Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawaran dari Pria Penguasa
Aroma tajam cairan antiseptik dan tenangnya kepungan dinding bernuansa putih menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Keyra. Perlahan, ia menggerakkan kelopak matanya yang terasa sangat berat. Saat matanya benar-benar terbuka, Keyra mengernyitkan dahi. Ia tidak mendapati langit-langit kamarnya yang sempit dan beratap tripleks, melainkan sebuah langit-langit tinggi dengan lampu kristal gantung yang mewah.
Keyra mencoba menggeser tubuhnya, namun rasa pening langsung menghantam kepalanya dengan hebat. Ia melirik ke samping kanan. Sebuah tiang infus berdiri kokoh dengan selang yang mengalirkan cairan menuju punggung tangannya yang pucat. Kamar ini sangat luas, bahkan dilengkapi dengan sofa kulit premium, televisi layar datar berukuran besar, dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian.
‘Aku di mana? Ini bukan puskesmas...’ batin Keyra bingung.
Ingatannya perlahan berputar mundur. Malam yang pias, hujan deras, amplop seratus juta dari Arkan, wanita manja bernama Mentari, lalu... sebuah mobil mewah yang hampir merenggut nyawanya, serta seorang pria berjas hitam dengan sepasang mata elang yang sedingin es.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Keyra. Ia menoleh dengan cepat, mengabaikan rasa pusing yang kembali mendera. Dari balik pintu, melangkah masuk pria yang ada di dalam ingatannya. Pria itu sudah tidak mengenakan jas hitamnya. Kini ia hanya memakai kemeja putih mahal dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah yang berkilau.
Aura penguasa yang mengintimidasi langsung memenuhi ruangan itu. Devan Alister berjalan mendekati ranjang Keyra dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya.
"Sudah bangun?" tanya Devan datar, suaranya yang berat menggema rendah.
KeyraRefleks menarik selimutnya hingga sebatas dada, menatap Devan dengan pandangan waspada. "Siapa kamu? Dan... kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini?"
Devan berhenti tepat di samping ranjang, menatap Keyra dari ketinggian dengan tatapan menilai. "Pertama, ini bukan rumah sakit umum. Ini VVIP Room Alister Hospital, rumah sakit pribadiku. Kedua, namaku Devan Alister. Dan ketiga, kamu ada di sini karena kamu pingsan di dadaku setelah hampir membuat mobilku menabrakmu semalam."
Keyra tertegun. Nama Alister bukanlah nama yang asing. Di berita bisnis televisi maupun koran, nama Alister Group selalu berada di urutan teratas sebagai konglomerasi raksasa yang menguasai berbagai sektor di negara ini. Jadi, pria di hadapannya ini adalah sang pemilik tunggal? Pria yang kekuasaannya bahkan bisa meruntuhkan perusahaan tempat Arkan bekerja hanya dengan satu jentikan jari?
Menyadari siapa lawan bicaranya, Keyra sempat merasa menciut. Namun, ingatan tentang bagaimana kasarnya Arkan mencampakkannya membuat harga diri Keyra kembali bangkit. Ia melepaskan remasan pada selimutnya dan menatap Devan dengan berani.
"Kalau begitu, terima kasih sudah menolongku dan membawaku ke sini," ucap Keyra, mencoba terdengar formal meskipun suaranya masih agak serak. "Mengenai biaya pengobatan ini, aku akan mencicilnya kepadamu setelah aku keluar dari sini. Aku tidak suka berutang budi."
Mendengar itu, Devan justru mendengus pelan. Sebuah senyum sinis yang tipis muncul di wajah tampannya. "Mencicil? Kamar ini bertarif lima puluh juta per malam. Belum termasuk dokter spesialis terbaik yang kupanggil khusus untuk memeriksa paru-parumu yang sempat mendingin karena hujan. Kamu mau mencicilnya sampai kapan dengan gaji seorang karyawan toko kue?"
Wajah Keyra seketika memerah karena malu sekaligus tersinggung. Kata-kata Devan sangat menusuk dan langsung mengingatkannya pada ucapan Arkan semalam. Mengapa semua pria kaya selalu memandang rendah pekerjaannya?
"Aku tahu aku miskin! Tapi aku punya harga diri!" seru Keyra, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah. "Aku tidak meminta ditumpangi mobil mewahmu, dan aku juga tidak meminta dibawa ke kamar semahal ini! Aku akan keluar sekarang juga!"
Keyra nekat menarik paksa jarum infus di punggung tangannya hingga darah segar menetes keluar. Ia meringis kesakitan, namun keras kepala mencoba menurunkan kakinya dari ranjang.
