NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan di Bawah Lentera Malam

Malam kembali merayap di Bukit Permai, membawa serta keheningan yang dingin dan pekat di lantai tiga sayap barat. Adrian baru saja kembali ke kediaman sekitar pukul sembilan malam.

Langkah kakinya terdengar berat saat menaiki tangga marmer. Jas abu-abu pilihan Kirana tadi siang kini tersampir di lengan kirinya, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya sudah terlepas, mengekspos lehernya yang kokoh.

Ia melangkah masuk ke ruang kerjanya yang remang-remang, berniat untuk langsung menenggelamkan diri kembali ke dalam tumpukan berkas keuangan proyek pelabuhan yang belum selesai. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet seseorang di dekat jendela besar.

Kirana sedang berdiri di sana, membelakangi pintu. Ia sedang menyalakan beberapa lilin aromaterapi beraroma lavender dan mint di atas meja sudut. Cahaya lilin yang temaram bergoyang lembut, memantulkan siluet tubuh Kirana yang ramping dan anggun di dinding ruangan.

"Kira-kira, trik apa lagi yang sedang kamu rencanakan malam ini, Pelayan?" suara bariton Adrian memecah keheningan, dingin namun ada nada keletihan yang tidak bisa disembunyikan di dalamnya.

Kirana tidak terkejut. Ia berbalik perlahan, meletakkan korek api kecil di tangannya, lalu melemparkan senyuman manisnya yang paling memikat. Di bawah temaram cahaya lilin, paras cantik Kirana terlihat begitu eksotis dan bersinar, membuat ruangan yang dingin itu mendadak terasa hangat.

"Saya tidak sedang merencanakan trik apa pun, Tuan Muda," ujar Kirana dengan nada suara yang riang namun bervolume rendah, menghormati keheningan malam. "Saya hanya sedang menjalankan tugas saya untuk memastikan ruangan kerja Anda memiliki atmosfer yang mendukung untuk berpikir jernih. Aroma lavender ini bagus untuk menurunkan tekanan darah Anda yang sempat naik tadi siang."

Adrian berjalan mendekati meja kerjanya, melempar jasnya ke atas sofa kulit dengan asal. Ia duduk di kursi besarnya, lalu menatap Kirana yang kini berjalan mendekat sambil membawa segelas susu hangat bercampur madu dan sedikit bubuk kayu manis.

"Aku minta kopi, Kirana. Bukan susu untuk anak-anak," ketus Adrian saat Kirana meletakkan gelas itu di hadapannya.

Kirana tidak mundur, ia justru meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Adrian, sedikit condong ke depan sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

"Kopi untuk siang hari saat Anda berperang dengan para direktur curang itu, Tuan Muda," bisik Kirana dengan binar mata bulatnya yang nakal dan mengunci pandangan Adrian. "Tapi untuk malam hari, setelah Anda memenangkan pertempuran, tubuh Anda butuh istirahat. Susu hangat ini akan membantu Anda tidur nyenyak. Jika Anda terus minum kopi malam-malam, Anda akan terjaga sampai subuh, dan saya... tidak mau melihat kantung mata hitam merusak ketampanan majikan kesayangan saya ini."

Kata 'majikan kesayangan' diucapkan Kirana dengan penekanan yang sangat sensual namun terdengar manis, sebuah keberanian luar biasa yang belum pernah ditunjukkan oleh wanita mana pun di hadapan Adrian.

Adrian merasa dinding pertahanannya kembali diguncang oleh kelancangan gadis ini. Rahangnya mengeras sedikit, ia menegakkan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aura dominasi yang pekat terpancar dari tubuh Adrian, sebuah taktik intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membuat musuh-musuhnya berlutut memohon ampun.

"Kau benar-benar terobsesi padaku, bukan?" tanya Adrian dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan penuh selidik, mencoba menembus langsung ke dalam isi kepala Kirana. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Kirana? Uang? Kekuasaan? Atau kamu ingin menjadi wanita yang menguasai rumah ini?"

Mendengar pertanyaan yang begitu menusuk dan penuh kecurigaan khas orang-orang dunia bawah, Kirana justru tidak berkedip sedikit pun. Senyumnya tidak pudar, namun binar matanya berubah menjadi sangat dalam, memperlihatkan kejujuran obsesinya yang murni sejak malam pertama mereka bertemu di lorong gelap.

"Saya tidak peduli dengan uang Anda yang bermiliar-miliar itu, Tuan Muda. Saya juga tidak tertarik dengan kekuasaan dunia hitam atau putih milik Keluarga Arseto," jawab Kirana dengan suara yang sangat lembut namun berbobot, setiap katanya terdengar begitu tulus dari lubuk hatinya.

"Yang saya inginkan... hanya ada di sini. Di depan mata saya. Saya menginginkan Anda, Tuan Muda Adrian Arseto. Pria dingin yang menyelamatkan saya malam itu. Saya ingin tahu apa yang ada di balik dinding es Anda, dan saya ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat Anda tersenyum dengan tulus di dunia yang kejam ini."

Ruangan kerja itu mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan suara desir angin malam di luar jendela kaca seolah menghilang. Adrian terpaku di tempat duduknya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mendengar sebuah pengakuan yang begitu berani, tanpa ada kepura-puraan, tanpa ada udang di balik batu. Gadis pelayan yatim piatu ini tidak sedang mengincar hartanya; dia benar-benar terobsesi pada dirinya sebagai seorang pria.

Adrian berpura-pura bersikap tidak tahu dan tidak terpengaruh. Ia memalingkan wajahnya perlahan, meraih gelas susu hangat yang dibawa Kirana untuk menyembunyikan riak emosi aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya.

"Kata-kata yang manis untuk seorang pelayan," ucap Adrian dingin, mengembalikan topeng datarnya meskipun tangannya yang memegang gelas terasa sedikit hangat. "Tapi di dunia nyata, kata-kata tidak bisa melindungimu dari bahaya. Sekarang, keluar dari sini. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dalam keheningan."

Kirana tahu bahwa Adrian sedang mencoba melarikan diri dari intensitas perasaannya sendiri. Sifat cerdasnya membaca bahwa pria dingin itu sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya, meskipun egonya yang setinggi langit menolak untuk mengakuinya.

"Baik, Tuan Muda yang gengsinya setinggi Arseto Tower," goda Kirana dengan tawa kecil yang renyah sebelum mundur beberapa langkah. Ia membungkuk hormat dengan sangat anggun. "Selamat menikmati susunya. Semoga mimpi indah... dan jangan lupa memimpikan saya."

Dengan langkah yang ringan dan hati yang dipenuhi rasa kemenangan, Kirana berjalan keluar dan menutup pintu dengan perlahan. Di dalam ruangan yang kini beraroma lavender, Adrian menatap pintu yang tertutup itu untuk waktu yang lama.

Ia kemudian menatap gelas susu di tangannya, lalu menyesapnya perlahan. Rasa manis madu dan hangatnya kayu manis menjalar di tenggorokannya, perlahan-lahan meredakan ketegangan di kepalanya yang telah menumpuk selama berbulan-bulan.

Sang penguasa kegelapan itu menyandarkan tubuhnya, membiarkan kehangatan ramuan pelayan nakalnya menembus sedikit demi sedikit ke dalam hatinya yang beku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!