lalu hilang, lalu muncul lagi, seolah gadis di seberang sana sedang mengetik namun menghapusnya kembali karena terlalu syok.

​Sampai akhirnya, ponsel Yuna tidak lagi menampilkan pesan teks, melainkan bergetar hebat dengan layar yang mendadak berubah penuh. Dinda meneleponnya lewat panggilan suara WhatsApp.

​Yuna tersentak kecil. Ia melirik Labib, meminta persetujuan lewat tatapan matanya. Labib hanya mengangguk sekali, memberikan izin dengan ekspresi tenang seolah sudah memprediksi reaksi ini.

​Yuna menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. Belum sempat Yuna mengucapkan kata 'Halo', suara pekikan melengking Dinda sudah memenuhi indra pendengarannya, bahkan sampai terdengar samar oleh Labib yang duduk di sampingnya.

​"YUNA!!! INI APAAN?! LO JANGAN MAIN-MAIN YA! INI EDITAN KAN?! LO NGEDIT FOTO REKAYASA ACARA KAMPUS ATAU GIMANA?!" cerocos Dinda tanpa titik koma, suaranya naik beberapa oktav karena benar-benar syok melihat foto Labib berjas rapi bersanding dengan Yuna yang berkebaya putih di depan penghulu.

​Yuna menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga sambil meringis, lalu melirik Labib yang hanya menaikkan satu alisnya.

​"Din, tenang dulu... jangan teriak-teriak," bisik Yuna, mencoba meredam kehebohan sahabatnya. "Itu bukan editan. Itu foto asli pas akad nikah gue tiga bulan lalu."

​"DEMI APA LU, YUN?! JADI SELAMA INI... PAK LABIB... DOSEN STRUKTUR BANGUNAN YANG JADI IDOLA SATU KAMPUS ITU... SUAMI LO?!" suara Dinda di seberang sana terdengar seperti orang yang kehabisan napas, antara percaya dan tidak percaya dengan plot twist hidup sahabatnya yang luar biasa ini.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!