Namun, sebelum kaki Keyra sempat menyentuh lantai, tangan kekar Devan sudah bergerak cepat mencengkeram kedua bahu Keyra, menekannya kembali ke atas ranjang dengan kekuatan yang tak bisa dibantah.
"Lepaskan aku!" berontak Keyra.
"Diam!" bentak Devan pelan namun sarat akan penekanan yang mutlak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Keyra yang bergetar. "Aku tidak suka membuang-buang uang, dan aku lebih tidak suka lagi melihat orang yang sudah kutolong bertindak bodoh untuk kedua kalinya."
Devan menarik selembar tisu dari meja nakas dan dengan gerakan yang tidak terduga, ia menyeka tetesan darah di punggung tangan Keyra dengan perlahan. Tindakan kasarnya yang tiba-tiba berubah menjadi lembut itu membuat jantung Keyra berdegup tak karuan.
"Kamu bilang kamu punya harga diri, bukan?" Devan kembali bersuara, kali ini nadanya merendah, namun terdengar sangat berbahaya. "Lalu, apakah harga dirimu puas hanya dengan menangis dan membiarkan mantan kekasihmu—Arkan—menikahi anak investor itu dan hidup bahagia di atas penderitaanmu?"
Keyra membeku. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu nama Arkan?"
Devan menegakkan tubuhnya, kembali memasukkan tangan ke dalam saku. "Tidak ada hal di kota ini yang tidak bisa kuketahui dalam waktu lima menit, Keyra. Aku tahu segalanya. Tentang tiga tahun pengorbananmu, tentang uang seratus juta yang dia lemparkan kepadamu, dan tentang bagaimana dia menghinamu sebagai gadis biasa yang memalukan."
Rasa sakit di hati Keyra kembali berdenyut mendengar kenyataan pahit itu disebut dengan begitu gamblang oleh orang lain. Ia mengepalkan tangannya di atas selimut, menundukkan kepala saat air mata sialan itu kembali menetes.
"Lalu apa yang bisa kulakukan?" bisik Keyra dengan nada putus asa. "Dia sekarang seorang CEO. Dia punya uang, punya kekuasaan, dan didukung oleh investor kaya. Sedangkan aku? Aku benar-benar tidak punya apa-apa untuk melawannya."
Sunyi sempat menjeda ruangan itu selama beberapa detik, hanya menyisakan suara detak jantung Keyra yang bertalu-talu.
"Kamu salah," ujar Devan tiba-tiba.
Keyra mendongak, menatap Devan dengan bingung.
Devan perlahan membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya hingga Keyra bisa merasakan embusan napas pria itu di permukaan kulitnya. "Kamu punya aku, jika kamu mau."
"M-maksudmu?" jantung Keyra berdebar semakin kencang.
"Aku menawarkan sebuah kerja sama," ucap Devan dengan tatapan mata yang berkilat penuh rencana. "Perusahaan tempat Arkan bekerja saat ini sedang mengemis investasi tambahan dari Alister Group. Aku bisa dengan mudah menaikkan posisinya hingga ke langit, atau mengempasnya ke dasar jurang kemiskinan sampai dia tidak punya apa-apa lagi."
Devan menjauhkan wajahnya, menatap Keyra dengan senyum misterius. "Aku akan memberikanmu panggung, harta, status, dan kekuasaan yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh Arkan maupun wanita barunya itu. Aku akan mengubahmu menjadi ratu yang berdiri di tempat yang sangat tinggi."
Keyra menahan napasnya. Tawaran itu terdengar seperti mimpi di siang bolong, namun ia tahu pria di hadapannya memiliki kekuatan nyata untuk mewujudkannya. "Apa syaratnya? Di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Apa yang kamu inginkan dariku sebagai gantinya?"
Senyum di bibir Devan semakin melebar, menyukai fakta bahwa gadis di hadapannya ini cukup cerdas untuk tidak langsung terbuai.
"Syaratnya mudah," jawab Devan tenang. "Jadilah wanitaku. Dampingi aku di setiap pertemuan bisnis, bersandarlah di lenganku di depan media, dan biarkan seluruh dunia—termasuk mantan kekasihmu—tahu bahwa wanita yang pernah dicampakkannya, kini adalah milik seorang Devan Alister."
Keyra tertegun, otaknya berputar cepat memikirkan tawaran gila namun menggiurkan ini. Ini adalah tiket emasnya untuk membalas dendam.
"Bagaimana, Keyra? Apakah kamu memilih pergi dari sini sebagai pecundang yang malang... atau tetap di sini dan menandatangani kontrak untuk menghancurkan hidup Arkan bersamaku?"