NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Sebelum Nadira sempat membalas, suara putusnya panggilan terdengar begitu saja, meninggalkan keheningan

yang mencekam di ruangan itu.

Nadira menurunkan ponselnya perlahan, jari-jarinya masih mencengkeram cangkang

ponsel itu dengan erat. Kesal bukan main. Namun, di balik amarah itu, ada kesadaran yang mengerikan. Dinda bukan sekadar saudara tiri yang menyebalkan, melainkan dia adalah

ancaman nyata. Jika Dinda curiga, warisan dua ratus triliun itu akan melayang sebelum ia

sempat menyentuhnya.

Ia harus menyingkirkan Dinda, atau setidaknya memastikan mulut

perempuan itu terkunci rapat.

Ia menatap piring sarapannya yang tak tersentuh. Roti panggangnya sudah dingin, menteganya mengeras membentuk lapisan putih yang tidak sedap. Suasana pagi yang

seharusnya tenang kini terasa seperti medan perang yang tersembunyi.

Nadira menelan ludah, mencoba menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Ia harus bertindak cepat, lebih

cepat dari gerakan Dinda yang licik itu.

Langkah kaki Nadira menyusuri lantai marmer yang dingin, meninggalkan ruang makan yang menyesakkan itu. Ia butuh udara segar, atau setidaknya ruangan yang tidak membawa aroma intrik keluarga. Namun, saat ia memasuki ruang kerjanya, keheningan di sana justru terasa lebih berat.

Meja kayu jati yang besar tampak berantakan, kertas-kertas

berserakan seolah ada yang mencari sesuatu dengan tergesa-gesa.

Ia mendekati meja tersebut, jari-jarinya menyentuh tumpukan dokumen yang asing.

Matanya menangkap sebuah amplop cokelat yang tertutup rapat, namun segelnya terlihat sedikit mengelupas di bagian sudut. Nadira menahan napas. Apakah ini yang dicari Dinda?

Atau ini justru jebakan yang ditinggalkan Clarissa untuknya?

Keraguan mulai merayap di

benaknya, menggerogoti keyakinan yang baru saja ia bangun.

Suara langkah kaki di lorong luar terdengar mendekat. Nadira refleks menyembunyikan amplop itu di balik tumpukan buku tebal di rak sebelahnya. Ia tidak boleh ketahuan sedang menyentuh berkas milik Clarissa--atau milik siapa pun saat ini. Identitasnya sebagai Nadira

harus tetap tersembunyi, meski jiwanya sedang berteriak ketakutan.

Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, suara engselnya berderit pelan. Nadira menahan napas, membalikkan tubuhnya seolah sedang menatap pemandangan di luar jendela yang

sebenarnya tidak ia lihat. Ia mencoba menenangkan napasnya yang mulai memburu. Siapa pun di balik pintu itu, mereka tidak boleh melihat kepanikan di mata ini.

"Clarissa?" sebuah suara laki-laki menyapa dari ambang pintu. Suara itu dalam, penuh wibawa, namun membawa getaran curiga yang tidak bisa disembunyikan.

"Ada yang meneleponmu tadi pagi. Suaranya cukup keras sampai ke ruang tengah."

Nadira membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang dibuat sesantai mungkin. Shegan, saudara tiri Clarissa yang lain. Berdiri di sana dengan tangan menyilang di dada. Wajah pria

itu tidak menunjukkan ekspresi marah, tapi tatapan matanya tajam, mengamati setiap inci

penampilan Nadira.

Nadira menelan ludah, merasakan keringat dingin mulai mengalir di

punggungnya.

"Hanya urusan pribadi, Shegan," jawab Nadira, mencoba meniru nada suara Clarissa yang sering ia dengar di memorinya, dingin dan tak peduli.

"Tidak semua hal harus kamu

campuri." Ia berharap nada itu cukup untuk menghentikan Shegan bertanya lebih jauh. Namun, Shegan tidak bergeming. Pria itu justru melangkah masuk, menutup pintu dibelakangnya dengan pelan namun pasti.

"Urusan pribadi?" Shegan mengulang kata-kata Nadira dengan nada menyindir. Ia berjalan

mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet tebal. "Sejak kapan kamu punya urusan pribadi yang tidak berujung pada masalah hukum atau pengkhianatan?" Mata Shegan menyapu ruangan, berhenti sejenak di rak buku tempat Nadira menyembunyikan amplop tadi. "Atau, apakah ini tentang surat wasiat kakek?"

Nadira merasakan detak jantungnya melompat ke tenggorokan. Bagaimana Shegan bisa

tahu? Atau apakah pria itu hanya menebak? Nadira tidak bisa membiarkan Shegan melihat

ketakutannya. Ia harus memutar otak, mencari alasan yang bisa menutupi

kebohongan sebelumnya.

"Tentu saja tidak," Nadira membalas, suaranya sedikit lebih tinggi dari yang ia rencanakan. "Kakek belum meninggal, Shegan. Jangan bicara seolah-olah kamu sudah menghitung porsi warisanmu."

Shegan tertawa kecil, tawa yang sama persis dengan Dinda, namun jauh lebih berbahaya karena diselimuti ketenangan pria dewasa.

"Kamu selalu buru-buru menuduh, Clarissa. Itu yang membuat kamu mudah ditebak." Shegan berhenti tepat di depan Nadira, jarak mereka kini

hanya beberapa centimeter. Aroma parfum maskulin Shegan menyerang indra penciuman Nadira, terlalu menyengat, terlalu dekat.

"Tapi, kamu benar. Kakek memang belum pergi.Tapi dokter bilang waktu tinggal hitungan bulan."

Nadira menahan napas. Informasi itu seperti pukulan di ulu hati. Waktu yang dimilikinya untuk mendapatkan warisan itu lebih singkat dari yang ia pikirkan. Jika kakek meninggal sebelum ia bisa mengamankan posisinya sebagai Clarissa yang sempurna, Dinda dan Shegan akan memecah belah kekayaan itu, dan ia akan kembali menjadi Clarissa yang hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!